Mimpi itu datang lagi. Tak peduli apakah Sunyi habis mabuk
atau letih karena habis lembur, mimpi itu selalu datang lagi dan lagi.
Mimpi tentang kematiannya.
Kadang, settingnya adalah puncak gedung pencakar langit.
Kadang, danau berair tenang. Kadang, parkiran kosong. Yang jelas, Sunyi tahu, ia
akan mati disana.
Semalam, settingnya adalah kamar tidurnya. Dalam mimpi
itu, Sunyi sedang terlelap. Namun meski hanya mengenakan sehelai gaun tidur
tipis, entah kenapa ia merasa kepanasan. Peluhnya membanjir. Rasanya
seperti…terbakar. Sunyi membuka mata dan segera menyaksikan sebuah pemandangan
yang menakjubkan.
Luar biasa, kamar tidurnya yang mungil berubah menjadi
lautan api. Buku-buku dan kertas digerogoti api sampai menghitam. Kepala boneka
kesayangannya, Pak Beruang, telah
terpisah dari tubuhnya. Dinding yang menghitam, sementara tirai-tirai yang
menari-nari membelai wajah dan kulitnya yang terbuka. Sesuatu terdengar
berderak-derak, tapi ia tak tahu itu apa. Sunyi melihat jendelanya terbuka, mengantarkan
angin yang menerbangkan percikan-percikan api dan butir-butir abu yang masih
hangat ke depan hidungnya. Ia bisa
mencium wanginya. Ia bisa merasakan kehangatannya.
Pelan, Sunyi meraba dadanya. Damai. Damai sekali. Ia bisa
merasakan lidah-lidah api itu menjangkaunya dengan rindu. “Kemari Sunyi,
kemari…,” bisik mereka di telinganya. Suara berderak-derak makin keras
terdengar, sepertinya makin dekat. Sunyi menatap langit-langit yang berkeretak
dengan nyaring. Ah, suara yang merdu itu…Dalam hitungan lima detik,
langit-langit itu akan rubuh menimpanya. Sunyi menghela napas. Sambil memejamkan
mata, ia mulai berhitung. Lima..empat..tiga..dua..ia membuka mata dan
mendongak. Ia sudah siap. Sunyi merentangkan tangannya. Ia sudah siap. “Satu…,”
ucapnya.
********
Sejak berumur 7 tahun, Sunyi telah tahu bahwa ia akan
meninggal pada umur 22 tahun. Ia sudah membaca surat pemberitahuan kematiannya.
Di atas selembar kertas yang kini telah
menguning dan lusuh. Disitu tertulis jelas hari, tanggal, dan tempat
kematiannya. Selasa, 17 November 2006, jalan depan rumah. Tanpa dicantumkan
penyebab kematian.
Sunyi tidak sendirian. Setiap orang di kota Larut tahu
waktu kematian mereka dari surat pemberitahuan kematian masing-masing. Ketika
seorang anak dinggap telah dewasa, mereka akan menerima sepucuk surat tepat di
hari ulang tahun mereka. Tingkat kedewasaan ini sendiri berbeda untuk setiap
orang. Seorang teman Sunyi misalnya, Sinar, baru menerima suratnya di umur
ke-10. Adik Sinar yang meninggal pada umur 3 bulan malah tak sempat menerima
suratnya. Namun, surat itu telah dititipkan pada ibu Sinar, sejak kandungannya
masih berumur 6 bulan.
Tak seorangpun penduduk kota Larut yang tahu persis,
sejak kapan orang-orang mulai menerima surat pemberitahuan kematian mereka.
Mereka menerimanya begitu saja, meski di dalam surat tak pernah tercantum
penyebab kematian. Bagi sebagian warga
kota Larut, hal ini justru menguntungkan, karena mereka tak perlu dihantui
tentang kematian mereka. Tapi sebagian lainnya justru bertanya-tanya. Dan
Sunyi, adalah salah satunya.
********
Sementara pertanyaan-pertanyaan melintas di kepala Sunyi
tanpa permisi. Apa ia akan mati dengan mata terbuka atau tertutup? Apa ada
anggota tubuhnya yang terpisah? Berapa lama napasnya nanti akan tertahan? Bagaimana rupanya
ketika mati nanti? Sedihkah? Marahkah? Damaikah? Siapa yang akan berada di
dekatnya? Bagaimana ia akan mati nanti? Ya, bagaimana ia akan mati nanti?
Tak kunjung hentinya kepala Sunyi bertanya. Seperti hiruk
pikuk sebuah kota, tanpa satupun rambu peringatan. Riuh bertabrakan satu sama
lain. Kepala Sunyi nyaris meledak karenanya. Pelan-pelan dikuburkannya puluhan
pertanyaan itu ke dalam alam bawah sadarnya. Dan sejak itulah, Sunyi mulai
bermimpi…
Saat pagi menjelang, Sunyi terbangun dan menatap gelas
air di samping tempat tidurnya. Bagaimana kalau ia terjatuh seperti gelas ini?
Menyerahkan sepenuhnya pada gaya gravitasi dan terhempas dengan pedih tak
terperi. Hancur berkeping-keping.
”Prang!”
Gelas itu terjatuh. Pecahannya terserak di lantai kamar
Sunyi. Perlahan Sunyi turun. Tangannya meraih sepotong pecahan. Membayangkan
sisi pecahan kaca yang tajam itu menggores nadinya yang melintang biru, merasakan darah kentalnya
meleleh keluar. Pelan-pelan. Pelan-pelan.
Saat mencuci wajah, Sunyi bermimpi sedang menenggelamkan
dirinya, membiarkan paru-parunya menggembung bengkak, merasakan dingin air
membasuh kulitnya. Saat sarapan, Sunyi bermimpi untuk sarapan dengan teh dan
segenggam Veronal. Saat berada dalam lift, Sunyi bermimpi lift itu terjatuh
dari lantai 46, membanting tubuhnya dengan suara hantaman yang menggetarkan
tulang-tulang persendian.
Saat menyeberang jalan, Sunyi bermimpi sebuah truk
container akan melindas tubuhnya, meremukkan kepalanya, dengan suara rem yang
berdecit-decit. Lalu orang-orang akan
merubungi seperti lalat sambil bergumam-gumam ”Waktunya sudah tiba..”
Dan Sunyi bermimpi, dan bermimpi, dan bermimpi….di setiap sisa
detik hidupnya…
Sampai waktunya tiba…
********
Tentu saja, situasi ini juga bukan pertama kalinya
terjadi. Puluhan orang mengamuk saat menerima surat mereka. Puluhan lagi menangis
menjadi-jadi dan menderita depresi berkepanjangan. Dulu, pernah ada sejumlah
orang yang mencoba berpikir logis dengan melacak alamat kantor pos pengirim.
Mereka gagal. Kantor pos itu tak pernah ditemukan.
Surat-surat terus berdatangan, dan ratusan orang yang menjadi gila terpaksa dikirim ke rumah sakit jiwa. Menunggu waktu
mereka disana.
Tapi seiring dengan bergulirnya waktu, orang-orang ini
mulai sadar betapa sempitnya waktu yang mereka punya. Satu persatu mereka mulai
pulang, menata hidup bersama orang-orang yang mereka cintai. Meminta maaf atas
semua hal buruk yang telah mereka lakukan. Dan berterima kasih atas semua hal
baik yang telah mereka dapatkan.
Begitulah waktu berjalan dengan damai di kota Larut, hari demi hari….
******
17 November 2006, dini hari.
Sunyi terbangun dengan perasaan segar. Hari ini adalah
waktunya. Ia segera bersiap-siap
mandi. Lalu mengenakan gaunnya yang terbaik,
yang sudah diseterika sampai licin semalam. Sekilas ia menatap langit dari jendela. Ia selalu suka
pagi hari.
Sambil sarapan semangkuk sereal, ia menatap sekitarnya.
Rumah sudah dirapikan. Sampah sudah
dibuang. Ia sudah berdoa di gereja. Semua sahabat dan teman kantor sudah
menghubungi untuk mengucapkan selamat berpisah. Kemarin, ayah ibunya juga sudah
datang. Katanya, mereka sudah menyiapkan sebuah nisan dan satu upacara
pemakaman sederhana, pada keesokan harinya.
Kemarin, bersama-sama, mereka juga sudah melihat
peti-nya. Tempat tidur Sunyi yang terakhir. Untuk selama-lamanya. Peti itu
sederhana, tanpa ukiran apapun, tapi terbuat dari kayu yang kuat. Di dalamnya, Ibu Sunyi sudah menyiapkan Pak
Beruang kesayangannya.
Semuanya sudah siap.
Sunyi menatap jam dindingnya. 05.00. Mungkin, lebih baik
kalau ia berjalan-jalan sebentar. Ia
segera menyambar jaket dan dompetnya, lalu mengunci pintu. Di luar, hari masih
pagi. Waktu penuh kedamaian.
Jalanan masih lengang. Para penjual sayur dan buah sedang
memilih-milih dagangannya yang busuk. Beberapa pria bercelana pendek sedang
lari pagi. Tukang parkir depan rumahnya tampak terkantuk-kantuk. Sekilas mereka
bertatapan, dan tersenyum maklum. Ia tahu. Hari ini adalah waktunya Sunyi.
Kaki-kaki Sunyi berbelok di tikungan.
Matanya masih sempat menangkap kilatan cahaya terang yang
menyilaukan. Samar-samar telinganya mendengar suara klakson mobil. Dan bunyi
rem yang berdecit-decit.
******
Tikungan jalan depan rumah Sunyi banjir darah. Gaun putih
Sunyi tampak memerah karena darah yang merembes. Orang-orang mulai merubungi
seperti lalat. Tak seorang pun memanggil ambulans. Tak seorang pun memanggil polisi. Tak
seorang pun menyalahkan pengemudi truk kontainer. Mereka cuma bergumam-gumam dengan
bising. ”Waktunya sudah tiba…”
Setengah jam kemudian, orang tua Sunyi datang. Dengan sigap, mereka
segera mengambil mayat Sunyi yang berkepala remuk, lalu membawanya pulang ke
rumah duka. Sementara kerumunan orang mulai bubar.
Pengemudi tru kontainer kembali menyalakan mesinnya. Para
penjual sayur dan buah mulai membuka kiosnya. Beberapa pria bercelana pendek
kembali melanjutkan lari pagi. Dan tukang parkir depan rumah yang masih
terkantuk-kantuk, mulai menyalakan peluitnya. Semua kembali bertugas. Semua
kembali terjaga.
Di kota Larut, pagi ini masih satu pagi yang damai.