tentang matahari yg takkan pernah padam

Tentang Matahari yang Takkan Pernah Padam

Oleh: Retnadi Nur’aini

 

Judul                : Eternal Sunshine of the Spotless Mind

Sutradara         : Michel Gondry

Penulis naskah  : Charlie Kaufman, Michel Gondry

Pemain             : Jim Carrey, Kate Winslet, Elijah Wood, Kirsten Dunst

 

 

”Karena matahari tak pernah tenggelam, Sayang.

Ia membakar hari sampai gosong,

Dan, terjadilah malam,”

(disadur dari ucapan Diva pada Gio, dalam Supernova:Dewi Lestari)

 

            Hubungan Joel Barish (Jim Carrey) dan Clementine Krucynzky (Kate Winslet) bukanlah suatu hubungan yang ideal. Sementara Joel adalah seorang pria yang rentan terhadap depresi, Clementine justru adalah seorang wanita yang impulsif. 

             Namun—seperti hukum magnetis—opposite attracts. Kehidupan garing Joel menjadi lebih berwarna dengan adanya kehadiran Clementine. Clementine yang gemar mengganti cat rambutnya sesuai warna jaket. Clementine yang hobi membuat boneka kentang. Clementine yang bermain piano, sementara Joel menari di atas kasur. Clementine yang mengajaknya ke Mantouk, berseluncur di atas lapisan es Sungai Charles tanpa papan luncur. Untuk kemudian berbaring bersisian di atas lapisan es yang dingin. Dan bersama-sama, mencoba memetakan rasi bintang-bintang.

            It was fun. At first. Sampai—seperti banyak pasangan lainnya di dunia—mereka bertengkar. Ada kalanya rutinitas makan di restoran Cina membuat mereka bosan. ”Dinner’s Dead,” begitu istilah Joel. Ada kalanya kebiasaan buruk Joel meninggalkan helai-helai rambut menempel di sabun batangan mereka, juga kebiasaan mabuk Clementine, tak lagi bisa ditolerir. Ada kalanya Joel cemburu. Ada kalanya, baik Joel maupun Clementine, salah bicara, salah intonasi, miskomunikasi. Yang berakhir dengan jeritan di kuping, kata-kata menyakitkan, bantingan pintu, dan salah satu dari mereka minggat.

            Bosan dengan hubungan ini, Clementine pun pergi ke Lacuna Inc. dan bertemu Dr Howard Mierzwak (Tom Wilkinson). Suatu tempat yang bisa menghapus ingatan tentang seseorang dari memori pikiran kita. Prosedurnya sederhana saja. Pertama, otakmu akan discan dan dipetakan. Kemudian, kamu harus membawa semua benda yang mengingatkanmu pada orang itu—semua mug, foto, surat cinta, lukisan, pakaian, hadiah, perhiasan—semua. Setelah terkumpul semua, kemudian kamu harus bercerita secara mendetil mengenai kenanganmu, berdasarkan benda itu. Detil ini bukan hanya sekedar waktu, hari, tanggal. Namun juga, impian, harapan, ketakutan yang dibagi, saat ada momen yang melibatkan benda itu. Sebagai arsip, digunakan kaset rekaman.

Tahap prosedur berikutnya adalah kamu minum obat tidur di malam harinya. Saat kamu terlelap, para petugas Lacuna akan menyambangi rumahmu, dan melakukan prosedur penghapusan memori. Untuk kemudian, esok paginya, wala! kamu pun terlahir menjadi orang yang baru. Bersih dari setiap sel memori menyakitkan.

            Untuk menjaga agar memori yang telah direproduksi itu tetap steril, Lacuna pun mengirimkan sejumlah surat pada orang terdekat si klien. Yang berisikan imbauan agar mereka tak menyebutkan nama oknum yang telah dihapus dari ingatan klien mereka. Surat inilah yang kemudian terpaksa ditunjukkan seorang sahabat mereka, karena Joel terus menerus mengeluh betapa Clementine cepat sekali melupakannya pasca mereka putus. Betapa Clementine bahkan tampak tak mengenalnya, saat Joel datang ke toko buku tempatnya bekerja membawa kalung cantik—sebagai hadiah untuk berbaikan. Dan betapa Clementine bahkan telah memiliki pacar baru, Patrick (Elijah Wood)—remaja pria yang kerap dipanggilnya dengan ”Baby Boy.”

            Merasa sakit hati, marah, dan ingin balas dendam, Joel pun melancarkan serangan balik. Ia datang ke Lacuna, mendaftar untuk dihapuskan ingatan tentang Clementine. Well, secara teoritis, menghapuskan kenangan menyakitkan mungkin mudah. Kenapa? Karena secara naluriah, kita sendiri tak ingin mengingatnya lebih dalam. Dalam buku Psikologi Komunikasi karya Djalaluddin Rakhmat, disebutkan, bahwa manusia punya kecenderungan untuk mengulangi hal-hal yang mereka sukai, dan meninggalkan hal-hal yang tidak mereka sukai.

            Logis, tentu saja. Namun bagaimana dengan kenangan-kenangan indah? Kenangan yang sempurna cantiknya, menghangatkan jiwa, dan membuatmu merasa menjadi makhluk paling bahagia dan beruntung sejagad raya? Bagaimana caramu menghapusnya?

            Pertanyaan inilah yang secara tak sadar mengusik kepala Joel. Karena belakangan ia sadar, bahwa ternyata, ingatannya tentang Clementine tidaklah melulu tentang pertengkaran dan Clementine mabuk-mabukan. Namun juga Clementine cantik, yang dengan caranya yang cukup eksentrik, mengajarinya untuk bersikap ”lepas”, dan bersenang-senang. Yang membuat Joel yang kaku dan pendiam, betah mengobrol berjam-jam di telpon. Yang spontanitas dan impulsivitasnya pada banyak hal mencengangkan, namun sekaligus juga menimbulkan sensasi pada diri Joel untuk berani mencoba hal-hal baru—seperti tiba-tiba saja menyapa Joel yang duduk di bangku kereta, atau mengambil potongan ayam goreng di piring Joel, atau menyelinap masuk ke rumah orang saat mereka berkencan di pantai atau nonton film.

Atau saat Clementine menanggalkan salah satu ”jubah” dan ”topeng”nya, dengan bertanya pada Joel: ”Joely, am I ugly?”. Sambil menghela napas, Clementine pun berkisah tentang betapa beratnya menjadi anak kecil. Betapa Clementine kecil pernah punya satu boneka yang dinamainya dengan namanya sendiri. “And everyday I said to her ‘You can’t be ugly! Be pretty!’,” lanjut Clementine.

“Seolah-olah dengan berkata begitu, maka saya bisa mentransform diri saya sendiri untuk menjadi cantik,” isak Clementine. Menyaksikan sisi rapuh dan insecure Clementine ini, Joel pun luluh. Secara naluriah Joel pun merengkuhnya, untuk kemudian menghujaninya dengan ciuman sambil berujar “You’re pretty, pretty, pretty, pretty, pretty..”

Ah, cinta…

                                                            ***

Script Eternal Sunshine of the Spotless Mind tidak ditulis dengan runutan kronologis seperti interpretasi saya di atas. Ia juga tidak dihiasi banyak kalimat corny berisi rayuan dan gombalan “eneng kembang abang kumbang” seperti film komedi romantis.

Sebaliknya, alur film yang sudah saya tonton untuk ke-7 kalinya ini, malah terkesan acak—meski bukan acak random, namun acak terstruktur dan bertujuan. Menonton film ini, kita akan mengikuti jalan pikiran Joel, yang di tengah-tengah prosedur penghapusan ingatannya tentang Clementine, seketika tersadar bahwa: ia mencintai Clementine—atau setidaknya, mencintai semua kenangan indah tentang Clementine.

Namun, karena Joel sedang berada dalam keadaan tak sadar, ia tak bisa membatalkan prosedur itu. Sehingga satu-satunya cara adalah Joel di alam bawah sadar main kucing-kucingan dengan para petugas penghapus ingatan. Literally.

Disinilah saya terkagum-kagum pada scene-scene dalam film surealis ini. Betapa Gondry bisa menerjemahkan dunia surealisme dan dunia realisme, dengan pas. Ada banyak adegan dimana Joel berlari-lari bersama Clementine, sambil terus mencari ruang ingatannya yang masih tersisa tentang Clementine. Mulai dari adegan Joel terbangun di tepi pantai bersama Clementine, atau adegan mereka berseluncur di Mantouk. Atau saat Joel mencoba mencari ruang ingatannya yang paling memalukan dan tak ingin diingatnya, agar bisa menyimpan ingatan tentang Clementine rapat-rapat disana. Seperti misalnya, adegan Joel kecil tengah merajuk di bawah meja karena tak boleh makan kue, sampai adegan Joel remaja bermasturbasi.   

Adegan-adegan inilah yang bagi saya justru terasa romantis. Karena tampak jelas, bahwa Joel berjuang sekuat tenaga untuk menyimpan Clementine dalam ingatannya, dalam genggamannya. Apalagi definisi dari operasionalisasi konsep itu, selain cinta?

Padahal, di sisi lain, Joel mestinya tidak perlu berpayah-payah. Karena, pun Clementine sudah punya pacar baru, pun mereka berdua sudah sama-sama terhapus ingatannya satu sama lain, pada akhirnya, mereka akan saling jatuh cinta lagi. Satu faktor yang tak bisa dikontrol oleh metode penghapusan manapun. Faktor itu bernama: Takdir.

                                                            ***

Film yang menuai banyak pujian dari para kritikus film ini tak hanya bertutur tentang matahari cinta yang tak pernah padam di benak Joel dan Clementine. Namun juga, pada asisten si dokter—Mary (Kirsten Dunst) dan sang Howard. Sebagai pria beristri, hubungan mereka juga bukanlah hubungan yang ideal. Merasa letih menangis dan berharap, Mary minta pada Howard untuk menghapus ingatannya.

Namun seperti matahari yang tak pernah tenggelam dan menggosongkan hari sampai malam, Mary lagi-lagi jatuh cinta pada Howard. Pada malam saat Howard turun tangan untuk menangani kasus Joel, Mary mengungkapkan perasaannya. Saat mereka berciuman, istri Howard datang melabrak Howard. Satu komentar pendek wanita itu, seketika menyadarkan Mary akan banyak hal.

Bahwa, setiap orang berhak atas setiap ingatannya. Baik itu kenangan indah atau menyakitkan. Karena dari sanalah seseorang bisa belajar untuk bertumbuh dan dewasa. Bahwa pun sudah dihapus berkali-kali, tetap bukanlah hal mudah untuk mengenyahkan cinta begitu saja.

Dengan niatan itulah, Mary kemudian mengembalikan semua kaset rekaman kepada setiap klien mereka. Termasuk Joel dan Clementine. Yang pada saat itu, (kembali) saling tertarik satu sama lain.

Tentu saja, butuh jiwa besar bagi Joel dan Clementine, untuk tabah mendengarkan kaset rekaman satu sama lain. Yang banyak berisi keluh kesah seputar ketidakpuasan mereka terhadap diri satu sama lain. Butuh kesabaran dan ketenangan tingkat tinggi, untuk mendengarkan banyak pernyataan spontan yang diedit ataupun dieufemisme mengenai hubungan mereka selama ini. Dan ya, tentu saja, seperti banyak manusia biasa lainnya di dunia, mereka bersikap reaktif—bertengkar.

Dimana Clementine lari menuju lift, untuk kemudian disusul Joel. Inilah salah satu adegan favorit saya. Saat Clementine yang putus asa berujar “I’m just a fucked up girl, Joel. I’m not perfect. Yang hanya dijawab “Ok,” oleh Joel, dengan satu senyum pengertian.

Disinilah saya sontak teringat pada salah satu diskusi saya bersama Citra. Bahwa cinta adalah satu paket. Kita tidak hanya menerima tumpukan kado cantik berlapis kain sutra dan berbalutkan pita satin. Namun juga harus sekaligus menerima bungkusan-bungkusan hitam.

Dan bahwa suatu hubungan interpersonal adalah proses untuk membuka semua kado dan bungkusan itu, untuk kemudian menerima isinya dengan lapang dada—apapun itu. Seperti lirik lagu penutup dalam film ini. ”Everybody Got to Learn Sometime..”

Ya kan?

 

  

 

 

 

   

 

      

 

 

              

              

 

                       

everyday i love you

EVERYDAY I LOVE YOU

Oleh Retnadi Nur’aini

 

Malam itu adalah untuk ke sekian kali saya jatuh cinta padanya.

Saat itu, lepas shalat Isya berjamaah, saya duduk di hadapannya. Untuk minta maaf atas daftar panjang kekurangan saya sebagai seorang istri. Mendengarkan itu semua, dia tersenyum.

Dan berujar ”Tidak apa-apa, Sayang. Kita belajar sama-sama, ya…”

Ah, lagi-lagi saya jatuh cinta padanya.  

 ***

Dan saya makin jatuh cinta padanya, setiap kali ia tertawa. Dimana ujung matanya akan berkerut-kerut, dan senyum lebarnya akan menampakkan sebaris gigi putih. 

Dan saya makin jatuh cinta padanya saat ia memijiti pinggang dan kaki saya yang pegal saat tengah datang bulan. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia menyeduh secangkir susu hangat untuk saya, di kala saya malas makan. Untuk kemudian, menyelimuti tubuh saya rapat-rapat agar tak kedinginan di waktu malam.

 Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia membelikan karet rambut sebagai pengganti karet gelang yang biasa saya gunakan untuk mengikat rambut. ”Kalo pake karet gelang, nanti rambut kamu rontok,” begitu ujarnya. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia tak lupa membawakan sekantung kecil sambal, hanya karena ia tahu bahwa saya sangat suka masakan pedas. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia juga tak pernah alpa mengingatkan agar saya tak melahap sambal itu banyak-banyak.

Dan saya makin jatuh cinta padanya setiap kali ia berhasil membuat saya tertawa. Benar-benar tertawa. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia mengingat banyak detil hal-hal favorit saya—seperti kopi rasa moka, kulit ayam goreng, parfum mawar, lagu No Frontiers yang dinyanyikan oleh The Corrs, jaket kuning biru, kebab dengan banyak mayonaise dan saus sambal, mi ayam bangka pangsit goreng pangsit rebus, snack Momogi jagung bakar.

Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia mengingatkan agar saya mengenakan pakaian yang baik saat menghadapNya. Sekaligus juga mengingatkan, agar saya tidak terburu-buru melakukan shalat. Dan saya makin jatuh cinta padanya, setiap kali ia melantunkan ayat-ayat suciNya selepas shalat Maghrib dan shalat Subuh. Dan saya makin jatuh cinta padanya, setiap kali ia menyarankan saya untuk berwudhu atau shalat dhuha kala emosi sedang meraja. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia meng-sms saya kala tiba waktunya berbuka puasa. 

Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia rela mengalah tak menonton pertandingan bola malam Minggu di televisi—hanya demi saya bisa menonton serial Grey’s Anatomy. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia membacakan by phone sederet judul novel impor yang sedang obral di pameran. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia sukses memilihkan satu novel surealis cantik—Secret Rendezvouz by Kobo Abe—sebagai oleh-oleh untuk saya. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia mematikan radio yang tengah menyiarkan lagu Lembayung Balinya Saras Dewi. Hanya
karena saya sedang menyenandungkannya. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia berkomentar ”Tuh kan, bagusan suara kamu..”   

Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia menanak nasi dan menyiapkan makan malam, saat saya pulang belakangan. Untuk kemudian, mencucikan seember baju yang telah saya rendam paginya. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia berusaha menghabiskan telur dadar gosong dan mi instan keasinan buatan saya dengan lahapnya. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia berhati-hati memilih kata dan kalimat untuk memberitahukannya pada saya, berhari-hari kemudian.

Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia menemani saya terjaga di tengah malam buta, menenangkan saya yang lagi-lagi bermimpi buruk. Dan saya makin jatuh cinta padanya, untuk setiap pelukan dan penghiburan yang dicurahkannya, saat saya mengalami hari yang buruk. Dan saya makin jatuh cinta padanya, untuk setiap butir air mata yang diusapnya dengan lembut. Dan saya makin jatuh cinta padanya, karena dialah satu-satunya penumpang setia rollercoaster mood saya yang cukup melelahkan. Dan saya
makin jatuh cinta padanya, saat ia berujar ”Seneng, deh, kamu dah senyum lagi,” setelah semua emosi negatif saya mereda.  

Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia melarang saya menyantap lagi mi instant yang tak sehat. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia membujuk saya minum segelas jus apel sebagai gantinya. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia hanya tertawa menatap dua porsi lele goreng tanpa ekor yang saya bawa. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat tangannya mengucal rambut saya yang meminta maaf, ”Maaf ya, Ayang. Tadi aku laper, jadi aku cuil-cuil dikit ekor lelenya …”

Dan saya makin jatuh cinta padanya, setiap kali ia cemburu. Dan saya makin jatuh cinta padanya, ketika ia meredamnya dengan satu komentar bijak ”Yah sudahlah, itu kan masa lalu. Yang penting sekarang, kamu jadi istri saya,” ujarnya.

Dan saya makin jatuh cinta padanya, setiap kali memeluknya. Saya akan menyandarkan kepala saya di bahunya, mencoba meresapi aroma dan keberadaannya ke dalam pori-pori saya. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia menyimpan rapi setiap lembar tulisan, puisi, imel, dan lagu yang saya peruntukkan baginya.

Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia mengedit lebih dahulu tulisan-tulisan saya. Mengingatkan EYD yang salah, kalimat yang belum diberi titik, spasi, dan koma. Dan saya makin jatuh cinta padanya, setiap kali ia memuji tulisan-tulisan saya. Betapa saya sungguh-sungguh merasa menjadi seorang penulis handal karenanya.

Dan saya makin jatuh cinta padanya, setiap kali ia memuji betapa memukaunya saya. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat kemudian ia berujar, betapa beruntungnya dia karena memiliki saya. Saya ingat, saya akan bersorak riang, dan tak bisa berhenti tersenyum sepanjang hari. Saya ingin bicara pada setiap orang asing yang saya temui di jalan, tentang betapa menakjubkannya hari saya, betapa indahnya sinar matahari yang membuat dunia menjadi begitu berkilau keemasan.

Dan saya makin jatuh cinta padanya, pada setiap pagi kala saya terbangun di sisinya, menatapnya yang masih terlelap di samping saya.

Ah, satu lagi hari yang indah untuk dilewati bersamanya …

 

Persembahan kepada Catur Sukono: suami terindah yang membuat saya jatuh cinta di setiap hari kami. I love you, Precious …

(resensi) kisah cinta si gadis penjaga toko

KISAH CINTA SI GADIS PENJAGA TOKO

Oleh Retnadi Nur’aini

 

Judul  :
Shopgirl

Penulis  :
Steve Martin

Penerbit  :
Theia Books, New York

Jumlah hal :
130 halaman

 

 

 “Don’t judge a book by its
title.”

 Mungkin itulah yang bisa
menggambarkan buku berjudul sederhana karya Steve Martin ini. Meski saya akui, saat
menemukan buku ini di toko buku bekas dekat rumah, saya sendiri sempat underestimate
pada awalnya. Hanya karena, judulnya mengingatkan saya pada salah satu judul
buku chicklitShopaholic something.

 Namun saat menimbang-nimbang buku
bersampul merah dengan foto tampak belakang seorang gadis berambut panjang ini,
sontak saya teringat dengan satu percakapan bersama salah seorang teman saya, Diana
Tri Wulandari.

 TW—begitu saya biasa memanggilnya
adalah seorang pelahap buku yang rakus. Di luar hobi masak dan kecintaannya
pada balap mobil, TW banyak melahap buku filsafat, postmodernisme, psikologi,
dan sastra.

 Karenanya, saya agak heran, saat ia
menyelipkan nama Steve Martin dalam percakapan ketika kami pulang bersama.

 “Steve Martin tuh bukannya yang
sering main film-film komedi ya?” tanya saya dengan dahi berkerut—Steve Martin
bermain dalam Roxanne, Father of the Bride, Parenthood, The Spanish
Prisoner, L.A Story,
dan Bowfinger.

 “Iya. Nah, ternyata dia itu kolumnis
New York Times, Jo—panggilan teman-teman kampus pada saya. Dan ternyata
tulisannya bagus, lho. Kontemplatif gitu, Jo. Mungkin akting
komedi untuk menyeimbangkan hidupnya kali, ya,” jawab TW terkekeh-kekeh.

 “Oya?” tanya saya masih sangsi.

 “Iya, Jo. Dan tulisannya deskriptif
banget. Lo pasti suka, deh.”

 ***

 

 Well, TW benar.

 Dari kalimat pertama “When you
work in the glove department at Neiman’s, you are selling things that nobody
buys anymore,”
saja saya sudah terpikat.

 Terlebih saat kalimat itu
dilanjutkan dengan deskripsi Martin tentang tokoh utama dalam buku ini,
Mirabelle—the shopgirl. “Everyone is silent at Neiman’s, as though it were a
religious site, and Mirabelle always tries to quiet the tap-tap-tapping of her
heels when she walk across the percussive marble floors. If you saw her, you
would assume by her gait that she is in danger of slipping at any moment. However,
that is the way Mirabelle walks all the time, even on the sure friction of a
concrete sidewalk. She has simply never quite learned to walk or hold herself
comfortably, which makes her come off as an attractive wallflower.”

 Nah, siapa yang tak jatuh cinta
dengan deskripsi semacam itu?

 ***

 

 Bagi saya, plot buku ini sendiri bisa
dibilang sederhana.

 Dimana Mirabelle—seorang penjaga
toko sarung tangan Neiman’s di Los Angeles—sempat berkencan bersama seorang
pria muda bernama Jeremy. Tak diduga, tampilan rapuh gadis yang piawai melukis
ini ternyata malah menarik perhatian seorang pengusaha kaya bernama Ray Porter.
Ray yang terpikat pada Mirabelle pun mengiriminya sepasang sarung tangan mahal
ke apartemen Mirabelle.

 Setelah melewati beberapa makan
malam bersama Ray, Mirabelle pun memutuskan untuk berkencan bersama pria yang
umurnya nyaris dua kali lipat dari umurnya ini.

 Enam bulan berkencan dengan
Mirabelle, Ray pergi ke luar kota untuk suatu perjalanan bisnis. Di sana, ia
tidur dengan wanita lain. Pun one night stand itu digambarkan Ray
sebagai “It was not romantic or intimate, and I did not stay the night with
this person,”
dalam suratnya kepada Mirabelle di halaman 97, namun, pada
akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah. Keputusan yang pada akhirnya,
membawa Mirabelle kembali pada Jeremy.   

 Sebuah plot yang cukup sederhana.

 Namun lagi-lagi, kesederhanaan plot
itu dibungkus oleh Martin dengan pita rangkaian kata yang cantik. Dengan
telatennya, ia menyelami sisi kehidupan setiap tokoh. Mulai dari cara mereka
duduk, cara mereka makan, cara mereka menerima telepon, apa yang dimakan mereka
saat weekend, rutinitas pagi mereka, cara mereka mengatur pencahayaan
dalam rumah, dan detil-detil lainnya yang tak hanya dideskripsikan secara
suasana oleh Martin, namun juga deskripsi emosi.

Tak jarang, satu subbab hanya mengisahkan tentang satu tokoh saja,
atau hanya tentang satu kejadian, atau bahkan tentang satu hari saja. Misalnya “Monday”,
“Jeremy”,
“The Weekend”, atau “Mr Ray Porter.”

 Dalam subbab “Mr Ray Porter” di
halaman 36, misalnya. Dimana pada paragraf pertamanya, Martin mendeskripsikan
ketertarikan Ray pada Mirabelle.

 Martin menuliskan “There is
nothing too mysterious about Ray Porter, at least in the unusual sense of the
word. He is single, he is kind, and he does not understand himself, or women,
or his relationships with women. But there is one truth about him that can be
said of a man who asks a woman to dinner before he has ever exchanged one
personal word with her. Mr Ray Porter is on the prowl. He does not know
Mirabelle, he has only seen her. He has responded to something visceral, but
that visceral thing is only in him, not between them. Not yet. He only imagines
the character that unites her clothes, her skin, and her body. He has imagined
the pleasure of touching her, and imagined her pleasure at being touched. She
is a feminine object that tweaks him at his animal best.”

 Yang dilanjutkan di halaman 37
dengan “His attraction to Mirabelle is not random. He is not out and about
sending gloves all over the city. His action is a very spontaneous and specific
response to something in her. It may have been her stance: at twenty yards she
looks off-kilter and appealing. Or maybe it was her two pinpoint eyes that made
her look innocent and vulnerable. Whatever it is, it started from an extremely
small place that Mr Ray Porter never could have identified.”  

  ***

 “Six month pass unnoticed as Ray
and Mirabelle live in a temporary and poorly constructed heaven, with him
flying in and out, visiting her, taking her to fine restaurant, then back to
his place, sometimes sleeping with her, sometimes not”
(hal 96).

 Termasuk di dalamnya: mengantarkan
Mirabelle ke dokter saat persediaan Serzone—obat antidepresan—nya habis. Ya,
Mirabelle menderita depresi. Depresi yang telah menjadi teman hidupnya, sejak
ia tumbuh di Vermont.

 Depresi yang dideskripsikan Martin
di subbab “Girl Friday” (hal 81).

 “Locked in the darkness of her
car, with the wipers set on periodic, she feels uneasy. The night scares her.
Then the uneasiness gives way to a momentary and frightening levitation of her
mind above her body. She can feel her spirit disconnect from her corporeal
self, and her heart starts racing. She had felt its calling card months
earlier, this unwelcome visitor in her body, who seemed to fly through her and
then was gone. This time it is stronger than before, and it stays longer. It is
a though her body is held down by weights and her mind is being methodically
disassembled.

 …The phone rings but she cannot
answer. She hears Ray Porter leave a message. She drags herself to bed without
eating. She closes her eyes, and the depression helps her sleep. Sleep,
however, is not relief. The depression is not go away, politely waiting to come
back in the morning when she is refreshed. It stays, and tonight it works on
Mirabelle even as she sleeps, poisoning her dreams.”
(hal 82)

 Depresi ini jugalah yang dialami
saat Ray berselingkuh.

 Setelah menenangkan diri di Vermont
usai membaca surat Ray, Mirabelle memutuskan untuk kembali bersama Ray. “Mirabelle
no longer knows what she believes about her relationship with Mr Ray Porter.
She no longer asks herself questions about it; she simply resides in it. Ray
continues to see her, pays off her credit card debt and student loan, replaces
her truck. These gifts, though he doesn’t know it, are given so that she will
be all right after he leaves her.”
(hal 106).

 Bagaimanapun “Ray and Mirabelle’s
relationship does not collapse that day; it subtly dwindles over the next six
months. There are fits and starts, but they can all be graphed on a downward
slope. He takes her to dinners, drives her home, hugs her goodnight. Sex is
over. Ray finally grasps that he is giving her nothing and that he has to think
for the both of them and separate from them. He pulls back and she reflexively,
protectively, does the same. She hits bottom,”
(hal 121).

 Dalam kondisi ini, Mirabelle
memutuskan pergi ke San Fransisco untuk menjadi pelukis profesional. Di sana,
ia bertemu kembali dengan Jeremy. “Mirabelle takes months to accept Jeremy,
and Jeremy patiently waits. And as he stands by, his feelings for Mirabelle
grow. One night, she cries in his arms when a recollection of Ray flirts with
her memory, and he holds her and doesn’t say a word. Where his insight comes
from as he courts her, even he doesn’t know. It might have been that he was
ready to grow up, and the knowledge was already in him, like a dormant gene,”

(hal 126).

 Beberapa bulan kemudian—after the
hard edges of their breakup had smoothed into forgetfulness
(hal
129)—Mirabelle menelpon Ray. “They reminisce about their affair and she
tells him how he helped her and he tells her how she helped him, then he
apologizes for the way he handled everything. ‘Oh, no … don’t,’ she corrects
him: ‘it’s pain that changes our lives.’ And there is a pause, and neither
speaks. Then Mirabelle says, ‘I took the gloves to Vermont and stored them in
my memory box—my mother asked me what they were but I kept it to mysef—and here
in my bedroom, in my private drawer, I keep a photo of you’, ”
(hal 130)

  ***

 

Bagi saya, membaca buku ini perlu kesabaran tersendiri.

 Tak hanya minim kalimat langsung,
ada kalanya deskripsi detil Martin justru melelahkan. Apalagi saat kita sudah
kadung “kelaparan” dengan ending cerita.

Tapi mungkin itulah seninya menikmati buku karya Steve Martin yang
pernah memenangkan Emmy Award untuk penulisan naskah TV. .

Dengan plot sederhananya, ia tak dimaksudkan sebagai “main course”
yang berat, ataupun “appetizer” yang menggoda. Bagi saya, buku ini lebih
seperti “dessert”. Ibarat cake yang kaya krim. Seperti tiramisu.

Dan bagaimana caranya menikmati “buku tiramisu” ini?

Sederhana saja. Cuil sedikit demi sedikit. Rasakan “krim” kata-kata
ini lumer di mulut dan kepala, dan “kunyahlah” pelan-pelan.

Selamat “makan”!

 ***

 

dan 30 hari kemudian….

Dan, 30 Hari
Kemudian…

Oleh: Retnadi
Nur’aini

 

 Beberapa bulan sebelum menikah, saya
bertengkar dengan sahabat saya, Citra. Pertengkaran yang merupakan pertengkaran
terhebat, sekaligus juga pertengkaran perdana selama rentang waktu lima tahun
persahabatan kami.

  Pertengkaran itu dimulai dari satu esai saya
tentang suatu pernikahan impian. Saat makan malam di GulTik (Gulai Tikungan)
Blok M dekat SMUN 70, kami pun membahasnya. Dan komentar Citra sungguh-sungguh
di luar dugaan saya.

 “You know what, No? Untuk ukuran
seorang yang akan menikah, ekspektasi lo kelewat tinggi. Itu nggak fair untuk
kehidupan yang akan lo jalani nantinya,” ujarnya sambil menatap tajam mata
saya.

 Mendengar komentar sepedas itu,
awalnya saya cuma sanggup terperangah. Dilanjutkan dengan debat panjang selama
hampir dua jam lamanya. Yang berujung pada saya menangis karena marah—ya,
reaksi katarsis saya untuk banyak emosi memang menangis—selama hampir satu jam
lamanya di hadapan Citra.

 “I know you hate me right now,
Sweetie. Tapi gua percaya bahwa adakalanya cinta tidak dikatakan, tapi
ditunjukkan dengan perbuatan. Gua sayang sama lo, dan gua harus bilang itu.
Maaf, ya, Sayang…” ujar Citra lembut.

 Ya, waktu itu saya memang marah
sekali pada Citra. Di antara seluruh orang di dunia, dialah yang paling paham
segala ketakutan saya tentang pernikahan. Dan saat saya berusaha memerangi
ketakutan saya dengan menuliskan suatu esai romantis tentangnya—dalam pandangan
saya yang sedang marah saat itu—Citra jugalah yang paling tidak suportif.

 Toh sehebat apapun pertengkaran kami
malam itu, tiga jam kemudian kami kembali berbaikan. “Meski gua masih sebel
sama lo, ya, Neng. Tapi besok udah nggak, kok. Love you, Cit,” ujar saya sambil
mencoba tersenyum dengan mata sembab. Yang dibalas dengan bercanda oleh Citra.
“Iyalah, you love me, don’t you? Hehehe, love you, No,” ujarnya sambil memeluk
saya malam itu sebelum kami berpisah.

 Dengan pernyataan Citra yang terus
terngiang-ngiang di kepala dan telinga saya.

 *** 

 30 hari setelah menikah, pernyataan
Citra tak juga henti bergema di kepala dan telinga saya. Namun untuk pertama
kalinya, saya mulai menganggapnya masuk akal. Untuk pertama kalinya, saya juga
mulai belajar tentang suatu konsep pernikahan. Dan untuk pertama kalinya, saya
bersyukur, bahwa Citra pernah melempar komentar pedas itu ke hadapan saya dulu.

Well,
ada banyak hal yang saya pelajari untuk pertama kalinya, setelah menikah. Dan
dalam kurun 30 hari, berikut beberapa di antaranya:

Saya
belajar untuk menyiapkan minuman hangat bagi suami setiap pagi dan petang. Saya
belajar untuk menyiapkan segelas air putih di samping piring suami saat sarapan,
makan siang, atau makan malam. Saya belajar untuk menggandeng tangannya di
jalan.

Saya
belajar untuk melarutkan dulu deterjen ke dalam ember air selama setengah jam. Saya
belajar untuk menyeterika pakaian suami sebelum ia berangkat kerja. Saya
belajar untuk merendam bilasan terakhir cucian ke dalam larutan pewangi dan
pelembut pakaian.

Saya
belajar, bahwa tak semua keinginan saya bisa dipenuhi. Saya belajar, bahwa saat
menangis, saya tak harus melulu dihibur. Ada kalanya, saya harus belajar untuk
paham, bahwa kekecewaan suami jugalah merupakan suatu bentuk hukuman. Dan saat
sumur air mata sudah habis ditimba, saya belajar untuk minta maaf.

Saya
belajar bahwa perasaan cemburu memang kerap kali tak masuk akal. Pun sangat
irasional, saya belajar untuk jujur, pada apa yang saya rasakan. Sebaliknya,
saya juga belajar untuk menerima kecemburuannya berdasarkan hal-hal yang
menurutnya signifikan. Dengan demikian, saya belajar untuk menempatkan diri
dalam sepatunya, dan merasakan apa yang ia rasakan.

Saya
belajar untuk berempati.

Saya
belajar bahwa kami dibesarkan dari keluarga yang berbeda, dengan kebiasaan dan
selera yang berbeda pula. Sehingga, saya belajar untuk bertanya sebelum mulai
membelikannya sesuatu.

Saya
juga belajar untuk bertanya sebelum mulai membeli makanan ringan dalam jumlah
banyak.  Saya juga belajar untuk bertanya,
sebelum mulai memindahkan televisi dan menata ruangan. Saya belajar untuk
berdiskusi. Saya belajar untuk berkompromi.

Saya
belajar bahwa cinta tak lantas membuat kami jadi dukun yang bisa saling membaca
pikiran. Karenanya, saya belajar untuk menggunakan kata sifat untuk menjelaskan
kata “sayur”, sehingga saat saya meng-sms suami dan minta tolong dibelikan
sayur matang, suami tidak malah membelikan sayur mentah untuk dimasak.

Begitu
juga saat kami bertengkar.

Saya
belajar untuk menjelaskan penyebab kekecewaan secara rasional. Untuk efek
emosional yang disebabkan oleh kekecewaan, saya belajar untuk mengunyahnya
lumat-lumat, sebelum dilontarkan. Dari sana, saya belajar, bahwa dengan kepala
dingin, segala bentuk kemarahan, kesedihan, dan kekecewaan, bisa didiskusikan.

Saya
belajar untuk memijiti kaki dan tangan suami. Saya belajar untuk menghapalkan
jenis sayur kesukaannya, merk kopi yang biasa diminumnya, berapa jumlah telur
yang ditambahkannya untuk sepiring mi goreng, berapa sendok susu dan madu yang
pas di lidahnya untuk segelas susu madu. Saya belajar untuk menyenangkannya.

Saya
belajar untuk tidak berlama-lama menerima telepon di kala malam atau di akhir
pekan. Sebaliknya, saya juga belajar untuk tak meng-sms teman kantor menanyakan
masalah pekerjaan saat mereka sudah berada di rumah. Karena seperti halnya saya
yang juga ingin beristirahat di rumah, mereka juga pasti demikian.

Saya
belajar bahwa menunggu pasangan pulang itu menyesakkan.

Kita
bisa dihantui sejuta kekhawatiran, saat ia tak kunjung datang. Dan karena pada
akhirnya saya belajar bahwa khawatir merupakan suatu bentuk emosi yang cukup
melelahkan, maka saya pun belajar untuk tidak lagi pulang kerja larut malam.

Saya
belajar membiasakan diri membawa oleh-oleh saat berkunjung ke rumah saudara
ataupun teman. Saya belajar untuk berusaha selalu membalas sms dan mengangkat
telpon. Saya belajar untuk lebih peduli.

Saya
belajar membiasakan diri mengucapkan salam. Saya belajar untuk menambahkan kata
“Mas” dan “Mbak” pada orang yang lebih tua, pun itu adalah kepada ketiga abang
saya yang tak terlalu peduli pada bentuk nama panggilan. Saya belajar untuk
menghormati orang lain.

Saya
belajar membiasakan diri untuk menggunakan kata “kami”.

Saya
belajar untuk selalu menyiapkan uang receh. Saya belajar untuk mengambil uang
di ATM dalam jumlah besar ketimbang dalam jumlah sedikit tapi sering. Karena
kita tak selalu menemukan ATM. Saya belajar untuk selalu punya stok “keperluan
wanita”. Sehingga kali lain saya tiba-tiba “kedatangan tamu”, suami tak perlu
jalan kaki ke warung yang cukup jauh pada tengah malam buta. Saya belajar untuk
selalu punya antisipasi dan persiapan dalam segala hal.

Saya
belajar bahwa toh, pada akhirnya, tak semua ketakutan saya itu terbukti.
Beberapa di antaranya ternyata hanyalah kecemasan berlebihan terhadap
keengganan akan suatu perubahan. Dan mengutip kata Citra, saya juga belajar
bahwa cinta tak melulu harus dikatakan. Melainkan berwujud nyata dalam suatu
perbuatan.

Kini,
30 hari lewat sudah, sejak kami berjanji. Semua pelajaran ini juga tak lantas berhenti
sampai di sini. Karena masih panjang perjalanan hari. Dan dalam perjalanan itu,
kami akan kembali membuat beragam kesalahan. Kami akan kembali berdebat. Kami
akan kembali salah paham. Kami akan kembali bertengkar. Pun, kami akan kembali
berdiskusi. Kami akan kembali saling minta maaf. Kami akan kembali berkompromi.

Tentu
saja, tak semua kompromi punya solusi melegakan. Pun, tak semua hari berhiaskan
romantisme berkilauan. Dan tak semua pelajaran ini juga sempurna hasilnya.
Namun, dari sana, saya belajar satu hal.  

Bahwa
kami, tak akan berhenti untuk terus belajar.

 ***

(Persembahan
untuk: Diani Citra—sahabat yang menepati janjinya menjadi Mata, Telinga, dan
Suara. Juga untuk seseorang yang sedang khilaf menerima saya sebagai istri –Mas
Catur Sukono—suami terhebat yang tak pernah lelah untuk menunggu saya belajar
menjadi dewasa. Thank God I found you. Semoga khilafmu permanent ya Ayang J)
  

berburu harta karun

Berburu Harta

Karun

Oleh: Retnadi Nur’aini

 

 

“Byur! Kecipak,
kecipak!” Marty Hiu, Uri Gurita dan Angie Ikan sedang berenang-renang di dasar
laut.

“Yuk, lomba
renang, yuk!” ajak Angie Ikan, lalu segera melesat berenang jauh di depan. Lihat,
tuh, Marty Hiu dan Uri Gurita sampai ketinggalan!

“Uuuh,
Angie…mentang-mentang badannya mungil, bisa nyelip-nyelip, langsung duluan,
deh,” dumel Marty Hiu.

“Iya, dia nggak
liat apa, tangan kakiku banyak begini. Mana kemarin abis les piano, jadi agak
keriting, nih,” keluh Uri Gurita sambil berenang malas-malasan.

Angie Ikan
memang yang paling bersemangat diantara ketiga sahabat itu. Pernah mereka balap
renang mengelilingi Pulau Rahasia sebanyak 17 kali putaran. Marty Hiu saja
sudah ngos-ngosan di putaran ke-9. Uri Gurita apalagi. Dia malah sudah menyerah
di putaran ke-4. Dan coba tebak berapa putaran yang dilakukan Angie Ikan? 23
putaran!!! Itupun tadinya Angie masih mau menambah dengan 2 putaran lagi, kalau
tak buru-buru dicegah Marty dan Uri.

“Bosen, ah,
keliling pula terus. Kamu, tuh, kecil-kecil, tenaganya banyak ya? Apa, sih,
rahasianya?” tanya Marty.

Sementara itu
Angie cuma cengar-cengir jail. Lalu sambil mengedipkan matanya, Angie
berceletuk “Rajin latihan dan minum susu!”  

 ***

Nah, sekarang,
Marty dan Uri sedang asyik berenang mengekor Angie. Aak susah, nih, untuk
mengikuti gerakan Angie yang super lincah. Belok sana, belok situ, kelit sana,
kelit situ.

Tiba-tiba…

“WAAAK!” teriak
Angie.

Segera saja
Marty dan Uri melesat berenang menyusul Angie.

“Ada apa? Ada
apa? Kenapa?” mereka berebut bertanyaan, sambil mengelilingi Angie. Sementara
Angie menunjuk sebuah benda hitam besar di hadapannya. Mata Marty dan Uri
mengikuti arah yang ditunjukkan Angie.

“Waaah, ini kan
kapal perompak!” seru Uri. Sementara Marty menatap penasaran. Apa itu kapal
perompak? Dia tak pernah mendengarnya.

“Iya, iya, ini
kapal perompak yang pernah diceritakan sama Guru Kepiting dulu, kan, ya? Yuk
kita masuk. Siapa tahu kita bisa menemukan harta karun!” ajak Angie, lalu
dengan lincah segera mencari celah kecil di tubuh kapal.

“Eh, Angie!
Tunggu dulu!,” ujar Marty berusaha mencegah. Marty takut gelap soalnya. Meski
tubuhnya besar, ia bisa merinding kalau berada dalam kegelapan.

“Dan kapal ini
sepertinya gelap…” gumam Marty cemas.

“Tenang saja,
Marty, kan ada aku. Pasti beres!” ujar Uri sambil menepuk-nepuk bahu Marty.
Berdua, mereka pun berenang ke dalam.

Di dalam kapal, Angie
sudah sibuk hilir mudik.

“Wow, seru!”
teriak Angie girang. “Di sana ada periskop pecah! Di sini ada topi! Wah di sini
juga ada..” Lihat, tuh, tak henti-hentinya Angie berceloteh riang. Sementara
Marty berenang dengan takut-takut, dengan Uri yang tak sekalipun melepas
genggaman tentakelnya di sirip Marty. Mata Marty mulai lirak-lirik cemas.

“Ih, Marty, sini
masuk. Nih, aku tadi menemukan topi buat kamu. Uri juga, ada kalung cantik,
nih. Lihat, deh!” ujar Angie riang.

Pelan-pelan,
Angie menerima topi itu. “Masa hiu kepala martil pakai topi? Aneh, ah!”
pikirnya. Tapi, toh, dikenakannya juga topi itu di kepalanya. Dan ternyata…

“Hmmm, keren
juga, ya,” gumam Marty sambil mematut-matut bayangannya di depan cermin. Marty
tersenyum senang. Saking senangnya, Marty sampai lupa, bahwa ia tadi gemetaran
waktu baru masuk kapal ini.

Sementara itu,
oh, oh! Uri terbelit kalung!

“Waaak!
Tolooong!” teriak Uri.

Angie yang
semula sibuk mondar-mandir segera menghampiri Uri. Begitu juga Marty. Sambil
geleng-geleng kepala, mereka membantu Uri melepaskan diri.

“Fiuh, akhirnyaaa.
Terima kasih, Teman-teman!” ujar Uri lega. Salah satu tentakelnya mengusap keringat
yang menetesi dahinya.

Namun tak lama
kemudian…

“Kruk, kruk!”
perut Marty, Angie, dan Uri berbunyi bersamaan.

Oh, oh, rupanya
sudah waktunya makan malam! Ketiga sahabat ini pun segera bergegas berenang
keluar kapal. Di luar kapal, dengan riang, Angie berujar “Yuk, balapan sampai
rumah!”, lalu berenang melesat meninggalkan teman-temannya.

“Uuuh, Angieee,
kebiasaan, deh!” keluh Marty dan Uri.

 ***

gara-gara telur ajaib

Gara-gara Telur Ajaib

Oleh: Retnadi Nur’aini

 

“Rui! Sini!”
panggil Benny pada anjing kesayangannya.

Siang itu, Benny
dan Rui memang sedang berjalan-jalan di hutan. Kebiasaan mereka tiap hari
Minggu siang, tuh. Soalnya, kata dokter hewan yang memeriksa Rui, Rui memang
harus sering-sering diajak jalan-jalan. Biar sehat dan tidak gampang sakit. Dan
Benny paliiing sayang sama anjingnya!

Bersama-sama,
mereka punya banyaaak sekali pengalaman seru! Mulai dari memergoki maling
jemuran di kota kecil mereka, menemukan sarang burung yang terjatuh dari atas
pohon, sampai mengobati kelelawar yang sayapnya terluka sehingga tak bisa
terbang. Pokoknya, kalau mereka bersama-sama, pasti ada saja kejadian seru!

Seperti
sekarang.

Meski sudah
dipanggil-panggil Benny, Rui tetap saja menerobos ke dalam hutan. Benny sampai
terengah-engah saat mencoba berlari mengikuti Rui. Dan oh, oh, lihat apa yang
ditemukan Rui!

Sebutir telur!

Dan tidak
seperti telur lainnya, telur ini buesar!

Pelan-pelan,
Benny mendekati telur itu. Lalu, dengan hati-hati, dibungkusnya telur aneh itu
dengan kausnya, dan dibawanya pulang.

“Kamu hebat Rui!
Kita berhasil menemukan telur ajaib!” ujar Benny riang.

Sementara di
sampingnya, Rui menggerak-gerakkan ekornya dengan gembira.

 ***

 

 Setibanya
di rumah, Benny langsung naik ke kamarnya yang ada di atas. Diletakkannya telur
di atas meja. Diamat-amatinya telur itu. Sementara di sampingnya, Rui
mengendus-enduskan moncongnya ke permukaan telur.

 “Hmmm,
menurutmu ini telur apa, ya, Rui? Aku pikir, sih, ini pasti telur naga!” ujar
Benny sambil mengetuk-ketukkan jarinya di permukaan telur.

 “Soalnya,
kata Robby, hutan tempat kita main itu memang dijaga oleh seekor naga! Kan bisa
saja, telurnya tercecer satu butir! Ya, kan, Rui?” tanya Benny.

 “Eh,
tapi, kalau ini telur naga sungguhan, si Mama Naga pasti akan mencarinya ke
rumah ini, ya? Wah, kita harus sembunyikan telur ini baik-baik, Rui! Oke,
partner?” tanya Benny, lalu mengucal bulu di kepala Rui.

 Dan
benar saja, sejak hari Minggu siang itu, banyak waktu Benny yang dihabiskan
untuk si telur. Saat bangun tidur pagi-pagi saja, Benny langsung berlari untuk
melihat telurnya. Pulang sekolah juga begitu. Tanpa babibu, ia langsung
melempar tasnya dan berlari untuk melihat telurnya. Kalau sudah begitu, bisa
berjam-jam ia menimang-nimang telurnya. Lupa makan, lupa mandi, lupa belajar. Mama
sampai ngomel-ngomel.

 Habis,
Benny juga jadi lupa dengan Rui, sih. Kalau sudah sibuk dengan telurnya, Benny
akan lupa untuk memandikan Rui, memberi makan Rui, sampai mengajak Rui
jalan-jalan.

“Kasihan, tuh, Rui,
lemas betul kelihatannya. Ajak jalan-jalan, sana! Jangan sibuk saja dengan
telur anehmu itu!” ujar Mama.

Namun Benny hanya
mengiyakan sambil lalu, dan terus saja sibuk dengan telurnya. Sementara Rui
mendekam sedih di pojokan, dengan kedua telinganya yang layu. Duh, malangnya si
Rui!

 ***

 

 Hari
Minggu, waktunya beres-beres kamar!

 Sudah
lama Benny tak membereskan kamarnya. Debu dan kotoran menempel dimana-mana.
Benny sedang membersihkan mejanya, ketika tiba-tiba…

 “Prak!”

 Cepat
Benny melongokkan kepalanya ke bawah meja.

 Dan
oh, oh! Telurnya jatuh!

 Telur
naga kesayangannya, yang dijaga dan dirawatnya setiap hari! Sementara itu, bau
busuk mulai menyeruak. Mama sampai naik ke kamar Benny untuk mengecek wajah
Benny sedih sekali.

 “Iya,
Mama tahu, kamu sedih kehilangan teman barumu. Tapi coba tebak, siapa lagi yang
juga sedih karena telah kehilangan sahabatnya?” ujar Mama sambil melirik ke
pojok tempat Rui biasa tidur siang. Di sana, Rui terbaring lesu. Oh lala,
ternyata sudah beberapa hari ini Rui sakit!

 Sorenya,
Benny membawa Rui ke dokter hewan. Lalu, disuapinya Rui dengan obat. “Ayo minum
obatnya Rui, biar cepat sembuh. Maafkan aku, ya, telah melupakanmu selama ini.
Aku janji, tak akan meninggalkanmu lagi!” janji Benny.

pesta kejutan sute semut

Pesta Kejutan Sute Semut

Oleh: Retnadi Nur’aini

 

Pagi ini Sute
Semut gembira sekali! Soalnya tumben-tumbenan, semut jahil ini besok
malam, Sute mau mengadakan pesta kejutan. Hmmm, pesta kejutan??? Namanya saja
sudah membuatmu penasaran, bukan?

Karena Sute
ingin merancang pestanya serapi dan sesempurna mungkin, sejak pagi ia sudah
belanja. Entah apa saja yang dibelinya. Yang jelas, ia tampak membawa
berbungkus-bungkus roti, keripik kentang, bulu angsa, juga berbatang-batang
lilin. Hmmm, paduan yang aneh, ya?

Setelah
berbelanja, Sute pun menulis secarik undangan singkat ntuk teman-temannya.
Mereka adalah Kupi Kepik, Labe Lebah dan Belang Belalang, Sute hanya menuliskan
secarik undangan singkat. Begini tulisannya “Teman-teman, datang ya ke pesta
kejutanku besok malam! Dijamin seru! Tiada kesan tanpa kehadiranmu, yaaa!”

Tuh, gimana
coba teman-temannya nggak penasaran?

 ***

Keesokan
paginya, teman-teman Sute menerima undangan pesta kejutan.

Dan, benar saja,

kan

, teman-teman
Sute bingung.

“Pesta kejutan
apa ya?” ujar Kupi Kepik sambil garuk-garuk kepala.

“Jangan-jangan, nanti
disana banyak petasan, ya?” cetus Labe Lebah.

Labe

paling gampang kaget soalnya. Dan ia
paling takut dengar suara petasan.

Baru saja Belang
Belalang mau menjawab pertanyaan Labe, ketika tiba-tiba Sute melintas di depan
mereka.

“Wah, kebetulan
sekali, Teman-teman! Kalian sudah menerima undanganku, kan? Jangan lupa, ya,
datang tengah malam nanti!” ujar Sute ceria, kemudian berlalu sambil
menandak-nandak riang.

Sementara
teman-teman Sute hanya tersenyum dipaksakan.

Setelah Sute
pergi, mereka kembali mengobrol.

“Pokoknya, kalau
nanti ada petasan, aku tak mau datang, ah! Sute suka jahil, sih” ujar Labe
lagi.

“Iya, iya!
Terus, kalau nanti ada acara lempar telur, aku juga nggak ikutan,
ah! Telur, kan, bau! Nanti aku harus mandi sampai tujuh kali sehari, lagi!”
timpal Belang Belalang.

Nah, kan,
teman-teman Sute jadi curiga dan mikir yang jelek-jelek, deh.

Padahal, mereka
kan belum tahu dengan pasti, ya, Teman-teman?

 ***

“Tik, tok, tik,
tok,” jam dinding rumah Sute berbunyi. Sementara Sute menatap jam dinding
dengan tak sabar. “Sudah hampir tengah malam, nih. Kemana, ya, mereka? Apa
mereka ketiduran, ya?” gumam Sute.

 Wajar saja, sih, kalau Sute cemas. Habis, dia
kan sudah merancang pesta kejutan ini matang-matang. Kalau nanti para
undangannya tak datang, buyarlah pesta ini. Gagal total, deh!

Namun, Sute tak
perlu cemas lama-lama.

Karena sebenarnya,
Kupi, Labe, dan Belang sudah berada di depan pintu rumahnya. Hanya saja, mereka
sedang rebutan tentang siapa yang akan mengetuk pintu rumah Sute.

“Kamu saja, deh!
Kamu, kan, tidak gampang kaget dengan suara petasan!” tuding Labe pada Kupi.

“Iya, kamu juga
jarang mandi! Jadi kalau ternyata setelah pintu dibuka ada telur dilempar, ya nggak
masalah. Ya, kan?” timpal Belang.

Akhirnya, dengan
enggan, Kupi pun mengetuk pintu rumah Sute.

“Tok, tok, tok!”

Hanya butuh
beberapa detik buat Sute untuk berlari, membuka pintu, dan..

“Selamat datang,
Teman-teman! Kok lama sekali, sih??? Aku pikir kalian ketiduran!” sambut
Sute riang.

Melihat Sute
seriang itu, teman-temannya jadi agak ragu. Dengan takut-takut mereka melangkah
masuk, dengan mata mencari-cari jebakan tersembunyi di celah ataupun sudut
ruangan.

“Silakan masuk.
Aku sudah memanggang roti. Di meja juga ada banyak camilan dan keripik kentang.
Hari ini kita akan mengadakan pesta piyama!” ujar Sute. 

 Seketika teman-teman Sute tersentak.

“Pesta piyama???
Bukannya pesta petasan?” tanya Labe.

“Atau pesta
lempar telur???” Belang ikut bertanya.

Dahi Sute
berkerut.

“Tidak, dong,
Teman-teman. Di pesta piyama, kita semua akan mengenakan piyama. Lalu kita bisa
main dan makan camilan sampai pagi,” jelas Sute.

Mendengar
penjelasan Sute, teman-temannya seketika merasa bersalah telah curiga pada Sute
tadi pagi. Mereka terdiam.

Sampai akhirnya
Kupi memberanikan diri.

“Maafkan kami,
ya, Sute. Karena kami tadi sudah berprasangka buruk kepadamu. Maaf ya…” ujar
Kupi pelan.

Sute tersenyum.

“Tidak apa-apa,
teman-teman. Maaf ya, kalau selama ini aku sering jahil. Tak heran kalau kalian
jadi curiga macam-macam. Tidak apa-apa, kok,” jawab Sute.

“Tapi sebagai
hukumannya…buk!” Sute melempar bantal ke Kupi.

Kupi terbahak.

“Dasar Sute, oke,
siapa takut! Ayo perang bantal!!!”

 ***

rambut baru putri philomela

RAMBUT BARU PUTRI PHILOMELA

Oleh: Retnadi Nur’aini

 

Sejak rambut panjangnya dinaiki kucing-kucing
yang ingin naik ke menara, Putri Philomela jadi sering uring-uringan. Rambut
panjangnya kini jadi kusam, kering, dan rontok. Maka pada suatu siang, mengadulah
Putri Philomela pada burung pelatuk.

“Burung Pelatuk, aku benci rambutku,”

“Tuk, tuk, tuk, kenapa Putri Philomela? Rasanya
tak ada yang salah dengan rambutmu,”

“Ah, kamu cuma menghiburku. Lihat, nih, ujung
rambutku bercabang, banyak yang patah, kering. Tuh, banyak yang rontok di bawah
pohon kamu,” tunjuk Putri Philomela ke bawah pohon tempat sarang Burung Pelatuk
berada.

“Tuk, tuk, tuk, iya juga sih. Apa kamu sudah
pakai ramuan khusus rambut rontok?” tanya burung pelatuk.

“Sudah, tapi tidak berpengaruh. Tetap saja rambutku
rontok. Apa sebaiknya kupotong rambutku saja?”

“Tuk, tuk, tuk, jangan Putri Philomela!
Rambutmu,

kan

,
bagus!” sergah Burung Pelatuk.

“Pokoknya aku mau potong rambut!” Putri
Philomela bersikeras.

 ****

Putri Philomela pun pergi ke rumah Bu
Beruang. Bu Beruang terkenal pandai memotong rambut.

“Bu Beruang, aku mau potong rambut.”

Tanpa banyak tanya, Bu Beruang memotong
rambut

Kres, kres, kres, dipotonglah rambut Putri
Philomela.

Karena mengantuk, Putri Philomela menguap.
Kelopak matanya terasa makin berat, dan berat, dan…terlelaplah Putri Philomela.
Sementara Bu Beruang melanjutkan mengguntingi rambut Putri Philomela.

Tiba-tiba..”Klining, klining!” lonceng di
depan rumah Bu Beruang berbunyi.

“Ah itu pasti tukang ikan! Semoga dia punya
ikan tuna hari ini!” ujar Bu Beruang, lalu meninggalkan Putri Philomela yang
tengah terlelap di kursi salon.

Sementara Bu Beruang pergi membeli ikan, Puro
anak Bu Beruang masuk ke dalam rumah. Dilihatnya Putri Philomela yang terlelap.
Puro kagum pada rambut panjang Putri Philomela. Dia jadi ingin bermain-main
dengan rambut Putri Philomela. Diambilnya gunting, dan oh…oh…”kres,kres”,
mulai diguntinginya rambut Putri Philomela. “Kres di sini, kres di

sana

, kres kres semua!”
nyanyi Puro riang. Sementara Putri Philomela masih tidur lelap.

“YA AMPUUUN, PUROOO!!!” teriak Bu Beruang.
Seketika, Putri Philomela terbangun. Dia menatap bayangannya dengan rambut tak
keruan di depan cermin.

“YA AMPUUUN, RAMBUTKUU!” teriak Putri
Philomela panik.

Bu Beruang mulai menenangkan Putri Philomela.
“Tidak apa-apa Putri Philomela. Aku masih bisa memperbaikinya. Tapi, memang
rambutmu akan jadi pendek sekali nantinya.”

“Huhuhu..nanti kucing-kucing tidak mau
bermain lagi denganku jika rambutku pendek, huhuhu…” isak Putri Philomela. Mata
dan hidungnya berair.

Bu Beruang menegur Puro, dan menasehatinya. “Puro,
kali lain, pergunakan gunting dengan hati-hati, ya.”

“Baik Bu. Maafkan Puro.” ucap Puro pelan.

Putri Philomela masih tersedu-sedu. Di dalam
salon, Putri Philomela masih tersedu-sedu. Pelan-pelan, Puro mendekatinya
membawa sehelai sapu tangan.

“Putri Philomela, maafkan Puro, ya. Aku tadi
sudah jahil memotong rambutmu. Tapi ibuku bilang, masih diperbaiki. Jangan
sedih…” ujar Puro.

Sementara itu, di belakang Puro, Bu Beruang
telah siap dengan gunting rambutnya.

 *****

Setengah jam kemudian, rampunglah pekerjaan
Bu Beruang.

Lihat ada banyak sekali rambut Putri
Philomela yang dipotong! Rambut Putri Philomela memang jadi pendek sekali.
Rambut Putri Philomela yang tadinya sepanjang mata kaki, kini tinggal sebatas leher.

“Wah, kamu tampak lebih segar dengan rambut
pendek lho!” ujar Bu Beruang.

Di perjalanan pulang, Putri Philomela bertemu
dengan Burung Pelatuk.

“Tuk, tuk, tuk. Putri Philomela??? Wahh, model
rambutmu baru! Aku hampir-hampir tak mengenalimu!”

Lalu Putri Philomela mulai bercerita tentang
kejadian di rumah Bu Beruang tadi.

“Huhuhu…rambutku jadi pendek sekali,” Putri
Philomela kembali berisak.

“Tuk, tuk, tuk, Putri Philomela Sayang, kucing-kucing
suka bermain denganmu bukan karena rambutmu. Tapi, karena hatimu. Rambut pendek
atau rambut panjang, kamu tetap gadis yang berhati cantik,” ujar Burung Pelatuk
panjang lebar.

“Sungguh, Burung Pelatuk?”

“Tuk, tuk, tuk. Sungguh Putri Philomela. Kamu
putri tercantik yang pernah kukenal!!!”

  *****

 

aduh, lupa!

ADUH, LUPA!

Oleh: Retnadi Nur’aini

 

Paling pusing, deh, kalau berteman dengan
Musi Musang! Soalnya, musang yang satu ini memang pelupa sekali. Musi bisa lupa
tempat menyimpan kunci rumahnya, sehingga akhirnya dia terkunci di luar. Gawat

kan

?

Makanya, pada suatu siang di hutan, Musi minta
saran kepada teman-temannya.

“Atau, kamu bisa tulis di kertas letak penyimpanan
barang-barangmu” saran Baki Badak.

“Iya, lalu kertas itu kamu simpan di saku
jaket,” sambung Kiki Kelinci.

“Bawalah kertas itu ke mana-mana!” ujar Onyi
Monyet.

“Wah, iya, benar! Terima kasih, Teman-Teman!”
ujar Musi riang.

 *****

Sejak hari itu, Musi pun mulai rajin menulis daftar
letak barang-barangnya. “Tas digantung di balik pintu. Payung digantung di
tempat topi. Kunci pintu ada di dalam jaket.”

Setelah mandi, Musi kembali mencatat. “Handuk
digantung di balik pintu. Sikat gigi ada di dalam gelas di depan cermin. Sabun
di sebelah kiri bak mandi.”

Saat sarapan, Musi masih tak berhenti
mencatat. “Setelah makan, cuci piring. Nanti piring disimpan di rak piring yang
ada di dapur. Gelas dan cangkir di rak bagian atasnya. Sendok garpu disimpan di
laci rak.”

Wuih, lihat, betapa panjangnya daftar catatan
Musi!

Begitu panjangnya daftar itu sampai
membungkus kaki Musi.

Musi Musang jadi mirip Musi Mumi, hihihi!

 *****

 

“Nah, sekarang waktunya untuk berangkat
kerja!” ujar Musi Musang riang.

Wah, lihat, Musi sudah rapi jali. Jaketnya
sudah terkancing rapi. Tas kerja sudah tersampir rapi di lengan kanan. Dan,
wajahnya tampak berseri-seri!

Di perjalanan, Musi bertemu dengan
kawan-kawannya. Kiki Kelinci sedang sibuk menanam wortel, dibantu Baki Badak.
Sementara di atas pohon, Onyi Monyet sedang panen pisang.

“Hai, Musi! Wah, kamu rapi sekali!” sapa
mereka.

Sambil tersenyum riang, Musi menjawab “Iya,
Teman-Teman! Aku mau berangkat kerja, nih!”

“Hm, sebelum berangkat kerja, adakah yang kamu
lupa, Musi?” tanya Kiki Kelinci.

“Tentu saja tidak! Karena, sejak pagi, aku
sudah mencatat semuanya! Lihat, tas kerja sudah. Jaket sudah. Payung sudah.
Kunci rumah sudah. Semua sesuai catatanku.” jawab Musi riang, sambil
menunjukkan gulungan kertas besar dari kantongnya.

Seketika teman-teman Musi bertepuk tangan!

“Plok, plok, plok!”

“Wah, kamu hebat, Musi!” ujar Kiki Kelinci.

“Iya, akhirnya, kamu belajar untuk mengatasi
kebiasaan pelupamu!” sambung Baki Badak.

“Dan kamu berhasil hari ini!” tambah Onyi
Monyet.

Wajah Musi memerah karena malu.

“Ah, ini semua,

kan

, berkat kalian. Kalian yang memberiku
ide untuk mencatat berbagai hal. Terima kasih, Teman-Teman! Semoga hari kalian
menyenangkan!” ujar Musi sambil melambaikan tangan.

“Iya, Musi. Selamat bekerja!” lambai
teman-temannya.

Dan, Musi pun berlalu, diiringi lambaian
teman-temannya.

Namun, dari belakang, teman-temannya mulai
memerhatikan kaus kaki Musi.

“Hei! Kaus kaki kanan Musi berwarna hijau!
Dan, kaus kaki kirinya berwarna biru. Apa aku salah lihat ya?” ujar Kiki
Kelinci.

“Oh iya, benar! Aduuh, dia pasti lupa
mencatat letak kaus kakinya!” teriak Onyi Monyet.

Berbarengan, mereka bertiga pun memanggil
“Musi!!!”

 ****

 

teman baru beki

TEMAN BARU BEKI

Oleh: Retnadi Nur’aini

 

“Kecipak,
kecipuk!”

Pada suatu siang
yang cerah, Beki Bebek sedang asyik berenang bersama teman-temannya di sungai.

“Kwek, panasnya
hari ini!” keluh Duki.

“Iya, kwek,
sampai lengket bulu-buluku!” timpal Belu tak mau kalah.

Omong-omong soal
lengket, Beki jadi ingat, sudah seminggu ini dia tak keramas. Hmmm, panas-panas
begini, kepala kena air dingin. Brrr, segarnya!

“Byur!” Beki membenamkan
kepalanya ke air.

Namun, oh, oh, di
dalam air, ada seekor hewan aneh!

Beki memicingkan
mata.

“Hmmm, hewan ini
berparuh seperti aku, tangan dan kakinya juga berselaput, persis seperti
kakiku. Tapiii, hewan ini berbulu! Hmmm, hewan yang aneh… siapa, sih, dia? Kok,
dia bisa ada di sini?” pikir Beki.

Pelan-pelan,
hewan itu berenang mendekati Beki.

“Halo, namaku
Ipus,” sapa hewan aneh itu ramah.

“Halo, aku
Beki.”

Sementara dari
jauh, teman-teman Beki mulai penasaran.

“Hei, Beki
sedang apa, tuh? Lama sekali dia membenamkan kepalanya di dalam air!” ujar
Duki.

“Yuk, yuk, kita
dekati dia!” ajak teman-teman lainnya. 

 ***

“Byur! Byur!
Byur!”

Ramai-ramai,
teman-teman Beki ikut membenamkan kepala mereka ke dalam air.

“Lho!

Ada

hewan aneh di dalam
air!” ujar Duki.

“Lihat, paruhnya
mirip kita! Tapi, tubuhnya berbulu. Hm, siapakah dia?”

“Iya, iya,
siapa, sih, dia?” teman-teman bebek lainnya berebut saling menimpali.

 Sementara, Ipus mulai menjawab pertanyaan
teman-teman Duki, satu per satu.

“Halo
teman-teman, namaku Ipus Platipus. Aku memang mirip kalian. Aku juga terlahir
dari telur, sama seperti kalian. Tapi, aku bukan bebek. Malahan, aku termasuk
keluarga hewan menyusui. Sama seperti singa, gajah, jerapah, dan hewan menyusui
lainnnya,” jelas Ipus panjang lebar.

“Jadi, kamu
bertelur, juga menyusui?” tanya Duki, yang diikuti oleh anggukan teman-teman
bebek lainnya.

“Sudahlah,
Teman-Teman. Meski berbeda, tapi dia tetap penghuni sungai ini. Artinya, dia
juga teman kita. Ya,

kan

?”
kata Beki.

“Iya, Teman-Teman.
Maaf, ya, kalau aku jarang naik ke permukaan dan berkenalan dengan kalian.
Habis, aku takut…” ujar Ipus.

“Lho? Takut
kenapa?” tanya Belu.

Lalu dengan
wajah murung, Ipus mulai menjelaskan.

“Aku takut
diburu orang. Bentuk kami yang unik menyebabkan banyak pemburu liar mencari
kami. Beberapa bulan lalu, pamanku tertangkap oleh salah satu pemburu liar.
Lalu, beberapa hari lalu, adikku hampir saja tertangkap. Untung saja, dia
cepat-cepat berenang ke sarang kami,” jelas Ipus sedih.

Mendengar cerita
Ipus, teman-teman bebek pun merasa iba.

“Ipus, maafkan
kami karena tadi sudah tak ramah padamu.” ujar Duki, disusul oleh teman-teman
bebek lainnya.

Lalu, sambil tersenyum
Beki berujar “Nah, karena Ipus sekarang sudah jadi teman kita, maka kita akan
menjaga teman kita ini bersama-sama,

kan

?”

“Iya! Setuju!
Setuju!” sorak teman-teman bebek lainnya.

Sambil tersenyum
jail, Belu berkomentar “Tapiii, ada syaratnya!”

Seketika, semua
menatap Belu penasaran.

“Apa? Apa?
Syarat apa?” tanya mereka berebutan.

“Ceprot!!!” Belu
mencipratkan air ke wajah Ipus.

“Itu syaratnya!
Hahaha!!!” teriak Belu sambil tertawa kegirangan, diikuti teman-teman bebek
lain yang saling main ciprat air.

Ipus tertawa.
“Dasaaar kalian! Awas, ya!” ancamnya, lalu mengejar Belu.

“Ceprot!”

 ***

« Previous entries