Archive for January, 2006

yang terabaikan

Langit bersimbah air mata

Para ibu bergegas mengangkati jemuran sambil berteriak “Cepat, hujan telah
datang!”

Sementara langit menggelap, dan menggelap

Sesekali ada kilatan cahaya, dan para kekasih segera
menenangkan cintanya

Tapi tetap saja cemas itu ada

Disana, pada orang-orang tanpa alamat

Yang menggantungkan hidupnya pada selembar kain usang
dan kaleng rombeng karatan

Yang menatap rintik hujan tanpa rasa

Dengan tubuh menggigil kedinginan dan tatapan lapar

Disana, masih ada yang terabaikan

rectoverso

“Kita harus
menemukannya! Cepat! “

Dan tangan-tangan
bertetes peluh mulai menggali

Dibaluti Lumpur
bercampur rasa darah yang getir

Kaki-kaki
berlarian

Ke puncak gunung,
ke dasar lembah

Sementara
lubang-lubang hitam menganga lapar

Menenggelamkan
orang-orang yang hanya berdiam

Dan saat fajar
tiba,

Jiwa-jiwa kosong
yang lelah hanya bisa menatap hampa

Menyisakan sebuah
pertanyaan

“Apa yang
sebenarnya harus ditemukan?”