Archive for June, 2006

saat-saat paling egois

Kapan seseorang bisa menjadi begitu
egois? Jawabannya, bisa kapan saja. Tapi salah satunya—saya pikir—adalah
masa-masa pengerjaan skripsi dan TKA ini. Mendadak sebagian besar orang
bersemangat untuk diskusi apapun soal skripsi dan TKA. Terutama, waktu itu terkait
dengan topic skripsi atau TKA mereka sendiri.

           Kemarin, saya melihat seorang teman yang
bercerita ke hampir setiap orang yang ditemuinya, tentang topik skripsinya.
Dalam hati saya berpikir, “Duh, bawelnya. Egois amat sih jadi orang.

Kan nggak setiap orang suka ngebahas tentang skripsi
lo.”

Dan saya mulai berkaca.

Saya masih ingat, betapa seringnya saya
mengoceh tentang TKA saya, pada beberapa orang teman. Pagi hari bisa dimulai
dengan “Eh, nanti kontributornya itu si anu dan si anu…”. Makan siang berlanjut
dengan konsep design dan ilustrasi. Saat di perjalanan, adalah saatnya
membicarakan tentang sirkulasi. And so on, and so on. Dan setiap ocehan akan
diakhiri dengan “Menurut lo gimana?”

Artinya, tak cukup dengan hanya menjadi
pendengar saja, teman-teman saya juga harus pro aktif. Mereka harus
menyumbangkan saran. Mereka harus berpendapat. Mereka harus ikut berpikir.

Sering kali, saat tiba giliran saya untuk
mendengarkan, eh saya malah tidak benar-benar mendengarkan. Dengan egoisnya,
pikiran saya tetap saja terfokus pada TKA. Tentang warna ilustrasi, tentang rencana
penerbitan selanjutnya, nama rubrik, dan masih banyak lagi.

Beruntungnya saya, teman-teman saya
selalu punya dua telinga, dan setumpuk kesabaran. Untuk mendengarkan. Untuk
menghibur. Untuk memberi semangat. Untuk sekedar menepuk bahu, dan bilang
“Semangat ya!”. Atau untuk sekedar duduk diam di samping saya, waktu saya mulai
bersikap menyulitkan. 

Saya kira, saya tidak sendirian. Kamu
mungkin punya pacar yang akan selalu paham, dengan berkurangnya jadwal ketemuan,
karena kamu sedang mengerjakan proyek besar. Atau, kamu mungkin punya orang
tua, yang selalu siap mengantar-jemput kapan saja, karena kamu harus pulang
malam mengejar deadline.

Orang-orang ini selalu ada. Mereka selalu
paham. Mereka penyabar. Dan yang terpenting, mereka pemaaf. Jadi, kita bisa
minta maaf kapan saja. Atau juga berterima kasih.

Kita akan selalu dimaafkan, bahkan saat
kita kemudian mengulang kesalahan yang sama, lagi, dan lagi.

Fuh, beruntungnya kita ya?

Ps: Untuk semua teman-teman saya, terima
kasih untuk ada.

 

memento mori

Awalnya,
saya sempat menghapus posting tulisan ini. Karena saya sempat berpikir, bahwa ini
akan melahirkan prasangka sejumlah orang bahwa saya berniat untuk bunuh diri. Well,
yang sebenarnya adalah, saya hanya membayangkan kesan dari sebuah video klip. Evanescence,
“Bring Me Back to Life.” Itu saja. 

Memento_mori


The
virgin suicide

Tinggal satu pijakan lagi

Jangan lupa untuk membuka sepatu

Karena kamu pasti ingin kaki-kakimu merasakannya

 
Hirup napas dalam-dalam

Melambunglah sedikit, lalu terjun

Rasakan debaran jantungmu yang berlari

Atau angin yang membelai kulit

Menggetarkan bulu roma

Rentangkan tanganmu

Rasakan arus sensasi akan gravitasi bumi yang
menarikmu dan akan segera menghempasmu

dengan pedih tak terperi

 
Tapi jangan pernah pejamkan mata

Karena kamu pasti ingin menyaksikan proses
spektakuler

Jutaan keping dari raga yang meledak

Dan satu jiwa yang terbebas

setelah lewat tengah malam

Sydney_sheldon

          Noelle Page pasti sangat membenci
Lawrence Douglas. Dalam novel ‘Lewat Tengah Malam’ karya Sydney Sheldon,
dikisahkan betapa Noelle muda dulu pernah jatuh cinta dengan
Lawrence, pilot pasukan tempur Amerika Serikat. Si playboy
Larry berjanji untuk menikahinya. Namun pada hari yang dijanjikan, sementara
Noelle menunggu dengan gaun pengantinnya, Larry tak pernah datang.

Selama tujuh tahun berikutnya, Noelle pun
mulai merancang rencana balas dendam pada Larry. Rencana pertama dimulai dari
bayi Larry yang sedang dikandungnya. Dengan semangat, Noelle pun memberi
makanan sehat untuk janinnya. Susu, buah-buahan, sayuran. Sampai tiba masanya
janin itu berumur 6 bulan. Masanya janin sudah berbentuk manusia, lengkap
dengan kedua kaki, tangan, dan telinga. Saat yang tepat bagi Noelle untuk
menggugurkan kandungannya, menggunakan kawat penggantung gaun pengantinnya.

Tentu saja, Noelle nyaris meninggal
karenanya. Tapi dendam membuatnya bertahan. Ia kemudian berganti-ganti pacar
untuk menjalankan rencananya. Mulai dari actor teater, direktur film, sampai
milyader bernama Constantine Demiris.

Sementara itu, Noelle pun merayap sukses
menjadi model dan aktris terkenal. Berbagai potretnya menghiasi sampul majalah.
Tujuannya satu, agar Larry ingat padanya. Sayang, mimpi itu tak pernah
kesampaian. Ironisnya, bagi Larry, Noelle hanyalah satu dari sekian ratus
wanita yang telah ditidurinya. Padahal, Noelle sudah merancang agar Larry
menjadi pilot pesawat pribadi Demiris dan bisa tinggal bersama istrinya,
Catherine, di Athena.

Noelle yang masih mencintai Larry pun
mulai melunak. Bersama-sama, Noelle dan Larry malah berkomplot untuk membunuh
Catherine, yang justru berakhir dengan mereka dihukum tembak mati.

Well, ada beberapa hal yang saya sesalkan
disini. Pertama, adalah melunaknya sikap Noelle karena ia ternyata masih
mencintai Larry. Faktor inilah yang membuat Noelle sempat menunda rencananya
untuk membunuh Larry. Kedua, betapa Noelle sampai akhir hidupnya juga tetap
tidak pernah memberi tahu Larry mengenai dirinya yang sesungguhnya. 
Dengan setumpuk rencana dan segumpal
dendam, toh Larry tetap mati dengan anggapan bahwa Noelle adalah satu dari
sekian wanita selingkuhannya,

Betapa ironis.

the abyss

Rasanya seperti terjatuh ke dalam sebuah
lubang yang gelap dan tak berdasar. Kamu meluncur turun, dan turun. Makin
cepat, makin cepat. Perutmu mulai terasa berputar-putar, dan kamu mulai sulit
bernapas. Sesak. Sesak.

Disana dingin sekali. Kamu bisa merasakan
angin yang meniup bulu kudukmu. Dingin yang menggeletukkan tulang-tulang. Dan
kamu masih meluncur turun, dan turun. Turun, dan turun.

Bagaimana kalau lubang ini punya dasar?
Tentu kamu sudah hancur. Atau nanti. Tapi yang pasti, kamu akan terhempas dengan
pedih tak terperi. Dan pecah.

Dan kamu mulai mencoba mengingat
potongan-potongan kenangan. seperti guntingan-guntingan foto. Kacau.
Berantakan. Semua wajah tampak kabur dalam ingatan. Dan suara-suara terdengar
tak lebih seperti dengungan.

Dan rasa itu datang lagi. Selalu begitu
setiap kamu mencoba menggali ingatan. Nyeri. Ngilu. Getir. Sesak. Sesak.

Ya, kamu sendirian. Ya, kamu lelah.

Memang.

maaf pada bumi

Kaki-kaki berjalan. Kaki-kaki berlari. Kaki-kaki
menendang. Kaki-kaki bertaut. Kaki-kaki bergelut. Kaki-kaki merayap. Kaki-kaki
menginjak. Kaki-kaki terlipat. Kaki-kaki bersila. Kaki-kaki menjejak.  Dan Bumi, maafkan kami, karena telah
menyakitimu sekali lagi.

tentang angkuh

Dasar orang-orang biasa. Saya tak pernah
bisa membayangkan rasanya menjadi mereka. Terbangun tiap pagi dengan harapan
yang sama, “Aku ingin menjadi lebih baik lagi!”, dan pergi tidur dengan langkah
terseret sambil menghibur diri “Ah, masih ada esok.” Cih. Betapa menyedihkan.

Kadang, saya toh tetap menikmati
pemandangan itu. Siswa yang tekun mencatat setiap butir kata gurunya di kelas,
berharap itu bisa membuatnya pintar. Pedagang yang giat menabung agar kaya.
Cukup kaya untuk membeli dua ekor sapi dan beberapa petak sawah di desanya.
Atau ballerina yang dengan suka rela mematahkan setiap kuku kakinya dengan
latihan khusus berjam-jam lamanya, demi bisa menari semengalir angin.

Tak ada yang lebih menyenangkan selain
melihat para pekerja keras dari dunia lain ini. Sementara dunia saya berputar
begitu santainya, mereka justru harus dihantui mimpi buruk dengan berkejaran
waktu. Kasihan sekali.

Toh kuatnya tekad mereka kadang bisa juga
menjadi begitu menjemukan. Dengan setiap peluh yang menetes dan air mata yang
tertahan, tangan ini gatal juga rasanya ingin menampar. “Udah deh! Maksa banget
sih! Akui saja kalau kalian itu Cuma orang-orang biasa!”. Ya, orang-orang biasa
tanpa kelebihan apapun yang pantas untuk dibanggakan. Standar. Pintar standar.
Cantik standar. Baik standar. Ramah standar. Cih.

Sampai sepasang mata biasa ini menatap
saya. Membuat tangan ini kebas. Tatapannya bukan takut. Bukan pula iri. Tapi
iba. Dasar orang biasa. Berani-beraninya menatap saya dengan iba. Kamu pikir
kamu siapa hah? Kamu CUMA ORANG BIASA YANG NGGAK BISA APA-APA!!

“Saya Cuma ingin tahu, bagaimana tidur
kamu semalam?” akhirnya pemilik mata itu berani bicara. Hmm, dasar orang biasa.
Pertanyaannya juga biasa. Ckckck, coba lihat betapa menyedihkannya mereka.
Mereka bahkan tidak tahu caranya bertanya!

Dengan enteng saya menjawab “Baik, saya
tidur nyenyak tanpa perlu merasa khawatir akan mencapai apa besok.”

Saya tersenyum. Biar saja. Mereka pasti
iri. Orang-orang biasa yang tak pernah tidur nyenyak. Pasti mereka rindu
lelapnya tidur panjang yang nikmat.

Sepasang mata itu masih menatap saya.
Lalu ia menatap sekumpulan mata di sampingnya. Mereka saling berpandangan, kemudian mengggelengkan kepala
dengan sedih. Satu persatu mulai bangkit, meninggalkan saya. Saya masih
tersenyum. Pasti mereka tak tahan mendengarnya. Rasakan wahai kalian
orang-orang biasa!

Saya sudah nyaris bersorak kegirangan,
saat orang terakhir meninggalkan saya. Ketika mendekat, ia menghela napas.

“Saya tidak bisa membayangkan jadi kamu.
Terbangun tiap pagi, tanpa sebutir pun hasrat pencapaian,” ujarnya lirih. Lalu,
tangannya menepuk pundak saya dengan prihatin. Kemudian meninggalkan saya.

Disini.

Dalam satu ruangan besar penuh
kursi-kursi kosong.

Sendirian.

 

tentang takut

Saya tidak boleh terlihat. Saya tidak mau
terlihat. Kalau ketahuan, saya bisa celaka. Harus lari, harus lari, harus lari.
Kotak besar di ujung ruangan itu pasti cukup besar untuk menampung tubuh saya.
Tapi bagaimana kalau tidak ada lubangnya? Nanti saya tidak bisa bernapas.
Padahal perjalanan yang ditempuh dengan kapal laut ini pasti akan sangat
panjang.

            Ada suara papan bergemeretak di atas. Kaki-kaki yang
menuruni tangga, menimbulkan bunyi berderak-derak. Aduh, mereka datang. Mereka
datang. Saya harus sembunyi. Pelan-pelan, saya mulai beringsut ke arah kotak
besar itu. Saya bisa melihat sepasang sepatu boot hitam yang mondar-mandir di
atas lantai kayu ini. Mereka tidak percaya. Mereka tidak percaya kalau saya
sudah kabur.

Anyir. Bau darah. Gawat, ini pasti dari
luka di lengan saya saat coba-coba memanjat dinding tadi. Duh, hidung-hidung
mereka peka sekali terhadap bau darah. Naluri pemburu. Pasti mereka bisa
menciumnya.

Pelan-pelan, saya menekan lengan atas
dengan sapu tangan yang saya temukan di saku. Mudah-mudahan ini cukup untuk
menghentikan kucurannya.

Sepasang sepatu boot terdengar menaiki
tangga, disusul boot-boot lainnya. Mereka pergi.

Senyap.

Saya aman.

Pelan-pelan, saya menghembuskan napas
lega. Mereka pergi. Saya aman. Akhirnya.

Tiba-tiba, mata saya tertumbuk pada
sepasang sepatu boot hitam di hadapan saya, disusul sinar senter yang seketika
menyorot wajah saya. Silaunya. Mata saya terbelalak. Saya bisa melihat mata
mereka yang bersinar kejam dengan senyum menyeringai puas di wajah mereka.

Matilah saya. Matilah saya.

tentang benci

Dia sudah pulang. Baru saja membuka pintu
depan, saya sudah bisa mencium asap rokoknya, yang tanpa henti dihembuskannya
sepanjang ia berjalan. Sambil melepas sepatu, saya melihat ujung sepatunya yang
berlumpur dan terkena cipratan noda muntahan. Pasti tadi dia muntah lagi.

            Saya tahu, dia ada di dalam kamar. Suara
teve terdengar meraung-raung dari
sana. Meski sudah berkali-kali diingatkan, tetap saja dia
tak jera menulikan kedua kuping saya. Tiba-tiba, suara berita teve berganti
dengan gelak tawa acara komedi. Pasti dia sedang ganti-ganti channel lagi. Seperti
biasa.

Usai menghangatkan sayur, saya membawa
baki berisi makan siang ke kamarnya. Tempat paling memuakkan di seluruh dunia.
Disinilah sumber bau segala keringat yang tanpa henti merembesi ketiaknya, bercampur
bau muntahan yang nodanya masih terserak dimana-mana. Gumpalan nasi benyek
bercampur tulang ikan yang sudah nyaris tak berbentuk. Diudarai asap rokok yang
tanpa henti dihembuskan oleh bibirnya yang menghitam.

Dan, disanalah dia. Terbaring telanjang
dada memamerkan perut buncitnya dengan lemak menggelambir. Keringat masih
merembesi ketiaknya, dan asap rokok masih membumbung tinggi, memenuhi
langit-langit. Wajahnya berkerut-kerut senang menyambut makan siangnya. Setelah
meletakkan baki di hadapannya, tangannya yang basah mengelus rambut saya.
“Untung Papa masih punya kamu Nak..,” ujarnya. Dari dekat, saya bisa melihat
rambut berubannya yang berminyak. Tanpa menyentuhnya saja, saya sudah bisa
merasakan lengket rambut yang sudah berminggu-minggu lamanya tak dicuci itu.
Putihnya uban juga tak mampu menyamarkan puluhan butir ketombe yang bersarang
disana.

Dan sekarang adalah saatnya.

Sambil menutup mata, saya menahan napas
saat ia menciumi pipi saya. Bibirnya basah dan berlendir. Kulit dan hidungnya
yang berminyak mulai mencemari wajah saya.

            Saya ingin membunuhnya. Mencongkel setiap
biji bola matanya. Menyiram rambutnya dengan bensin. Membiarkan setiap butir
kutu dan ketombe terbakar di kulit kepalanya yang mengelupas dan menghitam
gosong. Lalu saya akan membongkar isi perut buncitnya yang serakah dan hanya
berisi buntalan kentut ini. Membersihkannya dari setiap organ dalam. Menyikat
dinding dalam perutnya dengan obat suci
hama hingga tercium kerasnya aroma karbol. Dia harus
bersih.

Dengan sikat bergagang panjang, akan saya
bersihkan kerongkongannya. Membersihkannya dari setiap ludah, riak, dan
muntahan. Saya akan potong lidahnya yang kotor dan berlendir itu. Lalu saya
jahit bibirnya dengan benang merah. Warna yang kontras dengan bibir hitamnya.
Saya akan menjahitnya dari atas ke bawah, atas ke bawah, atas ke bawah, ah…saya
selalu suka jahitan yang rapi.

Jangan lupa mencabuti setiap kuku kaki
dan tangannya yang menghitam. Sampai tampak rupa asli daging merah yang
membungkus tulang-tulang jarinya. Lalu, saya akan membungkus tangannya dengan
sarung tangan plastic. Dia harus bersih.

Ketiaknya…

“Srrk..,” gesekan kumis kasarnya di bibir
saya membuyarkan lamunan saya. Napasnya yang bau busuk mulai terengah-engah.
Tangannya mulai merogoh rok saya dengan tak sabar. Dengan kasar, saya
mendorongnya. “Saya mau mandi dulu,” ujar saya.

Dia tersenyum senang. Matanya berkilat
nakal.

Dan saya keluar kamar.

Sambil menutup mata, saya membayangkan
mengebiri penisnya. Mencacahnya kecil-kecil dan melemparnya ke luar, untuk
makanan anjing depan rumah. 

the foolish games

Sial. Terlalu banyak make-up. Lipstiknya
terlalu merah, dan bedaknya terlalu tebal. Salon sialan. Sudah saya ingatkan
berkali-kali, untuk tidak mendandani saya seperti hostes. Atau, pemain kabuki.

Dia pasti kesal. Mungkin dia akan
mendiamkan saya. Atau mungkin, menggerutu sepanjang hari. Atau mungkin, malah
meninggalkan saya di tengah jalan. Seperti yang dilakukannya tempo hari, saat saya
berkeras mengenakan rok mini baru saya. Dia bilang, saya pasti akan merobekkan
kain kecil itu.

Dan dia benar. Dia selalu benar.

Tapi sekarang sudah tidak ada waktu lagi.
Dia sudah datang. Saya hapal betul irama langkah kakinya. Sambil berdoa dalam
hati, saya menyambutnya. Dengan memajang senyuman terbaik.

Langkahnya terhenti. Dahinya berkerut,
dan alisnya terangkat tinggi. Matanya tajam meneliti wajah saya. Dan tiba-tiba,
dia berbalik pergi.

Saya masih bisa mendengar langkah kakinya
menuju pintu, menutupnya. Lalu terdengar suara dia menutup pintu mobil, sampai
deru mobilnya yang menjauh.

Dan satu dering sms dari ponsel saya.

Dari dia.

“Sori, saya nggak merasa punya janji
kencan dengan seorang wanita yang terlalu pesolek. Kita ganti lain hari, saat
wajahmu sudah bisa merah alami seperti habis lari pagi. Sweet dream.”

city of angels (sebuah ucapan terima kasih)

Masih ingat judul film ini? City of Angels adalah sebuah film drama
yang mengisahkan percintaan antara seorang manusia dengan malaikat. Dalam film
yang dibintangi oleh Nicolas Cage dan Meg Ryan ini, digambarkan betapa
banyaknya para malaikat berpakaian hitam-hitam. Mereka tersebar di seluruh
penjuru kota, dan bertugas untuk mengawasi manusia. Hanya orang-orang tertentu
sajalah yang dapat melihat atau merasakan keberadaan mereka.

Saya beruntung.

Karena dalam proses penyusunan
TKA ini, Tuhan telah bermurah hati mengizinkan saya untuk bertemu dengan
sebagian dari mereka.
Mereka adalah:

· Pasangan Hj. Sangi Siti Rahayu dan H. Sjamsuddin
Shiddieg, orang tua paling luar biasa yang pernah saya temui.

· Drs. Teguh Poeradisastra, MM, salah satu dosen
pembimbing terbaik yang pernah saya temui. Terima kasih banyak.

· Ibu Prof Dr Murti Bunanta, yang telah memberikan
masukan-masukan dasar. Juga kepada Bu
Dra Mayke Tedjasaputra (Kepala Bagian Psikologi Perkembangan UI), Kang Benny
Rhamdani, Pak Soekanto SA, Ferdiansyah ’Maly’ ’99, Roma Jaka ’00,
Mas
Bambang Triyono (ex Managing Editor majalah Parents Guide). Terima kasih, untuk diskusi-diskusi yang
mencerahkan.

· Pak
Fuad Gani (Ketua Jurusan Ilmu Perpustakaan FIB UI), Bu Uum Kartawisastra S.Sos,
(Kepala Subbid Layanan Perpustakaan Umum Daerah Propinsi DKI Jakarta), Mbak
Christantiowati Wagino (reporter Intisari), Pak Yosef Bastaman (Bagian iklan majalah Bobo). Terima kasih, untuk
data-datanya!

· Indri Santoso dan keluarga. Teman berbagi PC.
Thanks, jam-jam numpang ngetiknya.

· 

Para

kontributor: Mbak
Renny Yaniar, Bu Rahartati Bambang. Tidak ketinggalan para kontributor cilik
saya: Abdurrahman Faiz dan Mbak Helvy Tiana Rosa, Sri Izzati dan Tante Hetty,
Qurrota Aini dan Umi Aini, A.Ataka A.R. Juga untuk Mbak Dian Savitri dan
teman-teman dari Keluarga Pelangi. Terima kasih untuk kiriman tulisan yang
indah-indah.

· Margareta, R.Rika Rosvianti, Sanya Astriani.
Juga untuk kedua abang saya, Wirastomo HW dan Syamsul Hadi. Terima kasih untuk
ilustrasi yang “anak-anak” dan sederhana. Senang rasanya tahu, bahwa kita bisa
melihat dengan cara yang sama.

· Cita Arsita Farani, salah satu lay outer
terbaik (dan TERsabar) yang pernah saya temui. What can I do without you? Thanks a lot.

· Klub Skripsi (+ 1 TKA), kelompok diskusi seputar
skripsi (+ 1 TKA) yang banyak memberi masukan berharga (mulai dari diskusi
seputar paradigma, pemasaran, metodologi, distribusi, buku-buku referensi, tour de perpus, penetapan deadline,
hingga berbagai jokes dan kata-kata
penyemangat, yang membuat saya urung ikut The Swan, operasi plastik, dan
meng-anagramkan nama saya). Mereka adalah:

- Diani Citra. Saya kira, salah satu hasil ciptaan pacar
kamu pada diri kamu, adalah kemampuan kamu untuk menjadi begitu pengertian.
Senang rasanya dipahami. Terima kasih.

- Airin Nisa. Untuk selalu punya telinga, untuk setumpuk
kesabaran menunggu saya menguraikan benang-benang pikiran, untuk bersama-sama
mengumpulkan kepingan puzzle, saya cuma bisa bilang terima kasih banyak.

- Shinta Anita Sari, yang selalu berusaha untuk mengerti.

- Anggota Klub Skripsi lainnya: Dani, Yena, Intan, Niken.

· Teman-teman komunikasi 2002, terutama Annisa CP,
Diana TW, Cut DS, dan para penyemarak blog www.masuksusahkeluarsusah.blogspot.com,
yang berhasil membuat saya tetap waras sampai deadline terakhir. Saya
kira, blog ini harusnya di-TKA-kan (di-APA???)

· Ketiga keponakan saya: Farhan Zain Sholahuddin,
Dafa Zain Abdullah, Ammar Zain Al Fikri. Juga kepada murid-murid saya yang luar
biasa: Hanifah, Sinta, Siska, Yan, Dito, Fanny, Farah. Thanks for the
inspiration

See? Ternyata para malaikat ini bisa menyamar dalam berbagai rupa. Dalam kehidupan nyata, para malaikat ini
juga tidak melulu berpakaian hitam. Ada yang mengenakan seragam PNS. Ada yang
berjins ria. Bahkan ada yang hanya mengenakan daster.

Kita hanya tinggal membuka sedikit mata, hati, dan jiwa untuk menemukan
mereka. Well, saya sudah bertemu sebagian dari mereka. Bagaimana dengan
Anda?