the secret garden
Ada satu taman yang selalu menjadi tempat favorit saya untuk bermain-main. Disana, ditemani semilir angin yang sejuk, saya dan para penghuni taman itu akan berlomba menendangi gundukan dedaunan kering. Dan tertawa terbahak-bahak, saat seluruh halamannya berserakan daun-daun kering coklat, tanpa satu pun juga pemenang. Atau, kami akan berseru riang, saat tetes pertama turun. Dibawahnya yang menderas, kami akan main hujan-hujanan. Saling menciprati dan berteriak kegirangan. Tidak pernah ada permainan yang cukup tolol.Tidak pernah ada permainan yang membuat si kalah tergugu di pojok sendirian. Di taman itu, semua permainan ditujukan untuk sekedar bersenang-senang.
Ada satu taman yang selalu menjadi tempat favorit saya untuk bersembunyi, saat baru melakukan kesalahan atau sekedar melewati satu hari buruk lainnya. Disana, ditemani keheningan yang mendamaikan, saya akan diizinkan untuk berteriak, menangis, ataupun hanya diam dan mulai bersikap menyulitkan. Sementara para penghuninya akan duduk diam-diam dengan sabar. Sesekali jemari halus mereka mengelusi kepala saya, sambil bersenandung lirih menenangkan. “Tidak apa-apa, tidak apa-apa, kami mengerti..”
Ada satu taman yang selalu menjadi tempat berlindung saat saya tersesat. Oleh para penghuninya, saya lalu diajari untuk merapal mantera pemanggil “Taman ajaib, taman ajaib, datang ya, datang ya.” Dan seburuk apapun cuacanya, segelap apapun malamnya, pintu taman ajaib itu akan segera muncul di hadapan saya. Bahkan saat saya kehilangan kunci, pintu itu akan terbuka dengan sendirinya, lalu para penghuninya akan bersorak menyambut saya dengan riang gembira. “Selamat datang!” sapa mereka dengan riang.
Dan saya tahu, saya akan selalu ditemukan.
