Archive for December, 2006

the hospital

Lagi-lagi rumah sakit. Lagi-lagi jas putih berseliweran, tempat tidur yang kelewat keras, selang infus bersilangan seperti spageti. Dan yang paling saya benci adalah bau tempat ini. Bau campuran dari berbagai bau obat, mulai dari anti biotik, sampai bau obat pencuci hama untuk mensterilkan alat-alat. Lagi-lagi saya diingatkan bahwa tubuh ini tak lebih dari sarang kuman yang harus dibasmi.

Sudah ratusan kali saya mencoba untuk kabur dari sini, tapi selalu saja mereka berhasil menangkap saya. Pernah suatu kali, saya mencoba melahap sebotol obat tidur. Kata orang, perut saya sampai ambrol waktu itu. Tapi mereka dengan sabar memompa perut saya. Tak lupa, mereka melubangi tangan kiri saya demi mencari urat vena yang lurus dan tak terlalu tipis. 

Pernah juga suatu kali saya melompat dari kamar saya yang ada di lantai tujuh. Kata orang, tubuh saya hancur lebur waktu itu. Kepala saya pecah. Tangan dan kaki saya juga sampai putus. Tapi rumah sakit dengan tekunnya menjahitinya, menyambungnya lagi hingga bisa disebut tangan dan kaki. Tak lupa mereka menambal kepala saya agar isinya yang porak poranda tak lagi berceceran. Dan agar saya tak bertingkah, para perawat juga memasangkan jaket pengekang untuk mengikat kedua tangan saya.

Namun saya tetap gigih untuk kabur. Pada suatu hari, saya menggigiti selang infus sampai putus. Sambil terkekeh-kekeh saya membayangkan kemenangan saya yang pertama. Lalu saya pun lelap, sambil memimpikan wajah-wajah yang panik.

Keesokan harinya saya terbangun di tempat yang sama. Jas-jas putih masih berseliweran, tempat tidur masih saja kelewat keras, dan pemandangannya masih selang infus yang bersilangan seperti spageti. Rupanya, mereka sudah menggantinya dengan botol infus yang baru. Dengan tekunnya, lagi-lagi mereka melubangi tangan kiri saya demi mencari urat vena yang lurus dan tak terlalu tipis. 

Lagi-lagi saya salah.
Lagi-lagi saya kalah.

komunikasi lintas propinsi

Teman-teman saya memang punya pola komunikasi yang cukup unik. Tak jarang pola ini juga tetap diteruskan, meski komunikasi terpaksa harus dilakukan lintas propinsi. Misalnya saja, Citra. Pernah suatu malam di Jakarta dia ada jadwal wawancara, tapi dia lupa no hp narasumbernya. Tentu saja, yang dilakukan Citra adalah menelpon Ain di Aceh. "In lagi online gak? Tolong cek-in email gua dong, liatin no hp si-x," ujarnya.

Hal yang sama pernah dilakukan juga saat dia sedang di Yogya dan Malang. Siang-siang dia menelpon saya untuk mengecek emailnya dan mencatat beberapa hal, karena dia tidak sempat buka email.

Terakhir, giliran saya nih. Pada suatu sore, saya ada janji wawancara di Kalibata. Nah, bodohnya saya lupa mencatat alamat kantor tersebut, dan keburu men-delete no kantor itu juga. Berhubung Ain pernah kesana, tentu saja Ain lah yang saya sms. Jadilah Ain menelpon saya dari Aceh untuk menjelaskan rute jalan kantor tersebut. Bodohnya lagi, saya tidak memperhitungkan Ain yang disorientasi arah dan memang hanya tahu arah "kiri" dan "kanan" (yang kemudian diprotes keras oleh Ain via ym: "Sembarangan! Gua tahu "atas-bawah", "serong kiri-serong kanan") untuk petunjuk jalan, telpon darinya juga tidak banyak membantu.
Ain: "Jadi, lo keluar dari stasiun, belok kiri, lurus, nemu taman, belok kanan"
Saya: "In, ada petunjuk yg lebih spesifik nggak? Plang apa gitu, atau mayat di pinggir jalan, atau bungkus indomi rasa kari ayam pedas?"
Ain (mikir bentar): "Gua nggak inget tuh. Kayanya sih nggak."
Saya (menghela napas)
Ain (meneruskan): "Iya, abis dari taman, lo belok kanan, trus belok kiri deh. OH BTW, gua punya no telponnya kok. Lo telpon aja gih"

Hosh.
Begitulah pembaca.

the perfect stranger (2)

Dunia saya yang kecil dan sederhana mulai disesaki oleh orang-orang asing. Dengan lancangnya, tamu-tamu tak diundang ini menerjang masuk tanpa permisi. Mereka memerawani pantai kecil saya, menyelami lautan saya yang terdiri atas tujuh warna, meninggalkan jejak-jejak aroma tubuh mereka disana.

Saat lapar, mereka akan menembaki burung-burung saya. Lalu malamnya, mereka akan begadang. Dengan berisiknya, mereka akan main gitar sambil bernyanyi dengan sumbangnya. Pesta ini akan dilanjutkan dengan mabuk-mabukan dan berguling-guling bercinta gila-gilaan di atas pasir putih saya.

Karena merasa terganggu, saya pun mulai melancarkan aksi protes. Dan untuk menghindari konflik, aksi pun dilancarkan secara sembunyi-sembunyi. Saya minta pada Matahari untuk bersinar ekstra terik. Saya minta pada Hujan dan Angin untuk menabur badai. Saya minta pada Laut untuk menenggelamkan orang-orang yang tanpa izin menyelaminya.

Rencana saya sukses. Satu-per satu orang-orang asing ini mulai tumbang. Mereka yang bertahan mulai mengepak koper bersiap pergi. "Alam disini tak bersahabat pada kami," begitu alasan yang saya dengar dari kabar Angin.

Sesaat, keadaan pun mendamai. Matahari mulai bersinar cerah. Dengan tolerannya, ia bersembunyi di balik awan agar saya tidak kepanasan. Angin mulai bertiup semilir, mengantarkan sejumlah kabar dan cerita pada saya. Dan di sore hari, Hujan turun rintik menyapa saya. Dunia saya yang kecil dan sederhana kembali berputar seperti biasa.

Namun saya terlalu cepat gembira dan merasa lega. Pada suatu sore yang sejuk sepulang dari bercengkerama dengan albatros di tepi pantai, saya melihat pekarangan rumah saya dipenuhi segerombol orang asing dengan tatapan garang. Dari sana saya tahu, rupanya aksi protes saya sampai juga ke kuping mereka.

Lalu mereka mulai bicara. Tentang pentingnya hidupnya bertoleransi. Tentang nikmatnya berbagi keindahan. Tentang sulitnya hidup soliter. Tentang persaudaraan antar sesama manusia. Tentang mimpi-mimpi dan harapan akan rencana masa depan yang dirancang bersama. Tentang omong kosong.

Kata demi kata dimuntahkan dari mulut mereka, meluncur dengan derasnya. Pelan-pelan, saya mulai tenggelam dalam banjir kata-kata. Sambil megap-megap kehabisan napas, saya masih sempat melihat mata mereka yang terpicing licik. Saya tahu saya mulai tersudut. Dan mereka tahu kalau saya tahu.

Maka dengan beringasnya, mereka menyerang saya dengan membabi-buta. Seperti singa lapar, mereka mulai memakan saya. Mereka mencongkeli kedua biji mata saya, makan jantung saya, makan hati saya. Tak cukup, mereka menghisap habis darah saya, dan mengupasi batok kepala saya untuk menyedot isi kepala saya. Sementara saya cuma bisa menggelepar-gelepar dalam lautan kata-kata.

Keesokan harinya, orang-orang asing ini membabati hutan saya. Pagi yang damai menjadi bising, saat mereka bersama-sama mematok pasak-pasak kayu dan pondasi untuk bangunan rumah. Satu bangunan rumah besar yang permanen, untuk tempat bernaung mereka di dalam dunia saya. Selamanya.

Dan saya tahu saya sudah kalah. Kalah telak.

being gregor samsa

Pasti ada masanya saat seseorang merasa menjadi seperti Gregor Samsa. Bangun pagi-pagi, berkejaran dengan bus kota demi tidak terlambat dan patuh pada aturan masuk kerja jam 08.00, tumpukan kertas di atas meja, pasang topeng senyum pada wajah sepanjang siang, istirahat makan siang 1 jam, kembali mengurusi tumpukan kertas di atas meja, pulang jam 17.00, berdesakan dalam bus kota yang pengap, kena macet 2 jam di jalan. Dan tiba di rumah dengan kelelahan.

Seperti yang di tulis Franz Kafka (dan diadaptasi dengan apiknya menjadi komik oleh Peter Kuper di http://www.randomhouse.com/crown/metamorphosis/ ) dalam The Metamorphosis tentang Gregor Samsa, seorang sales travel. "Day after day, it’s the same story. All the pressure of travel, worrying about train connections, eating miserable food on the road, a parade of new faces with no lasting relationship or greater intimacy.."

Semua ini ditelan bulat-bulat dengan berbagai alasan. Dan salah satu yang paling menyedihkan adalah tidak ada pilihan pekerjaan lainnya. Padahal ada sejumlah mulut yang harus diberi makan, ada orang tua yang harus menjalani pengobatan jangka panjang, ada rencana masa depan yang sedang dirancang. Ada kepentingan banyak orang dilibatkan.

Dan kita mulai mencari banyak pembenaran sekedar untuk menyamankan kognisi. "Justru dengan begini, kita bisa belajar banyak","Anggap aja latihan untuk sabar, orang sabar disayang Tuhan","Si Bos nggak segitunya kok, kadang-kadang dia bisa becanda","Justru dengan begini kita latihan untuk memahami orang lain, latihan untuk mengalah", dan lain-lain. Alasan apapun untuk pegangan bertahan setidaknya sampai matahari terbenam. Dan esoknya, dengan rutinitas yang sama, dengan siklus yang sama, dengan pola yang sama, kita akan kembali meneguhkan pembenaran yang sama. Lagi dan lagi.

Cuilan-cuilan mimpi dan harapan seperti "Ah, ini cuma batu loncatan","Sambil nunggu lamaran di tempat lain","Gajinya lumayan","Toh kalau ada yang baru saya pasti keluar" pun mulai terlupakan. Sementara waktu terus menguap ke udara. Bertahun-tahun kemudian, kita akan lupa pada hari ini, pada rutinitas yang harus dijalani, pada kegelisahan akan jiwa-jiwa kosong yang hampa.

Bertahun-tahun kemudian, kita akan tetap bangun pagi-pagi, berkejaran dengan bus kota demi tidak terlambat dan patuh pada aturan masuk kerja jam 08.00, tumpukan kertas di atas meja, pasang topeng senyum pada wajah sepanjang siang, istirahat makan siang 1 jam, kembali mengurusi tumpukan kertas di atas meja, pulang jam 17.00, berdesakan dalam bus kota yang pengap, kena macet 2 jam di jalan, hanya demi tiba di rumah dengan kelelahan.

Dan pada suatu titik, tanpa kita sadari, kita juga telah bermetamorfosis menjadi seekor serangga raksasa.
Persis seperti Gregor Samsa.

 

morning song

Hakuna Matata!
What a wonderful phrase
Hakuna Matata!
Ain’t no passing craze

It means no worries
For the rest of your days
It’s our problem-free philosophy
Hakuna Matata!

Why, when he was a young warthog…
When I was a young wart hoooog!
Very nice.
Thanks!
He found his aroma lacked a certain appeal
He could clear the savannah after every meal
I’m a sensitive soul, though I seem thick-skinned
And it hurt that my friends never stood downwind
And oh, the shame
(He was ashamed!)
Thoughta changin’ my name
(Oh, what’s in a name?)
And I got downhearted
(How did you feel?)
Ev’rytime that I…
Pumbaa! Not in front of the kids!
Oh… sorry.

Hakuna Matata!
What a wonderful phrase
Hakuna Matata!
Ain’t no passing craze
It means no worries
For the rest of your days
Yeah, sing it, kid!
It’s our problem-free
philosophy…
Hakuna Matata!