my childhood friends

Mata, Telinga, dan Kepala selalu menjadi teman bermain saya sejak kecil. Tiga bersaudara ini tinggal sendiri di sebuah rumah di pinggiran kota. Mata adalah seorang penyendiri yang sangat sensitif. Saat kami sedang menjenguk teman yang sakit di rumah sakit misalnya, Mata lah yang menghibur pasien nenek-nenek kesepian di bangsal sebelah. Pelan-pelan, ia mengelusi rambut putih si nenek, lalu mengecup lembut dahinya. “Cepat sembuh ya Nek,” bisik Mata lembut.

Sementara Telinga bisa dibilang cukup populer. Setiap kali berjalan-jalan dengan Telinga, pasti adaa saja orang yang menyapa ramah. “Hey Telinga, kemana aja? Kangen nih pingin cerita-cerita!,” begitu selalu ujar mereka. Ini karena, Telinga adalah seorang teman yang sangat menyenangkan. Ia betah mendengarkan cerita dan kisah orang-orang. Dengan sabarnya, ia akan duduk diam-diam di kursi mendengarkan lawan bicaranya berceloteh selama berjam-jam. Saya pernah tanya sama Telinga, “Kok kamu tahan sih? Padahal orang-orang itu kan jarang gantian mendengarkan kamu.” Sambil tersenyum, Telinga menjawab “Saya nggak keberatan kok. Kalau dengan didengar saja sudah bikin mereka seneng, saya-nya juga seneng. Kasian, mereka itu orang-orang yang kesepian..”

Dan yang terpintar adalah si sulung, Kepala. Ia sering mengajak saya berdiskusi tentang banyak hal. Tidak selalu berdiskusi sih, karena Kepala sangat senang bicara. Satu faktor yang membuat saya agak segan untuk berteman dengan Kepala. Sering kali ia membangunkan saya di tengah malam buta hanya untuk mendengarkannya bercerita tentang temuan terbarunya. Sambil bersemangat ia akan menjelaskan tentang teori atau temuan terbarunya, sementara saya mendengarkan sambil terkantuk-kantuk.

Tapi Kepala jugalah yang selalu punya ide permainan yang seru bagi kami semua. Salah satu permainan favoritnya adalah “Berburu Puzzle.” Kepala yakin sekali bahwa di dunia ini tersebar puzzle-puzzle rahasia. Dan keping-keping puzzle ini dengan ajaibnya tersimpan dalam diri setiap orang. Karena itu, Kepala minta pada saya, Mata, dan Telinga untuk berburu puzzle. Caranya mudah saja. Karena Mata senang mengamati orang, maka ia berburu puzzle gambar, dan karena Telinga ahli mendengarkan orang, ia pun berburu puzzle suara. Saya sendiri– karena tak punya keahlian apapun yang bisa dibanggakan– hanya bertugas menemani Mata dan Telinga, dan membawakan kantung-kantung puzzle mereka.

Awalnya permainan ini memang mengasyikkan. Ini karena, puzzle-puzzle gambar bentuknya lucu-lucu. Ada yang kotak, bundar, segitiga, simetris, asimetris, bergelombang. Begitu juga dengan puzzle suara. Dengan rajinnya, Telinga juga mengumpulkan decak kagum, desis marah, tawa riang, isak tangis, dan berbagai puzzle suara lainnya. Beberapa pekan pertama, Mata dan Telinga bahkan sampai berlomba siapa yang mendapatkan keping puzzle terlucu hari ini. Setelah puas mengagumi temuan kami, kantung-kantung puzzle itu akan diserahkan pada Kepala untuk dianalisa. Kepala lah yang akan berkutat semalaman menggabungkan semua puzzle itu. Sering ia tak tidur berhari-hari karenanya.

Namun, lambat laun Kepala mulai bersikap mengesalkan. Meski sudah berhasil menyusun banyak puzzle yang dipajangnya di ruang kerja, Kepala tetap tak kunjung puas. Ia mulai bersikap bossy, cerewet, sering membentak-bentak tanpa alasan yang jelas, dan menuntut banyak hal. Kantung-kantung puzzle digantinya dengan karung. Setiap hari, Mata dan Telinga harus memenuhi karung-karung itu sampai luber. Karena karung-karung itu sangat besar, Mata dan Telinga harus berangkat sejak dini hari, saat ayam pertama mulai berkokok. Lalu setiap sore, Mata, Telinga, dan saya kelelahan menyeret karung-karung penuh itu pulang ke rumah. Kami tak sempat lagi mengagumi kepingan puzzle yang cantik. Kami bahkan tak sempat lagi mengobrol satu sama lain. Mata yang bertubuh lemah sering jatuh sakit karenanya.

Di tengah-tengah situasi ini, ayah saya dipindah tugaskan ke luar kota. Saya ingat, Mata dan Telinga bahkan tak sempat mengantar kepergian saya di stasiun kereta. Pagi harinya, kami cuma sempat berpelukan sejenak, karena saya harus bersiap-siap dan mereka juga harus mulai bekerja. Perpisahan singkat yang diwarnai air mata, karena saya sedih harus meninggalkan mereka bersama Kepala.

Dari kabar angin yang saya dengar, Mata, Telinga, dan Kepala makin tak akur saja. Seorang tetangga mengaku pernah melihat mereka bertengkar hebat. Mata yang biasanya diam bahkan sampai berteriak-teriak emosi dan membanting pintu. Kemudian selama beberapa hari, tiga bersaudara itu tak menampakkan ujung hidungnya. Hanya seminggu kemudian, ada papan kayu bertuliskan “Rumah Dijual” di depan rumah mereka. Dan teman-teman masa kecil saya lenyap begitu saja.

Kini, rumah itu telah dihuni oleh sebuah keluarga kecil yang memelihara seekor anjing putih di halaman. Pagi ini saya sempat mampir dan melihat-lihat. Mencoba mengenang semua kejadian yang telah saya lewati bersama Mata, Telinga, dan Kepala. Permainan yang biasa kami lakukan, lelucon yang biasa kami lontarkan, dan saat kami kemudian tertawa bersama. Saya sedang duduk-duduk di ayunan tempat kami biasa bermain bersama, saat ponsel saya berdering. Layar ponsel berkedip-kedip menampilkan sebuah nomor yang tak terdaftar didalamnya.

Saya belum sempat menjawab “Halo” ketika terdengar suara yang telah lama hilang dari ingatan saya. Suara Kepala. “Nanti malam datang ke taman biasa. Saya punya puzzle baru,” ujar Kepala. Singkat dan dingin, ciri khas Kepala.

Hhh..ternyata permainan itu belum juga usai…



Leave a Comment