Archive for November, 2006

La tristesse durera toujours (The sadness will last forever)

“It’s ok, I’ll be fine,” pasti saya akan menjawab begitu waktu kamu bertanya
Sambil mencoba tersenyum untuk terakhir kalinya
Karena kita berdua tahu
sebuah perpisahan akan jadi terlalu menyedihkan dengan warna air mata

“It’s ok, I’ll be fine,” tolak saya,
waktu kamu menelpon keesokan paginya dan menawarkan untuk mengantarkan saya ke dokter siang itu,
Karena kita berdua tahu
sebuah pertemuan akan jadi terlalu canggung untuk diperankan

“It’s ok, I’ll be fine,” begitu juga jawab saya saat kamu bertanya “How was your day, sweetie?”
Karena kita berdua tahu
bicara jujur tentang satu hari saja yang terlewat tanpa kamu
justru akan membuat keputusan ini terlalu berat untuk dijalankan

Jadi sayangku, selamat tidur
Semoga tidur kamu nyenyak
Jangan terlalu khawatir sama saya ya
“It’s ok, I’ll be fine”

kusuka=kausku=kuasku

Dan Brown benar-benar fenomenal. Saat sedang gempar-gemparnya buku The Da Vinci Code, saya pun latah ikut-ikutan membuat anagram. Atas apapun. Saya bahkan membentuk Granama Club, dengan menarik paksa sejumlah teman sebagai anggota. Kebetulan, pada semester akhir lalu, saya dan sejumlah anggota klub ini mengambil dua mata kuliah yang sama, yaitu Marketing PR, dan Manajemen Bina Usaha. Berhubung dua mata kuliah itu dosennya sama (selain karena saya pikir dosennya juga malas membuat soal ujian) maka soal UASnya pun sama, yaitu: membuat rencana promosi atas suatu produk yang belum pernah diiklankan.

Nah, pilihan saya untuk mata kuliah Manajemen Binus adalah keripik singkong Kusuka. Atas nama pendiri Granama Club, saya pun menyusun rencana brilyan untuk menganagramkan kata “Kusuka” untuk bahan UAS mata kuliah MPR. Yang paling kesal tentu saja Citra. Simak percakapan kami di atas bus 75 jurusan Blok M-Pasar Minggu yang tengah macet di Mampang.
Saya: “Gimana kalo jadi Kuasku Cit?”
Citra (diam)
Saya (tetap berceloteh dengan riang): “Atau Kausku?”
Citra (masih diam)
Saya (masih berceloteh dengan riang): “Atau Akusuk? Atau Sukuka? Atau Kasuku? Atau Sukaku?”
Citra (mulai berteriak-teriak hilang kesabaran): “RETNADI NURAINI! DIEM DEH!”
Saya (mikir sebentar): “Nggak bisa Cit, hurufnya kebanyakan” (tetep nggak nanggep)
Citra: “ARRRGGGGHHHHH”

ke dokter gigi (2)

Tibalah juga hari Jumat berdarah yang saya takutkan itu. Dari pagi, Mas Bambang dengan inisiatif tinggi sudah mengingatkan saya untuk bersiap-siap menghadapi sore hari. “No, hari ini loh kamu bakal cabut gigi,” ujar Mas Bambang sambil senyum-senyum jail. Sementara saya cuma menanggapi dengan sok lupa “Apa sih Mas? Wong ini hari Rabu kok. Jangan aneh-aneh deh.”

Tapi tentu saja, saya tetap tak bisa lari dari kenyataan. Sore hari, saya pun duduk mengantri di ruang tunggu dokter gigi. Ada dua orang pasien yang mengobrol seru tentang proses pencabutan gigi. Pasien yang satu, ibu-ibu yang sudah dicabut giginya minggu lalu, tapi sekarang infeksi. Sementara pasien satunya lagi, hampir semua gigi seri atasnya dicabut, sehingga terpaksa diganti dengan gigi palsu. Benar-benar obrolan yang tidak sehat untuk kognisi saya.

Untunglah, ibu saya yang baik hati segera datang. Dia kemudian menetralisir percakapan dengan cerita-cerita ringan tentang Ahan hari ini. Ahan yang sudah bisa mengeja, Ahan yang lagi main kapal-kapalan, Ahan yang akan latihan taekwondo. Baru setelah tiba giliran saya masuk ruang periksa, Ibu bilang “Udah kamu tenang aja. Kalo perlu merem deh.” Fuh.

Dan masuklah saya ke ruang periksa. Ruangan itu sederhana saja. Ada sepasang meja kursi untuk konsultasi dokter dengan pasien. Juga ada kursi periksa, yang sering saya sebut “kursi mati.” Ini karena, saya pikir, desain kursi itu betul-betul tidak sehat untuk kenyamanan psikologis pasien. Well, setidaknya, pasien seperti saya. Bayangkan kamu duduk di satu kursi dengan sejumlah peralatan seperti tang, jarum suntik, dan alat-alat lain yang bahkan mimpi pun kamu nggak pernah bayangkan akan digunakan untuk menjelajahi rongga mulut kamu. Kamu bahkan tidak bisa lari, karena dokter pegang kontrol penuh atas mulut kamu. Yang kurang dari kursi itu untuk melengkapi fungsinya sebagai “kursi mati” pasti cuma sabuk pengaman, atau jaket pengekang untuk pasien RSJ. Hmm, mungkin saya akan menulis soal ini kapan-kapan.

Setelah dokter siap dengan jarum suntiknya, saya pun terbelalak dengan parnonya, dan kompensasinya adalah perdebatan tolol dengan dokter.
Dokter: “Ayo buka mulut”
Saya (mengatupkan mulut rapat-rapat):”Mmm-mmm”
Dokter (menghela napas): “No, ayo buka mulut”
Saya (makin mengatupkan mulut rapat-rapat):”Mmm-mmm”
Dokter (mulai hilang kesabaran): “Ok, kalo kamu nggak buruan buka mulut, cabut giginya nggak usah pake bius ya..”
Dengan sangat enggan, saya pun buka mulut.
I hate dentist.

Dan alat kedua yang saya lihat adalah tang. Alat inilah yang kemudian membuat saya memilih untuk memejamkan mata, demi kenyamanan kognisi saya. Meski ternyata dengan mata terpejam pun, saya tetap dengan parno-nya membayangkan si dokter membangun warung kopi permanen di dalam rongga mulut saya sambil mengobrol santai dengan asistennya “Woyy, mana martil? Pintunya udah dipaku belum?”, dan sang asisten akan menjawab “Nih dok, martil! Tangkep!!!Pintunya baru dipaku tiga, kurang 579 paku lagi yaaa!!”
Begitulah.
Makanya saya minta maaf ya pembaca, kalau tidak bisa menyajikan liputan yang cukup komprehensif seputar proses pencabutan gigi ini.

Anyway–di luar dugaan saya yang dengan parno-nya membayangkan proses ini akan berlangsung berjam-jam–sekitar 20 menit kemudian, ternyata saya sudah duduk manis di kursi konsultasi dan bernapas dengan lega. Bibir saya kebas, pipi kiri saya bengkak, tapi toh saya masih bisa tersenyum lebar dan merasa bahagiaaaaa sekali. Akhirnyaaaaaa, pikir saya.

Sayang, si dokter ternyata memang gatal melihat saya tersenyum selebar itu. Tepat setelah dia usai menuliskan resep obat penghilang sakit (yang saya curiga dosisnya dikurangi setengah), sambil tersenyum jail dia berujar “Minggu depan yang geraham kanan bawah ya!”

Saya melotot.

I hate dentist. Mereka punya selera humor yang buruk.

ke dokter gigi

Alkisah, saya baru saja terkena musibah. Kejadiannya sekitar dua hari lalu, saat saya sedang bertandang ke rumah teman saya, Citra. Nah, seperti selayaknya tamu, saya pun dijamu dengan sejumlah hidangan. Dan sebagai tamu yang baik, maka saya pun bersikap sopan dengan menelan segala jenis hidangan yang disajikan. Dimulai dengan fussili, sate kambing, sebungkus coklat M’nM’s, sebungkus keripik sanjay, dan diakhiri dengan semangkuk mi tektek rebus. Itupun karena sialnya, tambalan geraham kiri bawah saya lepas. “Mungkin itu pertanda lo untuk berhenti makan, No?” tanya Citra dengan entengnya. Saya tentu saja membantah keras. “Mungkin, ini pertanda gua untuk ke dokter gigi, Cit,” jawab saya dengan sopan.

Dan keesokan harinya, berangkatlah saya ke dokter gigi. Dokter gigi ini adalah ayah teman SD saya, Miranti (maksud saya, nama teman saya yang Miranti, bukan dokter gigi itu. Dokter gigi itu namanya Agus Pribadi, FYI). Setelah cukup lama antre, jadilah saya diperiksa si dokter. Dan tibalah vonis mematikan itu.
Dokter: “No, ini nggak bisa lain nih, gigi kamu harus dicabut.”
Saya (tercenung dramatis): “Serius dok? Nggak ada cara lain?”
Dokter (mengangguk pelan)
Saya (mulai mengajukan pertanyaan tolol): “Jadi, kalo misalnya saya operasi plastik dan pindah ke Jerman, gigi saya tetap harus dicabut, dok?”
Dokter (melirik sebel, lalu tersenyum penuh kemenangan): “Ya No, nggak ada cara lain”
I hate dentist.

Karena merasa terpukul dengan vonis itu, saya pun mencoba mencari dukungan moril dari para sahabat. Yang sayangnya, ditanggapi dengan tidak sensitifnya oleh orang-orang tak berhati ini. Mulai dari:
Citra: “HUAHAHAHAHA!!!! JADI OMPONG DONG LO NO!!!!”
Ain: “Lo sih nanya yg aneh2 ke dokternya..ntar dicabut semua aja, baru deh. Mereka kan sebel sama lo.”

Gagal didukung oleh para sahabat, maka saya pun mencoba menarik simpati dari sejumlah teman yang online di YM. Mulai dari:
Anjas: “Sakit banget loh No, sumpah. Mana bengkak gede, pake acara infeksi gituh”
Mas Bambang: “Ah, kaya Mr Bean aja kamu, masa takut ke dokter gigi”
Remon: “Wahahahaha…ntar dipanggilnya bukan ‘mbak’ lagi dong, tapi ‘mbah’…WUAHAHAHA!”
Mas Wawan: (ngakak-ngakak)
Hosh.

Tapi tentu saja, Tuhan yang Maha Pemurah juga mengirimkan para malaikat yang-untungnya-sangat waras, seperti:
Ibu: “Iya deh, ntar ibu temenin kamu deh besok. Ntar kamu merem aja, trus ibu pegangin tangannya”
Ahan: “Tante Retno, maaf ya, aku juga takut ke dokter gigi. Jadi aku hiburnya sekarang aja yaaa” , sambil mengecup kedua pipi saya dan memeluk saya dengan pelukan beruang (baca: big hug)

Fuh, akhirnyaaaa….

sesuara

Sesuara dan
saya tidak pernah bersahabat. Mulanya saya kira, sesuara hanya sekedar bersikap
dingin, seperti yang terjadi saat dua orang asing baru saja berkenalan. Yang lama-kelamaan
akan mencair dengan sendirinya, setelah melewati tahap membosankan percakapan ringan
tentang cuaca.

Saya salah.

Karena sesuara
tak pernah mau berepot-repot menciptakan satu percakapan menyenangkan. Ia bahkan
tak sudi untuk tersenyum dan sedikit saja berbasa-basi. Pernah pada suatu pagi,
saya mencoba menyapanya dengan ramah, mengajaknya sarapan bersama. Tapi dia
cuma mencibir dan berlalu pergi, meninggalkan sepiring pancake hangat
berlumur madu, yang saya kira tadinya akan sangat disukainya. Pernah suatu kali
juga, saya melihatnya sedang duduk diam-diam di suatu pojokan kepala saya. Saya
kira dia sedang sedih, maka saya dekati dia. Saya duduk diam-diam di
sampingnya, mencoba menciptakan satu keheningan yang menyamankan, yang tadinya
saya kira akan cukup menyejukkan baginya. Tapi dia hanya menatap saya dengan
satu tatapan benci yang amat sangat, lalu meninggalkan saya duduk diam-diam
sendirian.

Sesuara juga
kerap datang dan pergi sesukanya. Pernah suatu kali, saya sedang makan siang
dengan pacar saya. Tiba-tiba saja sesuara hadir, dengan licinnya menyelinap di
sela-sela kepala saya seperti belut. Pelan-pelan mulut berbisanya meracuni
kepala saya dengan potongan-potongan kenangan rekaannya. Seperti kenangan
malam-malam saat saya bersembunyi di kolong tempat tidur untuk ditemukan pacar
saya. Atau kenangan malam-malam yang dihabiskan pacar saya menunggui saya yang
terbaring lemas di bangsal rumah sakit, dengan perut terpompa habis.

Sesuara akan
terus-menerus menyisipkan cerita karangannya seperti jeda iklan yang pekak. Ia
akan mengulang-ulang pikiran tentang betapa sakitnya saya, betapa
menyulitkannya saya, betapa mengganggunya saya. Betapa hinanya saya, pelacur
jalang murahan yang lebih nista dari onggokan sampah busuk, berjamur dan
disarangi belatung yang menggeliat-geliat. Dan betapa ketergangguan dan
ketidakbahagiaan saya telah membuat pacar saya begitu merana.

Sering kali
sesuara dan saya jadi bertengkar hebat. Karena ia tetap tak mau berhenti
meracau, meski saya sudah memintanya diam, atau berteriak, atau menangis, atau
bahkan membentaknya menyuruhnya pergi meninggalkan saya dan pacar saya makan
siang dengan tenang. Pernah satu kali saya mengancam akan mengiris kuping saya.
Dan sesuara cuma tersenyum mengejek. Katanya, saya tak akan berani. Katanya,
toh, apapun yang terjadi, saya tetap tak bisa lari.
Saya tetap akan mendengarnya. Di
dalam kepala saya. Di mana-mana.

Di mana-mana.

Dan sesuara
sungguh-sungguh menepati ikrarnya.

Saat saya
bersepeda pagi hari keliling rumah misalnya, ia akan berbisik membujuk saya
untuk menabrakkannya pada truk gandeng yang melintas. Dengan cerdiknya, ia
menyuntikkan ide tentang betapa hebatnya saya. Betapa luar biasanya saya. Bahwa
saya punya kekuatan super yang tak terkalahkan, sehingga tak satu pun juga di
dunia ini yang bisa melukai saya.

Tentu saja
saya tak percaya.

Tapi sesuara
sangat gigih.  

Saat sedang menyeberang
jalan di tengah lalu lintas yang padat, ia akan menggoda saya untuk berhenti
tepat di tengah jalan. Menunggu mobil-mobil melindas saya. Menggilas tubuh
saya, sampai bunyi rem berdecit-decit. Saat berdiri di pinggir jembatan, ia
akan membujuk saya untuk mengguyur tubuh saya dengan sejerigen bensin, menyulut
korek api dan melompat ke tengah jurang dengan tubuh membara. Saat saya naik
lift, ia akan menjejali pikiran saya dengan imaji saat lift ini jatuh dan
menghancurkan tubuh saya, dengan suara dentuman yang meluluhkan tulang-tulang.

Begitu juga
saat saya sedang berada di puncak gedung. Ia akan meyakinkan saya bahwa saya
bisa terbang. Yeah, terbang. Dari anak tangga terbawah saja, ia akan merayu
saya dengan berbagai bayangan tentang kaki-kaki saya yang melangkah menapaki
tepian puncak gedung, merentangkan tangan seluas-luasnya. Dan terjun. Merasakan
angin yang membelai pipi, wajah, dan rambut saya. Menyerahkannya sepenuhnya
pada gravitasi.

Karena saya
mulai kebal dengan semua bujukan gilanya, sesuara pun mulai alih strategi. Saat
saya berbaring diam-diam di kamar, sesuara akan berpura-pura bersikap perhatian
dengan menyodorkan segenggam obat, yang katanya bisa meringankan sakit kepala
saya. Katanya, obat itu juga bisa membuatnya diam, sehingga saya bisa tidur
lelap dengan damai. Karena tahu betapa liciknya dia, saya menolak. Tapi sesuara
tetap bersikeras.  

Bahkan saat saya
tak mau mendengarkan.

Ia akan
mengetuk kepala saya. Saat saya bungkam, ia akan mulai menggedor kepala saya
dengan tak sabar. Lalu akan mulai berteriak, dan menjerit dengan suaranya yang
melengking nyaring.
Katanya, ia tak akan kalah dengan cara ini. Katanya, ia tak akan pergi. Sampai
saya dihantui imaji untuk membenturkan kepala dan isinya yang busuk ini ke
tembok kamar, sampai pecahannya terserak satu persatu di bawah kaki saya.

Dan saat
saya tertidur, dia akan mengirimkan mimpi tentang neraka.

Tanpa
henti-henti.

******

Pacar saya
yang baik hati kerap menyarankan saya untuk berbaikan saja dengan sesuara. Saya
cuma diam. Saya tahu, bahwa sesuara kerap berakting meratap minta maaf, setelah
bertengkar hebat dengan saya. Dengan liciknya, dia berusaha mencuri hati pacar
saya.

Meski
begitu, saya tetap tidak percaya pada sesuara. Kali lain dia datang tanpa
diundang saat saya sedang berduaan dengan pacar saya. Seperti biasa, saya akan
memintanya pergi dengan sopan. Seperti biasa juga, saya akan menyuruhnya diam,
dengan mengancam akan mengiris kuping saya. Sesuara pun tertawa mengejek
seperti biasanya juga. Bahkan sampai saya betul-betul mengiris kuping saya pun,
saya masih bisa mendengar samar tawanya yang terkekeh-kekeh. Meninggalkan
sepasang mata pacar saya yang bersinar ngeri, dan kuping kanan saya yang mulai
kehabisan darah.

Malamnya,
saat saya terbaring lemas di bangsal rumah sakit, sesuara datang menjenguk
saya. Ia bicara dekat-dekat kuping kiri saya. Ia mencaci saya, memaki saya,
meludahi saya, mencacah saya dengan kata-kata tentang betapa tidak bergunanya
hidup saya.

Sambil
memejamkan mata, saya mulai merapal kata-kata untuk membuatnya diam.
Potongan-potongan kenangan berseliweran di kepala saya seperti guntingan foto.
Kacau. Berantakan. Wajah-wajah kabur. Ada
bunyi-bunyian. Hening. Lengang. Dingin. Terlalu menakutkan. Turun, turun, terus
meluncur turun. Bunyi ketukan. Bisikan. Teriakan. Obat penenang. Kunjungan. Es
batu dalam bak mandi. Jalan layang kosong. Sinar matahari. Wajah-wajah
tersenyum. Tak bisa bernapas. Sesak. Sesak. OBAT! OBAT! Telan pil-pil itu.
Timbang badan setiap Rabu. Ambil darah setiap Selasa. Perawat berseragam
putih-putih. Suntikan. Selang-selang spageti. Dua pak sehari. Bab terakhir.
Johny Cash. Desinfektan. Bayi-bayi menangis. Air mata badut. Seniman Derita. Ngilu.
Nyeri. Selamanya, sehari lagi. Kopi di pagi hari? Tidak, terima kasih. Terima
kasih kembali. Kesunyian yang meraung-raung. Pesawat-pesawat pengebom. Bintang-bintang
bertabrakan. BANG! BANG! BANG! Harus mati, harus mati. Langit biru. Tolong
saya. Tolong saya. 

TUTUP MULUT,
BANGSAT!, bentak sesuara.

Lalu ia akan
memaksa saya membuka mata, menunjukkan pemandangan pacar saya yang sedang
tergolek kuyu di lantai rumah sakit. Pemandangan kabur yang sudah berkali-kali
saya lihat, tanpa pernah saya tahu lagi apakah itu hasil rekaannya atau bukan.
Pemandangan yang sama,
seperti malam-malam sebelumnya, sejak saya bertemu pacar saya.

Dan sesuara
akan pamit dengan terkekeh-kekeh, menyisakan satu irisan panjang di kuping kiri
saya.

********

waktu ahan mau kasi kado buat citra

Beberapa minggu yang lalu, seorang teman saya, Citra, berulang tahun. Tidak seperti orang yang berulang tahun pada umumnya (yang biasanya malu-malu untuk minta kado), Citra justru memaksa hampir semua orang yang ditemuinya untuk memberikan kado. Temasuk saya. Dan dibawah ancaman tidak akan dimasakkan spageti dengan banyak jamur dan sosis, granola pie yang padat coklat, balado teri, puyung hai, kerang pedas….oya, dan ancaman putusnya persahabatan kami, maka jadilah saya membuatkan dia sebuah kolase.

Rupanya, Ahan memperhatikan saya. Mulai dari jam 19.00 saja, dia sudah berujar “Tante Retno, aku mau bantuin…”. Setelah menyelesaikan tugasnya memilah-milah sobekan gambar dan foto dari majalah, ia tampak berkutat dengan setumpuk kertas kosong. Melihat wajah seriusnya, saya pun bertanya “Bikin apa sayang?”

“Aku mau bikin kapal-kapalan buat hadiah buat Tante Citra. Abis itu, aku mau bikinin pesawat dan topi. Nanti Tante Retno yang kasi ya..,” ujarnya sambil tersenyum manis.

Dan jadilah kapal-kapalan itu. Sebuah kapal-kapalan dari kertas bekas, dengan tulisan “buat tantecittar” di sisi luarnya.

Dengan cemas, Ahan menatap saya. “Bagus ndak ya, Tante Retno? Kalo jelek, nanti aku bikinin lagi..”

Sambil tersenyum saya menjawab “Tahu nggak sayang? Ini kapal-kapalan paling bagus, paling hebat, paling canggih, dan paling keren yang pernah Tante lihat! Terima kasih, sayaaaang!”

Dan itu memang kapal-kapalan terindah yang pernah saya lihat…

madame asterix yang humble

Waktu saya berumur sekitar 12 tahun dan pertama kali membaca serial Asterix, saya ingat, hal pertama yang saya lakukan setelah usai melahap lembar terakhir, adalah mengecek nama penerjemah. Ini karena, komik Asterix yang asli Prancis ini diterjemahkan dengan sangat bagus. Mulai dari nama tokoh pendukung, istilah yang digunakan, jargon, semuanya disesuaikan dengan konteks budaya Indonesia. Hasilnya, sebuah komik terjemahan yang sangat kocak dan menghibur.

Dan nama penerjemah yang luar biasa itu adalah Rahartati Bambang Haryo.

Nama yang sama terlintas di kepala saya saat saya menyusun TKA majalah anak. Dalam TKA itu, ada satu rubrik berjudul “Paspor Ajaib” yang berisikan tentang cerita terjemahan. Didesain secara bilingual (satu halaman untuk bahasa asli, satu halaman untuk bahasa terjemahan), rubrik ini bertujuan agar anak-anak dapat belajar menikmati karya sastra dalam bahasa asli, sekaligus juga dalam bahasa terjemahanya. Dan saya tahu, bahwa Bu Rahartati Bambang yang sudah menggarap sedikitnya 83 buku ini, adalah orang yang tepat.

Setelah proses browsing alamat yang cukup melelahkan, akhirnya saya dapatkan juga alamat rumah dan no telpon Bu Rahartati, yang kemudian akan saya panggil dengan Bu Tati. Dengan memberanikan diri, saya pun menelponnya. Diluar dugaan, Bu Tati ternyata menyambut baik usul saya dan langsung menyanggupi untuk menjadi pengisi rubrik saya. Saya ingat, saya sempat grogi waktu menjelaskan bahwa karena ini hanya tugas kuliah, maka saya tidak bisa memberikan bayaran, dan Bu Tati dengan lembutnya menukas “Udahlah Non, nggak usah mikirin itu. Saya tahu kok ini tugas kuliah, dan pasti saya bantu semampu saya.”

Dan janji itu benar-benar terlaksana. Tepat dua hari setelah teks terjemahan saya kirimkan, Bu Tati langsung meng-SMS saya bahwa tugasnya sudah selesai. Bahkan ia tak segan membacakan hasil terjemahannya via telepon untuk saya. “Maaf ya, kalau yang saya pilihkan cerita ini, soalnya saya memang pengemar cerita klasik,” ujarnya saat saya tanya kenapa dari satu buku kumpulan cerita berbahasa Prancis, ia memilih cerita “Anak Kecil dan Gunung.”

Sambil mengambil cerita itulah, saya kemudian bertandang ke rumah Bu Tati, yang terletak di daerah Ciputat. Disanalah kami pertama kali bertemu muka. Sebuah rumah mungil dengan ilustrasi khusus dari penggambar Asterix, Uderzo, menghiasi ruang tamunya. Dan sepanjang percakapan, saya betul-betul terkesan pada nenek 3 cucu yang dijuluki Madame Asterix ini.

Mulai dari kayanya wawasan Bu Tati yang luas tentang politik, agama, budaya, dan juga sastra. Saya ingat, kami bicara tentang toleransi antar umat beragama. Saya sangat terkesan bahwa sebagai pemeluk Katolik, Bu Tati masih menyempatkan diri mendengarkan ceramah Aa Gym. Saya juga ingat, kami mengobrol lama sekali tentang sastra. Tentang penulis favorit saya dan Citra, Budi Darma, yang ternyata adalah teman lama Bu Tati. Tentang buku-buku favorit kami yang ternyata banyak yang sama. Tentang kecintaannya menulis buku-buku anak yang dilengkapi lagu-lagu, agar anak mudah belajar bahasa. Juga tentang maraknya penulis baru yang mengangkat tema-tema kontroversial hanya karena sekedar ingin eksis. “Saya kalau baca tulisan seperti itu suka mikir, ‘Duh, ini apa sih?’,” seloroh Bu Tati saat itu.

Tapi yang paling saya ingat adalah ajaran Bu Tati untuk berhati-hati dalam menulis. “Tidak semua pembaca itu suka didekati. Makanya kita harus pintar-pintar memilih kata sapaan. Banyak penulis yang sok tahu menggunakan kata sapaan ‘aku’ padahal belum tentu pembaca itu mau didekati,” jelas Bu Tati yang sepanjang percakapan kami selalu menggunakan kata ’saya-anda’.

Dan yang paling membuat saya terkesan adalah ke-rendah hatian Bu Tati. Kesan ini pun menguat dalam pertemuan berikutnya, yaitu pada diskusi buku Jostein Gaarder berjudul “Puteri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng.” Saya ingat, meski dia hadir sebagai penerjemah buku itu, alih-alih duduk di bangku depan sebagai pembicara, Bu Tati malah memilih untuk duduk di bangku penonton. Dia juga mengungkapkan keberatannya saat difoto oleh sejumlah wartawan. “Aduh, saya ini paling benci difoto apalagi bicara di depan umum. Bisa ndredeg (Jawa: gemetar) saya,” tolaknya halus. Tolakan ini juga sempat saya terima dulu, saat saya memintanya berfoto untuk majalah saya, yang kemudian digantikan dengan selembar pas foto hitam putih ukuran 3×4.

Betapa bedanya reaksi Bu Tati dengan para penulis yang berlomba-lomba difoto dan diwawancarai untuk sekedar unjuk gigi. Atau para penulis yang rajin menjadi pembicara di sejumlah talkshow, untuk sekedar bicara ngalor ngidul tentang apa saja. “Humble-nya orang ini ya,” ujar seorang wanita di samping saya.

Dan saya tersenyum. Hmmm, “humble”. ..Satu kata yang pas. Pas sekali.

dan pada suatu sore yang biasa

Dan pada suatu sore yang biasa, kita akan mencuci piring bersama. “Udah kamu duduk aja, biar aku aja yang nyuci piringnya,” begitu kamu akan berujar. Dengan wajah serius, kamu akan membilas busa-busa sabun di piring dan gelas yang kotor. Segumpal kecil busa menciprati kaca mata kamu. Lalu saya akan mengusapnya dengan ujung baju saya. Kamu akan tersenyum, “Terima kasih, sayang,” katamu, lalu kembali meneruskan pekerjaan. “Sama-sama, tampan,” ujar saya, lalu kembali menonton kamu yang sedang meneruskan pekerjaan.

Dan pada suatu sore yang biasa setelah bak cuci piring kosong dan piring gelas bersih sudah tertata rapi, kita akan duduk bersama di depan pintu dapur yang menghadap jalan kecil berbatu depan rumah kita. Saya akan berteriak riang menunjukkan capung-capung merah yang beterbangan di halaman sambil memainkan rok hijau saya yang mengembang, dan kamu akan tersenyum. Setelah lelah mengejari capung-capung, saya akan bersandar di bahu kamu yang masih duduk di depan pintu dapur, menghirup semua aroma dan keberadaan kamu ke dalam pori-pori. Lalu kamu akan mengecup mata saya yang terpejam. “Cantik, lihat deh, senjanya indah..” ujar kamu.

Dan pada suatu sore yang biasa saat capung-capung merah beterbangan dan kita duduk-duduk di depan pintu dapur, kita akan menyaksikan bersama langit yang berubah warna. Mula-mula kuning, agak oranye, sampai akhirnya berwarna hijau keperakan saat matahari mencelupkan dirinya di barat. Dan sambil menatap mata kamu, saya akan berujar “Ah, cantikkan juga kamu..”.

Lalu senja akan pamit dengan satu kecupan panjang yang manis dan mendamaikan.

the saddest song

Sometimes It Be That Way (Jewel)

Night with its shattered teeth attempts to speak
My pen is present but courage left via the sink
And I’m sorry I snuck up on you from behind
I’m sorry not all my love letters did rhyme
And I’m sorry that Jesus died for my sins
And I swear to God it won’t happen again
And I’m sorry if it was my swerve that tempted you to sway
Oh well, sometimes it be that way

And Romeo was a very nice man
He said “Jewel, I don’t think you quite understand
And I’m sorry if you had to explain it like this
I’m sorry I was a point you were destined to miss
And I’m sorry I spoke to you irreverently
Down in the hollow by the old olive tree
And I’m sorry if my heart breaking ruined your day
Oh well, sometimes It be that way

Chorus:

I said “Oh well, I got nothing left to sell
This love was a bell that rang unheard in the air
I was bound to find out that you didn’t care
Oh well, sometimes it be that way

And Aphrodite with her neon lamp
Kissed Neptune they put her face on a stamp
And I’m sorry I used it to mail a letter to you
I’m sorry I’m glue and the rest bounces off of you
And I’m sorry not even this jet’s metal wings
Could get across these simple things
And I’m sorry if I ever sang your name in vain
Oh well, sometimes it be that way

And Goldilocks, well she knew three bears
They all ate oatmeal and tiptoed upstairs
And I’m sorry I never got to find you like this
Sleeping like a baby and swaddled in bliss
And I’m sorry for all the times
I forgot to imply something in between the lines
And i’m sorry if I ever caused you pain
Oh well, sometimes it be that way

Chorus:
I said “Oh well, I got nothing left to sell
This love was a bell that rang unheard in the air
I was bound to find out that you didn’t care
Oh well, sometimes it be that way

And shadow’s long fingers they dance on the wall
Electricity chases its tail in the hall
And I’m sorry my arms to you were just empty rooms
I’m sorry I never could comfort you
And I’m sorry St. Petersburg is a miserable town
And I’m sorry if I am bringing you down
And I’m sorry if it was my love that rained on your parade
Oh well, sometimes it be that way

And flame licks the air with its silver tongue
Night has many hands but I have just one
And I’m sorry I walked in on you unexpectedly
I’m sorry I never served you Chamomile tea
And I’m sorry I didn’t always have a match
That could start a fire big enough for your heart to catch
And I’m sorry if it was my swerve that tempted you to sway
Oh well, sometimes it be that way

And I’m sorry if my heart breaking ruined your day
And I’m sorry if it was my heart breaking that ruined your parade
And I’m sorry if it was my love that rained on your parade
And I’m sorry if my love ruined your day
And I’m sorry if I was just a game you didn’t always want to play
And I’m sorry if it was I that caused you pain
And i’m sorry if I ever caused you pain
And I’m sorry if I ever sang your name in vain

waktu ahan menunggui saya pulang

Semalam pasti adalah salah satu malam yang saya sesali.

Karena harus bertemu orang di Semanggi, lagi-lagi saya terpaksa pulang malam. Dan karena pertemuan ini sudah dijadwalkan sejak beberapa hari lalu, maka saya sudah mengabari Ibu, bahwa saya akan pulang terlambat.

Bodohnya, saya lupa sama sekali mengabari Ahan. Padahal, malam sebelumnya saya sudah menginap di Depok tanpa rencana sebelumnya, dan pagi harinya juga tak sempat bertemu dia.

Makanya saya menyesal sekali waktu saya tiba di rumah pukul 22.00, dan Ibu bercerita bahwa Ahan menunggui saya sepanjang sore. “Iya, dari tadi dia mainan sendiri aja di kamar kamu, sampai sempat ketiduran di lantai. Bangun-bangun nanya ‘Uti Ayu, Tante Retno mana ya? Kok nggak telpon aku ya?’. Kasian deh dia tadi…” jelas Ibu saya panjang lebar.

Semalam pasti adalah salah satu malam yang saya sesali.

Fuh, I’m sorry, angel…