yang terabaikan
Langit bersimbah air mata
Para ibu bergegas mengangkati jemuran sambil berteriak “Cepat, hujan telah
datang!”
Sementara langit menggelap, dan menggelap
Sesekali ada kilatan cahaya, dan para kekasih segera
menenangkan cintanya
Tapi tetap saja cemas itu ada
Disana, pada orang-orang tanpa alamat
Yang menggantungkan hidupnya pada selembar kain usang
dan kaleng rombeng karatan
Yang menatap rintik hujan tanpa rasa
Dengan tubuh menggigil kedinginan dan tatapan lapar
Disana, masih ada yang terabaikan