Dulu Ardian
pernah bilang sama Bang Ade, “Abang mestinya buka fansclub.” Saya sepenuhnya
setuju. Dan kalau fansclub itu betulan ada, saya pasti akan langsung mendaftar
sebagai salah satu anggota tetapnya.
Nama Ade Armando saya kenal sejak saya SMP. Saat itu,
keluarga kami berlangganan harian Republika, yang setiap minggu memuat tulisan
Bang Ade dalam rubric Marka (Media Ramah Keluarga), yang banyak membahas
mengenai dunia penyiaran. Begitu menariknya tulisan-tulisan Bang Ade, sehingga
saya selalu tak sabar menunggu-nunggu hari Minggu. Bahkan ayah saya—yang sangat
jarang tertarik dengan dunia tulis-menulis—sampai mengkliping tulisan-tulisan
Bang Ade yang dimuat di kolom Resonansi.
Selama bertahun-tahun lamanya, saya selalu
membayangkan saat saya bertemu dengan Ade Armando. Saya mungkin akan menjabat
tangannya, dan berujar “Waaa..tulisan Anda baguus sekali. Saya udah nge-fans
dari SMP, dan selalu pingin ketemu langsung lho. Apa saya boleh berteriak
sekarang?” Lalu saya akan berteriak norak “Gua dah ngomong sama Ade
Armandoooo!!!!!!”
Well, pelan-pelan impian saya mulai terwujud. Dimulai
dengan diterimanya saya di jurusan Ilmu Komunikasi UI. Dimana Ade Armando
menjabat sebagai ketua jurusannya. Saya ingat, pertama kalinya saya sungguhan
bertemu dengan idola saya ini adalah saat si ketua jurusan menyambut kami, para
mahasiswa baru. Sambil tersenyum Bang Ade memperkenalkan dirinya dengan “Ya,
saya Ade Armando..yang sama sekali tak berhubungan dengan Betty LaFea ya.” Mendengarnya
sambutan singkatnya, saya tahu bahwa idola saya ini punya selera humor yang
menarik.
Tambahkan sikap hangat yang selalu bersahabat, kadar
empati yang tinggi terhadap orang lain, berpikiran terbuka dalam diskusi
apapun, sangat sangat pintar, selalu
berhasil untuk positive thinking, dan terkesan bisa dimintai tolong oleh banyak
orang, menjadikan Bang Ade selalu dikerubungi banyak penggemar di kampus. Mulai
dari para mahasiswa, dosen, cleaning service, sampai penjual makanan kecil
keliling. Seorang mahasiswa bahkan pernah berbisik-bisik “Hey, itu the famous
Ade Armando” saat saya dan teman-teman makan bersama Bang Ade di kantin kampus.
Dan tentu saja yang dilakukan Bang Ade adalah menghampiri si mahasiswa dan
menyalaminya dengan ramah. “Halo, saya Ade Armando,” sapa Bang Ade. Satu sapaan
sederhana yang sukses membuat wajah si mahasiswa memerah seperti kepiting
rebus.
Karena Bang Ade memang selalu punya cara istimewa
untuk menyapa seseorang, siapapun itu. Ia selalu menyapa seseorang dengan
hangat dan entah bagaimana, selalu berhasil membuat lawan bicaranya merasa
menjadi seseorang yang lebih baik. Sama seperti Bang Ade juga selalu punya cara
istimewa dalam memberikan kritik.
Saya ingat, kelas pertama Bang Ade yang saya hadiri
adalah kelas Jurnalistik Media Cetak. Pada hari pertama, Bang Ade meminta kami
yang notabene mahasiswa baru untuk menulis apapun tanpa berhenti selama 2
menit. Saat itu saya berpikir “2 menit?? Tulisan apa yang bisa kamu buat dalam
waktu 2 menit?? Saya perlu berminggu-minggu untuk menghasilkan satu cerpen!!”
2 menit pun habis. Dan Bang Ade meminta salah satu
dari kami untuk membacakan hasil tulisannya. Tebak siapa yang dipilih acak Bang
Ade saat itu. Yup, saya. Sebelumnya ya pembaca, ini betul-betul di luar
bayangan saya. Karena dalam mimpi saya, saya membayangkan datang pada Bang Ade
dengan membawa beberapa tulisan—yang saya kira—cukup baik. Tulisan-tulisan yang
telah saya siapkan selama berminggu-minggu lamanya. Dan bukannya tulisan kacau
yang harus siap dalam waktu 2 menit.
Anyway, jadilah saya membacakan salah satu tulisan
terburuk sepanjang masa itu. Saya ingat, saya menulis tentang masa kecil saya
di Semarang, rumah yang saya tempati, SD Negeri tempat saya bersekolah, tempat
saya mengaji, jajanan yang saya makan, delman yang lewat rumah kami setiap 5
menit sekali, juga tentang kelinci saya yang mati dimakan anjing. Semuanya ditulis
dengan tata bahasa kacau, logika kalimat amburadul, tanpa adanya alur dan jalan
cerita, plus tulisan tangan yang keriting. Sama sekali tak pantas untuk
dibacakan di depan kelas. Terutama di depan seorang Ade Armando.
Tapi reaksi Bang Ade benar-benar di luar dugaan saya.
Dengan sabar, Bang Ade mendengarkan ucapan saya yang
tergagap-gagap. Ia tidak menertawakan tulisan saya, seperti banyak mahasiswa lainnya
yang berbisik-bisik di belakang saya. Ia tidak menganggap saya bodoh atau aneh.
Ia hanya duduk diam, dan sungguhan mendengarkan. Setelahnya, Bang Ade berujar riang
“Saya suka kamu pakai banyak detil di tulisan kamu, meski tentu saja masih
harus di tata ulang yah. Karena ya, apa yang bisa kita tulis dalam waktu 2
menit kan? Dan oh ya, omong-omong, saya suka detil kelinci
kamu dimakan anjing.”
Begitulah cara Bang Ade mengkritik mahasiswanya.
Ia akan memuji kelebihan si mahasiswa—apapun itu, kemudian
menunjukkan cara untuk mengatasi kekurangannya, sekaligus memberi semangat agar
si mahasiswa tidak menyerah. Mahasiswa mana yang tak merasa hebat dengan dosen
seperti itu?
******
Sejak saat itu, saya dengan tebal mukanya, rajin
membombardir email Bang Ade dengan esai-esai saya—yang setelah saya baca ulang
lagi sekarang ternyata sangat memalukan ya. Saya heran kenapa Bang Ade dulu
tahan membacanya. Sama seperti saya heran betapa Bang Ade selalu membalas email
saya dengan komentar-komentar positif, yang membuat saya merasa menjadi seorang
penulis handal.
Pun kami cukup sering berkirim email, tapi tetap saja
saya jarang mengobrol dengan Bang Ade. Saat sedang makan beramai-ramai (ini salah
satu hobi Bang Ade, ia rajin mentraktir orang), saya paling-paling cuma diam
mendengarkan, sementara teman-teman lain berebut menarik perhatian Bang Ade
dengan melemparkan topik-topik hebat. Topik-topik yang membuat mereka tampak
sangat pintar, sementara saya cuma terdiam di pojokan sambil membatin “Retno
dodol, Retno dodol, Retno dodol.” Dan saat kebetulan sedang duduk berdua, saya
selalu saja gagal menemukan topik yang cukup pintar dan menarik, sehingga
lagi-lagi saya hanya akan diam dan membatin “Retno gebleg, Retno gebleg, Retno
gebleg.”
Begitulah keadaan ini berlangsung bertahun-tahun
lamanya.
Sampai saya cukup bodoh untuk mengakuinya pada Citra.
Yang mana, kemudian dilaporkan Citra dengan penuh suka cita pada Bang Ade.
Tentu saja, dengan pengabaian total atas kondisi psikologis saya, yang MUNGKIN SAJA merasa malu luar biasa kan yah. Saya masih ingat selama berbulan-bulan
lamanya—atau tepatnya sampai sekarang—saat Citra dengan cueknya meledek “Cieee,
Retno yang nge-fans sama Bang Ade. Bingung nih yeee mau ngomong apaa.” Tentu
saja kesenangannya ini dilakukan di depan Bang Ade ya. Dan saya masih ingat
selama berbulan-bulan lamanya—atau tepatnya sampai sekarang—saat saya ingin
melempar seekor kucing ke Citra setiap kali ia jahil seperti
tadi.
Sementara itu, Citra terus mengajari saya untuk lebih
asertif dalam percakapan. Dan karena saya juga selalu gagal menemukan kucing
untuk dilempar, maka jadilah saya sungguhan mengobrol dengan Bang Ade.
Betul-betul mengobrol. Bukan sekedar obrolan dosen dan mahasiswa. Tapi juga
sebagai teman. Dimana kami bisa saling bercerita satu sama lain. Tentang buku,
film, acara dan musik bagus. Tentang orang-orang yang menyenangkan. Tentang
satu hari buruk lainnya. Sampai tentang topik-topik
yang sungguhan tak penting seperti makanan yang saya lahap hari ini atau pun
setumpuk jokes tolol ciptaan saya (salah satunya adalah anagram Kusuka, btw).
Anyway, akhirnya saya berhasil juga menyampaikan secara
pribadi kekaguman saya terhadap semua tulisan Bang Ade. Akhirnya saya juga
berhasil menunjukkan padanya beberapa tulisan saya yang tidak begitu memalukan.
Fuuh.
Well, sampai sekarang saya memang tak pernah
berteriak norak seperti mimpi saya dulu saat SMP. Saya juga tak pernah
melakukan hal-hal bodoh lainnya saat bersama Bang Ade—rasanya (Hmm, mungkin ini
perlu di ricek lagi ke Citra kali yah). Tapi saat saya sedang pergi bersama
Citra dan Bang Ade, kemudian kebetulan bertemu seorang teman lama, saya bisa
dengan bangga memperkenalkan “Hey, ini temen saya, namanya Ade Armando.”