Archive for September, 2006

the perfect stranger

Saya selalu saja bermasalah dengan orang-orang asing.
Orang-orang asing yang pelupa dan berantakan. Orang-orang asing yang kelewat ramah. Orang-orang asing yang bertanya terlalu banyak. Orang-orang asing yang terlalu mau tahu urusan pribadi orang lain. Orang-orang asing yang self-centered. Orang-orang asing yang bercerita terlalu banyak. Orang-orang asing yang haus perhatian. Orang-orang asing yang mendamba untuk didengar. Orang-orang asing yang snob. Orang-orang asing yang manipulatif. Orang-orang asing yang terlalu kompetitif. Orang-orang asing yang insecure terhadap kelewat banyak hal. Orang-orang asing yang kelewat defensif. Orang-orang asing yang kelewat ingin eksis. Orang-orang asing asing yang terobsesi untuk punya kontrol dalam setiap detil nggak penting. Orang-orang asing yang kecanduan drama tragedi. Orang-orang asing yang kesepian. Orang-orang asing yang bermasalah.
Orang-orang asing yang malang. Orang-orang asing yang menyedihkan.
Orang-orang asing yang melelahkan. Orang-orang asing yang menyesakkan.
Bagi mata, telinga, hati, dan kognisi.

waktu ahan sakit

ini adalah sebuah percakapan yg saya temui pagi ini, sebelum berangkat kerja.

dengan lesu, ahan masuk ke dalam kamar saya.
saya: “hey sayang, katanya kamu sakit?”
ahan: “iya, aku lagi batuk, trus badannya anget. kata mama, gak usah sekolah aja dulu”
saya: “trus, ngapain di rumah?”
ahan: “istirahat. tapi kayanya besok udah sembuh deh”
saya: “oya? kok tau”

dan sambil tersenyum, ahan menjawab “kan aku sudah berdoa. tapi, takut doanya kurang, tante retno berdoa juga ya. doain aku cepet sembuh…”

mimpi-mimpi sunyi

Mimpi itu datang lagi. Tak peduli apakah Sunyi habis mabuk
atau letih karena habis lembur, mimpi itu selalu datang lagi dan lagi.

Mimpi tentang kematiannya.

Kadang, settingnya adalah puncak gedung pencakar langit.
Kadang, danau berair tenang. Kadang, parkiran kosong. Yang jelas, Sunyi tahu, ia
akan mati disana.

Semalam, settingnya adalah kamar tidurnya. Dalam mimpi
itu, Sunyi sedang terlelap. Namun meski hanya mengenakan sehelai gaun tidur
tipis, entah kenapa ia merasa kepanasan. Peluhnya membanjir. Rasanya
seperti…terbakar. Sunyi membuka mata dan segera menyaksikan sebuah pemandangan
yang menakjubkan.

Luar biasa, kamar tidurnya yang mungil berubah menjadi
lautan api. Buku-buku dan kertas digerogoti api sampai menghitam. Kepala boneka
kesayangannya, Pak Beruang, telah
terpisah dari tubuhnya. Dinding yang menghitam, sementara tirai-tirai yang
menari-nari membelai wajah dan kulitnya yang terbuka. Sesuatu terdengar
berderak-derak, tapi ia tak tahu itu apa. Sunyi melihat jendelanya terbuka, mengantarkan
angin yang menerbangkan percikan-percikan api dan butir-butir abu yang masih
hangat ke depan hidungnya.  Ia bisa
mencium wanginya. Ia bisa merasakan kehangatannya.

Pelan, Sunyi meraba dadanya. Damai. Damai sekali. Ia bisa
merasakan lidah-lidah api itu menjangkaunya dengan rindu. “Kemari Sunyi,
kemari…,” bisik mereka di telinganya. Suara berderak-derak makin keras
terdengar, sepertinya makin dekat. Sunyi menatap langit-langit yang berkeretak
dengan nyaring. Ah, suara yang merdu itu…Dalam hitungan lima detik,
langit-langit itu akan rubuh menimpanya. Sunyi menghela napas. Sambil memejamkan
mata, ia mulai berhitung. Lima..empat..tiga..dua..ia membuka mata dan
mendongak. Ia sudah siap. Sunyi merentangkan tangannya. Ia sudah siap. “Satu…,”
ucapnya.

********

Sejak berumur 7 tahun, Sunyi telah tahu bahwa ia akan
meninggal pada umur 22 tahun. Ia sudah membaca surat pemberitahuan kematiannya.
Di atas  selembar kertas yang kini telah
menguning dan lusuh. Disitu tertulis jelas hari, tanggal, dan tempat
kematiannya. Selasa, 17 November 2006, jalan depan rumah. Tanpa dicantumkan
penyebab kematian.

Sunyi tidak sendirian. Setiap orang di kota Larut tahu
waktu kematian mereka dari surat pemberitahuan kematian masing-masing. Ketika
seorang anak dinggap telah dewasa, mereka akan menerima sepucuk surat tepat di
hari ulang tahun mereka. Tingkat kedewasaan ini sendiri berbeda untuk setiap
orang. Seorang teman Sunyi misalnya, Sinar, baru menerima suratnya di umur
ke-10. Adik Sinar yang meninggal pada umur 3 bulan malah tak sempat menerima
suratnya. Namun, surat itu telah dititipkan pada ibu Sinar, sejak kandungannya
masih berumur 6 bulan.

Tak seorangpun penduduk kota Larut yang tahu persis,
sejak kapan orang-orang mulai menerima surat pemberitahuan kematian mereka.
Mereka menerimanya begitu saja, meski di dalam surat tak pernah tercantum
penyebab kematian. Bagi sebagian warga
kota Larut, hal ini justru menguntungkan, karena mereka tak perlu dihantui
tentang kematian mereka. Tapi sebagian lainnya justru bertanya-tanya. Dan
Sunyi, adalah salah satunya.

********

 

Sementara pertanyaan-pertanyaan melintas di kepala Sunyi
tanpa permisi. Apa ia akan mati dengan mata terbuka atau tertutup? Apa ada
anggota tubuhnya yang terpisah?
Berapa lama napasnya nanti akan tertahan? Bagaimana rupanya
ketika mati nanti? Sedihkah? Marahkah? Damaikah? Siapa yang akan berada di
dekatnya? Bagaimana ia akan mati nanti? Ya, bagaimana ia akan mati nanti?

Tak kunjung hentinya kepala Sunyi bertanya. Seperti hiruk
pikuk sebuah kota, tanpa satupun rambu peringatan. Riuh bertabrakan satu sama
lain. Kepala Sunyi nyaris meledak karenanya. Pelan-pelan dikuburkannya puluhan
pertanyaan itu ke dalam alam bawah sadarnya. Dan sejak itulah, Sunyi mulai
bermimpi…

Saat pagi menjelang, Sunyi terbangun dan menatap gelas
air di samping tempat tidurnya. Bagaimana kalau ia terjatuh seperti gelas ini?
Menyerahkan sepenuhnya pada gaya gravitasi dan terhempas dengan pedih tak
terperi. Hancur berkeping-keping.

”Prang!”

Gelas itu terjatuh. Pecahannya terserak di lantai kamar
Sunyi. Perlahan Sunyi turun. Tangannya meraih sepotong pecahan. Membayangkan
sisi pecahan kaca yang tajam itu menggores nadinya yang melintang biru, merasakan darah kentalnya
meleleh keluar. Pelan-pelan. Pelan-pelan.

Saat mencuci wajah, Sunyi bermimpi sedang menenggelamkan
dirinya, membiarkan paru-parunya menggembung bengkak, merasakan dingin air
membasuh kulitnya. Saat sarapan, Sunyi bermimpi untuk sarapan dengan teh dan
segenggam Veronal. Saat berada dalam lift, Sunyi bermimpi lift itu terjatuh
dari lantai 46, membanting tubuhnya dengan suara hantaman yang menggetarkan
tulang-tulang persendian.

Saat menyeberang jalan, Sunyi bermimpi sebuah truk
container akan melindas tubuhnya, meremukkan kepalanya, dengan suara rem yang
berdecit-decit.  Lalu orang-orang akan
merubungi seperti lalat sambil bergumam-gumam ”Waktunya sudah tiba..”

Dan Sunyi bermimpi, dan bermimpi, dan bermimpi….di setiap sisa
detik hidupnya…

Sampai waktunya tiba…

 ********

 

Tentu saja, situasi ini juga bukan pertama kalinya
terjadi. Puluhan orang mengamuk saat menerima surat mereka. Puluhan lagi menangis
menjadi-jadi dan menderita depresi berkepanjangan. Dulu, pernah ada sejumlah
orang yang mencoba berpikir logis dengan melacak alamat kantor pos pengirim.

Mereka gagal. Kantor pos itu tak pernah ditemukan.
Surat-surat terus berdatangan, dan ratusan orang yang menjadi gila terpaksa dikirim ke rumah sakit jiwa. Menunggu waktu
mereka disana.

Tapi seiring dengan bergulirnya waktu, orang-orang ini
mulai sadar betapa sempitnya waktu yang mereka punya. Satu persatu mereka mulai
pulang, menata hidup bersama orang-orang yang mereka cintai. Meminta maaf atas
semua hal buruk yang telah mereka lakukan. Dan berterima kasih atas semua hal
baik yang telah mereka dapatkan.  

Begitulah waktu berjalan dengan damai di kota Larut, hari demi hari….

******

 

17 November 2006, dini hari.

Sunyi terbangun dengan perasaan segar. Hari ini adalah
waktunya. Ia segera bersiap-siap
mandi. Lalu mengenakan gaunnya yang terbaik,
yang sudah diseterika sampai licin semalam.  
Sekilas ia menatap langit dari jendela. Ia selalu suka
pagi hari.

Sambil sarapan semangkuk sereal, ia menatap sekitarnya.
Rumah sudah dirapikan. Sampah sudah
dibuang. Ia sudah berdoa di gereja. Semua sahabat dan teman kantor sudah
menghubungi untuk mengucapkan selamat berpisah. Kemarin, ayah ibunya juga sudah
datang. Katanya, mereka sudah menyiapkan sebuah nisan dan satu upacara
pemakaman sederhana, pada keesokan harinya.

Kemarin, bersama-sama, mereka juga sudah melihat
peti-nya. Tempat tidur Sunyi yang terakhir. Untuk selama-lamanya. Peti itu
sederhana, tanpa ukiran apapun, tapi terbuat dari kayu yang kuat. Di dalamnya, Ibu Sunyi sudah menyiapkan Pak
Beruang kesayangannya.

Semuanya sudah siap.

Sunyi menatap jam dindingnya. 05.00. Mungkin, lebih baik
kalau ia berjalan-jalan sebentar.  Ia
segera menyambar jaket dan dompetnya, lalu mengunci pintu. Di luar, hari masih
pagi. Waktu penuh kedamaian.

Jalanan masih lengang. Para penjual sayur dan buah sedang
memilih-milih dagangannya yang busuk. Beberapa pria bercelana pendek sedang
lari pagi. Tukang parkir depan rumahnya tampak terkantuk-kantuk. Sekilas mereka
bertatapan, dan tersenyum maklum. Ia tahu. Hari ini adalah waktunya Sunyi.

Kaki-kaki Sunyi berbelok di tikungan.

Matanya masih sempat menangkap kilatan cahaya terang yang
menyilaukan. Samar-samar telinganya mendengar suara klakson mobil. Dan bunyi
rem yang berdecit-decit.

******

Tikungan jalan depan rumah Sunyi banjir darah. Gaun putih
Sunyi tampak memerah karena darah yang merembes. Orang-orang mulai merubungi
seperti lalat.
Tak seorang pun memanggil ambulans. Tak seorang pun memanggil polisi. Tak
seorang pun menyalahkan pengemudi truk kontainer. Mereka cuma bergumam-gumam dengan
bising. ”Waktunya sudah tiba…”

Setengah jam kemudian, orang tua Sunyi datang. Dengan sigap, mereka
segera mengambil mayat Sunyi yang berkepala remuk, lalu membawanya pulang ke
rumah duka. Sementara kerumunan orang mulai bubar.

Pengemudi tru kontainer kembali menyalakan mesinnya. Para
penjual sayur dan buah mulai membuka kiosnya.
Beberapa pria bercelana pendek
kembali melanjutkan lari pagi. Dan tukang parkir depan rumah yang masih
terkantuk-kantuk, mulai menyalakan peluitnya. Semua kembali bertugas. Semua
kembali terjaga.

Di kota Larut, pagi ini masih satu pagi yang damai.

 

 

 

 

sebuah kata kunci

        Keys
          
       Tiga hari lalu,  seorang teman lama saya berangkat ke Dubai. Dia akan bekerja sebagai TKI selama 2 tahun. Minggu depan, seorang sahabat juga akan ditugaskan kerja di Aceh selama 6 bulan.
       Ini bukan perpisahan pertama saya. 16 tahun yang lalu, saya juga terpaksa pindah sekolah ke Semarang, dan berpisah dengan Feby, satu-satunya persahabatan yang saya tahu saat itu. Setahun pertama, komunikasi diantara kami masih berjalan lancar. Surat yang berlembar-lembar panjangnya dikirim hampir setiap minggu. Telpon berdering minimal dua minggu sekali.
       Tapi lama-lama mulai ada perubahan. Telpon tak lagi berdering. Setumpuk surat juga kemudian digantikan dengan sehelai kartu ucapan selamat ulang tahun dan kartu ucapan selamat hari raya, yang hanya dibubuhkan sebuah tanda tangan. Dan begitulah sampai tahun kelima.
       Bahkan, saat akhirnya saya dan keluarga kembali pindah ke Jakarta, pada tahun berikutnya, saya terheran-heran dengan keadaan yang ada.  Setibanya di rumah, saya langsung berlari ke rumah Feby, yang kebetulan juga tetangga saya. Dengan pemikiran bocah 10 tahun yang naif dan sangat terbatas, pikir saya, kami akan bisa mengobrol selama berminggu-minggu. Melahap semua tumpukan cerita selama lima tahun, mengorek-ngorek kenangan, dan tertawa bersama.
       Tapi saya salah.
       Kami cuma duduk bersisian dengan canggung dan berbasa-basi dengan sopannya. ”Si A pakabar?”, ”Baik”, ”Si B?, ”Baik juga”. Lalu diam. Lama.
       Tak hanya itu, lelucon yang biasanya membuat perut kami terkocok sampai terpingkal-pingkal, mendadak menjadi garing. Kenangan yang ada menjadi terlalu usang. Atmosfer hangat yang selalu terhirup pun juga terasa hambar.
       Dan saya pulang, dengan tak hentinya berpikir, betapa berubahnya dia. Betapa berubahnya saya.  Betapa waktu lima tahun bisa mengubah begitu banyak. Terlalu banyak.
       Lalu bocah kecil ini mulai berpikir skeptis. Seperti kata Dai Yonogi dalam Sabbath Cafe. ”Setiap orang toh cuma lewat.  Datang dan pergi. Berkenalan dan berpisah. Tidak ada hubungan dengan kita. Jangan berharap terlalu banyak. Jangan meminta terlalu banyak.  ”
       Begitulah.
       Sampai saya bertemu mereka. Teman-teman yang mengajarkan banyak hal. Tentang jujur pada diri sendiri. Tentang minta tolong tanpa perlu merasa dikasihani. Tentang menerima pertolongan teman tanpa perlu merasa sungkan. Tentang menerima perhatian teman tanpa perlu merasa terganggu. Tentang nyamannya berkumpul bersama-sama, tanpa perlu melakukan apa-apa.
      Juga tentang sebuah kata kunci sederhana. ”Kita pasti ketemu lagi kok. Kan saya cuma pergi sebentar… ”. Bahwa semuanya akan baik-baik saja dan saya tidak pernah ditinggalkan.
      Sebuah kata kunci yang sangat sederhana.