Sesuara dan
saya tidak pernah bersahabat. Mulanya saya kira, sesuara hanya sekedar bersikap
dingin, seperti yang terjadi saat dua orang asing baru saja berkenalan. Yang lama-kelamaan
akan mencair dengan sendirinya, setelah melewati tahap membosankan percakapan ringan
tentang cuaca.
Saya salah.
Karena sesuara
tak pernah mau berepot-repot menciptakan satu percakapan menyenangkan. Ia bahkan
tak sudi untuk tersenyum dan sedikit saja berbasa-basi. Pernah pada suatu pagi,
saya mencoba menyapanya dengan ramah, mengajaknya sarapan bersama. Tapi dia
cuma mencibir dan berlalu pergi, meninggalkan sepiring pancake hangat
berlumur madu, yang saya kira tadinya akan sangat disukainya. Pernah suatu kali
juga, saya melihatnya sedang duduk diam-diam di suatu pojokan kepala saya. Saya
kira dia sedang sedih, maka saya dekati dia. Saya duduk diam-diam di
sampingnya, mencoba menciptakan satu keheningan yang menyamankan, yang tadinya
saya kira akan cukup menyejukkan baginya. Tapi dia hanya menatap saya dengan
satu tatapan benci yang amat sangat, lalu meninggalkan saya duduk diam-diam
sendirian.
Sesuara juga
kerap datang dan pergi sesukanya. Pernah suatu kali, saya sedang makan siang
dengan pacar saya. Tiba-tiba saja sesuara hadir, dengan licinnya menyelinap di
sela-sela kepala saya seperti belut. Pelan-pelan mulut berbisanya meracuni
kepala saya dengan potongan-potongan kenangan rekaannya. Seperti kenangan
malam-malam saat saya bersembunyi di kolong tempat tidur untuk ditemukan pacar
saya. Atau kenangan malam-malam yang dihabiskan pacar saya menunggui saya yang
terbaring lemas di bangsal rumah sakit, dengan perut terpompa habis.
Sesuara akan
terus-menerus menyisipkan cerita karangannya seperti jeda iklan yang pekak. Ia
akan mengulang-ulang pikiran tentang betapa sakitnya saya, betapa
menyulitkannya saya, betapa mengganggunya saya. Betapa hinanya saya, pelacur
jalang murahan yang lebih nista dari onggokan sampah busuk, berjamur dan
disarangi belatung yang menggeliat-geliat. Dan betapa ketergangguan dan
ketidakbahagiaan saya telah membuat pacar saya begitu merana.
Sering kali
sesuara dan saya jadi bertengkar hebat. Karena ia tetap tak mau berhenti
meracau, meski saya sudah memintanya diam, atau berteriak, atau menangis, atau
bahkan membentaknya menyuruhnya pergi meninggalkan saya dan pacar saya makan
siang dengan tenang. Pernah satu kali saya mengancam akan mengiris kuping saya.
Dan sesuara cuma tersenyum mengejek. Katanya, saya tak akan berani. Katanya,
toh, apapun yang terjadi, saya tetap tak bisa lari. Saya tetap akan mendengarnya. Di
dalam kepala saya. Di mana-mana.
Di mana-mana.
Dan sesuara
sungguh-sungguh menepati ikrarnya.
Saat saya
bersepeda pagi hari keliling rumah misalnya, ia akan berbisik membujuk saya
untuk menabrakkannya pada truk gandeng yang melintas. Dengan cerdiknya, ia
menyuntikkan ide tentang betapa hebatnya saya. Betapa luar biasanya saya. Bahwa
saya punya kekuatan super yang tak terkalahkan, sehingga tak satu pun juga di
dunia ini yang bisa melukai saya.
Tentu saja
saya tak percaya.
Tapi sesuara
sangat gigih.
Saat sedang menyeberang
jalan di tengah lalu lintas yang padat, ia akan menggoda saya untuk berhenti
tepat di tengah jalan. Menunggu mobil-mobil melindas saya. Menggilas tubuh
saya, sampai bunyi rem berdecit-decit. Saat berdiri di pinggir jembatan, ia
akan membujuk saya untuk mengguyur tubuh saya dengan sejerigen bensin, menyulut
korek api dan melompat ke tengah jurang dengan tubuh membara. Saat saya naik
lift, ia akan menjejali pikiran saya dengan imaji saat lift ini jatuh dan
menghancurkan tubuh saya, dengan suara dentuman yang meluluhkan tulang-tulang.
Begitu juga
saat saya sedang berada di puncak gedung. Ia akan meyakinkan saya bahwa saya
bisa terbang. Yeah, terbang. Dari anak tangga terbawah saja, ia akan merayu
saya dengan berbagai bayangan tentang kaki-kaki saya yang melangkah menapaki
tepian puncak gedung, merentangkan tangan seluas-luasnya. Dan terjun. Merasakan
angin yang membelai pipi, wajah, dan rambut saya. Menyerahkannya sepenuhnya
pada gravitasi.
Karena saya
mulai kebal dengan semua bujukan gilanya, sesuara pun mulai alih strategi. Saat
saya berbaring diam-diam di kamar, sesuara akan berpura-pura bersikap perhatian
dengan menyodorkan segenggam obat, yang katanya bisa meringankan sakit kepala
saya. Katanya, obat itu juga bisa membuatnya diam, sehingga saya bisa tidur
lelap dengan damai. Karena tahu betapa liciknya dia, saya menolak. Tapi sesuara
tetap bersikeras.
Bahkan saat saya
tak mau mendengarkan.
Ia akan
mengetuk kepala saya. Saat saya bungkam, ia akan mulai menggedor kepala saya
dengan tak sabar. Lalu akan mulai berteriak, dan menjerit dengan suaranya yang
melengking nyaring. Katanya, ia tak akan kalah dengan cara ini. Katanya, ia tak akan pergi. Sampai
saya dihantui imaji untuk membenturkan kepala dan isinya yang busuk ini ke
tembok kamar, sampai pecahannya terserak satu persatu di bawah kaki saya.
Dan saat
saya tertidur, dia akan mengirimkan mimpi tentang neraka.
Tanpa
henti-henti.
******
Pacar saya
yang baik hati kerap menyarankan saya untuk berbaikan saja dengan sesuara. Saya
cuma diam. Saya tahu, bahwa sesuara kerap berakting meratap minta maaf, setelah
bertengkar hebat dengan saya. Dengan liciknya, dia berusaha mencuri hati pacar
saya.
Meski
begitu, saya tetap tidak percaya pada sesuara. Kali lain dia datang tanpa
diundang saat saya sedang berduaan dengan pacar saya. Seperti biasa, saya akan
memintanya pergi dengan sopan. Seperti biasa juga, saya akan menyuruhnya diam,
dengan mengancam akan mengiris kuping saya. Sesuara pun tertawa mengejek
seperti biasanya juga. Bahkan sampai saya betul-betul mengiris kuping saya pun,
saya masih bisa mendengar samar tawanya yang terkekeh-kekeh. Meninggalkan
sepasang mata pacar saya yang bersinar ngeri, dan kuping kanan saya yang mulai
kehabisan darah.
Malamnya,
saat saya terbaring lemas di bangsal rumah sakit, sesuara datang menjenguk
saya. Ia bicara dekat-dekat kuping kiri saya. Ia mencaci saya, memaki saya,
meludahi saya, mencacah saya dengan kata-kata tentang betapa tidak bergunanya
hidup saya.
Sambil
memejamkan mata, saya mulai merapal kata-kata untuk membuatnya diam.
Potongan-potongan kenangan berseliweran di kepala saya seperti guntingan foto. Kacau. Berantakan. Wajah-wajah kabur. Ada
bunyi-bunyian. Hening. Lengang. Dingin. Terlalu menakutkan. Turun, turun, terus
meluncur turun. Bunyi ketukan. Bisikan. Teriakan. Obat penenang. Kunjungan. Es
batu dalam bak mandi. Jalan layang kosong. Sinar matahari. Wajah-wajah
tersenyum. Tak bisa bernapas. Sesak. Sesak. OBAT! OBAT! Telan pil-pil itu.
Timbang badan setiap Rabu. Ambil darah setiap Selasa. Perawat berseragam
putih-putih. Suntikan. Selang-selang spageti. Dua pak sehari. Bab terakhir.
Johny Cash. Desinfektan. Bayi-bayi menangis. Air mata badut. Seniman Derita. Ngilu.
Nyeri. Selamanya, sehari lagi. Kopi di pagi hari? Tidak, terima kasih. Terima
kasih kembali. Kesunyian yang meraung-raung. Pesawat-pesawat pengebom. Bintang-bintang
bertabrakan. BANG! BANG! BANG! Harus mati, harus mati. Langit biru. Tolong
saya. Tolong saya.
TUTUP MULUT,
BANGSAT!, bentak sesuara.
Lalu ia akan
memaksa saya membuka mata, menunjukkan pemandangan pacar saya yang sedang
tergolek kuyu di lantai rumah sakit. Pemandangan kabur yang sudah berkali-kali
saya lihat, tanpa pernah saya tahu lagi apakah itu hasil rekaannya atau bukan. Pemandangan yang sama,
seperti malam-malam sebelumnya, sejak saya bertemu pacar saya.
Dan sesuara
akan pamit dengan terkekeh-kekeh, menyisakan satu irisan panjang di kuping kiri
saya.
********