negeri aneka warna renny
Perkenalan saya dengan Mbak Renny Yaniar berawal dari pengerjaan Tugas Karya Akhir (TKA), yang menjadi syarat kelulusan saya di kampus. Karena TKA itu adalah majalah sastra untuk anak, saya pun meminta banyak orang untuk menjadi kontributor. Salah satunya, Mbak Renny, yang tulisan-tulisannya saya temukan lewat browsing di internet. Kesan yang saya dapat dari tulisannya saat itu adalah tulisan-tulisan yang meneduhkan. Sangat menyejukkan.
Saya ingat, saya lalu dengan sok-kenal-sok-dekatnya kirim email ke Mbak Renny, meminta Mbak Renny untuk menjadi salah satu kontributor saya. Di luar dugaan, email saya disambut hangat. Kami bahkan kemudian janjian ketemuan untuk ngobrolin TKA saya di kantornya.
Selama ngobrol, saya lagi-lagi mendapati diri saya terheran-heran, karena sosok asli Mbak Renny ternyata benar-benar di luar bayangan saya. Dengan tutur kata yang santun dan lembut, ia mengungkapkan kesediaannya untuk menulis satu cerita rakyat di majalah saya. Dengan sabar, ia menjawab tumpukan pertanyaan saya tentang metode menulis untuk anak, mulai dari ending, personifikasi, tokoh, alur, dan masih banyak lagi. Ia bahkan masih tetap sabar menjelaskan, waktu saya yang sangat awam dalam dunia tulisan anak ini tak kunjung paham.
Mbak Renny juga sempat menunjukkan sample majalah Mombi yang sedang dikerjakannya. Ada satu tulisan yang ilustrasinya adalah seorang anak kecil berkulit hitam dan berambut keriting. Melihat ilustrasi yang agak tak biasa itu, saya lantas menanyakannya pada Mbak Renny. “Yah, selama ini kan ilustrasi anak-anak seringnya karakter anak Jawa, yang kulitnya sawo matang, berambut lurus. Padahal Indonesia itu kaya lho Ret,” begitu jawab Mbak Renny.
Dari sana saya melihat, bahwa orang yang ada di depan saya ini betul-betul mencintai anak-anak, dan selalu ingin menyajikan tulisan yang terbaik untuk mereka. Tulisan-tulisan tentang persahabatan. Tentang kasih. Tentang nikmatnya berbagi. Tentang pentingnya menghargai perbedaan. Juga tentang harapan. Seperti komentarnya usai mendengarkan ocehan saya tentang tulisan Dora dan Kotak Ajaib yang sedang saya kerjakan. Saya ingat, waktu itu Mbak Renny berkomentar “Sebetulnya bisa aja sih Ret itu jadi cerita untuk anak. Tapi endingnya sebaiknya yang optimis, yang memberikan harapan.”
Ia lantas bercerita bahwa ia juga sempat dikritik oleh sejumlah orang. Menurut sejumlah orang ini, tulisan-tulisan Mbak Renny terlalu manis, terlalu indah. Padahal dunia anak tak melulu hanya berisi hal-hal seindah dalam Disney. “Habis saya tuh paling nggak bisa sih nulis dengan cara lain. Memang saya bisanya nulis dengan cara begini..” ujarnya kala itu.
Waktu itu saya juga sempat menanyakan alasannya tidak pernah launching buku, padahal Mbak Renny sudah menulis total 250 cerita anak berbentuk cerpen, dongeng, cergam dan komik anak. Ia juga telah menghasilkan 31 buku cerita anak. Dengan rendah hatinya ia menjawab “Aduh, nggak terpikir sih No. Saya itu masih belajar nulis, dan masih harus banyak belajar lagi.” Setengah bercanda ia menambahkan ”Nanti deh ya, kalau sudah buku ke-100”
Well, sekarang, TKA saya sudah selesai, dan saya juga sudah lulus. Tapi kebiasaan membaca blog Mbak Renny tetap saya teruskan. Karena hanya disanalah, saya bisa bertualang di negeri aneka warna yang sejuk dan meneduhkan.
Dan karena kata Oprah, sesuatu yang indah seharusnya dibagi, ini adalah alamat blog Mbak Renny.
http://yaniar.multiply.com/journal. Enjoy.
Dan buat Mbak Renny, terima kasih ya Mbak, sudah menulis dengan begitu indah. Terima kasih banyak.