bu mar
Setiap kali bertemu Bu Mar, pasti saya merasa tak enak hati. Hampir di setiap pertemuan, Bu Mar selalu memberikan sebotol lulur gratis dan dua bungkus sarapan pada saya. Dengan cekatan, ia juga selalu membersihkan rumah setiap kali saya dan Citra habis luluran. Pernah suatu kali, ia bahkan mengajak putrinya, Ella, untuk membantu membersihkan rumah. Dan saya benar-benar tak enak hati saat Ella bertanya "Mbak, maaf ya, kamar mandinya boleh Ella sikatin ya?" Apalagi, saat Ella kemudian berinisiatif untuk mencuci piring dan menyeterika baju. Makin lengkaplah ketidakenakan hati saya, yang sejak awal hanya minta pijat lulur pada Bu Mar. Duh.
Biasanya kalau sudah tak enak begitu, Bu Mar akan berujar "Nggak papa Mbak, buat olah raga saya dan Ella. Ella tuh memang rajin. Kalau lagi nyapu jalan, sampai ujung tetangga ikut disapu juga.." Kemudian saya dan Citra akan bertatapan, lalu berseru "Waa..kamu rajin amaatt!!Beda banget deh ma kita!"
Waktu naik becak, dan ternyata si abang becak tak tahu alamat (padahal sedari awal si abang bilang tahu), juga Bu Mar tetap sabar. Meski sampai harus berputar-putar dan bertanya pada beberapa orang, Bu Mar tetap membayarnya dengan penuh. Dia juga masih sempat bilang "Ya udahlah, nggak papa, rejekinya dia."
Tak hanya baik hati, Bu Mar juga tegar. Meski suaminya telah meninggal, dan menderita berbagai penyakit, ia selalu pasrah. Permintaannya juga sederhana saja. "Saya cuma minta waktu, supaya masih sempat sama anak-anak," ujar Bu Mar yang rajin bertahajud tiap malam.
Fuh, ternyata malaikat itu memang bisa menyamar dalam berbagai rupa ya..
Beruntungnya saya yang masih sempat bertemu sebagian dari mereka..