Archive for August, 2006

pada suatu pagi

Pagi_yg_indah

Saya paling suka pagi hari. Saya paling suka terjaga saat muadzin mushala depan rumah mulai mengaji. Meski biasanya saya baru bisa tidur jam 4 pagi, toh saya tetap menikmati dinginnya air keran yang mencuci wajah dan jiwa saya saat berwudhu.

Saya juga suka berlama-lama salat Subuh. Kalau lagi rajin, saya bahkan tak segan menambahnya dengan salat sunnah 2 rakaat sebelum salat Subuh. Ini semata-mata, karena saya ingin bercerita padaNya lebih lama, sebelum hari dimulai dan Tuhan belum terlalu lelah untuk mendengarkan setumpuk permohonan dari umat manusia lainnya.

Usai salat Subuh, biasanya telah tersedia secangkir susu hangat diatas meja. Tidak selalu susu sih. Kalau saya sedang habis begadang, isi cangkir itu adalah kopi hitam yang pekat. Kalau tidak tidur sama sekali, pekatnya hitam kopi akan berwarna abu-abu, pertanda adanya sedikit campuran susu. Dan, saat saya sedang diare, itu semua akan digantikan dengan teh hangat yang daun tehnya masih melayang-layang.

Susu hangat dan kopi tidak selalu hadir sendirian. Kadang, ada setangkup roti beroles mentega dengan taburan meises dan keju. Keju potongan, bukan yang parutan. Bukan, bukan karena Ibu tidak suka keju parutan. Bukan pula karena di rumah kami tidak ada parutan keju. Tapi karena, bagi Ibu, saya dengan berat badan yang tak pernah mencapai angka 50 kg, selalu terlihat kurang gizi. Belum lagi ditambah hitamnya kantung dibawah mata.

Karena itu, Ibu selalu membubuhkan olesan tebal mentega yang berwarna kuning keemasan, serta irisan tebal keju yang asin. Bahkan, saat kami persediaan roti tawar di kulkas habis, toh Ibu tak pernah kehabisan akal. Selalu ada dua roti isi pengganti yang dibeli dari tukang roti, setoples kecil biscuit krim, atau setidaknya, tiga potong risoles dari penjual nasi uduk ujung gang.

  Dan sambil menyeruput secangkir susu, itu adalah waktunya kuliah subuh di radio. Mustang, 88,05 FM. Sementara mata saya akan berputar memperhatikan kamar tidur saya. Tempat favorit saya di dunia.

Saya selalu suka kamar tidur saya. Kamar yang berisi dua kasur, satu lemari baju, dan satu meja. Dua kasur, karena Ibu sering tidur siang di kamar saya. Disamping kasur yang ditempati Ibu, ada satu cermin berbentuk persegi panjang. Salah satu benda peninggalan salah satu abang saya, sebetulnya. Jejak-jejaknya tampak dari beberapa stiker yang menempel pada bagian atas cermin. Satu stiker bergambar seorang polisi memegang pentungan, dengan kepala menunduk. Dibawahnya ada tulisan ”Beranilah belajar desain grafis.”

Di sekeliling cermin, saya tempelkan iklan bertuliskan ’Stylistop’, yang saya ambil secara gratis dari salon Johny Andrean di Mal Ciputra. Iklan yang cukup kontradiktif dengan boneka Barbie yang saya gantung disamping cermin, sebetulnya.

Lemari baju dari kayu jati terletak di salah satu pojok kamar. Salah satu objek favorit saya (kalau sedang narsis, sebetulnya). Ini karena, lemari ini sekarang sukses terbungkus dalam kolase kertas buatan saya, dengan tema khusus di setiap sisinya. Pintu kiri adalah kolase bertemakan film. Mulai dari film Sleepy Hollow, Magnolia, Blair Witch Project, The Story of Us, sampai adegan ciuman Leonardo Di Caprio dalam Gangs of New York penuh tempelan selotip bening yang tersebar dimana-mana.

Sementara pintu sebelah kanan, dan bagian samping lemari mengambil tema iklan. Ada iklan lingkungan, dengan gambar bola dunia yang sedang menangis, dan tumpukan sampah yang menggunung. Ada iklan festival film di Jepang dengan gambar mumi yang terbungkus dalam rol film, iklan sale di Pasaraya, iklan coklat Toblerone, bir Heineken, sampai iklan clubbing yang bergambar wanita seksi berbikini.

Di bagian bawah lemari, adalah kolase bertemakan kecantikan wanita. Dan para wanita beruntung itu adalah Halle Berry, Salma Hayek, Angelina Jolie. Di pintu kanan bagian dalam, waktunya kolase bertemakan senyum dan kebahagiaan. Dipasang di bagian dalam lemari, karena bagi saya, senyum dan kebahagiaan haruslah berasal dari dalam. Dari hati.

Karena itu, senyum yang terpilih pun adalah senyum tulus. Bukan sekedar pose patung berukir senyum basa-basi. Ada senyumnya Mandy Moore, DJ Winky, sampai senyum anak-anak TK yang sedang asyik bermain. Terakhir, sisi pintu kiri bagian dalam yang bertemakan hitam dan putih. Masih separuh, karena mood saya mendadak hilang saat mengerjakannya. Inilah satu-satunya kolase saya yang tak pernah selesai.

Masih ada koleksi kolase lainnya. Satu ditempel di ujung tempat tidur, dengan tema perjuangan, satu ditempel di pintu dengan tema kegelisahan dan rasa sakit. Kolase ini sengaja dipasang di pintu bagian luar, karena bagi saya setelah memasuki kamar, tidak ada lagi rasa sakit. Kamar ini adalah benteng saya. Dunia saya.

Terakhir, kolase bertemakan kasih ibu yang justru sering diprotes Ibu. Bagi Ibu, foto seorang wanita hamil setengah telanjang bukanlah representasi cinta yang murni. Dalam bahasa Jawa, itu disebut saru. Dan dalam agama Islam, Ibu memandangnya sebagai dosa.

Bagian favorit saya di kamar adalah kasur saya. Disinilah saya biasa menulis dengan beralaskan bantal. Kadang, sambil mendengarkan radio, kadang sambil mengguntingi dan menyobek halaman majalah untuk bahan kolase. Kadang juga sambil makan semangkuk mi instant panas yang mengepul-ngepul, kadang sambil membaca, dan kadang, hanya duduk tanpa melakukan apa-apa.

Seperti sekarang.

Kalau sudah terlalu lama melamun, biasanya Ibu akan masuk ke kamar dan bertanya “Kamu nggak mandi?”, disusul Bapak dengan sarungnya yang bertanya “Kamu berangkat jam berapa?” Kalau saya menjawab, “Berangkat pagi”, maka pertanyaan selanjutnya adalah “Kok nggak siap-siap?”, yang berakhir dengan langkah malas saya ke kamar mandi.

Saat itulah, saya akan melewati Bik Nur, pembantu kami yang datang pagi, dan pulang tengah hari. Seperti biasa, ia sedang menyeterika. Dan seperti biasanya juga, saya akan menitipkan selembar kaus putih favorit yang lecek karena sudah terlalu sering dipakai.

Tepat setelah mandi, kaus putih itu pasti telah terlipat dengan rapinya di atas tempat tidur. Dan sambil berpakaian, itu adalah waktunya Destiny’s Child. Waktunya lagu-lagu nge-beat untuk menambah semangat. Charger di pagi hari.

Ketukan Bapak di pintu menandakan jam sudah menunjukkan pukul 06.00. Saya harus bergegas.  “Sebentar, lagi pakai baju!,” begitu saya selalu beralasan. Setelah memasukkan barang-barang ke dalam tas, dan memasang peniti terakhir ke jilbab, barulah pintu itu akan terbuka.

Dan waktunya memakai sepatu. Ritual kecil yang kadang jadi cukup menyebalkan. Karena saat itu, biasanya saya baru teringat akan buku yang tertinggal, disket yang belum dicabut, dan cangkir susu yang belum kosong. Dan Ibu akan tergopoh-gopoh membawa cangkir itu dan menunggui dengan sabar sampai saya selesai memakai sepatu. Setelah cangkir susu kosong, itu adalah waktunya Ibu untuk menanyakan sebuah pertanyaan.

Pertanyaan sama yang terus diulangnya sejak saya masuk kuliah. Pertanyaan yang seringnya tak bisa saya tepati. Pertanyaan yang selalu ingin membuat saya minta maaf. Sebuah pertanyaan sederhana. “Nanti malam kamu pulang jam berapa?”. Dengan penekanan pada kata ‘malam’, yang selalu menyentil kenyataan akan betapa jarangnya saya pulang sore.

Dan sambil mencium tangannya, saya akan menjawab “Nggak malam kok, paling jam 8-an.” Jawaban yang selalu membuat saya menyesal, saat saya sedang dalam perjalanan menuju rumah pada pukul 23. Saat jalanan lengang, bus terakhir sudah pulang, dan Ibu terkantuk-kantuk menunggu bunyi bel pencetan saya.

*****

Saya paling suka pagi hari. Saya paling suka, saat sedang duduk di atas sepeda motor Bapak menyaksikan pagi hari berlalu. Tepat setelah keluar dari rumah, motor ini akan belok kanan di pertigaan jalan. Dan tukang ojek yang nongkrong tak pernah lupa mengingatkan Bapak, kalau lampu sen masih menyala.

Lurus sedikit, sampai pertigaan Klinik 24 jam, motor akan belok kiri. Lurus sedikit, motor akan melewati sebuah sekolah dasar. Sekolah dasar yang sama dengan yang saya datangi setiap pagi, pada 8 tahun yang lalu. Pemandangan yang sama dengan yang saya lihat, pada 8 tahun yang lalu.

Anak-anak sekolahan yang diseberangkan satpam. Pelajar SMU yang sedang sarapan mi goreng di mobil, karena bangun kesiangan. Penjaga wartel yang sedang membuka pintu. Tukang bubur ayam yang kewalahan menerima berbagai pesanan. “Yang satu nggak pakai kacang sama kecap manis, yang satu nggak pakai bawang, yang satu….”

Dan tukang bubur akan tersenyum dengan sabar. Sama seperti tukang parkir, yang meski terkantuk-kantuk pun masih sempat tersenyum, dan menyapa “Berangkat Neng?”. Karena pagi harinya adalah waktunya bersabar. Waktu penuh kedamaian.

Setelah melewati sekolah, motor akan melaju naik jalan layang Kemanggisan. Disinilah, damainya pagi terasa begitu mahal. Karena terlambat sepuluh menit saja, maka damainya pagi akan segera digantikan dengan raungan klakson, teriakan pengendara motor, diselingi sumpah serapah para kondektur angkot yang tak sabar.

Sementara di atas motor, saya Cuma bisa berdoa. Surat Annas, Al Falaq, dan Al Ikhlas. Masing-masing tiga kali. Doa keselamatan, agar Tuhan selalu melindungi saya dari terbit fajar sampai matahari terbenam.

Di Slipi, jalanan masih sepi. Beberapa pelari mulai berlatih. Tukang koran di jembatan Slipi merapikan dagangannya. Tepat di atas jalan layang Slipi, mata saya akan tertumbuk pada deretan poster film yang diputar di Slipi Theatre. Sementara otak saya berputar mengatur jadwal nonton film, biasanya Bapak akan berkomentar pendek “Kamu tuh, film melulu.”

    Pertanyaan pendek. Jawaban pendek. Sebuah percakapan pendek yang diakhiri dengan ucapan “Makasih udah nganter,” sambil mencium tangan tuanya yang mulai keriput.

*****

Saya paling suka pagi hari. Sama seperti saya paling suka stasiun kereta di pagi hari. Menyaksikan aneka rupa orang-orang yang lalu lalang lewat tepat di depan hidung saya. Ada anak sekolahan dengan seragamnya yang tersetrika licin, para wanita karier dengan blazer, tukang buah yang menjinjing dua keranjang penuh rambutan, sampai para gembel dan pengemis dengan rambut kusut dan muka mengantuk.

“Jalur 5, kereta tujuan Bogor,” adalah pertanda waktunya saya turun lewat tangga stasiun Tanah Abang. Sama seperti waktunya saya bertemu sesama. Mere dari jurusan Sastra Jepang, Melisa dari jurusan Teknik, Indah dari Poltek.

Masih ada seorang wanita berjilbab yang akan turun di stasiun Pasar Minggu. Lalu, dua orang mahasiswa dari Fakultas Sastra dan Fasilkom. Atau pria berseragam biru yang akan turun di stasiun Lenteng Agung. Orang-orang yang tidak pernah saya tahu namanya, dan (mungkin) juga tidak pernah tahu nama saya. Orang-orang yang tidak pernah saling berkenalan, tapi saling menyadari kehadiran satu sama lainnya. Sebagai satu komunitas tanpa pendaftaran ataupun selembar kartu anggota.

Di tengah rasa aman yang terasa akrab, sambil diayun irama rel kereta, saat itulah saya mulai tertidur. Balas dendam atas 45 menit yang tertunda. Dan saya akan terbangun di stasiun Kalibata. Atau Tebet. Atau Pasar Minggu. Suatu keajaiban, bahwa saya selalu terbangun sebelum stasiun Universitas Pancasila.

Pemandangan menuju stasiun Universitas Indonesia selalu menjadi bagian kecil yang saya tunggu setiap pagi. Gerbatama yang kokoh, dihiasi pohon-pohon berbunga kuning. Sama seperti jam besar di stasiun yang tak pernah alpa saya lirik. Selain karena saya memang tidak pakai jam tangan, jam besar ini seolah merupakan trofi karena saya sudah berhasil bangun pagi. Saat ia menunjukkan pukul 07.30, artinya saya berhasil. Saat ia menunjukkan pukul 07.45, dan saya baru saja turun dari kereta yang saya tumpangi dari stasiun Gondangdia, artinya saya sudah melewatkan beberapa momen kecil yang berharga di pagi hari. Yang mahal.

*****

Saya paling suka pagi hari. Terutama saat kaki ini berjalan melewati Balhut. Hijau, hijau, hijau. Kontras dengan warna merah tiang lampu jalanan yang dipatok menuju tempat parkir. Setiap helai daun tampak segar dibasahi bulir embun. Bau tanah yang lengket karena hujan semalam. Kadang ada beberapa ekor kupu-kupu si penanda datangnya tamu. Kadang ada beberapa ekor siput yang merayap lamban di atas jalanan berbatu yang menghitam karena basah. Kalau sedang beruntung, saya akan mendengar suara katak atau jangkrik yang baru terjaga.

Sama seperti saya paling suka duduk di plasa FISIP di pagi hari. Hanya duduk saja. Dan memasang telinga baik-baik. Desir angin, gesekan sapu lidi petugas pembersih yang sabar menyapu dedaunan yang rontok. Bahkan udara pun terasa begitu sejuk. Saya tersenyum. Seluruh semesta sedang menyambut pagi. Mereka gembira. Mereka berdoa.

Dua tiga orang pengguna setia kereta mulai menunjukkan batang hidungnya. Seperti biasa, mereka akan menyapa “Hei Jo, kuliah apa pagi ini?”

Dan kampus pun mulai terjaga.

*****

saat hujan reda

After_d_rain

Hujan sudah reda. Menyisakan sebentuk mimpi berupa pelangi berwarna-warni. Tak ada lagi emosi. Tak ada lagi hasrat. Tak ada lagi wajah-wajah mendamba. Kita kembali hidup. Terjaga. Bekerja. Dan kita kembali membuang label manusia.

one sweet day

Bed_nd_breakfast

“Pagi, sayang..

Mau sarapan roti dengan selai kacang?

Atau roti isi telur?

Kopinya sudah siap, tanpa gula dan krim, seperti biasa

Koran pagi ini juga sudah siap di samping cangkir kopi

Oya, ada tambahan daftar belanja untuk minggu ini

Jangan lupa beli deterjen dan sampo

Samponya pakai merk yang biasa saja, yang kemarin bikin rambut kamu ketombean

Ok, penidur, I’ve gotta go now..

Ada beberapa janji wawancara dan deadline tulisan

Jangan lupa jemput aku buat makan siang ya

Sampai jam itu, I’m gonna miss you, sleepy head…

Love you, sweetie…”

that’s what friends are for

Circle_of_friendsDaftar berikut adalah rincian tentang hal-hal yang akan dilakukan oleh seorang sahabat:

·


. Menunggui waktu kamu sakit. Ia akan terus menunggui, sampai kamu tertidur, dan baru pamit pulang, waktu ada orang lain yang akan bergantian menjaga kamu.

· Membelikan Pocari Sweat dan sekantung penuh gorengan hangat, waktu kamu sedang dikejar deadline skripsi.

· Menjadi jokes machine seharian penuh untuk menghibur kamu, waktu hasil skripsi kamu mengecewakan.

· Mengantri berjam-jam demi mendapatkan sekotak brownies kukus Adinda, hanya karena sudah kamu rewel berhari-hari merengek oleh-oleh itu dari Bandung.

· Mendengarkan celoteh, pekik riang, isakan, dan kognisi yang melelahkan, saat kamu sedang kasmaran.

· Dan ya, itu artinya, mendengarkan puluhan jam via telpon, ratusan jam tatap muka, dan ratusan sms.

· Mengajari kamu untuk lebih asertif, dengan membisikkan “Ayo, bilang ‘Permisi’, “ waktu kamu disikut ibu-ibu di Melawai.

· Menemani kamu mengurus surat-surat birokrasi TKA dan skripsi yang melelahkan.

· Membantu menyusun copy halaman eksekusi TKA kamu, karena kamu salah nge-print dummy.

· Merapal mantera penyemangat “Icanarod, Iwillarod, Iwinarod, Iditarod.”

· Menawarkan barang apapun yang bisa menyamankan saat kamu sedang kejang jantung, meskipun itu hanya segelas air putih.

· Membawakan makan malam yang hangat, dan berkaleng-kaleng Bear Brand, waktu kamu sedang tidak nafsu makan.

· Mencarikan Royco rasa terasi, waktu kamu mau masak sayur lodeh untuk pacar kamu.

· Mengadakan pesta es krim, dengan mengundang teman-teman kamu yang lainnya, saat kamu sedang sedih.

· Menyisihkan separuh isi dari keripik Sanjay asli, yang cuma tinggal sebungkus.

· Membawakan setumpuk buku cerita anak untuk jadi koleksi taman bacaan kamu.

· Membelikan coklat besar-besar untuk ketiga keponakan kamu.

· Mengajari kamu makan sushi.

· Dan selalu menyisihkan Crunchy Dragon Roll di Poke, supaya kamu juga bisa ikut makan.

· Meminjamkan buku-buku lucu, untuk menghibur kamu.

· Membaca pikiran kamu, waktu kamu sudah mulai berpikir untuk melucukan SEMUA hal.

· Mengikuti kamu yang dengan keras kepalanya pingin jalan kaki dari Stasiun Cikini sampe TIM, demi ngirit Rp 3 ribu

· Juga mengikuti kamu jalan kaki menuju Bintaro Sektor 9, setelah seharian kerja dan pakai high-heel

· Dan tidak membunuh kamu, waktu ternyata, sesampainya disana, planetariumnya tutup, dan kamu lupa ngecek jadwal

· Ikut-ikutan nggak makan mi ayam Bangka, hanya karena kamu lagi diet mi

· Mengirim email penjelasan ke pacar kamu, waktu kamu sedang bertengkar hebat sama pacar kamu

· Mengucapkan selamat ulang tahun, sama ayah kamu

· Dengan sabarnya, berusaha mendiamkan kamu, waktu kamu sedang bersikap menyulitkan

· Lalu, menghapus butir-butir air mata yang meluncur di pipi kamu, waktu kamu mulai menangis

· Lalu menyalakan AC kamar, supaya kamu setidaknya merasa cukup sejuk

· Menarik kamu ke tepi jalan, waktu kamu sedang ingin menabrakkan diri pada mobil yang lewat di tengah jalan

.  Atau bahkan saat mereka tidak bisa hadir, mereka akan diam mendengarkan via HP, saat kamu sedang menangis berjam-jam karena depresi, meracau tentang bunuh diri, dan tidak berani keluar kamar.

·   Menawarkan rumah dan kamarnya untuk diinapi, saat kamu nggak tahu mau kemana hari ini.

·  Atau menawarkan setumpuk DVD sitcom dan peraih Oscar, dengan sebuah pesan sms “Kita bahkan nggak perlu ngobrol kalo kamu nggak mau..”

·   Atau bahkan, waktu mereka nggak tau musti bilang apa, dengan jujur mereka akan mengaku “Maaf ya, saya nggak tau mesti bilang apa yang bisa menyamankan. Tapi setidaknya, biarin saya disini nemenin kamu ya…”

 

       Well, tentu saja daftar ini masih bisa tambah panjang. Tapi inilah sebagian hal-hal yang sudah dilakukan sahabat-sahabat saya. Ya, ini tentang mereka. Tentang cara mereka mengetuk pintu saya. Juga tentang cara mereka menunggu dengan sabar di depan pintu saat saya hanya sekedar mengintip dari jendela, dengan takut-takut. Dan tentang cara mereka mempersilakan saya masuk, dengan ramah dan tangan terbuka…

        Terima kasih banyak untuk semuanya…

my sweet little angel

Ahan_retno_2

Sejak bulan lalu, rumah saya kedatangan satu malaikat lagi.
Namanya Farhan Zain Sholahuddin. Malaikat yang ini menyamar jadi bocah umur 7
tahun. Dia biasa dipanggil ”Mas Ahan.” Kalau kenalan sama orang, dengan
malu-malu, dia akan mengulurkan tangan mungilnya dan berujar ”Nama saya
Farhan..”

Well, Ahan punya ritual khusus. Dan itu adalah, membangunkan
saya setiap pagi. Tepat setelah dia bangun pagi, dia akan langsung menerjang
pintu kamar saya, dan dengan semangat teriak ”Tante Retno, banguuun!!! Udah
siang!!!”.

Tentu saja, Ahan nggak tahu, bahwa biasanya mungkin
semalam saya habis begadang nulis. Atau bahwa, saya mungkin sudah bangun untuk
subuhan, tapi lalu tidur lagi. Yang dia tahu, adalah rasa bangga saat, dia bisa
menjalankan tugasnya dengan baik.

Pernah sekali, saya sudah siap berpakaian lengkap dan
Ahan baru menerjang masuk. Dengan kecewa, dia berujar ”Yaaa, kok Tante udah
bangun? Aku baru mau bangunin tadi…kesiangan deh…”

*****

Ahan juga senang berbagi apapun dengan saya. Saat dia
dibelikan jajanan, maka ia akan langsung berlari menghampiri saya sambil
berteriak riang ”Tante Retno mau ndaaaak?’. Atau saat dia ingin makan mi
instan, dia akan menawarkan ”Tante Retno mau juga nggak? Tante Retno sukanya
pake telor atau ndak?”

Dan saat saya cuma mencicipi sedikit, dia akan berujar
”Tante Retno, minta yang banyak juga nggak papa, mau dihabisin juga nggak papa,
tapi buat aku sisain dikit ya..”

Duh.

Saat-saat seperti itu, saya akan langsung memeluknya,
menciumi wajah polosnya. ”Tante sayaaaaaaaaaaaaang banget sama kamu…”

”Aku juga sayang sama Tante!”

*****

Ahan juga paling sebal kalau saya pulang malam. Kalau jam
21.00 WIB saya belum juga pulang, dengan ributnya ia akan meneror ayah ibunya dengan
deretan pertanyaan seperti: ”Kok Tante Retno nggak pulang-pulang? Kok nggak
ditelpon? Kan itu lho ada nomor telponnya di tembok. Mbok di telpon Tante
Retno-nya, terus dijemput..”

Setibanya saya di rumah, akan dimulailah sesi interogasi.
Dengan berbagai pertanyaan seperti ”Tante Retno kok lama ke kampusnya? Emang
kampusnya tutup jam berapa? Terus kalo udah tutup, Tante kemana?
Sama siapa? Ngapain
aja?…”, dan setumpuk pertanyaan yang membuat saya merasa punya pacar baru.

Lalu wajah polosnya yang sedih akan berujar ”Kan aku
nungguin dari tadi, sampe ngantuk..”

Dan sesi itu akan berakhir dengan segunung rasa bersalah
dan penyesalan. Yang terus menghantui tidur saya sepanjang malam.

Hhh, coba tadi saya pulang lebih cepat ya…..

*****

 

pleasantville

Pleasantville  Selamat datang di dunia saya

  Silakan masuk


Disini, semuanya berwarna abu-abu. Tanah, langit, pohon, jalan, rumah, sungai. Daun, serangga, tetes hujan, embun, danau, awan. Abu-abu. Semua abu-abu.

Abu-abu yang tawar. Abu-abu yang datar.

Abu-abu yang kusam. Abu-abu yang muram.

Abu-abu yang kosong. Abu-abu yang membosankan.

Abu-abu yang meresahkan.

berkabung saat para kunang-kunang dimakamkan

Grave_of_the_fireflies

        Hampir setiap orang yang saya kenal berkomentar bahwa film Grave of the Fireflies adalah film yang menguras air mata. Seorang teman bahkan sampai bertekad untuk hanya menonton sekali seumur hidupnya, demi menjaga kestabilan kognisi.

        Well, mereka benar.

                                                          ****

        Grave of the Fireflies yang berjudul asli Hotaru no haka ini adalah film animasi keluaran tahun 1988, yang ditulis dan disutradarai oleh Isao Takahata. Film ini mengisahkan tentang penderitaan korban bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, pada masa Perang Dunia II. Di antara para korban itu, ada sepasang kakak beradik bernama Seita dan Setsuko. Ibu mereka tewas menjadi korban bom atom, dan sang ayah pergi berperang.

        Untuk sementara, Seita dan Setsuko terpaksa tinggal di rumah bibi , yang merupakan adik dari ibu mereka. Awalnya, mereka memang diterima dengan baik. Apalagi, Seita juga sempat membantu mengorek-ngorek sisa-sisa makanan dari puing-puing rumah. Salah satu hasil temuannya adalah sekaleng permen buah, makanan kesukaan Setsuko. Di kemudian hari, kala Setsuko sedang sedih, permen buah inilah yang menjadi penghiburannya. Bahkan saat kaleng itu kosong, Seita akan mengisinya dengan air agar Setsuko setidaknya bisa minum air dengan aroma buah yang tersisa.

        Toh, masalah tak berhenti sampai disitu saja. Selang beberapa hari, bibi mereka mulai bersikap tak ramah. Terlebih setelah belakangan, si bibi tahu bahwa kakaknya telah meninggal, dan ayah sepasang saudara itu tak kunjung pulang. Mula-mula hanya komentar-komentar sinis saat makan malam, atau saat Seita sedang bermain dengan Setsuko. Berlanjut dengan mogoknya si bibi untuk memasak bagi Seita dan Setsuko, yang hanya dianggapnya sebagai parasit yang merepotkan.

         Merasa tak nyaman dengan kondisi itu, Seita dan Setsuko pun memutuskan untuk pindah. Dan rumah baru pilihan mereka adalah sebuah gua persembunyian, di sebuah bukit kecil, yang kerap digunakan untuk berlindung saat terjadi serangan bom mendadak. Di sana, mereka banyak belajar hal baru. Misalnya, mereka belajar memasak, mencuci baju, mencuci piring, berburu siput di kolam, dan belajar menangkap kunang-kunang sebagai ”lampu” dalam gua. Tapi ternyata, keesokan harinya, kunang-kunang itu berjatuhan satu persatu. Saat itulah, mereka belajar tentang kematian.

        Sementara itu, perang menyebabkan sulitnya mencari bahan pangan. Seita mulai mencuri makanan dari ladang para petani. Malangnya, ia tertangkap. Ia kemudian dipukuli hingga babak belur, lalu digiring ke kantor polisi. Padahal saat itu, Setsuko sedang terserang diare parah, dan gatal-gatal. Makin hari, kondisi Setsuko makin parah. Setelah bebas dari kantor polisi, Seita membawa adiknya ke dokter. Di sana diketahui, ternyata Setsuko menderita malnutrisi akut. Seita berusaha keras mencari makanan. Sepulang dari klinik, Seita bahkan memungut potongan es batu yang jatuh, untuk disuapkan pada Setsuko.

        Esoknya, Seita pergi ke bank untuk mengambil seluruh uang simpanan orang tuanya. Saat itu, Setsuko hanya bisa terbaring lemah. Ia sempat meminta Seita untuk tidak pergi. Tapi demi membeli makanan, Seita tetap berangkat. Ia kemudian pulang membawa berbagai makanan. Tapi Setsuko masih terbaring, sambil mengulum kelereng yang dianggapnya permen buah. Dengan lemah, Setsuko juga menawarkan batu yang dianggapnya nasi kepal. Seita sangat sedih melihatnya. Ia kemudian memberikan sepotong semangka pada Setsuko, lalu segera memasak. 

         Tapi Setsuko tak pernah terbangun.

         Dan malam itu, Seita tidur sambil memeluk tubuh adiknya yang dingin. Mangkuk makanannya sama sekali tak tersentuh. Esoknya, Seita membeli peti mati untuk mengkremasi adiknya, lalu meninggalkan gua perlindungan. Untuk selamanya.

                                                        ****

        Well, tak hanya memilukan, film ini juga meraih sejumlah penghargaan. Diantaranya dari Blue Ribbon Awards (1989), dan Chicago International Children’s Festival (1994). Jadi, mari siapkan sebungkus tisu, dan kognisi yang stabil untuk menontonnya.

          Karena kita akan berkabung, saat para kunang-kunang dimakamkan.

seorang perempuan yang jatuh cinta pada hujan

Sebenarnya, tidak ada yang istimewa pada diri saya.
Seperti banyak perempuan biasa lainnya di dunia, saya senang bersenandung kecil saat tengah menjemur cucian di siang hari.

Seperti banyak perempuan biasa lainnya di dunia, saya juga sering merajut kala matahari mulai tenggelam dan saya tak lagi menemukan pekerjaan lain untuk dibereskan. Kala semua selimut sudah terlipat rapi, semua perkakas sudah dicuci, dan burung hantu mulai berjaga diselingi lolongan anjing.
Seperti banyak perempuan biasa lainnya di dunia, saya juga jatuh cinta. Cinta yang kerap membuat dada disesaki rindu, dan getaran yang menjalari rona merah di pipi yang tersenyum malu-malu.
Dan kali ini, saya jatuh cinta pada Hujan.
****
Saya nyaris lupa kapan tepatnya saya mulai jatuh cinta. Yang saya ingat, saat itu desa kecil kami tengah dilanda kemarau panjang. Sudah berbulan-bulan lamanya Hujan tidak turun mengguyur. Petak-petak sawah yang semula menghijau segar mulai kering dan pecah-pecah. Sementara volume air sungai terus menyusut. Saya ingat, saat itu kami tak mandi sampai berminggu-minggu lamanya. Bau badan dan keringat semua orangpun meruap ke udara, tanpa satu mulut juga yang berani protes.
Toh kondisi ini tetap saja meresahkan warga. Maka pada suatu malam seluruh penduduk desa menggelar rembug desa. Ada banyak pendapat yang muncul. Sampai Mak Sani, dukun terkenal di desa kami, mengemukakan pendapatnya.
Katanya, Hujan sedang bosan.
Tentu saja, pernyataan Mak Sani itu membuat geger para warga desa.
“Hujan bosan?? Bagaimana mungkin ia bisa bosan? Ia adalah Hujan, yang seharusnya membawa kesegaran!,” teriak seorang warga. Saat sejumlah warga lainnya mulai berebut teriak, Mak Sani pun mengangkat tangannya.
“DIAM SEMUAA!!!, ” katanya. Seperti biasa, kalau Mak Sani angkat bicara, maka tak seorang pun juga berani buka mulut.
“Tentu saja Hujan bisa bosan. Dia juga hidup, dia juga punya perasaan. Selama ini dia sudah mendatangkan banyak berkah untuk kita. Dia suburkan sawah kita, dia aliri sungai-sungai kita, dia puaskan dahaga kita. Tapi kita, apa yang kita berikan buat dia??, ” lanjut Mak Sani.
Hening.
“Lalu bagaimana caranya? Apa yang bisa kita berikan buat Hujan?, ” cetus seorang warga akhirnya.
Mak Sani berdehem sedikit. “Ehm, begini, kemarin saya sempat bicara dengan Hujan. Katanya, dia butuh seorang wanita untuk menemaninya. Wanita itu haruslah seorang perawan yang berambut panjang,” tutur Mak Sani panjang lebar.
Seketika seluruh matapun tertuju pada saya.
***
Tentu saja, saya bukan satu-satunya gadis yang perawan di desa. Masih ada lagi puluhan lainnya. Hanya saja, sejak dibukanya salon Bu Marni, para gadis seperti berlomba untuk memotong rambutnya. Ikut arus modernisasi, kata mereka.
“Kan rambut pendek sekarang lagi tren. Masa kamu nggak bosan, tiap hari harus melumuri rambutmu dengan merang? Belum lagi kalau siang, gerah!,” ujar Atik, yang paling vokal diantara kami.
Hanya saya yang tetap bertahan dengan rambut sepinggang. Ini karena, saya paling suka menyisiri rambut saya. Merasakan sisir yang meluncur dari akar rambut sampai pinggang. Juga merasakan helai-helai rambut yang mengelus halus leher, pundak, dan punggung, saat saya berbaring tidur diam-diam.
Karena itu, saya tak segan melumurinya dengan merang sampai hitam berkilat. Juga rajin mengolesinya dengan telur dan lidah buaya, agar ia tumbuh subur. Bagi saya, rambut ini adalah permata. Tapi sekarang, gara-gara rambut panjang keparat inilah, saya malah ditumbalkan untuk Hujan.
Sial.
                        *****
Saya ingat, hari itu saya kenakan kebaya yang tercantik. Semula Atik dan Bu Marni bermaksud untuk merias wajah saya. Memupurnya dengan bedak putih dan mengolesi bibir saya dengan gincu warna manyala. Tapi Mak Sani serta merta melarangnya.
“Hujan paling benci segala yang buatan. Sisirlah rambutmu sampai berkilat, dan tunggulah di puncak bukit,” begitu pesan Mak Sani.
Diatas bukit itulah saya kemudian menunggu Hujan. Dalam hati, tanpa henti saya mengutuki salon Bu Marni dan teman-teman yang telah memotong pendek rambutnya. Sementara tangan saya mulai basah berkeringat, wajah para warga desa sedang menatap langit dengan penuh harap.
Semua sedang menunggu datangnya keajaiban.
Satu menit berlalu. Sepuluh menit. Lima belas menit. Untuk mengusir sepi, saya mulai bersenandung lirih. Tembang-tembang Jawa yang dulu sering dinyanyikan almarhum Ibu untuk meninabobokan saya.
”Lir ilir, lir ilir, tandurane sumilir…” senandung saya.
Seketika terdengar suara guruh di kejauhan.
Tak lama, Hujanpun turun. Mula-mula hanya rintik gerimis. Kemudian turun menderas. Katanya, ia terpesona mendengar nyanyian saya. Saya ingat, saat itu saya cuma bisa tersipu mendengar pujiannya.
Di kaki bukit, seluruh warga bersorak-sorai kegirangan. Hujan turun sampai sore, yang kemudian dirayakan para warga dengan berpesta semalam suntuk. Sepanjang malam, ratusan ucapan selamat dan terima kasihpun datang bertubi-tubi pada saya.
“Terima kasih Raya! Kau pahlawan desa kita!,” begitu ujar mereka penuh sukacita.
Saya cuma tersenyum. Lalu diam-diam menyingkir pulang, dengan tubuh terbungkus kebaya lembab. Sisa terguyur Hujan tadi siang.
Di tengah keremangan kamar, pelan, saya cium kebaya saya. Ah, masih ada bau segar Hujan disana. Masih terngiang-ngiang di telinga saya, bisik kekaguman Hujan dan tetesnya yang mengelus lembut rambut saya. Dengan tangan memeluk sehelai kebaya basah, sayapun terlelap.
Sambil bermimpi untuk bertemu Hujan lagi..
***
Esoknya, ternyata Hujan turun lagi. Tetesannya yang merdu di genting rumah membuat saya terjaga seketika.
“Maaf membangunkanmu sepagi ini. Tapi aku merindukanmu Raya,” bisiknya.
Sekonyong-konyong, saya langsung lari keluar rumah. Di halaman, saya bentangkan tangan selebar-lebarnya, agar Hujan bisa memeluk saya sepuasnya. Hujanpun menderas. Setiap tetesnya bercerita tentang kerinduannya. Pada nyanyian saya, pada rambut saya, pada wajah saya yang tersipu. Di tengah derasnya Hujan, saya mulai bernyanyi. Semula hanya senandung lirih, yang makin lama makin kencang. Namun lambat laun, Hujan mulai reda.
Saya tahu, dia sedang mendengarkan.
“Terima kasih. Aku tahu, kamu pasti mau melakukannya,” bisiknya, lalu  mengecup bibir saya dengan mesra.
***
Semenjak pagi itu, Hujan makin sering datang. Kadang ia datang tengah malam, saat para warga yang masih terjaga telah meniup sumbu lampu terakhirnya. Kadang ia datang pagi buta saat hari masih berkabut, dan anak-anak masih mendengkur pulas sambil meringkuk nyaman dalam hangatnya buaian selimut.
Saat-saat seperti itu, saya selalu menerjang keluar rumah. Sambil bersenandung pelan, saya akan memeluknya dalam gerimis. Saya ingat, setiap kali tubuh saya sudah terlalu basah, Hujan akan mengingatkan saya untuk segera masuk ke rumah dan menghangatkan diri.
“Kalau terlalu basah dan kedinginan, kamu bisa sakit. Masuklah. Aku akan temani kamu di luar, sampai kamu tertidur,” begitu ujarnya prihatin.
Dan tepat setelah saya menutup pintu, angin akan berhembus lembut di tengah gerimis. Saya tersenyum. Sekarang, giliran dia yang bernyanyi untuk saya.
Sambil berbaring diam-diam diatas tempat tidur yang hangat, saya mendengarkan setiap patah kata liriknya. Saya tahu, Hujan tak akan berhenti sebelum saya terlelap. Karena esoknya, helai-helai daun yang basah dan genangan air yang becek akan meninggalkan jejak bahwa Hujan telah terjaga semalaman.
Dan saya tahu, dia tidak berdusta.
*****
Toh seperti pasangan kekasih lainnya, kami juga punya masalah.
Kali ini masalah datang dari gunjingan orang-orang kampung. Bermula dari keluhan para ibu yang cuciannya sering tak kering. Dilanjutkan dengan keluhan sejumlah penduduk yang terserang flu, sampai sejumlah petani yang gagal panen karena cuaca yang kelewat lembab.
Gunjingan demi gunjingan datang dalam berbagai bentuknya. Mulai dari cibiran sejumlah bibir dan tatapan sinis, saat langit mulai mendung dan berwarna abu-abu. Sampai pintu-pintu yang dibanting, saat tetes pertamanya turun. Pun Hujan turun deras, tetap saja suaranya tak mampu menyamarkan bisik-bisik para warga, yang terselip lewat sela-sela dinding bambu rumah yang rapuh.
Saya mendengarnya. Saya mengetahuinya.
Tapi tidak demikian halnya dengan Hujan.
Dengan segenap kerinduannya, ia terus saja datang. Dan setiap kali melihatnya, mendengarnya, merasakannya, saya tahu bahwa hanya saat inilah yang terpenting. Bahwa dalam semesta kami yang kecil dan sederhana, hanya ada saya dan dia. Dalam lautan rindu yang menenggelamkan kami berdua di dalamnya. Membuat kami buta, tuli, dan bisu seketika, terhadap dunia ini dan seisinya.
Mari mabuk cinta bersama.

*****
"Mak Sani, bagaimana ini, Hujan kok makin sering datang!” teriak seorang warga saat rapat desa pada suatu malam.
”Iya, kita semua sudah bilang sama Raya! Tapi dia tetap aja nggak peduli. Masa dia enak-enak pacaran, kitanya kebanjiran!!” sungut warga lainnya.
”Pokoknya, keadaan ini tidak boleh berlarut-larut! Kita harus ambil tindakan! Kita harus tegas!” cetus seorang pemuda, dikuti oleh sorak-sorai warga desa lain.
Sementara Mak Sani cuma bisa mengangguk pasrah.
*****
”Bagaimana Mak Sani, semua siap?” tanya Kepala Desa.
Mak Sani menoleh pada saya, yang terikat pada sebuah tiang kayu. Di bawah kaki saya, telah siap setumpuk kayu bakar dan ranting kering yang telah dikumpulkan warga sejak pagi. Di kejauhan, beberapa pemuda berjalan membawa jerigen-jerigen bensin.
”Siap,” ujar Mak Sani, sambil menggenggam erat sebungkus korek api.
Pelan, Mak Sani mulai menyulut koreknya. “Crrsss…”
Dengan mata saya tak lepas menatapnya. Ah, Mak Sani yang malang. Saya tidak pernah menyalahkannya. Saya juga tak menyalahkan para warga. Toh, kami hanyalah pasangan yang sedang jatuh cinta. Itu saja.
Saat api mulai menjilat kaki saya, sekilas saya dengar Mak Sani berbisik.
”Maafkan saya Raya, saya terpaksa. Kalau saya tidak melakukan ini, mereka akan mengusir saya…,” bisik Mak Sani.
Lanjutan kalimatnya tak lagi terdengar oleh saya. Saya cuma sempat melihat lidah api berkobar-kobar di sekeliling saya. Sorak-sorai warga bercampur baur dengan suara kayu yang berderak-derak terjilat api. Dengan dada yang disesaki kerinduan tak tertahankan pada satu-satunya kekasih saya. Pelan-pelan, saya mulai bersenandung.
”Cah angon, cah angon, penekna blimbing kuwi…”
Untuknya, hanya untuknya.
*****
Sore itu, tetes Hujan yang terakhir telah memadamkan api unggun di balai desa.
Sayang, ia terlambat.
Sisa-sisa bakaran api unggun terlanjur hanya menyisakan seonggok mayat perempuan yang telah menghitam gosong. Sambil memeluk tubuh kekasihnya, Hujan mencoba memerciki wajah Raya dengan air dingin. Tapi kekasihnya tetap tak bergeming.
Malamnya, Hujanpun berduka. Ia turun luar biasa derasnya, seolah-olah ingin menenggelamkan dunia dan seisinya. Guruh sahut-menyahut menggelegar. Angin ribut tanpa henti meraung-raung. Rumah-rumah bambu tampak ringkih bergoyang-goyang siap roboh. Sementara di dalam kamar-kamar yang tertutup rapat, bibir para warga mulai berkomat-kamit merapalkan doa dan mantra keselamatan. Kata demi kata melayang-layang ke udara, tanpa satupun juga telinga yang sudi untuk mendengarkan.
Semua sedang sibuk berdoa, untuk nyawa mereka masing-masing. 
Padahal bila para warga desa itu sungguh-sungguh memasang telinga, maka akan terdengar tangis duka Hujan yang menyayat memilukan. Atas kepergian satu-satunya kekasih yang bahkan lebih dicintainya dari dunia.
Malam itu sekaligus juga menjadi malam yang tak terlupakan oleh para warga desa tempat Raya pernah tinggal.

Itulah malam terakhir mereka bisa merasakan tetes hujan.
Karena sejak malam itu, Hujan tak pernah lagi turun disana.
Tidak sekalipun juga.
*****