..and learn to say “i love you”
Beberapa waktu lalu, Citra pernah bercerita pada saya tentang betapa hangat dan harmonisnya keluarga temannya, Ninin. Pernah pada suatu ketika, Citra semobil dengan keluarga Ninin. Bersama-sama, mereka mencari alamat rumah teman Ririn, adik Ninin. Yang mana, Ririn lupa sama sekali letak rumah temannya itu. "Dan gua bingung gitu, waktu bokapnya Ririn nggak marah-marah sama sekali. Dia cuma ngebecandain dan ngeledekin Ririn yang pelupa," ujar Citra heran.
Jujur, kami sungguhan heran. Karena, situasi demikian tak akan pernah terjadi pada kami. Well, sebelumnya, keluarga kami memang bukanlah keluarga yang ideal. Saat situasi itu terjadi pada saya misalnya, Bapak bisa menurunkan saya di tengah jalan begitu saja. Karena bagi Bapak, waktu setiap orang sangatlah berharga dan bahwa kita harus punya persiapan yang cukup dalam berbagai hal. Termasuk hal sesederhana mencari alamat orang. Dan masih ada banyak hal lagi yang diajarkan Bapak pada saya.
Bapak mengajari saya untuk menyelesaikan masalah saya sendiri. Pernah suatu ketika, saya pulang kemalaman dari kampus dan kehabisan ongkos. Uang yang tersisa tinggalah Rp 300 untuk menelpon satu kali di wartel stasiun KRL Sawah Besar. Dengan harapan akan langsung dijemput oleh Bapak, maka saya pun menelpon ke rumah. Sayang, permintaan saya ditolak Bapak karena beliau sedang menonton televisi. "Kan situ yang salah kehabisan ongkos, jadi ya selesaikan sendiri," ujar beliau malam itu sambil menutup telpon. Sempat terpikir untuk naik ojek atau taksi dan bayar di rumah, tapi lagi-lagi yang terpikir hanyalah bahwa itu akan merepotkan orang rumah karena saya terpaksa harus pinjam uang mereka. Maka yang saya lakukan adalah berjalan kaki sampai kali Cideng, dan meminjam uang Rp 5.000 di warung rokok. Setibanya di rumah, Bapak cuma menjawab ringan "Tuh, bisa kan? Makanya besok-besok coba selesaikan sendiri dulu, jangan keburu minta tolong sama orang. Saya bangga situ bisa selesaikan masalah sendiri," ujarnya sambil matanya terus menonton televisi.
Bapak mengajari saya untuk tepat waktu. Pernah suatu ketika, saya terlambat naik KRL tujuan Depok dari stasiun Tanah Abang. Karena setiap hari Bapak mengantarkan saya ke stasiun Tanah Abang, di perjalanan beliau bertanya "Memang jadwal KRL lainnya jam berapa?". Karena saya hanya tahu jadwal KRL tujuan Depok/ Bogor yang jam 06.20 dan 06.50, maka hanya jawaban itulah yang saya punya. Dan ketimbang mengantarkan saya ke stasiun KRL Gondangdia untuk mengejar KRL berikutnya, yang dilakukan Bapak adalah menurunkan saya di stasiun Tanah Abang. Di tengah kerumunan penumpang yang memandangi kami dengan penuh rasa ingin tahu, beliau menyuruh saya mencatat jadwal KRL tujuan Depok/ Bogor selama sehari. Setelah saya usai mencatat semuanya, barulah beliau mengantarkan saya ke stasiun Gondangdia. "Nah makanya situ harus tahu jadwal kereta, supaya kalau terlambat situ tahu mau ke mana," ujar beliau.
Bapak mengajari saya untuk berhemat. Setiap kali tagihan telepon kami naik, ada saja ide Bapak untuk menurunkannya. Mulai dari menggembok telepon, menutupnya dengan boks khusus yang permukaanya ditutupi kertas, sampai memutus paksa kabel telepon saat saya sedang menelpon. Bahkan saat saya sudah cukup dewasa untuk membayar tagihan telepon rumah kami setiap bulan, tetap kerap ada kejadian percakapan saya dengan teman di telpon tiba-tiba terputus, karena Bapak memutus kabel telpon yang kebetulan tersambung dari kamarnya.
Bapak mengajari saya untuk selalu menyimpan rapi barang-barang saya. Saya lupa sejak kapan, setiap surat yang ditujukan untuk saya selalu berada di atas meja rias dalam keadaan terbuka. Bahkan saat surat itu hanya berupa buletin agenda acara CCF ataupun sepucuk kartu Lebaran. Pernah juga saat pulang, saya memergoki Bapak sedang menggeledah isi kamar ke dua abang saya, Hadi dan Wira. Melihat pemandangan itu, bukan tak mungkin bahwa Bapak juga melakukan hal yang sama pada isi kamar saya. Dan benarlah dugaan saya. Saat saya ketinggalan kunci dan terpaksa kembali ke rumah, saya melihat Bapak sedang tekun mengoprek-oprek lemari buku saya.
Bapak mengajari saya untuk teliti. Saat saya baru lulus sidang TKA dengan nilai A- dan membawa hasil TKA saya yang sudah dijilid ke rumah, hal pertama yang dikomentari Bapak adalah kesalahan ejaan tulisan saya di bab "Thanks to."
Bapak mengajari saya caranya berargumen. Beliau tahu, tak perlu teriakan atau hukuman fisik untuk membuat saya mengakui kesalahan saya. Beliau tahu persis, hanya butuh logika, pilihan kata yang tepat, dan intonasi yang tepat untuk memainkan emosi lawan dan memenangi suatu argumentasi. Dan beliau selalu tahu persis cara yang paling tepat untuk menskak mat saya.
Bapak mengajari saya banyak hal. Tentu saja–seperti remaja pada umumnya–banyak hal yang tak saya pahami pada awalnya. Saya menelan semua pelajaran itu dengan rasa marah, malu, kecewa, sedih, merasa ditinggalkan, dan merasa diri saya buruk sekali. Sampai-sampai saya kerap membayangkan saat Bapak berada dalam posisi saya dan menelan semua yang saya rasakan.
Harapan saya terkabul. Pada suatu ketika, mobil kami hilang dicuri orang saat sedang diparkir di depan rumah. Dengan masih mengenakan sarung, Bapak berusaha mengejarnya sambil berlari. Tapi gagal. Selama berbulan-bulan berikutnya beliau mencoba berbagai cara, mulai dari menghubungi polisi, keluarga, teman, sampai "orang pintar", untuk melacak jejak mobil kami. Tapi semuanya, lagi-lagi gagal. Beliau menjadi makin pendiam dan murung dari hari ke hari.
Saya ingat, ada satu malam saat saya melihatnya terbaring di kamar. Hanya berbaring dan menatap hampa ke langit-langit kamar. Saya juga ingat, bahwa saya lama sekali menantikan saat ini. Bahwa orang yang selama ini terlihat begitu superior di mata saya, kini hanya terbaring lunglai menelan semua pelajarannya sendiri. Dulu saya selalu mengira, bahwa saat pemandangan ini terhampar di hadapan saya, saya akan merasa menang. Atau puas luar biasa.
Saya salah.
Yang ada saya justru merasa iba pada sosok pria yang sekarang tampak tua, letih dan tak berdaya di hadapan saya. Saya sedih melihatnya berduka. Dan betapa saya ingin menghibur dan menenangkannya.
Tapi saya, tidak tahu caranya.
Akhirnya dengan segala keberanian diri yang ada, dengan canggung saya mendekatinya. Saya peluk tubuh beliau, dan saya kecup keningnya sambil berujar "Apapun yang terjadi, Retno sayang Bapak," ucap saya pelan sambil gemetar. Beliau diam saja dan masih menatap hampa, seolah-olah saya tak ada. Tapi saat berjingkat pelan meninggalkan kamarnya, saya mendengar suara isak pelan. Dan saat saya menutup pintu, saya tahu, bahwa kami berdua masing-masing telah belajar satu lagi hal baru. Entah apa, karena saat itu saya belum tahu definisinya.
Sampai saat inipun, masih banyak pelajaran dari Bapak yang belum saya pahami. Tapi saat saya pulang ke rumah dan tiba-tiba menemukan kipas angin yang rusak sudah berfungsi kembali, atau saat ada satu dompet baru tergeletak di atas meja rias, atau saat ada rak buku baru buatan Bapak di kamar, saya tahu, bahwa beliau belajar untuk minta maaf. Saat anak laki-laki seorang kenalannya tiba-tiba mampir ke rumah, saya tahu bahwa Bapak mulai mencemaskan status single saya. Dan meski masih banyak diisi keheningan, kami mulai belajar untuk menonton televisi bersama.
Bertahun-tahun sudah lewat sejak kami belajar satu hal baru saat mobil kami hilang dulu. Yang masih akan terus kami pelajari, dengan segala proses trial and error yang ada. Dan saat menulis ini, saya tersadar bahwa saya kini sudah menemukan definisinya. Kami belajar untuk bicara, satu sama lain.
Ya, kami belajar untuk bicara.
