Archive for February, 2007

silly conversation

Saya: (sedang bercerita dengan serunya, waktu Ain menatap saya)
Saya: ‘Kenapa In?”
Ain: “Gapapa”
Saya: “KENAPA??”
Ain: “GAPAPA!”
Saya: “Gapapa In?”
Ain: “APA!”

Kesulitan berkomunikasi memang bisa terjadi kapan saja. Ck.

menjadi

menjadi Matahari itu melelahkan,
karena ia harus bersinar untuk semua orang
menjadi Tanah itu menyakitkan,
karena ia harus merelakan tubuhnya diinjak-injak demi banyak kehidupan
menjadi Hujan itu sulit,
karena meski ia sering dirindukan, ia juga kerap dijadikan kambing hitam
menjadi Pelangi bisa terlupakan,
karena ia jarang hadir
menjadi Angin membuatmu kesepian,
karena ia terbang sendirian
Namun bagaimanapun,
menjadi Badai jelas adalah suatu kesalahan
karena ia melukai banyak orang

kesandung

Ada lagi nih orang-orang aneh yang saya temui. Dulu, waktu rumah Citra masih di Cisalak, saya sering main ke sana, dan pulang malam (Citra: yeah, kaya sekarang nggak aja gitu No? Dasar SIPUT!!!). Anyway, malam itu sekitar jam 22.00, saya nyebrang jalan. Karena udah malem, udah capek, dan tas juga lagi berat, maka tersandunglah saya. Dengan posisi mencium aspal. Literally.

Kontan, orang-orang langsung merubungi saya. Apalagi setelah lengan kemeja putih saya berembesan darah karena digunakan untuk mengusap bibir saya yang ternyata luka. “Ya ampuuun, Mbaaak, yuk..ke rumah sakit aja yuk..saya anterin…,” ujar seorang ibu-ibu yang tampak khawatir. Karena hari sudah kelewat malam, terpaksa saya tolak. Toh, lukanya nggak besar. Cuma tergores, pikir saya.

Sesampainya di Pasar Rebo, naiklah saya ke dalam P6 jurusan Grogol. Bodohnya, saya lupa, kalau saat itu, lengan kemeja putih saya berlumuran darah. Tak heran, bila kemudian ibu-ibu di samping saya mendadak memegang tangan saya dan menasehati “Mbak, yang sabar ya ngadepin hidup..”
Saya (bengong):”He?”
Ibu-ibu:”Yah, hidup ini memang berat…tapi kan nggak perlu sampai mau bunuh diri gitu…bunuh diri kan dibenci Tuhan..”
Saya (mulai paham): “Bu, saya nggak apa-apa kok. Ini tadi saya jatuh..”
Ibu-ibu (tersenyum bijak):”Udahlah mbak, saya ngerti kok..banyak-banyak berdoa ya..”
Hosh.

Setibanya di gang dekat rumah, saya baru ingat bahwa dari pagi saya belum cek email. Nah, saya ke warnet dong. Lagi-lagi saya lupa, bahwa selain kemeja saya yang berlumuran darah, muka saya juga sudah kelewat kucel, dan lingkaran di bawah mata yang menghitam.
Penjaga warnet: “Udahlah mbak, putusin aja cowo kaya gitu..”
Saya (bengong): “He??” (lagi)
Penjaga warnet: “Iyah, cowok kalo suka mukulin pacarnya sendiri itu cowok nggak bener. Udah putusin aja..”
Saya (mencoba menjelaskan): “Oh, ini bukan karena pacar saya. Ini tadi saya jatuh di jalan, Mas..”
Penjaga warnet (menatap prihatin): “Duh mbak, pacar kaya gitu kok dibelain sih???Pake boong alasan jatuh segala lagi…”
Penjaga warnet: “Udahlah mbak, masih banyak cowok baik kok….misalnya saya..”

Lho????????

iris

One of my favourite song… It’s just….beautiful….

IRIS LYRICS: GOOGOO DOLLS

And I’d give up forever to touch you
Cause I know that you feel me somehow
You’re the closest to heaven that I’ll ever be
And I don’t want to go home right now

And all I can taste is this moment
And all I can breathe is your life
Cause sooner or later it’s over
I just don’t want to miss you tonight

And I don’t want the world to see me
Cause I don’t think that they’d understand
When everything’s made to be broken
I just want you to know who I am

And you can’t fight the tears that ain’t coming
Or the moment of truth in your lies
When everything seems like the movies
Yeah you bleed just to know your alive

And I don’t want the world to see me
Cause I don’t think that they’d understand
When everything’s made to be broken
I just want you to know who I am

I just want you to know who I am
I just want you to know who I am
I just want you to know who I am

selamat makan!

Salah satu waktu favorit saya adalah waktu makan. Sayangnya, selaluuu saja ada orang-orang yang tidak rela membiarkan saya bersenang-senang. Ck.

Pagi hari jam 08.30 di kantor, menu: sarapan mi instan
Saya (menyeruput mi): “Pagi Mbak Nita!”
Mbak Nita: “Pagi No! Ronde berapa tuh sarapan??”

Menjelang siang jam 10.30, menu: gorengan
Saya (mengunyah gorengan): “Mbak, analisis masalahnya udah kelar ya”
Mbak Nita: “Sip! Sarapan kamu nggak kelar-kelar ya No??”

Siang hari jam 12.00, menu: makan siang nasi warteg
Saya (menyuap nasi dengan lahap): “Waaaa…cuminya enaaakk..”
Mbak Nita: “No, serius nih. Selain ke dokter cacing, udah cek ke dokter naga belum??”

Menjelang sore jam 15.00, menu: roti tawar berlapis selai kacang dan strawberry
Saya (sambil menyeduh teh): “Mbak Nitaaa, tea time niiii…ngeteh yuuuk…”
Mbak Nita (pura-pura tidak mendengar)

Sore hari jam 16.00
Saya: “Mbak Nitaaaaa….tukang somay udah lewat belum yaaaaaa?”
Mbak Nita (sengaja menaikkan suara beberapa desibel): “No, aku sih cuma pingin tahu aja ya, KAMU NGGAK MALU YA NANYA GITU????”

Malam hari, jam 19.00, menu: makan malam mi ayam es teler 77 dengan Citra (maksudnya, saya makan bersama Citra, bukannya saya makan Citra, fyi)
Citra: “Gua suka banget deh makan ayam balado pake nasi. Gua bisa nggak kenyang-kenyang tuh makan ayam balado, pasti nambah mulu.”
Saya (ngakak): “Halah. Lo selalu bilang gitu, kemaren juga lo bilang “Gua bisa nggak kenyang-kenyang tuh makan sushi”. Alesaaaan aja lo!”
Citra (melirik sebel): “Gua mah masih mending ada objeknya. DARIPADA LO! ‘Gua bisa nggak kenyang-kenyang makan, TITIK!’, ”

Ck.

don juan jr.

Anak-anak pasti terlahir menjadi perayu ulung. Beberapa hari yang lalu, saya demam. Dan tiba-tiba, 3 orang malaikat kecil menjenguk ke kamar saya. “Tante Retnooo!!!! Sakit ya? Cepet sembuh yaaa…,” ujar Ahan. “Tante Letnooo….aku sayang-sayang yaaaa…” ujar Dafa. Dan “Ae..eno….ait..yaa,” ujar Ammar.

Bahagia dengan sambutan itu, saya pun mengecupi pipi gembil mereka satu per satu. Saat giliran Dafa, bocah 5 tahun ini tiba-tiba menatap saya dengan mata lirikan menggoda, lalu.. “Aku mau Oleo yaaa..” ujarnya cepat sambil mencium pipi saya duluan.

Ealaaahh…untung lucu ya mereka..

menjadi orang tua

Sekitar 4 tahun yang lalu, seorang teman saya melontarkan pernyataan yang terus terngiang-ngiang di kepala saya. "Gua takut deh, kalo nanti gua jadi kaya ibunya Sybil," ujar teman saya, yang juga mahasiswi psikologi sebuah universitas swasta di Jakarta.

Sybil adalah seorang gadis yang mengalami MPD, dimana kepribadiannya terpecah menjadi 16 kepribadian. Kisah lengkapnya sendiri telah dibukukan dengan penulis Floretta Rheita Scheiber (yang sayangnya, tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara baik, ck).Dalam buku ini, dituliskan bahwa ibu Sybil kerap menyiksa Sybil kecil. Mulai dari mengikat Sybil kecil ke kaki piano sementara si ibu memencet-mencet tuts piano dengan ganas, memaksa Sybil kecil untuk menonton kedua orang tuanya   berhubungan seks, sampai memasukkan benda-benda tajam ke dalam vagina Sybil–satu faktor yang membuat Sybil tak bisa punya anak di kemudian hari.

Di luar semua kegilaan akut ini, ternyata ada masa dimana ibu Sybil bersikap begitu lembut dan pemurah. Saat Sybil kecil emoh menghabiskan sarapan oatmealnya, dengan cerdik si ibu menyelipkan "hadiah kecil" seperti strawberry di dasar mangkuk oatmeal, dan menyemangati Sybil untuk "berburu hadiahnya."

Sybil tidak sendirian. Ada setumpuk kisah lain, seperti Billy Milligan misalnya. Pria yang kepribadiannya terpecah menjadi 24 kepribadian ini juga memiliki masa kecil yang cukup abusif oleh ayah tirinya, Chalmer. Tak hanya menyodomi Billy sejak kecil, Chalmer juga kerap melakukan hal-hal mengerikan. Misalnya, membakar hidup-hidup kelinci milik Billy di depan mata Billy kecil. Atau, mengubur hidup-hidup Billy di dalam tanah, dengan menyisakan satu buah pipa panjang untuk bernapas, yang kemudian digunakan Chalmer untuk kencing. Dan sintingnya, ini semua dilakukan for the sake of having fun. Fuh, bertambah panjanglah daftar alasan saya ngeri menjadi orang tua.

"Come on, No, kamu cukup waras untuk nggak melakukan hal-hal seperti itu ke anak-anak kamu nanti," hibur seorang teman lain saat saya mengungkapkan kekhawatiran saya. Mendengar penghiburannya, saya cuma bisa tersenyum dan mengucap terima kasih.

Tapi toh saya tetap tak merasa lega.  Ini karena, buat saya anak adalah suatu proyek raksasa dimana seluruh persiapannya harus dirancang secara matang, mendetil, dan sesempurna mungkin.  Seorang penyair pernah mengibaratkan anak bagaikan selembar kertas putih bersih yang siap ditulisi. Dan saya ingin dalam kertas putih itu tersaji tulisan-tulisan terindah, dimana tulisan dibuka dengan lead yang menarik, memiliki kontinuiti dan alur yang enak, ditutup dengan ending yang pas, tanpa ada satupun juga salah eja ataupun salah ketik. Sesempurna mungkin.

Tentu saja, analogi saya tidak sepenuhnya tepat. Saat menulis, kita akan selalu punya tombol "Delete" dan "Backspace" untuk menghapus kata, kalimat, atau paragraf yang salah. Kita bahkan punya opsi "Undo" untuk kembali ke titik awal. Tapi tidak demikian halnya dengan anak. Kesalahan kecil pada ucapan, penjelasan, mimik, atau intonasi, bisa menggores luka yang berbekas seumur hidup dan kemudian membentuknya menjadi produk pribadi dengan perkembangan jiwa yang cacat. Seperti sebuah puisi yang saya baca dalam Mother Goose. "Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia akan belajar untuk memaki/ Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia akan belajar berkelahi/ Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar merasa rendah diri/ Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar untuk menyesali diri."

Saya sudah kelewat sering melihat para orang tua seperti ini. Para orang tua yang saya pikir belum waktunya untuk menjadi orang tua. Mulai dari marah-marah saat si kecil sedang rewel dan ingin dimanja, melempari si kecil dengan sepatu saat ia merengek-rengek ingin ikut orang tuanya pergi, mengurung si kecil di kamar gelap untuk kesalahan yang kelewat sepele, membentak, menghardik , dan menyuruh si kecil diam saat sedang bad mood. Dan saat si kecil mempertanyakan itu semua, karena tak punya jawaban yang lebih baik, keluarlah alasan termudah: "Karena saya orang tua kamu, makanya kamu mesti turut semua omongan saya." Ck.

Padahal, anak bukanlah properti. Mereka bukan barang yang di cap dengan nama belakang yang sama. Karena itu–meski bukan penggemar Kahlil Gibran– saya toh cukup setuju dengan salah satu puisinya yang berjudul "Anakmu bukan Anakmu." Makanya untuk menyambut para makhluk luar biasa ini, saya pikir perlu persiapan maha riweuh. Tak cukup dengan hanya sekedar "suka anak-anak." Butuh wawasan yang luas, bijaksana dalam mengambil keputusan, kematangan emosi, dan cinta yang besar untuk menjadi orang tua. Dan karena proses pendewasaan diri ini berlangsung seumur hidup, saya yakin semua orang–termasuk juga yang sudah menjadi orang tua– sedang menjalani proses yang sama dengan level yang berbeda-beda. Tak terkecuali saya, yang hingga kini mungkin masih berada di titik nol.

Karena itu, ucapan teman saya kemarin terasa begitu mengusik kepala saya. "Gua takut, gua akan jadi ibu yang buruk buat anak-anak gua," ujarnya sedih. Dan kekhawatiran itulah, yang juga menghantui pikiran saya selama bertahun-tahun lamanya.

so simple, by stacie orrico


(It could all be so simple, simple)

Don’t need high heels
For a good feel
You can keep the fancy clothes
I’ll take walkin in the rain
Over things material
I’ll trade Melrose and the big names
Give me faces that I know
Just play a melody that everybody knows

Take it down, down, down
And strip it to the core
I don’t really need much less is more, more, more

True to life, true to me
The way it’s got to be
So simple, so simple, so simple
Live to love, love to be
Absolutely free
(so simple, so simple, simple)

Give me wisdom, plain and truthful
Teach me somethin I don’t know
Plain as education, inspiration I suppose (yeah yeah)
Give me family, on a Sunday
And I’ll be just fine
There’s nothing in the world
That’s worth more of my time

Take it down, down, down
And strip it to the core
I don’t really need much less is more, more, more

Livin my dream, is my song to the world
(let ‘em hear it)
Sharin’ my soul and spirit
I’m hopin that you hear it
Got one (one) life (life) to live (live)
It’s only what you make it (make it)
Every new day’s a chance worth takin

banjir

Ada-ada saja kejadian saat banjir. Kemarin Jumat, misalnya, karena daerah rumah terkepung banjir, maka saya bolos ngantor. Ternyata, salah satu stasiun televisi swasta menayangkan kompleks kantor saya yang kebanjiran. Saya pun meng-sms salah satu teman kantor.
Saya: "Mas Eko, kantor kebanjiran nggak?"
Mas Eko:"Nggak say, udah gua jampi-jampi soalnya. Ini kita lagi NGEPAK BARANG KE ACEH" (???)
Saya: "Soalnya, tadi aku liat Jl Cakrawijaya 7 banjir sedada, dan berhubung kantor kita ada di Jl Cakrawijaya 2, kayanya sih mas, banjirnya tinggal 5 blok lagi sih mas."
                                                        ******

Harga barang naik, pulsa abis, ATM offline, bank tutup. Dalam kondisi ini, Citra menelpon saya.
Citra: "Eh ati-ati ya, ntar malem Bogor mo ngirim banjir lagi"
Saya: "ONS(One Nite Service) ya, kalah deh Fedex. Nah Cit, GIMANA KALO lo ngebantu gua dgn masukin uang tunai ke dalem botol, trus dihanyutin ke Jakarta?"
Citra (menghela napas): "Klik"
Saya: "Halo??Halo??Halo Citra???Jangan tutup telponnya Citra!!!!Halo???WOYYYY!!!"

Ealaaahhhh…..