Archive for October, 2006

negeri aneka warna renny

Perkenalan saya dengan Mbak Renny Yaniar berawal dari pengerjaan Tugas Karya Akhir (TKA), yang menjadi syarat kelulusan saya di kampus. Karena TKA itu adalah majalah sastra untuk anak, saya pun meminta banyak orang untuk menjadi kontributor. Salah satunya, Mbak Renny, yang tulisan-tulisannya saya temukan lewat browsing di internet. Kesan yang saya dapat dari tulisannya saat itu adalah tulisan-tulisan yang meneduhkan. Sangat menyejukkan.

Saya ingat, saya lalu dengan sok-kenal-sok-dekatnya kirim email ke Mbak Renny, meminta Mbak Renny untuk menjadi salah satu kontributor saya. Di luar dugaan, email saya disambut hangat. Kami bahkan kemudian janjian ketemuan untuk ngobrolin TKA saya di kantornya.

Selama ngobrol, saya lagi-lagi mendapati diri saya terheran-heran, karena sosok asli Mbak Renny ternyata benar-benar di luar bayangan saya. Dengan tutur kata yang santun dan lembut, ia mengungkapkan kesediaannya untuk menulis satu cerita rakyat di majalah saya. Dengan sabar, ia menjawab tumpukan pertanyaan saya tentang metode menulis untuk anak, mulai dari ending, personifikasi, tokoh, alur, dan masih banyak lagi. Ia bahkan masih tetap sabar menjelaskan, waktu saya yang sangat awam dalam dunia tulisan anak ini tak kunjung paham.

Mbak Renny juga sempat menunjukkan sample majalah Mombi yang sedang dikerjakannya. Ada satu tulisan yang ilustrasinya adalah seorang anak kecil berkulit hitam dan berambut keriting. Melihat ilustrasi yang agak tak biasa itu, saya lantas menanyakannya pada Mbak Renny. “Yah, selama ini kan ilustrasi anak-anak seringnya karakter anak Jawa, yang kulitnya sawo matang, berambut lurus. Padahal Indonesia itu kaya lho Ret,” begitu jawab Mbak Renny.

Dari sana saya melihat, bahwa orang yang ada di depan saya ini betul-betul mencintai anak-anak, dan selalu ingin menyajikan tulisan yang terbaik untuk mereka. Tulisan-tulisan tentang persahabatan. Tentang kasih. Tentang nikmatnya berbagi. Tentang pentingnya menghargai perbedaan. Juga tentang harapan. Seperti komentarnya usai mendengarkan ocehan saya tentang tulisan Dora dan Kotak Ajaib yang sedang saya kerjakan. Saya ingat, waktu itu Mbak Renny berkomentar “Sebetulnya bisa aja sih Ret itu jadi cerita untuk anak. Tapi endingnya sebaiknya yang optimis, yang memberikan harapan.”

Ia lantas bercerita bahwa ia juga sempat dikritik oleh sejumlah orang. Menurut sejumlah orang ini, tulisan-tulisan Mbak Renny terlalu manis, terlalu indah. Padahal dunia anak tak melulu hanya berisi hal-hal seindah dalam Disney. “Habis saya tuh paling nggak bisa sih nulis dengan cara lain. Memang saya bisanya nulis dengan cara begini..” ujarnya kala itu.

Waktu itu saya juga sempat menanyakan alasannya tidak pernah launching buku, padahal Mbak Renny sudah menulis total 250 cerita anak berbentuk cerpen, dongeng, cergam dan komik anak. Ia juga telah menghasilkan 31 buku cerita anak. Dengan rendah hatinya ia menjawab “Aduh, nggak terpikir sih No. Saya itu masih belajar nulis, dan masih harus banyak belajar lagi.” Setengah bercanda ia menambahkan ”Nanti deh ya, kalau sudah buku ke-100”

Well, sekarang, TKA saya sudah selesai, dan saya juga sudah lulus. Tapi kebiasaan membaca blog Mbak Renny tetap saya teruskan. Karena hanya disanalah, saya bisa bertualang di negeri aneka warna yang sejuk dan meneduhkan.

Dan karena kata Oprah, sesuatu yang indah seharusnya dibagi, ini adalah alamat blog Mbak Renny.
http://yaniar.multiply.com/journal. Enjoy.
Dan buat Mbak Renny, terima kasih ya Mbak, sudah menulis dengan begitu indah. Terima kasih banyak.

everyone’s talkshow

Saya selalu berpikir, bahwa hampir setiap orang punya acara talkshow pribadi dalam kepala mereka. Dan yang paling kentara adalah pada masa Ospek. Dalam masa yang kerap mewajibkan para mahasiswa baru (maba) untuk berburu tanda tangan ini, mereka terpaksa menjadi penonton dari puluhan talkshow dengan puluhan presenter berbeda. Tidak masalah apakah talkshow itu hanya punya satu atau dua penonton maba, yang jelas the show must go on.

Mulai dari taman kampus yang rindang saja. Disana sudah ada talkshow tentang “Bertahan Hidup di Kampus” dengan presenter seorang mahasiswa senior yang sedang diburu-buru deadline skripsi. Sementara teman-teman seangkatan, atau mungkin beberapa angkatan di bawah si mahasiswa ini sudah bergelut dengan dunia kerja, mahasiswa yang satu ini justru tengah berusaha keras menjelaskan pada para maba tentang perbedaan antara system kuliah dengan system sekolah. Mahasiswa yang terpaksa mengulang lebih dari 5 mata kuliah ini, yang juga terpaksa berkali-kali merombak outline skripsinya yang juga sudah berkali-kali ditolak pembimbing ini, akan membagi-bagi tips untuk sukses di dunia kampus. Dan mahasiswa yang terancam DO kalau skripsinya tidak selesai semester ini, juga akan berbagi kisah pribadinya untuk sukses bertahan hidup di kampus.

Melangkahlah sedikit menuju kantin kampus. Disana juga sedang berlangsung talkshow tentang “Bergelut di Dunia Kerja”. Sang presenter tengah dengan bangganya menjelaskan tentang pentingnya membina hubungan dengan senior, di tengah era sulitnya mencari pekerjaan sekarang. Tentu saja, para penonton maba ini tak perlu tahu, bahwa para senior yang dimaksud adalah para senior yang hanya berselisih 4-5 tahun dari mereka, dimana para senior ini masih terlampau hijau untuk menapaki karir, dan masih banyak yang belum memegang jabatan berarti di kantornya. Yang perlu diserap oleh para penonton maba ini adalah tentang prinsip etos kerja, yang termasuk di dalamnya adalah berpikir kreatif, kepatuhan terhadap deadline, pentingnya manajemen waktu, dan pentingnya membina hubungan baik dengan klien. Tentu saja, para penonton maba ini juga tak perlu diingatkan, bahwa semua penjelasan ini adalah common sense belaka. Dan para penonton maba juga tak perlu disadarkan tentang satu faktor kecil, bahwa sang presenter bahkan nyaris tidak pernah bekerja—atau setidaknya, bukan jenis pekerjaan yang telah ia jabarkan panjang lebar sebelumnya. Karena mahasiswa yang satu ini memang beruntung terlahir berkecukupan, dan beruntung dikaruniai waktu berlimpah untuk diisi dengan nomat di sejumlah 21 berbeda setiap Senin, belanja ke sejumlah butik, setelah puas makan siang dan makan sore di kantin kampus. Kegiatan pengisi waktu senggang ini tentu saja di luar pekerjaan tetapnya sebagai presenter talkshow untuk para maba, yang diakuinya sangat menguras waktu dan tenaga.

Tentu saja, masih ada talkshow lain yang membahas topik-topik yang juga kelewat menarik untuk dilewatkan. Ada talkshow tentang “Pahitnya Hidup”, “Kiat-kiat Menggaet Pacar”, atau bahkan talkshow dengan topik spektakuler seperti “Merubah Dunia”, yang saya kira akan sangat memotivasi para penonton maba ini, lebih dari kisah perjuangan Gandhi ataupun Nelson Mandela.

Well, di tengah era persaingan merebut penonton maba ini, setiap talkshow pun lantas berusaha keras untuk menonjolkan ciri khasnya. Ada yang memilih untuk menghibur penonton dengan sejumlah jokes—yang bahkan masih bisa dipecah lagi per jenis jokes. Ada yang memilih bersikap seperti kakak yang ngemong. Ada yang memilih untuk bersikap misterius dengan mengajukan sejumlah pertanyaan mendasar tentang hidup ala guru di novel Dunia Sophie. Dan masih banyak lagi bentuk usaha penonjolan ciri khas lainnya.

Bravo.

Apapun itu, mengingat padatnya acara talkshow yang harus dihadiri para penonton maba ini, mungkin ada baiknya mempertimbangkan untuk menyusun system rating dengan indikator jelas, plus jadwal talkshow. Ini supaya para maba bisa melihat keseragaman sejumlah besar talkshow, dan punya pilihan untuk mencoret beberapa-ataupun sejumlah besar di antaranya.

reuni

Reuni selalu menjadi salah satu acara yang saya nantikan, baik itu reuni SD, SMP, ataupun SMU. Selalu mendebarkan untuk menebak-nebak karakter seseorang setelah berpisah selama bertahun-tahun. Saya selalu membayangkan, bahwa akan selalu ada jurang yang menganga dengan laparnya untuk setiap juta detik momen yang terlewatkan. Momen-momen penuh tawa yang menjadi denyut kebahagiaan. Momen-momen menyesakkan dada, saat dunia terasa begitu tak bersahabat. Momen-momen pencerahan, yang mengingatkan bahwa akan selalu ada sedikit harapan untuk menjadi pegangan bertahan setidaknya sampai matahari terbenam. Momen-momen yang kini bisa membuat kita tergelak-gelak menertawakan diri sendiri dan berujar “Kok dulu kita bisa setolol itu ya?”. Momen-momen yang membentuk kita seperti sekarang.

Tapi di luar dugaan, ternyata itu tak terjadi bagi sejumlah orang. Saya selalu takjub mendapati bahwa banyak teman saya yang tak berubah. Mulai dari orientasi mereka, cara mereka bicara, cara mereka memandang suatu masalah, cara mereka berkelit, kesan yang ingin ditampilkan demi suatu percakapan menyenangkan. Semuanya sama persis dengan orang-orang yang saya tinggalkan bertahun-tahun lalu.

Kepingan-kepingan puzzle yang tersebar acak mulai disatukan, menyisakan makin sedikit ruang-ruang kosong, membentuk pola yang makin jelas. Yang dulu hanya tampak samar-samar oleh saya sebagai asumsi. Sambil mendengarkan setiap patah kata, saya melihat bahwa orang-orang ini nyaris tidak bergeser satu jengkal pun dari tempat terakhir saya melihat mereka. Dan bahwa acara reuni ini terkadang tak lebih dari re-make sejumlah adegan bertahun lalu, dengan improvisasi kostum dan make-up.

Karena itu, saya cuma tersenyum saat seorang teman berceletuk “Banyak banget yang berubah ya?”

Tidak. Hampir tak ada yang berubah…

waktu ahan mengira saya akan menjadi werewolf

Kids are cute. Bahkan waktu mereka mulai aneh-aneh. Ahan misalnya, pernah mengira saya akan menjadi werewolf atau vampir, gara-gara saya punya 2 taring. Tentu saja, ide yang luar biasa ini tidak serta merta dipikirkan Ahan sendirian. Ada para penyuntik ide lainnya, seperti ayahnya (yang kebetulan adalah abang saya), atau paman-pamannya (yang kebetulan juga abang-abang saya).
Oh, well.

Ahan: "Tante Retno, masa Papa bohong deh."
Saya: "Bohong kenapa, Sayang?"
Ahan: "Iya, katanya Papa, kalo bulan purnama, Tante Retno bakal berubah jadi manusia serigala…"
Saya: "Terus?"
Ahan: "Terus, pas bulan purnama kemarin, aku begadang. Malem-malem aku ke kamarnya Tante Retno, pas Tante lagi bobo, trus aku tungguin. Tapi nggak ada yang berubah tuh. Kulit Tante nggak numbuh bulu, padahal aku nungguin sampe lama loh…"
Saya: (bengong sambil mikir (gimana caranya coba bengong sambil mikir??) caranya nyari ular berbisa yg mau mematuk ayah Ahan. (Atau cari dokter gigi, untuk pasang kawat gigi)).

hari-hari sibuk ahan

Orang paling sibuk di rumah saya pasti Ahan. Mulai dari jam 04.30 saja, dia sudah bertugas menerjang kamar saya. “Tante Retnooooo, banguunnn, siap-siaaappp!!!!”

Dan saat saya cuma membuka mata dengan malas (dan tidur lagi), Ahan akan mulai menasehati saya. “Tante Retno belum makan, belum minum, belum siap-siap, nanti terlambat kerja lho. Kalo terlambat kerja, nanti dikeluarkan dari kerjaan lho..” ujarnya panjang lebar.

Tepat jam 5.00, alarm salah satu abang saya akan berbunyi. Dan Ahan akan segera bangkit meninggalkan saya. ”Nah, sekarang gantian bangunin Om Wira deh. Om Wiraaaaaa, banguuuunnn, katanya mau belanjaaaaa,” teriaknya bersemangat.

Hari-hari sibuk Ahan tak hanya terbatas pada pagi hari. Pernah suatu kali saya menginap di rumah teman, dan menelpon Ahan untuk minta izin (ya, ya, ya, saya tahu, memang agak tidak wajar kalau seorang yang berumur 22 tahun minta izin menginap pada keponakannya yang berumur 7 tahun. Tapi sesi interogasi Ahan saat saya terlambat pulang, memang membuat saya merasa punya pacar baru).

Beginilah cuplikan percakapan via telpon itu:
Saya: ”Sayang, Tante nggak pulang ya malam ini…soalnya Tante kemalaman..”
Ahan: ”Lah kemalamannya kenapa?”
Saya: ”Mmm..soalnya Tante kelamaan ngobrol..jadi sampe malem deh..”
Ahan: ”Makanya, besok-besok, mainnya jangan lama-lama..”
Saya: ”Iya, iya, Tante janji nggak main lama-lama. Tante juga janji, kita besok main petak umpet kalo Tante udah pulang. Kamu boleh ngumpet di lemari deh” (Ahan ini memang hobi ngumpet di lemari baju. Adiknya, Dafa, malah hobi masuk kulkas (serius) dan juga rajin menggedor-gedor pintu saat saya sedang ganti baju.)
Ahan: ”Besok aku nggak bisa. Soalnya paginya aku sekolah, siangnya tidur siang.”
Saya: ”Ya udah, sore aja”
Ahan: “Nggak bisa, sore aku mau main game. Abis itu, malemnya bikin PR, trus nonton teve”
Saya: “Wah, padat juga ya? Ya udah deh, nanti aja kalo kamu udah punya waktu luang ya sayang..”

See? Betapa sibuknya anak ini?
Ckckck.

waktu ahan tanya kenapa saya tidak puasa

Pada suatu siang di bulan Ramadhan saat saya sedang tidak puasa, saya minum segelas air dingin dari kulkas. Ternyata, ada sepasang mata yang memperhatikan saya. Mata itu adalah mata Ahan, bocah kecil berumur 7 tahun, yang sedang belajar puasa. Berikut percakapan kami:
Ahan : “Iiiih, Tante Retno minum…batal tuh puasanya!!!”
Saya : “Sayang, Tante memang lagi nggak puasa…”
Ahan : “Kenapa?”
Saya (gleg) : “Mmm…soalnya Tante lagi kotor..”
Ahan : ”Kotor kenapa?”
Saya (mampus gua, mampus gua): ”Mmm…ya…lagi kotor aja (mencoba menjawab dengan nggak jelas, berharap Ahan mengalihkan topik)
Ahan : ”Kalo gitu, mandi aja”
Saya : ”Sayang, kotorannya nggak bisa hilang pakai mandi..”
Ahan : ”Kenapa?”
Saya (mampus gua, mampus gua): ”Mmm…ya..karena…kotor sekali..jadi nggak bisa hilang cuma dengan mandi biasa..”
Ahan : ”Makanya, mandinya yang bersih, Tante. Airnya yang banyak, sabunnya pakai yang bagus. Nanti pakai sabun aku aja deh, aku pinjemin deh..”
Saya (dengan tololnya manggut-manggut): ”Ooh…gitu ya? Ya udah deh nanti Tante pinjam sabun kamu ya…”

Dan begitulah percakapan kami berakhir.
Fiuh!!!

the power of dream

Saya kira, hampir semua anak pernah punya mimpi aneh-aneh dalam proses pencarian jati diri. Waktu umur 11 tahun misalnya, saya pernah bermimpi untuk menjadi seorang desainer. Hampir setiap hari, saya menggambar desain baju untuk wanita di buku sketsa.
Tapi sejak masuk SMP, impian ini mulai surut. Dimulai dengan ternyata pelajaran Tata Busana tidak semenarik yang saya kira, dan saya sering bolos mata pelajaran itu. Saya juga sering mangkir dari tugas menjahit sejumlah rompi dan celana, dengan mengirimnya ke penjahit depan rumah. Apalagi, kemudian belakangan saya menemukan bahwa bidang tulis-menulis ternyata jauh lebih menarik.
Mimpi aneh ini ternyata juga dimiliki seorang anak laki-laki yang saya kenal. Di umurnya yang menginjak 30 tahun, ia memutuskan untuk mengabdikan hidupnya sebagai anak band. Genre musik yang dipilihnya pun tak tanggung-tanggung, yaitu jenis musik punk.
Karena mimpi inilah, ia membuat keputusan besar dalam hidupnya untuk tidak mencari pekerjaan lagi (setelah dipecat beberapa bulan lalu dari kantornya), dan berhenti kuliah dari bidang manajemen perusahaan, yang baru dijalaninya sekitar 2 bulan (DO ini adalah DO yang ketiga kalinya, setelah bidang ekonomi dan desain grafis).
Reaksi pertama saya waktu ia mengungkapkan niatannya itu adalah “He??? Hari genee?? Bukannya kamu mestinya mutusin itu waktu umur 14-15 tahun ya??”. Karena saya pikir, di umur yang menginjak 30 tahun, seorang pria mungkin sudah waktunya untuk memikirkan caranya meningkatkan karir dan hidup mapan bersama keluarga. Dan bukannya nge-band musik tidak komersil, tanpa satupun sumber pemasukan pribadi.
Ckckck.
Well, ternyata bagi sejumlah orang, proses pencarian jati diri ini memang bisa berjalan sangat lambat ya (dan bagi sejumlah orang, juga punya bentuk kompensasi yang aneh-aneh). Makanya, tiap kali ketemu anak ini, saya tak pernah lupa menyapanya “Cieeee, anak band!!!!”