Archive for March, 2007

..and learn to say “i love you”

Beberapa waktu lalu, Citra pernah bercerita pada saya tentang betapa hangat dan harmonisnya keluarga temannya, Ninin. Pernah pada suatu ketika, Citra semobil dengan keluarga Ninin. Bersama-sama, mereka mencari alamat rumah teman Ririn, adik Ninin. Yang mana, Ririn lupa sama sekali letak rumah temannya itu. "Dan gua bingung gitu, waktu bokapnya Ririn nggak marah-marah sama sekali. Dia cuma ngebecandain dan ngeledekin Ririn yang pelupa," ujar Citra heran.

Jujur, kami sungguhan heran. Karena, situasi demikian tak akan pernah terjadi pada kami. Well, sebelumnya, keluarga kami memang bukanlah keluarga yang ideal. Saat situasi itu terjadi pada saya misalnya, Bapak bisa menurunkan saya di tengah jalan begitu saja. Karena bagi Bapak, waktu setiap orang sangatlah berharga dan bahwa kita harus punya persiapan yang cukup dalam berbagai hal. Termasuk hal sesederhana mencari alamat orang. Dan masih ada banyak hal lagi yang diajarkan Bapak pada saya.

Bapak mengajari saya untuk menyelesaikan masalah saya sendiri. Pernah suatu ketika, saya pulang kemalaman dari kampus dan kehabisan ongkos. Uang yang tersisa tinggalah Rp 300 untuk menelpon satu kali di wartel stasiun KRL Sawah Besar. Dengan harapan akan langsung dijemput oleh Bapak, maka saya pun menelpon ke rumah. Sayang, permintaan saya ditolak Bapak karena beliau sedang menonton televisi. "Kan situ yang salah kehabisan ongkos, jadi ya selesaikan sendiri," ujar beliau malam itu sambil menutup telpon. Sempat terpikir untuk naik ojek atau taksi dan bayar di rumah, tapi lagi-lagi yang terpikir hanyalah bahwa itu akan merepotkan orang rumah karena saya terpaksa harus pinjam uang mereka. Maka yang saya lakukan adalah berjalan kaki sampai kali Cideng, dan meminjam uang Rp 5.000 di warung rokok. Setibanya di rumah, Bapak cuma menjawab ringan "Tuh, bisa kan? Makanya besok-besok coba selesaikan sendiri dulu, jangan keburu minta tolong sama orang. Saya bangga situ bisa selesaikan masalah sendiri," ujarnya sambil matanya terus menonton televisi.

Bapak mengajari saya untuk tepat waktu. Pernah suatu ketika, saya terlambat naik KRL tujuan Depok dari stasiun Tanah Abang. Karena setiap hari Bapak mengantarkan saya ke stasiun Tanah Abang, di perjalanan beliau bertanya "Memang jadwal KRL lainnya jam berapa?". Karena saya hanya tahu jadwal KRL tujuan Depok/ Bogor yang jam 06.20 dan 06.50, maka hanya jawaban itulah yang saya punya. Dan ketimbang mengantarkan saya ke stasiun KRL Gondangdia untuk mengejar KRL berikutnya, yang dilakukan Bapak adalah menurunkan saya di stasiun Tanah Abang. Di tengah kerumunan penumpang yang memandangi kami dengan penuh rasa ingin tahu, beliau menyuruh saya mencatat jadwal KRL tujuan Depok/ Bogor selama sehari. Setelah saya usai mencatat semuanya, barulah beliau mengantarkan saya ke stasiun Gondangdia. "Nah makanya situ harus tahu jadwal kereta, supaya kalau terlambat situ tahu mau ke mana," ujar beliau.

Bapak mengajari saya untuk berhemat. Setiap kali tagihan telepon kami naik, ada saja ide Bapak untuk menurunkannya. Mulai dari menggembok telepon, menutupnya dengan boks khusus yang permukaanya ditutupi kertas, sampai memutus paksa kabel telepon saat saya sedang menelpon. Bahkan saat saya sudah cukup dewasa untuk membayar tagihan telepon rumah kami setiap bulan, tetap kerap ada kejadian percakapan saya dengan teman di telpon tiba-tiba terputus, karena Bapak memutus kabel telpon yang kebetulan tersambung dari kamarnya.

Bapak mengajari saya untuk selalu menyimpan rapi barang-barang saya. Saya lupa sejak kapan, setiap surat yang ditujukan untuk saya selalu berada di atas meja rias dalam keadaan terbuka. Bahkan saat surat itu hanya berupa buletin agenda acara CCF ataupun sepucuk kartu Lebaran. Pernah juga saat pulang, saya memergoki Bapak sedang menggeledah isi kamar ke dua abang saya, Hadi dan Wira. Melihat pemandangan itu, bukan tak mungkin bahwa Bapak juga melakukan hal yang sama pada isi kamar saya. Dan benarlah dugaan saya. Saat saya ketinggalan kunci dan terpaksa kembali ke rumah, saya melihat Bapak sedang tekun mengoprek-oprek lemari buku saya.

Bapak mengajari saya untuk teliti. Saat saya baru lulus sidang TKA dengan nilai A- dan membawa hasil TKA saya yang sudah dijilid ke rumah, hal pertama yang dikomentari Bapak adalah kesalahan ejaan tulisan saya di bab "Thanks to."

Bapak mengajari saya caranya berargumen. Beliau tahu, tak perlu teriakan atau hukuman fisik untuk membuat saya mengakui kesalahan saya. Beliau tahu persis, hanya butuh logika, pilihan kata yang tepat, dan intonasi yang tepat untuk memainkan emosi lawan dan memenangi suatu argumentasi. Dan beliau selalu tahu persis cara yang paling tepat untuk menskak mat saya.

Bapak mengajari saya banyak hal. Tentu saja–seperti remaja pada umumnya–banyak hal yang tak saya pahami pada awalnya. Saya menelan semua pelajaran itu dengan rasa marah, malu, kecewa, sedih, merasa ditinggalkan, dan merasa diri saya buruk sekali. Sampai-sampai saya kerap membayangkan saat Bapak berada dalam posisi saya dan menelan semua yang saya rasakan.

Harapan saya terkabul. Pada suatu ketika, mobil kami hilang dicuri orang saat sedang diparkir di depan rumah. Dengan masih mengenakan sarung, Bapak berusaha mengejarnya sambil berlari. Tapi gagal. Selama berbulan-bulan berikutnya beliau mencoba berbagai cara, mulai dari menghubungi polisi, keluarga, teman, sampai "orang pintar", untuk melacak jejak mobil kami. Tapi semuanya, lagi-lagi gagal. Beliau menjadi makin pendiam dan murung dari hari ke hari.

Saya ingat, ada satu malam saat saya melihatnya terbaring di kamar. Hanya berbaring dan menatap hampa ke langit-langit kamar. Saya juga ingat, bahwa saya lama sekali menantikan saat ini. Bahwa orang yang selama ini terlihat begitu superior di mata saya, kini hanya terbaring lunglai menelan semua pelajarannya sendiri. Dulu saya selalu mengira, bahwa saat pemandangan ini terhampar di hadapan saya, saya akan merasa menang. Atau puas luar biasa.

Saya salah.

Yang ada saya justru merasa iba pada sosok pria yang sekarang tampak tua, letih dan tak berdaya di hadapan saya. Saya sedih melihatnya berduka. Dan betapa saya ingin menghibur dan menenangkannya.

Tapi saya, tidak tahu caranya.

Akhirnya dengan segala keberanian diri yang ada, dengan canggung saya mendekatinya. Saya peluk tubuh beliau, dan saya kecup keningnya sambil berujar "Apapun yang terjadi, Retno sayang Bapak," ucap saya pelan sambil gemetar. Beliau diam saja dan masih menatap hampa, seolah-olah saya tak ada. Tapi saat berjingkat pelan meninggalkan kamarnya, saya mendengar suara isak pelan. Dan saat saya menutup pintu, saya tahu, bahwa kami berdua masing-masing telah belajar satu lagi hal baru. Entah apa, karena saat itu saya belum tahu definisinya.

Sampai saat inipun, masih banyak pelajaran dari Bapak yang belum saya pahami. Tapi saat saya pulang ke rumah dan tiba-tiba menemukan kipas angin yang rusak sudah berfungsi kembali, atau saat ada satu dompet baru tergeletak di atas meja rias, atau saat ada rak buku baru buatan Bapak di kamar, saya tahu, bahwa beliau belajar untuk minta maaf. Saat anak laki-laki seorang kenalannya tiba-tiba mampir ke rumah, saya tahu bahwa Bapak mulai mencemaskan status single saya. Dan meski masih banyak diisi keheningan, kami mulai belajar untuk menonton televisi bersama.

Bertahun-tahun sudah lewat sejak kami belajar satu hal baru saat mobil kami hilang dulu. Yang masih akan terus kami pelajari, dengan segala proses trial and error yang ada. Dan saat menulis ini, saya tersadar bahwa saya kini sudah menemukan definisinya. Kami belajar untuk bicara, satu sama lain.

Ya, kami belajar untuk bicara.      

 

 

caranya makan chocolate cheesecake jamuran

I love chocolate cheesecake.
Terutama yang buatan Seven Grain Mampang. Bagian favorit saya adalah bagian pinggir yang dilapisi banyak kacang almondnya. Mmm..slurp. Dan saya girang luar biasa menemukan seloyang chocolate cheesecake di dalam kulkas Citra.

Hanya ada satu kekurangan kecil.

Chocolate cheesecake yang sudah berumur nyaris sebulan ini sudah terlanjur berjamur. Permukaannya yang semula berwarna coklat kini telah tertutup jamur berwarna putih yang sangat tak sedap dipandang mata. Keteledoran ini sendiri terjadi karena Citra pergi ke luar kota berminggu-minggu, sehingga tak sempat membersihkan kulkasnya (dan juga karena saya lupa membuat kunci duplikat rumahnya, ck.)

Pun saya sangat suka makan dan kerap tak tahan melahap dessert apapun, percayalah, reaksi pertama saya ketika menemukan benda itu dalam kulkas Citra adalah mencoba membuangnya ke tong sampah depan rumah. Yang mana, ditolak mentah-mentah oleh Citra. "No, beneran, lo kerik aja jamurnya. Itu cuma di permukaannya aja!," sarannya serius. Sementara saya menatapnya dengan mata terpicing tak percaya.
Saya: "Yakin?"
Citra: "Yakin, Retnadi."
Saya: "Karena gua nggak mau besok ada berita di Radar Depok, ‘Ditemukan satu perempuan tewas di Pesona Khayangan Depok setelah menyantap chocolate cheesecake jamuran’ nih Cit"
Citra: "Iya Retnadi"
Saya: "Kan nggak keren aja gituh mati gara-gara makan cheesecake jamuran"
Citra: "Bener Retnadi, nggak keren sama sekali. Btw, ada tips nih, kalo lo nemu makanan berlendir, digoreng aja." (tentu saja, makanan itu yang digoreng, bukan cuma lendirnya, fyi)
Saya (masih menatap tak percaya, dan mulai kembali ke titik awal percakapan): "Tapi kalo nggak ada gua, lo tetep akan makan chocolate cheesecake ini nggak?"
Citra (mulai hilang kesabaran):"IYA RETNADI NUR’AINI!"

Dan begitulah, sambil saya mengeriki jamur di seloyang chocolate cheesecake, Citra melanjutkan curhat tentang pacarnya. Mereka baru saja bertengkar lagi dan Citra sangat kesal karenanya. "Dia tuh bisa gitu No. Meski dia bisa begitu indah dan loveable, dia juga bisa sangat egois, childish, nggak sensitif. Trus yang gua sebel, adalah karena dia nggak mikirin ini sebanyak gua! Dasar cowok! Huh!" gerutu Citra.

Selang beberapa jam kemudian, si pacar menelpon Citra. Untuk minta maaf dan berjanji untuk berubah. Sampai akhirnya Citra keluar kamar dengan wajah sumringah dan tertawa-tawa riang.  Sementara saya yang sudah berhasil mengeriki seloyang chocolate cheesecake berjamur (yay!), mulai mengiris sepotong besar kue. Kami kemudian duduk bersama di sofa, sambil memakan satu potong besar chocolate cheesecake. (Tentu saja, dengan saya menyilakan Citra makan duluan, yang mana dipelototi Citra dengan sewotnya).
Saya: "Iyalah, gua kan nggak mau mati gara-gara makan chocolate cheesecake jamuran!"
Citra: "Oh gitu? Jadi LO maunya GUA yang mati gara-gara makan chocolate cheesecake jamuran?"
Saya: "Tapi tadi kan LO yang nyaranin untuk dikerik. Itu teori LO, bukan gua! PROVE IT!"
Citra (makin sebal): "Fine! Sinih gua makan!"

Anyway, mari kembali ke situasi damai dengan mood menyenangkan di sofa tadi. Sambil makan bersama sepotong besar chocolate cheesecake dalam satu piring, kami pun mulai mengobrol tentang acara baikan Citra dengan pacarnya. "Mungkin hubungan itu kaya chocolate cheesecake ini ya Cit. Kerik jamurnya sampai habis, buang bagian buruknya ke tempat sampah, dan nikmati bagian yang masih baik," celoteh saya. Yang kemudian dibenarkan oleh Citra. "Ya, abis gua emang secinta itu sih No sama dia.." tandas Citra.

Tentu saja, akan selalu ada keraguan, curiga dan waswas. Bagaimana kalau ternyata semuanya tak berjalan seperti yang kita harapkan? Bagaimana kalau ia tak benar-benar berubah? Bagaimana kalau ia mengulangi kesalahannya, lagi dan lagi, sementara pertengkaran yang melelahkan ini akan terulang lagi dan lagi? 

Bagaimanapun, juga akan selalu ada satu senjata. Rasa percaya. Bahwa kali ini, segalanya akan menjadi lebih baik untuk hubungan kita ke depannya. "Atau setidaknya, gua percaya, dia cinta ma gua sebesar itu. Dan itu cukup," ujar Citra.

Dan sambil mengiris sepotong besar chocolate cheesecake lagi, saya berpikir, well, kadang-kadang nggak ada buruknya juga kok makan chocolate cheesecake berjamur. Ya nggak? 

friendster dan ain

Pada suatu siang yang membosankan di kantor..
Saya: "In, gua punya ide brilian. Gimana kalo gua ngapus lo di friendster gua?"
Ain (menatap sebel)
Saya (nggak berasa): "Jadi, ntar ketauan, kalo gua ngapus lo, ikon gua masih ada nggak di list fs lo? Trus testi/ komennya masih ada nggak?"
Ain (masih menatap sebel)

Beberapa jam kemudian setelah menghapus ikon Ain..
Saya: "In, gua add lagi yaa.."
Ain (tetep menatap sebel)
Saya (mulai rewel): "Kok nggak ada sih In? Ayo dieprup!"
Ain (menghela napas): "Oh nasiib Gustii.."

Beberapa jam setelah Ain meng-eprup saya
Saya (tetep rewel): "In, kok gua buka profile lo restricted ya?"
Ain (menatap penuh kemenangan): "Jadi sekarang biar udah friends juga, hanya orang-orang terpilih aja yg bisa buka profile gua. And you’re not, HAHA!"

Heck.

life less competitive (yeah, you wish)

Persaingan ada dimana-mana. Mulai dari meja makan keluarga, ruangan kelas, sampai bangku mikrolet. Kemarin sore, saya duduk di hadapan bangku mikrolet sepasang ibu muda. Ibu muda yang satu (sebut saja ibu A) sedang menggendong bayinya yang berumur sekitar 5 bulan. Ibu satunya lagi (dan mari kita sebut saja ibu B) menggendong bayinya yang baru berumur sekitar 1 bulan. Dan saya mendapati diri saya yang bingung dengan percakapan mereka, saat ibu A mengoceh tentang bayinya yang sudah diajak kemana-mana sejak masih berumur 1 bulan. Sementara ibu B menimpali dengan “Ahh..itu sih belum seberapaa..anakku ini malah udah aku ajak jalan-jalan ke Jawa sejak dia masih merah..bla..bla..”

Jujur, saya tidak paham. Sama tidak pahamnya, saat saya dan Citra kerap menemui kompetisi aneh-aneh. Kalian pasti akan terheran-heran mendapati banyaknya orang yang merasa bangga sekali dengan label “rumit”, “loner”, “punya keluarga bermasalah”, “aneh”, “deppressed”, dan banyak lagi kompetisi lain yang kami tak pernah paham tujuannya.

Pertama, untuk label rumit. Banyak orang yang datang pada saya dan mengaku “I’m such a complicated person..pikiran gua kompleks, bla..bla..”. Yang mana saya bingung motifnya. Mungkin karena rumit itu kerap diidentikkan dengan intelektualitas dan geniusitas kali yah. Mungkin. Hanya saja, saya pikir, seharusnya orang yang kompleks tidak perlu berkoar-koar mengatakan dirinya kompleks. Seperti Woody Allen. Atau Edward P Jones. Karena cukup hanya dengan “melihat” mereka lewat karya mereka lah, kita bisa melihat kerumitan jalinan pikiran mereka. “Lagian, jadi rumit itu sering nggak menguntungkan lho. Karena pesan lo ke orang sering nggak sampai seperti yang lo mau. Lo betul-betul harus bekerja keras merancang dan menyampaikan pesan lo,” timpal Citra.

Kedua, loner. Dulu, pernah ada seorang teman yang dengan bangganya mengatakan pada saya, bahwa ia baru saja menikmati weekendnya sendirian. Ia menonton film di bioskop sendirian, jalan sendirian, makan sendirian, berbelanja sendirian. Karena saat itu saya tidak bersamanya, maka saya memilih untuk diam dan mengucap selamat. Tapi pada weekend berikutnya, saya kebetulan bertemu dengannya di food court mal. Saya melihatnya dari kejauhan, dan saya tidak paham mengapa minggu lalu ia menggunakan kata “menikmati.” Karena ia sama sekali tidak terlihat demikian. Ia tampak begitu salah tingkah makan sendirian di tengah kerumunan orang banyak, dan kerap kali lirak-lirik dengan insecurenya, pada orang-orang di sekitarnya. Saya tak akan pernah lupa raut wajahnya yang menunjukkan kelegaan luar biasa, saat saya memutuskan untuk menghampiri mejanya dan makan siang bersama.

Ketiga, label punya keluarga bermasalah. Saya yakin sekali, setiap keluarga punya masalah masing-masing, dengan porsi yang berbeda-beda juga. Hanya saja saya tak pernah paham, kenapa itu bisa dijadikan motif untuk berkompetisi. Mungkin karena itu membantu menciptakan imej tegar. Mungkin karena itu membuat diri kita terlihat berbeda. Entahlah. Saya ingat, pernah saya dan Citra makan bersama seorang teman. Dan kami sedang mengobrol tentang ayah kami. Saya ingat, bahwa teman kami itu langsung antusias bercerita tentang ayahnya yang dipenjara, dan betapa teman kami itu histeris di pengadilan ayahnya. Cerita itu ditutup dengan teman kami yang mengungkapkan keharuannya mendengarkan lagu “Dance with My Father”nya Luther Vandross. Plus kebingungan saya dan Citra.

Karena ada yang tidak pas. Sejak dari awal teman kami itu bercerita, saya tidak menemukan setitikpun ketulusan atau rasa sakit. Bahkan waktu teman kami itu menangis, yang tampak di mata saya bukanlah kesedihan. Tapi justru kebanggaan karena dia berhasil melengkapi ceritanya dengan air mata. Plus sebuah soundtrack penutup. Bahkan sampai kini pun, saya dan Citra tetap tak paham, kenapa seseorang bisa menggunakan keluarga sebagai senjata dan alat untuk berkompetisi.

Label aneh mungkin masih lebih mudah dipahami motifnya. Mungkin karena banyak orang yang kelewat insecure menjadi ordinary people, dan berusaha keras tampil menjadi orang yang berbeda. The one of a kind. Meskipun itu artinya, makan sate mentah, mengenakan jubah hitam ke kampus, atau melamar gadis yang baru diajak bicara selama 3 menit. Dengan semua perilaku yang di luar pakem ini, maka saya pribadi sering mengasosiasikan kata “aneh” secara negatif. Makanya, saya bisa memutuskan pacar saya kalau ia menggambarkan diri saya dengan kata ini. Seriously.

Dan label “deppressed” adalah yang paling tak pernah kami pahami. Citra malah seratus juta kali lebih ingin mendaftarkan dirinya dalam kompetisi “Orang paling bahagia sedunia. ” Karena berada dalam keadaan depresi itu menyakitkan. Seperti terjatuh ke dalam lubang hitam yang tak berdasar, saat segalanya menyesakkan dan dunia hanya tampak seperti potongan-potongan kenangan. Saat kamu cuma bisa melihat gelap, dan cuma berharap atas satu tidur yang lelap. Dan saya tidak pernah habis pikir, kenapa orang ingin berlomba menjadi depresi dan merasa sakit. Believe me, u’re on ur own, dude.

Sampai saat ini pun masih banyak kompetisi aneh yang kami temui. Seperti misalnya kompetisi para ibu muda di angkot tadi. Karena tidak paham, dan memang kami sering tak punya bahan obrolan yang cukup bermutu, maka saya bertanya pada Citra. “Kenapa ya Cit? Itu anak mereka gitu, mereka nggak takut apa anaknya kenapa-kenapa?? Kok mereka bisa tega sih??”

Lalu Citra sambil mencolekkan keripik kentang dalam botol mayonaise, akan menjawab ringan. Jawaban yang keluar saat kami sudah mentok dan kelewat malas menganalisis sesuatu. Jawaban paling tidak bermutu sedunia. “Mereka gila kali No…eh tolong operin keripik singkongnya dong,” jawab Citra (see? Saya sudah peringatkan kalian sebelumnya ya!). Sambil mengunyah keripik singkong, Citra akan meneruskan “Emang banyak orang gila di dunia ini. Dan ngeselinnya, mereka berkeliaran dimana-mana. Deal with it.”

Ya, deal with it. Fuuh, akhirnyaaa, keluar juga jawaban bener. Thank God.

PERS RELEASE

Mengingat begitu banyaknya selentingan dan rumor tak sedap tentang pola makan saya, maka saya Retnadi Nur’aini, menyatakan hal-hal sebagai berikut:
1. Saya TIDAK makan kertas. Well, ya kadang-kadang kalau sedang makan kebab, kertasnya suka kemakan juga sih, tapi itu kan merupakan kecelakaan yang tak disengaja.
2. Saya TIDAK memakan segala. Oke, saya sering sekali makan, tapi saya TIDAK makan meja, kursi, televisi, kulkas, ataupun barang elektronik lainnya.
3. Saya TIDAK cacingan, atau nagaan, atau punya peternakan godzilla dalam perut saya. Dan ya, itu sudah dicek di dokter. Dan ya, saya yakin sepenuhnya pada dokter saya.
4. Dan ya, saya BISA kenyang. Jadi saya harap siapapun yang mendengar jawaban “No thanks, I’m full” dari saya, bisa berpura-pura tidak kaget.

Demikian pernyataan ini saya buat. Jika masih beredar selentingan dan rumor tak sedap tentang pola makan saya, maka itu adalah bohong dan fitnah yang sangat keji.

Retnadi Nur’aini

a perfect weekend

Setiap orang punya imajinasi masing-masing tentang satu weekend yang sempurna. Sebagian orang mungkin menghabiskannya bersama keluarga atau pacar. Sebagian lagi mungkin memilih berbelanja. Atau clubbing. Atau tidur dan bermalas-malasan seharian. Atau sekedar menyalurkan hobi dan melakukan berbagai hal menyenangkan lainnya.

Tapi tidak demikian dengan weekend saya. Dulu, saya bahkan lupa bahwa kata “sempurna” bisa dipadankan dengan kata “weekend”. Dulu bagi saya, weekend bukanlah waktu spesial. Dia hanya salah satu hari, yang kebetulan berwarna merah di tanggalan. Makanya, kegiatan yang saya lakukan pun biasa-biasa saja. Kadang ke perpustakaan Jakarta Barat untuk meminjam buku, kadang menonton film sendirian di bioskop Slipi, kadang berburu baju sendirian di Senen, kadang hanya duduk diam-diam sendirian di kamar membaca buku atau majalah ditemani suara radio. Tak heran bila weekend saya pun kemudian berlalu dengan garingnya.

Demikian juga dengan Citra. Weekendnya hanya diisi dengan kerja sebagai SPG di mal, atau sesekali bertemu pacar. Tapi seringnya, dia berusaha membunuh waktu dengan menonton televisi bersama ayahnya di rumah. Ia bahkan tak diizinkan mengganti channel. Ia hanya menonton televisi, bersama sang ayahnya yang terus saja memencet-mencet remote control TV.

Dulu.

Well, saat ini untuk sekedar memuaskan keinginan pembaca kami yakin bahwa kami bisa mendaftar berlembar-lembar hal berguna yang kami lakukan untuk mengisi weekend kami. Mulai dari berbelanja bareng di Senen, menonton film bareng di bioskop, ke perpustakaan Jakarta Barat bersama untuk membaca serial Asterix, menjenguk teman, mengecek rumah kos Citra di Ulujami, mencarikan kado untuk teman, atau saling mengunjungi keluarga masing-masing.

Tapi saat saya dan Citra sedang bermalas-malasan seharian di rumahnya, belum mandi dari kemarin sore dan terlalu malas untuk bangun dan mulai mengerjakan sesuatu yang lebih berguna selain hanya tidur-tiduran sambil mengobrol dan menguras isi kulkas Citra, yang kini menyisakan bungkus-bungkus snack kosong dan piring-piring kotor bertebaran di sekeliling kasur, saat kami saling menimpali dengan bodoh “Lo aja deh yang mandi duluan, posisi lo tuh lebih deket ke kamar mandi”, saat wajah kami masih berminyak dan rambut kusut, mau tak mau, saya harus mengakui, bahwa saya tetap saja tidak bisa memikirkan satu weekend lain yang lebih sempurna.
Tidak satu pun juga.

kornelis prul, kunci, dan gembok

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah kehilangan satu kunci. Satu kunci duplikat kecil, untuk membuka boks telpon yang digembok ayah saya saat tagihan telpon kami naik. Kunci sederhana itu saya simpan dalam kantung depan back pack saya, yang belakangan baru saya tahu berlubang. Dan kunci kecil sederhana itu pun hilang entah kemana.

Akibatnya, tentu saja mudah ditebak. Saya tak bisa menelpon siapapun, bahkan saat saya sedang terserang demam berdarah, dan perlu mengatur waktu dengan dosen untuk ujian susulan. Di luar dugaan, pada suatu hari telpon itu berdering, mengantarkan saya pada suara riang seorang gadis yang juga ingin ikut ujian susulan Bahasa Inggris. Gadis itu bernama Citra.

Dari pertemuan pertama saja, saya sudah tahu bahwa Citra punya selera humor yang luar biasa. Meski ada beberapa jokes yang saya tak pernah habis pikir kenapa itu bisa dijadikan jokes. Misalnya, jokes tentang penyakitnya, yang diceritakan di pertemuan pertama kami. “Iya nih, gua abis operasi dimana-mana, dokternya trial and error gitu deh..emang kurang ajar tuh dokter, mestinya gua dapet diskon,” ujarnya riang. Atau jokes saat kami sedang makan bersama di kantin Takor. Saat seorang teman menjawab, bahwa dosen kami, Mbak Riris sudah pergi (dengan dimaksudkan pergi dari kelas, tentu saja), Citralah satu-satunya yang berkata prihatin “Kasihan ya, padahal dia masih begitu muda..” Dan saat semua orang di meja tidak paham jokes itu, tampaknya saya kemudian menjadi satu-satunya orang di meja yang mendengarnya. Sekaligus satu-satunya orang yang tidak tertawa.

Citra selalu bilang, bahwa dia selalu merasa dirinya seperti kunci yang bisa membuat seseorang membuka dirinya dan melakukan hal-hal yang tak terbayangkan sebelumnya. Well, dia benar. Dia selalu berhasil mencairkan suasana, dan dia juga selalu berhasil membuat orang tertawa dan merasa lebih baik. Tapi di satu sisi, Citra juga sering merasa dirinya seperti gembok yang terkunci, dimana kuncinya hilang entah kemana. Begitu lamanya kunci itu hilang, sampai Citra mulai lupa bunyi “klik” yang terdengar saat sebuah kunci berhasil membuka sebuah gembok yang terkunci.

Bunyi “klik” pertama kami adalah kejadian 3 tahun lalu di kelas Tekomas. Saat dosen kami, Pak Sasa Djuarsa sedang bersemangat menerangkan, sampailah Pak Sasa pada sebuah pertanyaan “Seperti siapa itu, Cornelis siapa itu yang dulu merombak Batavia?” Saat mahasiswa lainnya membisikkan jawaban Cornelis de Houtman, saya mendengar sebuah suara berceletuk riang dari pojok kelas “Kornelis Prul!”. Saya tertawa keras. Begitu juga dengan si penceletuk. Saat saya menoleh ke belakang, saya melihat si penceletuk sedang tersenyum pada saya. Dan orang itu adalah Citra.

Setelahnya, ada berlusin-lusin jokes dan berkarung-karung percakapan dimana bunyi klik itu makin sering terdengar. Bahkan saat saya mencoba belajar menerima selera humor Citra, sekaligus saat Citra belajar menerima keberatan saya atas beberapa jokesnya.

Dan sekarang, setelah bertahun-tahun lewat, saya ingat bahwa dulu saya memang pernah kehilangan satu kunci. Satu kunci duplikat sederhana. Tapi sebagai gantinya, saya menemukan satu kunci yang paling berharga, dan tercantik diantara semuanya.

Saya menemukan Citra.

ps: Kornelis Prul adalah sebuah patung bebek di tengah kota, yang ada dalam serial Donal Bebek. Fyi.

if god was one of us

"…What if God was one of us/
Just a slob like one of us
/ Just a stranger on the bus
/ Trying to make his way home.." (Sheryl Crow, If God Was One of Us)

..maka saya akan mengajakNya mampir. MempersilakanNya duduk di teras mungil saya, menjamuNya dengan secangkir chamomile tea dan sepiring kue manis yang baru diangkat dari panggangan.

Lalu saya akan mengajaknya berbincang-bincang. Saya akan bertanya bagaimana Dia membagi waktuNya untuk setiap umat yang membutuhkanNya. Sambil bercanda, saya juga akan bertanya berapa nomor togel yang akan keluar malam ini. Dan saat Dia menatap dengan pandangan tak setuju, saya akan tergelak "Hey, You know I was joking!"

Lalu saya akan bertanya lelahkah menjadi Dirinya? Menampung semua keluhan, kemarahan, dendam, kekecewaan, kesedihan, getir, hampa, cinta, doa, rindu, mimpi, dan harapan seluruh umat manusia di muka bumi. Pernahkah Dia merasa bosan? Apakah ini semua pernah membuatNya, Sang Maha Tunggal kesepian?

Dan apakah Dia merasa bahagia?

Lalu saya akan minta maaf, karena telah begitu banyak merepotkan.
Dan saat Dia bangkit untuk berpamit sambil membereskan remah-remah kue, sebagai ganti salam perpisahan, saya akan menyilakanNya mampir lagi.

"Saya tahu sekali, apalah saya ini dibandingkan Kamu, Sang Maha. Saya cuma bisa menawarkan satu teras mungil dan kalau suatu hari nanti Kamu mampir lagi, mungkin secangkir jasmine tea. Thanks for coming.."

circle of friends (2): airin nisa

Ain

Ain pasti ingat malam saat kami menginap bersama untuk mengerjakan artikel “Pembajakan Buku” untuk tugas mata kuliah Jurnalistik Media Cetak. Karena malam itu kami mengobrol hingga dini hari, dan baru mulai menulis saat adzan subuh. Keputusan yang terbukti sangat tidak bijaksana, mengingat kami menghabiskan waktu sekitar setengah jam untuk mendebatkan satu kutipan, dan hampir satu jam untuk satu saja paragraf pendek.

Tradisi “berantem” inipun makin lestari setiap kali kami kebagian jatah menulis bersama, baik itu untuk tugas kuliah, maupun untuk majalah kampus. Saya masih ingat malam-malam yang dipenuhi dengan perdebatan panjang, hingga salah satu dari kami kelelahan dan tertidur. Saat itulah maka pihak lainnya akan merombak tulisan sesuai dengan gayanya. Setelah puas merombak dan mulai terlelap, maka pihak lainnya akan terbangun dan mulai merombak lagi tulisan sesuai gayanya. Begitu terus sampai pagi. Pemenangnya adalah pihak yang terakhir begadang. Karena itu artinya, kami harus bersiap-siap berangkat ke kampus dan tak cukup lagi waktu untuk merombak semuanya.

Banyak orang mengaku agak terkejut mengetahui kebiasaan kami ini. “Segitunya ya?” tanya mereka. Dan kami paling cuma tersenyum. Ya, segitunya. Bukan karena tulisan Ain kurang baik. Sama sekali bukan. Justru Ain adalah salah satu penulis terbaik yang pernah saya kenal. Tulisannya cantik, bening, punya pilihan kata yang halus, alurnya mengalir dengan enak, dan punya efek yang menenangkan buat pembacanya. Dalam tulisan berjenis apapun–baik itu artikel, esai, feature, puisi, bahkan skripsi sekalipun–ciri ini selalu terasa. It’s so Ain.

Tapi waktu kami duduk bersama di depan komputer dan mulai menulis, mau tak mau harus ada kompromi. Karena saya kerap punya mood yang berbeda, untuk jenis tulisan yang berbeda pula. Sering kali perdebatan kami berujung pada kalimat tanya “Oke, jadi pesan apa yang pingin lo sampaikan dengan kalimat ini?” Setelah menimbang-nimbang sekian banyak untung rugi dan resiko, tercapailah kompromi. Tidak selalu mudah. Tidak juga selalu berlangsung cepat. Tapi setidaknya, saat tulisan itu di-print, dan editor kami bertanya siapa penulisnya, dengan bangga kami bisa menjawab “Kami menulisnya berdua.”

Begitu juga dengan persahabatan saya dengan Ain. Saya ingat jam-jam panjang yang kami lewatkan di plasa kampus atau di terminal Blok M untuk mengobrol tentang berbagai hal. Yang akan dilanjutkan dengan saling telpon pada malamnya atau pada satu weekend siang yang membosankan. Pun Ain sempat 6 bulan berada di Aceh, kebiasaan ini tetap kami teruskan. Tak jarang saya juga mengganggu tidur Ain di tengah malam buta, dan memaksanya mendengar saya meracau tentang berbagai hal. Dan sampai saat ini, reaksinya tak pernah mengecewakan. Atau bahkan saat saya bersikap menyulitkan dengan menghilang tanpa kabar. Dengan sabar dan gigih, Ain akan menelpon puluhan kali, dan mengirim sekeranjang sms, seperti “Kita bahkan nggak perlu ngobrol kalo kamu mau. Saya punya setumpuk DVD pemenang Oscar.” Sampai akhirnya saya menelponnya dan berujar “In, malam ini gua nginep yah.”

Fuh, terima kasih, Airin Nisa..

after a while, by veronica a shoffstall

After a while you learn the subtle difference between holding a hand
and changing a soul,
and you learn love doesn’t mean leaning and company doesn’t always mean security.

And you begin to learn that kisses aren’t contracts and presents aren’t promises,
and you begin to accept your defeats with your head up
and your eyes open with the grace of an adult, not the grief of a child.

And you learn to build all your roads on today
because tomorrow’s ground is too uncertain for plans
and futures have a way of falling down in mid-flight.

After a while you learn that even sunshine burns if you get too much.

So you plant your own garden and decorate your own soul
instead of waiting for someone to bring you flowers.

And you learn that you really can endure,
that you really are strong and you really do have worth
and you learn and you learn
with every good-bye you learn.

« Previous entries