pada suatu pagi
Saya paling suka pagi hari. Saya paling suka terjaga saat muadzin mushala depan rumah mulai mengaji. Meski biasanya saya baru bisa tidur jam 4 pagi, toh saya tetap menikmati dinginnya air keran yang mencuci wajah dan jiwa saya saat berwudhu.
Saya juga suka berlama-lama salat Subuh. Kalau lagi rajin, saya bahkan tak segan menambahnya dengan salat sunnah 2 rakaat sebelum salat Subuh. Ini semata-mata, karena saya ingin bercerita padaNya lebih lama, sebelum hari dimulai dan Tuhan belum terlalu lelah untuk mendengarkan setumpuk permohonan dari umat manusia lainnya.
Usai salat Subuh, biasanya telah tersedia secangkir susu hangat diatas meja. Tidak selalu susu sih. Kalau saya sedang habis begadang, isi cangkir itu adalah kopi hitam yang pekat. Kalau tidak tidur sama sekali, pekatnya hitam kopi akan berwarna abu-abu, pertanda adanya sedikit campuran susu. Dan, saat saya sedang diare, itu semua akan digantikan dengan teh hangat yang daun tehnya masih melayang-layang.
Susu hangat dan kopi tidak selalu hadir sendirian. Kadang, ada setangkup roti beroles mentega dengan taburan meises dan keju. Keju potongan, bukan yang parutan. Bukan, bukan karena Ibu tidak suka keju parutan. Bukan pula karena di rumah kami tidak ada parutan keju. Tapi karena, bagi Ibu, saya dengan berat badan yang tak pernah mencapai angka 50 kg, selalu terlihat kurang gizi. Belum lagi ditambah hitamnya kantung dibawah mata.
Karena itu, Ibu selalu membubuhkan olesan tebal mentega yang berwarna kuning keemasan, serta irisan tebal keju yang asin. Bahkan, saat kami persediaan roti tawar di kulkas habis, toh Ibu tak pernah kehabisan akal. Selalu ada dua roti isi pengganti yang dibeli dari tukang roti, setoples kecil biscuit krim, atau setidaknya, tiga potong risoles dari penjual nasi uduk ujung gang.
Dan sambil menyeruput secangkir susu, itu adalah waktunya kuliah subuh di radio. Mustang, 88,05 FM. Sementara mata saya akan berputar memperhatikan kamar tidur saya. Tempat favorit saya di dunia.
Saya selalu suka kamar tidur saya. Kamar yang berisi dua kasur, satu lemari baju, dan satu meja. Dua kasur, karena Ibu sering tidur siang di kamar saya. Disamping kasur yang ditempati Ibu, ada satu cermin berbentuk persegi panjang. Salah satu benda peninggalan salah satu abang saya, sebetulnya. Jejak-jejaknya tampak dari beberapa stiker yang menempel pada bagian atas cermin. Satu stiker bergambar seorang polisi memegang pentungan, dengan kepala menunduk. Dibawahnya ada tulisan ”Beranilah belajar desain grafis.”
Di sekeliling cermin, saya tempelkan iklan bertuliskan ’Stylistop’, yang saya ambil secara gratis dari salon Johny Andrean di Mal Ciputra. Iklan yang cukup kontradiktif dengan boneka Barbie yang saya gantung disamping cermin, sebetulnya.
Lemari baju dari kayu jati terletak di salah satu pojok kamar. Salah satu objek favorit saya (kalau sedang narsis, sebetulnya). Ini karena, lemari ini sekarang sukses terbungkus dalam kolase kertas buatan saya, dengan tema khusus di setiap sisinya. Pintu kiri adalah kolase bertemakan film. Mulai dari film Sleepy Hollow, Magnolia, Blair Witch Project, The Story of Us, sampai adegan ciuman Leonardo Di Caprio dalam Gangs of New York penuh tempelan selotip bening yang tersebar dimana-mana.
Sementara pintu sebelah kanan, dan bagian samping lemari mengambil tema iklan. Ada iklan lingkungan, dengan gambar bola dunia yang sedang menangis, dan tumpukan sampah yang menggunung. Ada iklan festival film di Jepang dengan gambar mumi yang terbungkus dalam rol film, iklan sale di Pasaraya, iklan coklat Toblerone, bir Heineken, sampai iklan clubbing yang bergambar wanita seksi berbikini.
Di bagian bawah lemari, adalah kolase bertemakan kecantikan wanita. Dan para wanita beruntung itu adalah Halle Berry, Salma Hayek, Angelina Jolie. Di pintu kanan bagian dalam, waktunya kolase bertemakan senyum dan kebahagiaan. Dipasang di bagian dalam lemari, karena bagi saya, senyum dan kebahagiaan haruslah berasal dari dalam. Dari hati.
Karena itu, senyum yang terpilih pun adalah senyum tulus. Bukan sekedar pose patung berukir senyum basa-basi. Ada senyumnya Mandy Moore, DJ Winky, sampai senyum anak-anak TK yang sedang asyik bermain. Terakhir, sisi pintu kiri bagian dalam yang bertemakan hitam dan putih. Masih separuh, karena mood saya mendadak hilang saat mengerjakannya. Inilah satu-satunya kolase saya yang tak pernah selesai.
Masih ada koleksi kolase lainnya. Satu ditempel di ujung tempat tidur, dengan tema perjuangan, satu ditempel di pintu dengan tema kegelisahan dan rasa sakit. Kolase ini sengaja dipasang di pintu bagian luar, karena bagi saya setelah memasuki kamar, tidak ada lagi rasa sakit. Kamar ini adalah benteng saya. Dunia saya.
Terakhir, kolase bertemakan kasih ibu yang justru sering diprotes Ibu. Bagi Ibu, foto seorang wanita hamil setengah telanjang bukanlah representasi cinta yang murni. Dalam bahasa Jawa, itu disebut saru. Dan dalam agama Islam, Ibu memandangnya sebagai dosa.
Bagian favorit saya di kamar adalah kasur saya. Disinilah saya biasa menulis dengan beralaskan bantal. Kadang, sambil mendengarkan radio, kadang sambil mengguntingi dan menyobek halaman majalah untuk bahan kolase. Kadang juga sambil makan semangkuk mi instant panas yang mengepul-ngepul, kadang sambil membaca, dan kadang, hanya duduk tanpa melakukan apa-apa.
Seperti sekarang.
Kalau sudah terlalu lama melamun, biasanya Ibu akan masuk ke kamar dan bertanya “Kamu nggak mandi?”, disusul Bapak dengan sarungnya yang bertanya “Kamu berangkat jam berapa?” Kalau saya menjawab, “Berangkat pagi”, maka pertanyaan selanjutnya adalah “Kok nggak siap-siap?”, yang berakhir dengan langkah malas saya ke kamar mandi.
Saat itulah, saya akan melewati Bik Nur, pembantu kami yang datang pagi, dan pulang tengah hari. Seperti biasa, ia sedang menyeterika. Dan seperti biasanya juga, saya akan menitipkan selembar kaus putih favorit yang lecek karena sudah terlalu sering dipakai.
Tepat setelah mandi, kaus putih itu pasti telah terlipat dengan rapinya di atas tempat tidur. Dan sambil berpakaian, itu adalah waktunya Destiny’s Child. Waktunya lagu-lagu nge-beat untuk menambah semangat. Charger di pagi hari.
Ketukan Bapak di pintu menandakan jam sudah menunjukkan pukul 06.00. Saya harus bergegas. “Sebentar, lagi pakai baju!,” begitu saya selalu beralasan. Setelah memasukkan barang-barang ke dalam tas, dan memasang peniti terakhir ke jilbab, barulah pintu itu akan terbuka.
Dan waktunya memakai sepatu. Ritual kecil yang kadang jadi cukup menyebalkan. Karena saat itu, biasanya saya baru teringat akan buku yang tertinggal, disket yang belum dicabut, dan cangkir susu yang belum kosong. Dan Ibu akan tergopoh-gopoh membawa cangkir itu dan menunggui dengan sabar sampai saya selesai memakai sepatu. Setelah cangkir susu kosong, itu adalah waktunya Ibu untuk menanyakan sebuah pertanyaan.
Pertanyaan sama yang terus diulangnya sejak saya masuk kuliah. Pertanyaan yang seringnya tak bisa saya tepati. Pertanyaan yang selalu ingin membuat saya minta maaf. Sebuah pertanyaan sederhana. “Nanti malam kamu pulang jam berapa?”. Dengan penekanan pada kata ‘malam’, yang selalu menyentil kenyataan akan betapa jarangnya saya pulang sore.
Dan sambil mencium tangannya, saya akan menjawab “Nggak malam kok, paling jam 8-an.” Jawaban yang selalu membuat saya menyesal, saat saya sedang dalam perjalanan menuju rumah pada pukul 23. Saat jalanan lengang, bus terakhir sudah pulang, dan Ibu terkantuk-kantuk menunggu bunyi bel pencetan saya.
*****
Saya paling suka pagi hari. Saya paling suka, saat sedang duduk di atas sepeda motor Bapak menyaksikan pagi hari berlalu. Tepat setelah keluar dari rumah, motor ini akan belok kanan di pertigaan jalan. Dan tukang ojek yang nongkrong tak pernah lupa mengingatkan Bapak, kalau lampu sen masih menyala.
Lurus sedikit, sampai pertigaan Klinik 24 jam, motor akan belok kiri. Lurus sedikit, motor akan melewati sebuah sekolah dasar. Sekolah dasar yang sama dengan yang saya datangi setiap pagi, pada 8 tahun yang lalu. Pemandangan yang sama dengan yang saya lihat, pada 8 tahun yang lalu.
Anak-anak sekolahan yang diseberangkan satpam. Pelajar SMU yang sedang sarapan mi goreng di mobil, karena bangun kesiangan. Penjaga wartel yang sedang membuka pintu. Tukang bubur ayam yang kewalahan menerima berbagai pesanan. “Yang satu nggak pakai kacang sama kecap manis, yang satu nggak pakai bawang, yang satu….”
Dan tukang bubur akan tersenyum dengan sabar. Sama seperti tukang parkir, yang meski terkantuk-kantuk pun masih sempat tersenyum, dan menyapa “Berangkat Neng?”. Karena pagi harinya adalah waktunya bersabar. Waktu penuh kedamaian.
Setelah melewati sekolah, motor akan melaju naik jalan layang Kemanggisan. Disinilah, damainya pagi terasa begitu mahal. Karena terlambat sepuluh menit saja, maka damainya pagi akan segera digantikan dengan raungan klakson, teriakan pengendara motor, diselingi sumpah serapah para kondektur angkot yang tak sabar.
Sementara di atas motor, saya Cuma bisa berdoa. Surat Annas, Al Falaq, dan Al Ikhlas. Masing-masing tiga kali. Doa keselamatan, agar Tuhan selalu melindungi saya dari terbit fajar sampai matahari terbenam.
Di Slipi, jalanan masih sepi. Beberapa pelari mulai berlatih. Tukang koran di jembatan Slipi merapikan dagangannya. Tepat di atas jalan layang Slipi, mata saya akan tertumbuk pada deretan poster film yang diputar di Slipi Theatre. Sementara otak saya berputar mengatur jadwal nonton film, biasanya Bapak akan berkomentar pendek “Kamu tuh, film melulu.”
Pertanyaan pendek. Jawaban pendek. Sebuah percakapan pendek yang diakhiri dengan ucapan “Makasih udah nganter,” sambil mencium tangan tuanya yang mulai keriput.
*****
Saya paling suka pagi hari. Sama seperti saya paling suka stasiun kereta di pagi hari. Menyaksikan aneka rupa orang-orang yang lalu lalang lewat tepat di depan hidung saya. Ada anak sekolahan dengan seragamnya yang tersetrika licin, para wanita karier dengan blazer, tukang buah yang menjinjing dua keranjang penuh rambutan, sampai para gembel dan pengemis dengan rambut kusut dan muka mengantuk.
“Jalur 5, kereta tujuan Bogor,” adalah pertanda waktunya saya turun lewat tangga stasiun Tanah Abang. Sama seperti waktunya saya bertemu sesama. Mere dari jurusan Sastra Jepang, Melisa dari jurusan Teknik, Indah dari Poltek.
Masih ada seorang wanita berjilbab yang akan turun di stasiun Pasar Minggu. Lalu, dua orang mahasiswa dari Fakultas Sastra dan Fasilkom. Atau pria berseragam biru yang akan turun di stasiun Lenteng Agung. Orang-orang yang tidak pernah saya tahu namanya, dan (mungkin) juga tidak pernah tahu nama saya. Orang-orang yang tidak pernah saling berkenalan, tapi saling menyadari kehadiran satu sama lainnya. Sebagai satu komunitas tanpa pendaftaran ataupun selembar kartu anggota.
Di tengah rasa aman yang terasa akrab, sambil diayun irama rel kereta, saat itulah saya mulai tertidur. Balas dendam atas 45 menit yang tertunda. Dan saya akan terbangun di stasiun Kalibata. Atau Tebet. Atau Pasar Minggu. Suatu keajaiban, bahwa saya selalu terbangun sebelum stasiun Universitas Pancasila.
Pemandangan menuju stasiun Universitas Indonesia selalu menjadi bagian kecil yang saya tunggu setiap pagi. Gerbatama yang kokoh, dihiasi pohon-pohon berbunga kuning. Sama seperti jam besar di stasiun yang tak pernah alpa saya lirik. Selain karena saya memang tidak pakai jam tangan, jam besar ini seolah merupakan trofi karena saya sudah berhasil bangun pagi. Saat ia menunjukkan pukul 07.30, artinya saya berhasil. Saat ia menunjukkan pukul 07.45, dan saya baru saja turun dari kereta yang saya tumpangi dari stasiun Gondangdia, artinya saya sudah melewatkan beberapa momen kecil yang berharga di pagi hari. Yang mahal.
*****
Saya paling suka pagi hari. Terutama saat kaki ini berjalan melewati Balhut. Hijau, hijau, hijau. Kontras dengan warna merah tiang lampu jalanan yang dipatok menuju tempat parkir. Setiap helai daun tampak segar dibasahi bulir embun. Bau tanah yang lengket karena hujan semalam. Kadang ada beberapa ekor kupu-kupu si penanda datangnya tamu. Kadang ada beberapa ekor siput yang merayap lamban di atas jalanan berbatu yang menghitam karena basah. Kalau sedang beruntung, saya akan mendengar suara katak atau jangkrik yang baru terjaga.
Sama seperti saya paling suka duduk di plasa FISIP di pagi hari. Hanya duduk saja. Dan memasang telinga baik-baik. Desir angin, gesekan sapu lidi petugas pembersih yang sabar menyapu dedaunan yang rontok. Bahkan udara pun terasa begitu sejuk. Saya tersenyum. Seluruh semesta sedang menyambut pagi. Mereka gembira. Mereka berdoa.
Dua tiga orang pengguna setia kereta mulai menunjukkan batang hidungnya. Seperti biasa, mereka akan menyapa “Hei Jo, kuliah apa pagi ini?”
Dan kampus pun mulai terjaga.
*****




