the hospital
Lagi-lagi rumah sakit. Lagi-lagi jas putih berseliweran, tempat tidur yang kelewat keras, selang infus bersilangan seperti spageti. Dan yang paling saya benci adalah bau tempat ini. Bau campuran dari berbagai bau obat, mulai dari anti biotik, sampai bau obat pencuci hama untuk mensterilkan alat-alat. Lagi-lagi saya diingatkan bahwa tubuh ini tak lebih dari sarang kuman yang harus dibasmi.
Sudah ratusan kali saya mencoba untuk kabur dari sini, tapi selalu saja mereka berhasil menangkap saya. Pernah suatu kali, saya mencoba melahap sebotol obat tidur. Kata orang, perut saya sampai ambrol waktu itu. Tapi mereka dengan sabar memompa perut saya. Tak lupa, mereka melubangi tangan kiri saya demi mencari urat vena yang lurus dan tak terlalu tipis.
Pernah juga suatu kali saya melompat dari kamar saya yang ada di lantai tujuh. Kata orang, tubuh saya hancur lebur waktu itu. Kepala saya pecah. Tangan dan kaki saya juga sampai putus. Tapi rumah sakit dengan tekunnya menjahitinya, menyambungnya lagi hingga bisa disebut tangan dan kaki. Tak lupa mereka menambal kepala saya agar isinya yang porak poranda tak lagi berceceran. Dan agar saya tak bertingkah, para perawat juga memasangkan jaket pengekang untuk mengikat kedua tangan saya.
Namun saya tetap gigih untuk kabur. Pada suatu hari, saya menggigiti selang infus sampai putus. Sambil terkekeh-kekeh saya membayangkan kemenangan saya yang pertama. Lalu saya pun lelap, sambil memimpikan wajah-wajah yang panik.
Keesokan harinya saya terbangun di tempat yang sama. Jas-jas putih masih berseliweran, tempat tidur masih saja kelewat keras, dan pemandangannya masih selang infus yang bersilangan seperti spageti. Rupanya, mereka sudah menggantinya dengan botol infus yang baru. Dengan tekunnya, lagi-lagi mereka melubangi tangan kiri saya demi mencari urat vena yang lurus dan tak terlalu tipis.
Lagi-lagi saya salah.
Lagi-lagi saya kalah.