saat-saat paling egois
Kapan seseorang bisa menjadi begitu
egois? Jawabannya, bisa kapan saja. Tapi salah satunya—saya pikir—adalah
masa-masa pengerjaan skripsi dan TKA ini. Mendadak sebagian besar orang
bersemangat untuk diskusi apapun soal skripsi dan TKA. Terutama, waktu itu terkait
dengan topic skripsi atau TKA mereka sendiri.
Kemarin, saya melihat seorang teman yang
bercerita ke hampir setiap orang yang ditemuinya, tentang topik skripsinya.
Dalam hati saya berpikir, “Duh, bawelnya. Egois amat sih jadi orang.
Kan nggak setiap orang suka ngebahas tentang skripsi
lo.”
Dan saya mulai berkaca.
Saya masih ingat, betapa seringnya saya
mengoceh tentang TKA saya, pada beberapa orang teman. Pagi hari bisa dimulai
dengan “Eh, nanti kontributornya itu si anu dan si anu…”. Makan siang berlanjut
dengan konsep design dan ilustrasi. Saat di perjalanan, adalah saatnya
membicarakan tentang sirkulasi. And so on, and so on. Dan setiap ocehan akan
diakhiri dengan “Menurut lo gimana?”
Artinya, tak cukup dengan hanya menjadi
pendengar saja, teman-teman saya juga harus pro aktif. Mereka harus
menyumbangkan saran. Mereka harus berpendapat. Mereka harus ikut berpikir.
Sering kali, saat tiba giliran saya untuk
mendengarkan, eh saya malah tidak benar-benar mendengarkan. Dengan egoisnya,
pikiran saya tetap saja terfokus pada TKA. Tentang warna ilustrasi, tentang rencana
penerbitan selanjutnya, nama rubrik, dan masih banyak lagi.
Beruntungnya saya, teman-teman saya
selalu punya dua telinga, dan setumpuk kesabaran. Untuk mendengarkan. Untuk
menghibur. Untuk memberi semangat. Untuk sekedar menepuk bahu, dan bilang
“Semangat ya!”. Atau untuk sekedar duduk diam di samping saya, waktu saya mulai
bersikap menyulitkan.
Saya kira, saya tidak sendirian. Kamu
mungkin punya pacar yang akan selalu paham, dengan berkurangnya jadwal ketemuan,
karena kamu sedang mengerjakan proyek besar. Atau, kamu mungkin punya orang
tua, yang selalu siap mengantar-jemput kapan saja, karena kamu harus pulang
malam mengejar deadline.
Orang-orang ini selalu ada. Mereka selalu
paham. Mereka penyabar. Dan yang terpenting, mereka pemaaf. Jadi, kita bisa
minta maaf kapan saja. Atau juga berterima kasih.
Kita akan selalu dimaafkan, bahkan saat
kita kemudian mengulang kesalahan yang sama, lagi, dan lagi.
Fuh, beruntungnya kita ya?
Ps: Untuk semua teman-teman saya, terima
kasih untuk ada.

