Archive for December, 2005

tentang penasaran

        Saya menatap kotak itu. Terbungkus rapi
dengan kertas kado warna pink.
Ada pita putih untuk mempercantik tampilannya. Saya
menggoyangkannya sedikit. Mencoba menempelkannya ke telinga kanan.

Hmm…tidak ada bunyi detakan. Berarti
kemungkinan besar bukan jam. Atau bom. Hey, saya juga tidak menuduhnya memberi
kado bom pada kekasihnya. Tapi mau tidak mau, kotak kado ini memang
mengingatkan saya pada adegan sebuah film action.

Dalam film itu, tampak seorang gadis
sedang duduk di dalam pesawat terbang. Sambil tersipu-sipu, ia memamerkan kado
dan kartu ucapan dari pacarnya, pada seorang nenek yang duduk di sampingnya.
“Dari pacar saya nih. Romantisnya..”, dan BUM!!! Pesawatnya meledak.

Well, gadis itu lupa menempelkan
telinganya.

Saya tidak.

Dan tidak ada bunyi detakan.

Hmm, apa ya isinya? Mungkinkah kalung
dengan batu topaz biru yang saya puji kemarin di toko perhiasan? Tidak, tidak,
kotaknya terlalu kecil.

Atau frame? Tapi dia juga sudah pernah
memberikan kado frame dengan foto kami, pada ulang tahun saya tahun lalu. Dia
tidak mungkin memberikan kado yang sama dua kali. Bukan tipenya.

Hmm..atau jam tangan? Apa mungkin dia ingin memberi jam tangan untuk
menyindir saya? Betapa dia selalu datang setengah jam lebih awal, dan saya
selalu setengah jam terlambat. Di setiap kencan. Tapi, mungkinkah? Karena itu
kasar sekali. Lagi pula, biasanya dia juga tidak marah kok. Dia akan tersenyum
sabar, lalu mengacak rambut saya dengan sayang.

Atau jangan-jangan parfum? Apa dia tidak
suka aroma tubuh saya? Atau dia ingin saya lebih wangi? Wangi yang seksi,
mungkin? Ya Tuhan! Kata orang, hadiah parfum itu minta putus. Penghalusan kata
tanpa meluka.

Saya tercekat. Benarkah? Apa dia mau
putus? Pura-pura memberi kado sebagai tanda, lalu berhenti menelpon, sms, dan
menghilang begitu saja? Mungkinkan dia sekejam itu? Tegakah dia?

Saya masih menatap kotak mungil ini. Fuh,
bagaimanapun, tak ada cara lain untuk tahu, selain membukanya. Dengan
takut-takut, saya mulai mengurai pitanya. Nah, sekarang tinggal kertas pink
ini.

Pelan-pelan saya merobeknya.

Dan, di tangan saya, kini ada satu kotak
kayu mungil. Pelan-pelan, saya membukanya. Di dalam, ada bantal hati kecil
berwarna merah. Diatasnya, ada secarik kertas.

Pelan-pelan saya membukanya.

“Saya titipkan hati saya yang sepotong
itu ke kamu. Mohon dijaga. Yours. “

         Ada dering sms.

Dari dia. “Sudah terima kadonya?”

Dan saya tersenyum.

kisah ttg bidadari

Semalam, saya baru ketemu bidadari. Pasti
kalian nggak percaya. Tapi betul deh, saya nggak bohong kok. Semalam itu
betul-betul ada bidadari turun ke bumi.

Kejadiannya itu sekitar jam 22.00. Waktu
itu, saya sedang ada di kamar, lagi baca buku. Samar-samar, ada suara bayi
nangis dari arah luar rumah. Lama-lama, makin keras. Tapi nggak lama, suara itu
mulai menghilang.

Karena penasaran, saya keluar rumah. Di
teras, ibu saya sedang menggendong seorang bayi bermata sembab. Saat saya
bertanya pada ibu, bayi ini sudah siap menangis lagi, kalau saja ibu tidak
buru-buru mengajaknya ke dalam rumah, dan menenangkannya.

Dari anak-anak yang nongkrong depan
rumah, baru saya dapat cerita lengkapnya. Ternyata, bayi itu adalah anak
penjual bakso samping rumah kami. Rupanya, ayah ibu si bayi sedang keluar
mengambil gerobak bakso. Mereka meninggalkan ketiga anak mereka yang sedang
tertidur di warung bakso yang sudah tutup. Tak disangka, si bayi tiba-tiba
terbangun, dan menangis karena ayah-ibunya hilang. “Terus, ibu kamu keluar, dan
langsung nggendong bayi itu deh, “ ujar salah seorang dari anak-anak yang
nongkrong itu.

Setelah itu, saya masuk ke rumah. Di
ruang tengah, saya melihat ada seorang bidadari yang sedang menyuapkan sendok
demi sendok air putih pada seorang bayi
di gendongannya. Saat melihat saya, bidadari ini tersenyum. “Kasian, dari tadi
anak ini nangis terus. Ibu udah nggak bisa nyusuin sih, makanya ibu kasi air
aja..” kata bidadari itu.

Dan saya tersenyum. Bidadari itu cantik
sekali….

the happiness keyword

“Saya selalu merasa trenyuh, betapa kebahagiaan
bisa tercipta dari beberapa sendok es krim cair, dan tidak harus oleh
berliter-liter es krim yang masih kenyal dan berembun..,” begitu tulis Jujur
Prananto dalam kata pengantar kumpulan cerpennya, Parmin.

          Memang, komentar Jujur ini berdasarkan
atas pengalaman pribadi. Saat ia kecil, ayahnya yang bekerja sebagai guru SMA
tak pernah mengajaknya ke alun-alun
Yogyakarta. Ini
karena, Jujur saat itu dianggap masih terlalu kecil untuk dibonceng ke
alun-alun yang berjarak sekitar
lima kilometer dari rumah mereka.

Jujur kecilpun harus puas dengan hanya
mendengar kisah kedua kakaknya. Wah, ada
macam-macam cerita mereka. Mulai dari komidi putar, tong setan, belasan penjual
martabak istimewa, dan es krim cokelat dan kombinasi yang enak sekali.

Karena ingin menyenangkan hati putra
bungsunya, akhirnya, pada suatu hari setelah mengajar, ayah Jujur diam-diam
pergi ke alun-alun. Disana, ia membeli es krim dalam gelas kertas, lalu sekuat
tenaga mengayuh sepeda tuanya pulang ke rumah. Sayangnya, sesampai di rumah, es
krim cokelat itu telah meleleh menjadi cairan kasar berwarna cokelat.

          Tapi Jujur kecil tidak peduli. Baginya
saat itu, es krim cair yang kemudian dibagikan dalam tiga cangkir kecil itu
tetap es krim impiannya. Dan bukannya, es krim yang terhidang berlimpah-limpah
di setiap pesta ulang tahun yang dihadirinya, setelah ia kuliah di
Jakarta.

Betapa sederhananya.

Sama sederhananya, saat saya menyaksikan
film Burning Session. Dalam film yang diangkat dari kisah nyata itu, dikisahkan
tentang seorang pembela lingkungan bernama Chico Mendez yang hidup serba
kekurangan. Ayahnya hanyalah seorang penadah karet yang jatah hariannya
berkurang nyaris separuh untuk membayar hutang pada lintah darat.

           Saking miskinnya, ia hanya punya satu jas
usang. Jas sama yang dikenakannya saat ia melamar istrinya, juga saat ia
menghadiri suatu konferensi pers di Amerika. Usai konferensi,
Chico ingin membawakan oleh-oleh bagi putrinya, Elinaria.
Dan oleh-oleh istimewa itu adalah satu botol kecil sampo dan sabun gratisan
dari hotel.

Tapi seperti Jujur, Elinaria tetap tidak
peduli. Baginya, sampo dan sabun gratisan itu tetap oleh-oleh impiannya yang
dibawakan ayahnya dari Amerika. Dengan gembira, ia kemudian memamerkan
oleh-oleh itu pada teman-temannya.

Manisnya.

Dan yang paling membuat saya kagum adalah,
betapa Jujur dan Elinaria bisa memahami konsep kebahagiaan, dengan sederhana
itu.

Ya, dengan sesederhana itu.

Hhh…

 

children of heaven

Tuhan menciptakan anak-anak dengan begitu
sempurna…

Hari ini saya ketemu sama anak perempuan
yang lucu sekali. Umurnya sekitar 4-5 tahun. Rambutnya dikuncir satu, dan
berponi. Ayahnya lagi minum milkshake, dan dia lagi lari-larian mengelilingi
kaki ayahnya sambil ketawa-ketawa. Lucunya..

            Mukanya mirip sama Ica, murid saya dulu. Nama lengkapnya Anis Prisati. Dia
pintar dan suka belajar. Saya ingat, dulu dia cepat sekali ngerjain tugasnya,
supaya bisa cepat main sama-sama.

Kadang kami nyanyi sama-sama atau pura-pura
jadi koreografer untuk lagu-lagu Sherina. Kadang lomba mendongeng, atau main
‘Pura-puranya ulangan’. Kadang, juga main petak umpet di rumah.

            Ica paling suka makan menu chicken cutlet dari Goiza.
Jadi waktu ulangannya dapat 10, saya belikan buat dia. Saya ingat, waktu itu
dia makan lahap sekali. Kedua pipinya menggembung kepenuhan. Duh, lucunya…

Sama lucunya seperti Djuan, murid saya
yang lain. Anak ini gemuk, putih, dan sering mogok belajar kalau saya belum
mandi atau dia belum makan roti. Susahnya bikin dia mau belajar. Maunya
didongengi terus.

Waktu lagi ngajar alphabet, dia saya kasi
buku kotak-kotak besar. Di dalamnya, udah saya tulisi alphabet pakai pensil,
untuk ditebalkan dia pakai krayon. Waktu itu, dia ngotot nyuruh saya pergi.
“Biar kalo Kak Retno datang, bisa jadi kejutan,” begitu alasannya.

Jadi, saya Cuma bisa mengintip dari
jendela. Melihat tangannya yang memegang krayon dengan sangat hati-hati.
Dahinya yang berkeringat. Rautnya yang serius. Duh, waktu itu rasanya ingin
sekali ngelap keringetnya dan meluk dia…

Djuan juga sering ngasi
pertanyaan-pertanyaan sulit. Misalnya waktu itu, dia pernah nanya “Kak Retno,
kalo udah gede, mau jadi presiden, pendeta, atau anggota Mc D?” Duh, lucunya
anak itu…

            Sayang, sekarang Ica udah les sama guru sekolahnya. Djuan juga udah
pindah ke Tangerang. Saya ingat, waktu pamitan, dia nyium pipi saya sambil
bilang makasih. Manisnya…

 

Tuhan menciptakan anak-anak dengan begitu
sempurna.

Karena mereka begitu indah….

 

Ps: Btw, saya pilih jadi anggota Mc D.
Tapi kata Djuan, saya harus bawa kaos sendiri. 

 

tentang cinta

Selamat datang di dunia saya yang kecil
dan sederhana.

Silakan masuk.

Lihat, saya tidak punya banyak. Saya Cuma
punya satu pantai kecil. Disana, kita bisa berenang bersama atau hanya sekedar
bergandengan tangan menatap matahari terbenam. Tanpa keramaian yang canggung
atau keheningan yang sunyinya memekakkan telinga.

Di tempat kecil yang sederhana ini,
setiap bentuk keajaiban dapat menjadi manusia. Hujan bisa bicara dan lautan
bisa bernyanyi dengan merdunya. Bahkan matahari diizinkan untuk berwarna kelabu
saat ia sedang malas bersinar. Mereka
menanggalkan setiap helai kewajiban dan ‘seharusnya’, lalu mulai bermain dengan
riangnya. Bahkan dewa sekalipun akan turun dari puncak gunungnya dan menjelma
menjadi rakyat jelata.

Di tempat kecil yang sederhana ini, kamu
tidak perlu menjadi siapa-siapa. Bersenang-senanglah dan tersungkurlah. Tanpa
topeng. Tanpa label. Tanpa gelar. Tanpa pangkat. Tanpa kewajiban. Percayalah,
saya mengerti. Saya akan mengerti.

Kamu bahkan tidak perlu bicara. Saya akan
memasang telinga baik-baik, mendengarkan jiwamu yang berbisik dengan lirihnya.
Dengan takutnya. Silakan diam saja, dan saya akan mendengarkan.

Sekarang, lihat sekeliling kamu. Dunia
kecil saya yang sederhana ini mendadak senyap. Langit mendung dengan awan
kehitaman yang menggantung. Lautan lupa caranya bernyanyi, dan matahari
menghilang karena mogok bersinar. Burung-burung yang biasanya berkicau dengan
riang, kini mulai berjatuhan di bawah kaki saya.

Dunia saya berhenti. Mereka menunggumu,
untuk ikut berputar di dalamnya. Di luar gerimis mulai turun. Setiap tetesnya
berbisik lirih “Hhh…kamu bahkan tak perlu pergi jauh. Disini kamu aman, bersama
saya…”

tentang sebuah perpisahan

  “Jadi?” Tanya saya.
  Dia menunduk. Tangannya iseng memainkan asbak
kosong di hadapannya. Dia gundah. Saya tahu itu. Dia bukan perokok.
Tangan yang masih betah memainkan asbak itu kini mulai basah.
Bulir-bulir keringat membasahi setiap inci pergelangan, punggung, dan
telapak tangannya. Sebentar lagi keringat akan menetes dari dahinya.
  Tes. Benar saja.
Tangan
basah itu dengan cepat mengusap keringat di dahinya. Basah dengan
basah. Air dengan air. Lagi-lagi dia lupa. Dia pasti tidak berpikir
bahwa usahanya mengelap dahi berpeluh dengan tangan basah adalah
sia-sia.
  Saya yang dulu pasti akan segera mengeluarkan selembar sapu
tangan, dan menghapus peluhnya. Mengelap tangannya yang basah. Sambil
bercanda, mengingatkannya akan kecerobohannya. Demi sebuah belaian
lembut di kepala atau ciuman kecil di puncak hidung.
Untuknya. Hanya untuknya.
  Tapi kali ini saya Cuma diam.
Dia
tahu, bahwa kali ini tidak ada sapu tangan. Tidak ada penghiburan.
Tidak ada pengabdian. Tidak, bahkan untuk semua yang telah kami jalani
bersama.
  Dia menghela napas.
  “Saya menyesal, “ ujarnya.
  Menyesal.
Pilihan kata yang tepat. ‘Menyesal’ dan bukan ‘Maaf’. Dia tentu tahu
bahwa saya tidak akan memaafkannya. Sama seperti dia tahu, bahwa tak
ada guna berlutut dan mencium kaki saya. Sama seperti dia tahu, bahwa
saya selalu lupa untuk meletakkan kunci rumah di paku sebelah kiri
pintu, dan bukannya di sebelah kanan pintu.
  Dia selalu tahu. Seperti sekarang.
  Bahkan
tanpa satu pelukanpun dia tahu, bahwa saya terguncang. Saya tahu dia
sedang mengamati pundak saya yang bergetar dan gigi yang mulai
menggigiti bibir bawah dengan gelisah.
Dia yang dulu pasti akan
menyentuh bibir itu, menghentikan usaha saya untuk melukai diri
sendiri. Yang kemudian digantikan dengan satu ciuman panjang yang manis.
  Tapi kali ini dia Cuma diam.
  “Saya tidak bisa,” ucap saya akhirnya dengan suara serak.
  Dan untuk pertama kalinya, dia mengangkat kepalanya. Matanya menatap lurus mata saya.
  “Saya tahu,” ujarnya pelan.
  Dia
mulai mengeluarkan dompet, mencabut beberapa lembar uang. Saya masih
diam. Bahkan saat ia kembali dari kasir dan berbasa-basi untuk
mengantarkan saya pulang, saya masih diam.
Kami tahu, pembicaraan
ini sudah selesai. Bahkan tanpa menatappun, saya tahu, kami pulang
dengan saling membawa hati satu sama lain.

jakarta pagi ini

Bus pertama mulai berjalan
“Rambutan, rambutan,” teriak seorang kondektur bus
Sementara pedagang sayur keliling terengah-engah mengayuh sepeda yang sarat
Peluhnya menetesi lembar-lembar hijau daun kol dan tomat
Pelari bercelana merah mengencangkan tali sepatunya
Sebelum kaki-kaki berototnya memakan aspal dengan lahap
Disuiti para waria bergincu setengah pudar dan rambut terurai basah
Wajah yang letih
Wajah yang teguh
Wajah yang berharap
Disini, pukul 3.30, Hidup tengah melenggang
Bahkan sepagi ini Jakarta telah terjaga

setelah film usai

  Tepat setelah lampu pertama dinyalakan, tepat setelah film diakhiri
dengan tulisan ‘Tamat’ atau ‘The End’, dan tepat ketika para penonton
mulai berdiri untuk mengantri menuruni tangga bioskop, coba perhatikan
sekelilingmu. Dan kalau kamu masih punya sedikit waktu, coba hitung
berapa banyak orang yang bersedia tinggal untuk menonton sebuah credit
title.
  “Kan udah ada di depan!, ” begitulah seorang teman pernah
beralasan. Pembelaan diri yang cukup masuk akal memang. Sayang,
pembelaan diri ini masih bisa dipatahkan. Jujur deh, berapa banyak sih,
yang sempat mencermati credit title di awal film?
  Kita kerap sudah
keburu terpukau dengan gantengnya Keanu Reeves, atau cantiknya Halle
Berry. Kita kerap sudah terlanjur jatuh hati dengan indahnya
pemandangan Skotlandia di pagi hari, atau menakjubkannya hutan peri
yang ajaib. Dan kita kerap sudah keburu menerka-nerka alur film ini,
dan konflik yang akan segera dialami sang tokoh.
  Kita semua mengalaminya. Tidak terkecuali saya.
  Sampai
pada suatu hari. Tumben-tumbenan, saya dengan salah satu kakak saya,
Hadi, nonton bareng. Seusai film, saya pasti langsung berdiri dan
meninggalkan kursi, kalau Hadi tidak mengatakan sesuatu. “Film adalah
karya bersama. Ini bisa lo tonton, karena kerja keras banyak orang.
Tolong hargai mereka.” Ujarnya waktu itu. Dan kaki yang sudah separuh
tegak berdiri inipun urung melangkah. Sejak saat itulah, saya mulai
tinggal untuk menonton sebuah credit title.
  Karena Pasir Berbisik
tidak akan pernah ada tanpa orang-orang yang setia menyapu pasir dengan
hairdryer. Karena adegan Sigi yang mimpi berdiri sendirian di Bunderan
HI, tidak akan lahir tanpa orang-orang yang dengan sabarnya memblokir
jantung Jakarta itu sejak sebelum Subuh.
  Well, dunia dan masyarakat
memang sudah menghargai sejumlah kru dibalik layar ini dengan cara yang
tepat. Kita tahu para sutradara, produser dan penulis skenario. Kita
cukup tahu para penata suara, penata cahaya, penata kostum, sampai
penata artistik. Kita tahu Spielberg meraih Oscar, baca profil Steven
Soderbergh di majalah, lihat foto Mira Lesmana yang tersebar
dimana-mana.       
  Media angkat topi buat mereka. Salut.
  Tapi karya yang
jadi kerja satu tim ini masih punya anggota lain. Orang-orang dengan
deskripsi pekerjaan yang pendek. Orang-orang yang namanya hanya terdiri
dari satu kata. “Maman: pembantu umum, Kuswanto: transportasi,” dan
deretan nama lainnya.
  Untuk orang-orang ini, yang terlupakan oleh
media, yang serasa hadir tanpa wajah, yang turut andil dalam
menciptakan dalam sebuah karya, marilah kita sisihkan waktu 5 menit
untuk tetap tinggal seusai film.
  Untuk tahu, bahwa mereka ada.
  5 menit saja.

belajar memahami 24 wajah billy

BELAJAR MEMAHAMI 24 WAJAH BILLY

Judul buku : 24 Wajah Billy
Penulis : Daniel Keyes
Penerbit : Qanita
Cetakan : 1, Juli 2005
Tebal : 699 halaman

  “Peluk anak Anda hari ini. Pelukan tidak menyakitkan. Tolong bantu hentikan penyiksaan anak-Billy ”

  Begitulah
bunyi dari stiker bumper warna hitam dengan warna dasar kuning, yang
dicetak oleh Billy Milligan. Stiker itu dicetaknya setelah Billy
menyumbang US$ 1000 untuk Foundation Against Child Abuse.
  Siapakah Billy Milligan?
  William
Stanley Milligan lahir pada Februari 1955. Putra pasangan Johny
Morrison dan Dorothy Sands ini mendadak terkenal pada akhir 1970an. Ini
karena, Billy didakwa melakukan sejumlah tindak pidana berat, mulai
dari perampokan bersenjata, dan serangkaian pemerkosaan di kampus Ohio
State University.
  Namun dalam proses persiapan pembelaannya, para
pengacara Billy menemukan bahwa ternyata Billy memiliki kepribadian
majemuk. Total ada 24 kepribadian dengan beragam latar belakang, hidup
dalam diri Billy.
  Ada Arthur (22), pria Inggris berkacamata yang
rasional dan tanpa emosi. Arthurlah yang pertama kali menyadari
keberadaan sosok-sosok lainnya. Arthur pula yang berkuasa di tempat
aman, serta memutuskan siapa saja anggota “keluarga” yang akan muncul
dan menguasai kesadaran.
Kemudian ada Ragen Vadascovinich (23) yang
mengelola rasa benci. Nama “Ragen” sendiri berasal dari kata “rage
again”. Ragen yang berkebangsaan Yugoslavia ini bertugas untuk
melindungi keluarga dan mendominasi kesadaran saat sedang berada di
tempat-tempat berbahaya.
  Ada pula Allen (18) yang merupakan orang
kepercayaan. Dengan keahliannya memanipulasi orang dengan bersilat
lidah, maka Allenlah yang paling sering berhadapan dengan dunia luar.
Misalnya saat wawancara kerja, atau wawancara dalam proses penulisan
novel ini.
  Lalu Tommy (16), si escape artist yang ahli melepaskan
diri dari beragam kunci dan simpul ikatan. Saat sedang ditahan di
penjara, Tommylah yang melepaskan diri dari borgol pengikatnya dan
membuat bingung para penjaga dan teman sekamarnya.
  Lalu ada pula
David (8), si empati yang bertugas menyerap semua rasa sakit dan derita
tokoh lainnya. Tak heran, bila si kecil ini jadi amat peka dan penuh
intuisi. Saat ada pasien rumah sakit jiwa yang menghilang, Davidlah
yang bisa menemukannya.
  Daftar kepribadian ini masih akan bertambah
panjang. Ada Danny (14), anak yang selalu ketakutan, terutama pada kaum
lelaki. Ada Phillip (20), penjahat brutal dari New York. Ada Samuel
(18), pengembara Yahudi yang juga satu-satunya kepribadian yang percaya
pada Tuhan. Ada Shawn (4), tuna rungu yang suka mengeluarkan bunyi
mendengung untuk merasakan getaran dalam kepalanya. Ada Kevin (20),
penjahat kelas teri yang menyusun rencana perampokan Toko Obat Gray.
  Ada
Walter (22), si penentu letak yang pandai berburu. Ada Mark (16), si
kuda pekerja yang kerap melakukan tugas berat yang monoton. Karena itu,
jika tak ada pekerjaan, Mark yang dijuluki “si zombie” ini kerap duduk
sambil menatap dinding. Ada Steve (21), si peniru gelagat orang yang
juga satu-satunya tokoh yang menolak diagnosis kepribadian majemuk.
  Ada
Lee (20), pelawak yang akhirnya dikucilkan karena sering membuat onar.
Ada Jason (13), si penyalur katup tekanan, yang membawa pergi berbagai
kenangan buruk, sehingga tokoh lain bisa melupakannya. Ada Robert/Bobby
(17), si pemimpi yang terus berkhayal tentang bepergian dan bertualang.
Ada Martin (19), pemuda snob dari New York yang manja dan suka pamer.
Ada Timothy/Timmy (15) yang bekerja di toko bunga.
  Dalam daftar
panjang “keluarga” Billy ini, masih ada tiga sosok perempuan. Mereka
adalah Adalana (19), wanita lesbian yang pemalu dan kesepian. Kemudian,
April (19), perempuan berlogat Boston yang ingin membalas dendam secara
keji pada ayah tiri Billy. Dan, Christene (3), gadis kecil dari Inggris
yang disleksia. Anak kesayangan Ragen ini satu-satunya yang bisa
meredam emosi Ragen yang sedang mengamuk.
  Terakhir, adalah Sang
Guru (26), yang merupakan wujud dari ke-23 alter ego lain yang terfusi.
Dialah yang mengajari sosok-sosok pribadi lainnya semua keterampilan
yang mereka kuasai, dan karenanya, memiliki ingatan yang nyaris utuh.
Kerja sama dari Sang Gurulah yang memungkinkannya Daniel Keyes menulis
novel ini.
  Secara umum, novel setebal 699 halaman ini terbagi atas
dua bagian. Bagian pertama (Masa Galau) merupakan kronologis kasus
Billy dan terungkapnya berbagai kepribadian yang hidup dalam diri
Billy. Sementara bagian kedua (Menjadi Sang Guru) merupakan penjelasan
mengenai terciptanya berbagai kepribadian tadi.
  Misalnya, Christene
tercipta saat Billy berumur 4 tahun dan ingin bermain bersama adik
perempuannya, Kathy. Allen tercipta saat ia mencoba mendebat sekelompok
anak berandal yang hendak melempar Billy ke dalam lubang untuk pondasi
bangunan. Shawn tercipta saat Billy yang berumur hampir 5 tahun
memecahkan toples kue. Karena tidak ingin mendengar omelan Dorothy,
terciptalah Shawn yang tuna rungu.
  Sementara kepribadian lainnya
tercipta sejak Dorothy menikah lagi dengan seorang pemabuk yang
temperamental, Chalmer Milligan. Bersama Chalmer, Billy dan Kathy,
serta kakak mereka, Jimbo, merasa sangat tertekan. Disiplin yang
diterapkan Chalmer terlalu ketat. Saat di meja makan tidak boleh
bicara. Tidak boleh tertawa. Garam harus diedarkan searah jarum jam.
Saat ada tamu, anak-anak harus duduk tegak, telapak kaki rapat ke
lantai, dan kedua tangan pada lutut.
  Saat Billy berumur 9 tahun,
Chalmer membawanya ke pertanian dan melakukan penganiayaan seksual.
Selama setahun, sodomi ini terjadi pada Billy dengan Chalmer yang
mengancamnya akan menguburnya di lumbung dan bilang pada Dorothy bahwa
Billy telah kabur. Chalmer juga pernah mengubur Billy, dan meninggalkan
sebatang pipa diatas wajahnya untuk udara, lalu kencing melalui pipa ke
wajah Billy. Saat itulah, pikiran, emosi, dan jiwa Billy terpecah
menjadi 24 keping.
  Dalam perkembangannya, ke-23 alter ego inipun
mulai saling mengenal. Layaknya sebuah “keluarga”, mereka pun saling
menjaga, dan menghabiskan waktu bersama-sama. Misalnya, Ragen dan
Arthur kerap main catur bersama. Hanya Billy lah satu-satunya
kepribadian yang tidak menyadari eksistensi mereka.
  Bagi Billy
sendiri, tumbuh dewasa merupakan perjuangan habis-habisan dalam hal
mengarang aneka cerita, membelokkan kebenaran, memanipulasi berbagai
alasan, agar tidak usah mengakui bahwa hampir sepanjang hari ia tidak
tahu apa saja yang dialaminya hari ini.
Ketika akhirnya mengerti
bahwa dirinya berbeda dengan orang lain, bahwa tidak setiap orang
mengalami kehilangan waktu, maka Billy pun mulai berasumsi bahwa
dirinya tidak waras. Dan dia merahasiakannya.
  Bagaimanapun, rahasia
ini akhirnya terbongkar juga saat Billy menjalani proses pengadilan
atas tuduhan pemerkosaan terhadap sejumlah wanita. Setelah nyaris satu
dekade berpindah-pindah ke sejumlah rumah sakit jiwa, dan mendapatkan
perawatan dari berbagai dokter, akhirnya Billy pun dibebaskan pada
tahun 1988.
  Kini, Billy tinggal di California, dan memiliki Stormy
Life Productions. Dengan disutradarai Joel Schumacher, Billy pun
membuat film kisah dirinya berjudul “The Crowded Room”.
  Tentu
saja, masih banyak masalah dihadapi oleh Billy yang masih
berkepribadian majemuk ini. Karena itu, ada baiknya bila kita menyimak
editorial dari The Post, April 1982. “Kami tidak meminta Anda untuk
menyambut Billy dengan tangan terbuka. Tapi kami meminta Anda untuk
memahami. Itulah yang setidaknya berhak dia terima.”
***

pandora’s box

   Ada sebuah kotak besi. Ia terbuat dari besi anti karat dengan kualitas
nomor satu. Tebal. Sangat tebal dan kuat. Pemiliknya adalah seorang
gadis kecil yang manis. Dengan pita kecil warna pink di rambutnya yang
berkepang dua, gadis kecil ini melonjak-lonjak kegirangan saat ia
mendapat kotak itu sebagai hadiah ulang tahunnya.
   Gadis kecil itu
mulai mengisi kotaknya dengan hartanya yang paling berharga. Pengalaman
pertamanya menemukan sarang burung yang terjatuh dari pohon, trofi
pertamanya, dan debaran hatinya saat ia pertama kali jatuh cinta.
Seperti gula-gula warna-warni yang manis, kotak itu penuh dengan
perasaan hangat yang menyenangkan.
   Setiap hari, gadis kecil yang
lugu itu melap kotaknya sampai licin dan berkilat. Saking senangnya, ia
bahkan membawanya kemana-mana. Ia membawanya ke sekolah, ke tempat les,
ke tempat mengaji, kemanapun. Setiap ada perasaan baru yang
menyenangkan, seperti diminta untuk memimpin barisan di tempat mengaji,
ia langsung memasukkannya ke kotak. Lalu, ia akan mendekap kotak itu
erat-erat.
   Saat malam menjelang, gadis kecil itu akan membuka
kotaknya dengan hati-hati. Mengagumi setiap koleksinya. Kemudian
perasaan aman yang hangatpun segera membanjiri jiwanya. Dan ia akan
pergi tidur sambil tersenyum.
   Tapi, gadis kecil itu beranjak dewasa.
Ia tak lagi mengepang dua rambutnya. Ia juga melepas pita pinknya. Dan
itu adalah waktunya ia masuk Sekolah Perasaan. Kata orang, agar menjadi
dewasa, setiap anak harus masuk sana dulu. Gadis kecil itu ingin segera
dewasa. Ia ingin cepat melihat dunia. Ia ingin menaklukkan dunia, dan
bermain-main dengannya. Dengan bersemangat, ia pun mendaftar di Sekolah
Perasaan.
   Para pengajar di Sekolah Perasaan itu hebat-hebat.
Ternyata keluarga si gadis kecil juga menjadi pengajar disana. Ada
mahaguru, si ayah. Ia adalah guru besar untuk mata pelajaran Takut,
Bodoh, Marah, Benci, dan Sedih. Sementara ibunya adalah guru untuk
pelajaran Muak dan Kecewa, ketiga kakak lelakinya mengajarinya merasa
Kesepian dan Terasing.
   Sekolah Perasaan punya jadwal yang ketat.
Setiap hari, gadis kecil itu harus belajar selama lebih dari 12 jam.
Tiga jam pertama untuk pelajaran Takut, dilanjutkan tiga jam pelajaran
Sedih, tiga jam pelajaran Kesepian, dan tiga jam terakhir untuk
pelajaran Marah. Pelajaran Muak dan Kecewa diberikan di akhir pekan.
Dan pelajaran Bodoh punya banyak sekali pekerjaan rumah.
Gadis kecil
itu berusaha menyerap dengan cepat. Ia ingin pandai. Ia ingin cepat
lulus. Tapi pelajarannya terlalu sulit, dan terlalu banyak. Setiap
malam, gadis kecil itu harus mengerjakan pekerjaan rumah untuk
pelajaran Bodohnya. Ia hanya tidur tiga jam sehari. Karena terlalu
lelah, ia bahkan tak sempat lagi membersihkan kotaknya.
   Gadis kecil
itu mulai kesal. Ia mulai muak dengan kelas-kelasnya, dengan
pelajaran-pelajarannya, dan dengan tumpukan PRnya. Ia mulai
memanfaatkan kotaknya. Seusai kelas, ia langsung memasukkan
pelajarannya ke dalam kotak. Ia tak lagi mengerjakan PRnya. Besoknya,
ia berbohong pada mahaguru. Ia bilang, ia sudah mengerti. Ia bilang, ia
sudah cukup pandai.
   Karena terlalu kecil, kotak itu mulai penuh
sesak. Gadis kecil itu mulai mengeluarkan harta berharganya. Awalnya,
cuma perasaan Aman. Lalu, perasaan Senang, dan akhirnya tidak ada lagi
perasaan manis yang tersisa dalam kotak itu. Dan karena sudah
dikeluarkan, perasaan manis yang menyenangkan itupun meleleh, dan
lenyap terbawa angin.
   Gadis kecil itu mulai membenci kotak itu.
Harta berharganya itu kini hanya berisi rasa sakit. Ia tak lagi melap
permukaan kotak itu sampai licin dan berkilat. Dan ia tak lagi
menyimpan kotak itu dengan hati-hati. Dengan rantai besi dan gembok
besar, ia mengunci kotak keparat itu dan melemparnya dengan serampangan
ke pojok gudang yang berdebu dan dipenuhi sarang laba-laba. Ia membuang
kuncinya dan bersumpah tidak akan pernah membukanya lagi.
   Sekarang,
gadis kecil itu telah lulus dari Sekolah Perasaan. Ia lulus dengan
nilai terbaik, dan ia sudah menjadi dewasa. Sementara kotak besinya
berada di pojok gudang yang terlupakan. Tapi si gadis lupa memasukkan
pelajaran perasaan terakhirnya. Pelajaran yang tidak pernah diajarkan
oleh mahaguru. Pelajaran yang dipelajarinya sendiri. Gadis itu merasa
Hampa. Setiap pagi saat terbangun dan setiap petang saat burung-burung
pulang ke sarang, gadis itu selalu merasa hampa. Ia merasa kosong dan
mati rasa. Ia merasa tak berarti. Dan ia cuma ingin mati.