tentang matahari yg takkan pernah padam
Tentang Matahari yang Takkan Pernah Padam
Oleh: Retnadi Nur’aini
Judul : Eternal Sunshine of the Spotless Mind
Sutradara : Michel Gondry
Penulis naskah : Charlie Kaufman, Michel Gondry
Pemain : Jim Carrey, Kate Winslet, Elijah Wood, Kirsten Dunst
”Karena matahari tak pernah tenggelam, Sayang.
Ia membakar hari sampai gosong,
Dan, terjadilah malam,”
(disadur dari ucapan Diva pada Gio, dalam Supernova:Dewi Lestari)
Hubungan Joel Barish (Jim Carrey) dan Clementine Krucynzky (Kate Winslet) bukanlah suatu hubungan yang ideal. Sementara Joel adalah seorang pria yang rentan terhadap depresi, Clementine justru adalah seorang wanita yang impulsif.
Namun—seperti hukum magnetis—opposite attracts. Kehidupan garing Joel menjadi lebih berwarna dengan adanya kehadiran Clementine. Clementine yang gemar mengganti cat rambutnya sesuai warna jaket. Clementine yang hobi membuat boneka kentang. Clementine yang bermain piano, sementara Joel menari di atas kasur. Clementine yang mengajaknya ke Mantouk, berseluncur di atas lapisan es Sungai Charles tanpa papan luncur. Untuk kemudian berbaring bersisian di atas lapisan es yang dingin. Dan bersama-sama, mencoba memetakan rasi bintang-bintang.
It was fun. At first. Sampai—seperti banyak pasangan lainnya di dunia—mereka bertengkar. Ada kalanya rutinitas makan di restoran Cina membuat mereka bosan. ”Dinner’s Dead,” begitu istilah Joel. Ada kalanya kebiasaan buruk Joel meninggalkan helai-helai rambut menempel di sabun batangan mereka, juga kebiasaan mabuk Clementine, tak lagi bisa ditolerir. Ada kalanya Joel cemburu. Ada kalanya, baik Joel maupun Clementine, salah bicara, salah intonasi, miskomunikasi. Yang berakhir dengan jeritan di kuping, kata-kata menyakitkan, bantingan pintu, dan salah satu dari mereka minggat.
Bosan dengan hubungan ini, Clementine pun pergi ke Lacuna Inc. dan bertemu Dr Howard Mierzwak (Tom Wilkinson). Suatu tempat yang bisa menghapus ingatan tentang seseorang dari memori pikiran kita. Prosedurnya sederhana saja. Pertama, otakmu akan discan dan dipetakan. Kemudian, kamu harus membawa semua benda yang mengingatkanmu pada orang itu—semua mug, foto, surat cinta, lukisan, pakaian, hadiah, perhiasan—semua. Setelah terkumpul semua, kemudian kamu harus bercerita secara mendetil mengenai kenanganmu, berdasarkan benda itu. Detil ini bukan hanya sekedar waktu, hari, tanggal. Namun juga, impian, harapan, ketakutan yang dibagi, saat ada momen yang melibatkan benda itu. Sebagai arsip, digunakan kaset rekaman.
Tahap prosedur berikutnya adalah kamu minum obat tidur di malam harinya. Saat kamu terlelap, para petugas Lacuna akan menyambangi rumahmu, dan melakukan prosedur penghapusan memori. Untuk kemudian, esok paginya, wala! kamu pun terlahir menjadi orang yang baru. Bersih dari setiap sel memori menyakitkan.
Untuk menjaga agar memori yang telah direproduksi itu tetap steril, Lacuna pun mengirimkan sejumlah surat pada orang terdekat si klien. Yang berisikan imbauan agar mereka tak menyebutkan nama oknum yang telah dihapus dari ingatan klien mereka. Surat inilah yang kemudian terpaksa ditunjukkan seorang sahabat mereka, karena Joel terus menerus mengeluh betapa Clementine cepat sekali melupakannya pasca mereka putus. Betapa Clementine bahkan tampak tak mengenalnya, saat Joel datang ke toko buku tempatnya bekerja membawa kalung cantik—sebagai hadiah untuk berbaikan. Dan betapa Clementine bahkan telah memiliki pacar baru, Patrick (Elijah Wood)—remaja pria yang kerap dipanggilnya dengan ”Baby Boy.”
Merasa sakit hati, marah, dan ingin balas dendam, Joel pun melancarkan serangan balik. Ia datang ke Lacuna, mendaftar untuk dihapuskan ingatan tentang Clementine. Well, secara teoritis, menghapuskan kenangan menyakitkan mungkin mudah. Kenapa? Karena secara naluriah, kita sendiri tak ingin mengingatnya lebih dalam. Dalam buku Psikologi Komunikasi karya Djalaluddin Rakhmat, disebutkan, bahwa manusia punya kecenderungan untuk mengulangi hal-hal yang mereka sukai, dan meninggalkan hal-hal yang tidak mereka sukai.
Logis, tentu saja. Namun bagaimana dengan kenangan-kenangan indah? Kenangan yang sempurna cantiknya, menghangatkan jiwa, dan membuatmu merasa menjadi makhluk paling bahagia dan beruntung sejagad raya? Bagaimana caramu menghapusnya?
Pertanyaan inilah yang secara tak sadar mengusik kepala Joel. Karena belakangan ia sadar, bahwa ternyata, ingatannya tentang Clementine tidaklah melulu tentang pertengkaran dan Clementine mabuk-mabukan. Namun juga Clementine cantik, yang dengan caranya yang cukup eksentrik, mengajarinya untuk bersikap ”lepas”, dan bersenang-senang. Yang membuat Joel yang kaku dan pendiam, betah mengobrol berjam-jam di telpon. Yang spontanitas dan impulsivitasnya pada banyak hal mencengangkan, namun sekaligus juga menimbulkan sensasi pada diri Joel untuk berani mencoba hal-hal baru—seperti tiba-tiba saja menyapa Joel yang duduk di bangku kereta, atau mengambil potongan ayam goreng di piring Joel, atau menyelinap masuk ke rumah orang saat mereka berkencan di pantai atau nonton film.
Atau saat Clementine menanggalkan salah satu ”jubah” dan ”topeng”nya, dengan bertanya pada Joel: ”Joely, am I ugly?”. Sambil menghela napas, Clementine pun berkisah tentang betapa beratnya menjadi anak kecil. Betapa Clementine kecil pernah punya satu boneka yang dinamainya dengan namanya sendiri. “And everyday I said to her ‘You can’t be ugly! Be pretty!’,” lanjut Clementine.
“Seolah-olah dengan berkata begitu, maka saya bisa mentransform diri saya sendiri untuk menjadi cantik,” isak Clementine. Menyaksikan sisi rapuh dan insecure Clementine ini, Joel pun luluh. Secara naluriah Joel pun merengkuhnya, untuk kemudian menghujaninya dengan ciuman sambil berujar “You’re pretty, pretty, pretty, pretty, pretty..”
Ah, cinta…
***
Script Eternal Sunshine of the Spotless Mind tidak ditulis dengan runutan kronologis seperti interpretasi saya di atas. Ia juga tidak dihiasi banyak kalimat corny berisi rayuan dan gombalan “eneng kembang abang kumbang” seperti film komedi romantis.
Sebaliknya, alur film yang sudah saya tonton untuk ke-7 kalinya ini, malah terkesan acak—meski bukan acak random, namun acak terstruktur dan bertujuan. Menonton film ini, kita akan mengikuti jalan pikiran Joel, yang di tengah-tengah prosedur penghapusan ingatannya tentang Clementine, seketika tersadar bahwa: ia mencintai Clementine—atau setidaknya, mencintai semua kenangan indah tentang Clementine.
Namun, karena Joel sedang berada dalam keadaan tak sadar, ia tak bisa membatalkan prosedur itu. Sehingga satu-satunya cara adalah Joel di alam bawah sadar main kucing-kucingan dengan para petugas penghapus ingatan. Literally.
Disinilah saya terkagum-kagum pada scene-scene dalam film surealis ini. Betapa Gondry bisa menerjemahkan dunia surealisme dan dunia realisme, dengan pas. Ada banyak adegan dimana Joel berlari-lari bersama Clementine, sambil terus mencari ruang ingatannya yang masih tersisa tentang Clementine. Mulai dari adegan Joel terbangun di tepi pantai bersama Clementine, atau adegan mereka berseluncur di Mantouk. Atau saat Joel mencoba mencari ruang ingatannya yang paling memalukan dan tak ingin diingatnya, agar bisa menyimpan ingatan tentang Clementine rapat-rapat disana. Seperti misalnya, adegan Joel kecil tengah merajuk di bawah meja karena tak boleh makan kue, sampai adegan Joel remaja bermasturbasi.
Adegan-adegan inilah yang bagi saya justru terasa romantis. Karena tampak jelas, bahwa Joel berjuang sekuat tenaga untuk menyimpan Clementine dalam ingatannya, dalam genggamannya. Apalagi definisi dari operasionalisasi konsep itu, selain cinta?
Padahal, di sisi lain, Joel mestinya tidak perlu berpayah-payah. Karena, pun Clementine sudah punya pacar baru, pun mereka berdua sudah sama-sama terhapus ingatannya satu sama lain, pada akhirnya, mereka akan saling jatuh cinta lagi. Satu faktor yang tak bisa dikontrol oleh metode penghapusan manapun. Faktor itu bernama: Takdir.
***
Film yang menuai banyak pujian dari para kritikus film ini tak hanya bertutur tentang matahari cinta yang tak pernah padam di benak Joel dan Clementine. Namun juga, pada asisten si dokter—Mary (Kirsten Dunst) dan sang Howard. Sebagai pria beristri, hubungan mereka juga bukanlah hubungan yang ideal. Merasa letih menangis dan berharap, Mary minta pada Howard untuk menghapus ingatannya.
Namun seperti matahari yang tak pernah tenggelam dan menggosongkan hari sampai malam, Mary lagi-lagi jatuh cinta pada Howard. Pada malam saat Howard turun tangan untuk menangani kasus Joel, Mary mengungkapkan perasaannya. Saat mereka berciuman, istri Howard datang melabrak Howard. Satu komentar pendek wanita itu, seketika menyadarkan Mary akan banyak hal.
Bahwa, setiap orang berhak atas setiap ingatannya. Baik itu kenangan indah atau menyakitkan. Karena dari sanalah seseorang bisa belajar untuk bertumbuh dan dewasa. Bahwa pun sudah dihapus berkali-kali, tetap bukanlah hal mudah untuk mengenyahkan cinta begitu saja.
Dengan niatan itulah, Mary kemudian mengembalikan semua kaset rekaman kepada setiap klien mereka. Termasuk Joel dan Clementine. Yang pada saat itu, (kembali) saling tertarik satu sama lain.
Tentu saja, butuh jiwa besar bagi Joel dan Clementine, untuk tabah mendengarkan kaset rekaman satu sama lain. Yang banyak berisi keluh kesah seputar ketidakpuasan mereka terhadap diri satu sama lain. Butuh kesabaran dan ketenangan tingkat tinggi, untuk mendengarkan banyak pernyataan spontan yang diedit ataupun dieufemisme mengenai hubungan mereka selama ini. Dan ya, tentu saja, seperti banyak manusia biasa lainnya di dunia, mereka bersikap reaktif—bertengkar.
Dimana Clementine lari menuju lift, untuk kemudian disusul Joel. Inilah salah satu adegan favorit saya. Saat Clementine yang putus asa berujar “I’m just a fucked up girl, Joel. I’m not perfect. Yang hanya dijawab “Ok,” oleh Joel, dengan satu senyum pengertian.
Disinilah saya sontak teringat pada salah satu diskusi saya bersama Citra. Bahwa cinta adalah satu paket. Kita tidak hanya menerima tumpukan kado cantik berlapis kain sutra dan berbalutkan pita satin. Namun juga harus sekaligus menerima bungkusan-bungkusan hitam.
Dan bahwa suatu hubungan interpersonal adalah proses untuk membuka semua kado dan bungkusan itu, untuk kemudian menerima isinya dengan lapang dada—apapun itu. Seperti lirik lagu penutup dalam film ini. ”Everybody Got to Learn Sometime..”
Ya kan?