Archive for April, 2007

(ngayal jadi) heroes (1)

“Kalau kamu terbangun dengan kekuatan super, maka apa
yang akan kamu lakukan?” begitulah teks dalam iklan serial Heroes, serial ciptaan Tim Kring yang sekarang sedang tenar-tenarnya itu.

        Well, kalau itu terjadi pada saya, maka yang pertama
saya lakukan adalah berteriak. “GUA PUNYA KEKUATAN SUPER, YAY!!!” Lalu saya
akan menelpon Citra.
Saya: “Citraaa, guess what?? Gua punya kekuatan super
loh!”
Citra (suara mengantuk): “Uhm.. gua ngantuk” (dan
semena-mena menutup telpon).

Lalu menelpon Ain.
Saya: “In, gua punya kekuatan super loh!!!!”
Ain: “Oya? Eh Jo, enakan mana yah mi Kare rasa sapi
atau Kare rasa ayam?”
Saya: “Rasa ayam. Kuahnya dikit aja, biar kental In.”
Ain: “Oh, ok, thanks Jo”
Saya: “Iyaa..sama-sama..btw, lo lagi masak berapa mi
Kare?”
Ain: “Satu, dan lo nggak boleh minta!” (lalu menutup
telpon dengan judes)

Lalu menelpon Nta.
Saya: “Ntaaa, gua punya kekuatan super loh! Hebat ya
gua??”
Nta: “Trus, No bisa apa?”
Saya: “Mmm..belum tahu..Nta”
Nta: “Trus, No tahu dari mana kalo punya kekuatan
super kalo No belum tahu itu apa?”

Hmm..makes sense. But hell. Setelah saya pikir-pikir,
mungkin menelpon teman adalah ide yang buruk. Jadi mari kita kembali ke bagian
saya teriak-teriak sendiri aja kali yah.
Saya (tereak-tereak): “GUA PUNYA KEKUATAN SUPER!!!
YAY!!!”
Tetangga (tereak sambil melempar printer): “WOOY!!!!
PAGI-PAGI TEREAK-TEREAK, GANGGU ORANG AJAH!!!PINDAH SANA!!!”

Yah pembaca, beginilah pagi hari saat saya terbangun
dengan kekuatan super.

waktu ibu sakit

Beberapa hari yang lalu, ibu saya jatuh sakit.
Malaikat cantik ini kecapekan menempuh perjalanan Jakarta-Yogya-Magelang dalam
prosesi lamaran salah satu abang saya, Hadi. Selama sekitar 2 hari, ibu hanya
bisa terbaring lemah di ranjang. Otomatis batal lah rencana saya dan Ibu untuk
jalan-jalan berdua ke
Semarang,
tempat kami tinggal belasan tahun lalu.

Kecewa, itu pasti.

Tapi semuanya terbayar dengan rasa puas akan
banyaknya hal yang bisa saya kerjakan buat Ibu. Mulai dari memijiti tangan dan
kakinya, mengganti kompresnya, mengusapi bulir-bulir keringat di dahi dan
tubuhnya, menyelimutinya dari ujung kaki sampai sebatas dada, membelikannya
bubur dan menyuapinya makan, mengantarkannya ke kamar mandi, merebuskan air
panas untuk mandi, menyiapkan butir-butir pil yang harus diminum, menyiapkan
teh panas di meja, membantunya salin baju dan berkemas, memakaikannya kaus
kaki. Lalu juga berbaring di sampingnya, sambil mengelusi rambut berubannya,
untuk kemudian mengecupnya “Ibu sayang, cepat sembuh ya..”

Dan rencana jalan-jalan ke Semarang terasa tidak berarti apa-apa…

 

kisah ttg bidadari (3)

Seperti banyak ibu lainnya, Ibu saya juga kerap
bercerita tentang ibunya. Wanita yang saya panggil dengan sebutan “Uti Ayu” ini
sudah meninggal sejak saya masih berumur 2 tahun. “Ibu saya itu baiiiiiik
sekali No, nggak pernah marah sama sekali..” ujar Ibu.

Pernah saat masih kecil, Ibu saya keceplosan bicara
dengan seorang temannya, tentang kakak perempuan Ibu. “Mbakyu ku iku nek
nyambel rak enak lho (Kakakku itu itu kalau membuat sambal, rasanya tak enak)”
ujar Ibu. Ucapan Ibu ini tak sengaja terdengar oleh Uti Ayu. Dan yang dilakukan
Uti Ayu adalah memanggil Ibu saya ke kamar dan menasehatinya dengan lembut.
“Ojo ngono tho Yuk. Iku kan mbakyu mu (Jangan begitu Yuk (panggilan Uti saya
pada Ibu, karena nama ibu saya Yayuk). Itu kan kakakmu sendiri).” Dari sana
saya tahu dari mana Ibu saya belajar untuk menegur seseorang dengan halus.

Uti Ayu juga seorang yang dermawan. Sewaktu tinggal
di Malang, mereka tinggal di sebuah rumah yang cukup besar. Begitu besarnya
sampai Uti Ayu menyewakan beberapa kamar pada sejumlah mahasiswa. “Yang saya
nggak pernah lihat seorang pun dari mereka membayar sama Ibu saya.
Paling-paling mereka cuma membawa oleh-oleh dari kampung,” ujar Ibu saya sambil
tersenyum. Dari sana, saya juga tahu dari mana Ibu saya belajar untuk menjadi
begitu pemurah.

Masih banyak lagi cerita tentang almarhumah Uti Ayu
yang luar biasa ini. Dan dari sana lah saya tahu, wanita seperti apa yang telah
melahirkan seorang bidadari cantik bernama Sangi Siti Rahayu ini. Kalau begini
Citra sering berkomentar “Pantesan yah ibu lo baik banget. Ibunya dulu juga
baik banget sih ya. Nah gua bingung kok bisa ya ibu sebaik ibu lo kok punya
anak kaya lo??”

Ck.

*****

Karena Ibu saya memang betul-betul luar biasa.

Beberapa waktu lalu misalnya, saya pernah pulang
dengan sebuah tato di punggung tangan kiri. Meski awalnya Ibu menatap tangan
saya dengan mata terbelalak, namun Ibu kemudian hanya menghela napas. Lalu
bertanya tenang “Bisa ilang kan No?”. Setelah mendengar jawaban “ya” dari saya,
Ibu pun tak lagi protes. Dan ya, tato temporer yang saya buat di terminal Blok
M itu pun hilang seminggu kemudian.

         Ibu
tak protes saat saya mengenakan baju dengan paduan yang aneh-aneh (seperti
misalnya luaran mirip lingerie hitam di atas kaos putih). Paling-paling ibu
hanya tersenyum. Sampai saya pulang dan mengeluh sendiri bahwa hari ini saya
tampak aneh, baru Ibu mengaku. “Iya sih No, tadi modelnya agak beda,” ujarnya
jujur.

         Ibu
tak protes saat saya pernah naksir seorang pria beragama Nasrani (ya, saya
selalu cerita pada Ibu saat dekat dengan seorang pria). “Tentu saja Ibu kecewa
ya Retno. Tapi ibu pingin kamu seneng. Kalau ternyata kalian memang berjodoh ya
Ibu doakan kalian ya,” ujarnya. Dan ya, ternyata saya memang tak berjodoh
dengan pria itu.

            Ibu
tak protes saat saya lagi-lagi memutuskan untuk keluar dari kantor saya. Ibu
tak protes saat sekarang saya lebih banyak menghabiskan waktu saya dengan
menulis di rumah. “Yah, dulu kamu kan langsung kerja abis sidang. Orang kan
biasanya nganggur dulu abis wisuda. Itung-itung sekarang gantinya lah. Yang
penting sekarang kamu melakukan apa yang kamu senangi,” ujar Ibu saya. Dan
betapa saya sangat berterima kasih untuk pengertiannya. 

Hanya pernah satu kali Ibu protes keras.

Itu adalah saat saya menggunduli kepala saya beberapa
tahun lalu (dengan sengaja, tentu saja. Itu bukan “kecelakaan”. Saya memang
sungguhan ingin botak sekali-sekali). Selama berminggu-minggu Bapak dan
abang-abang saya pun menjadikan model rambut saya ini sebagai bahan
bulan-bulanan.

            Tapi
tidak buat Ibu.

Ibu tidak tertawa. Ibu tidak menganggap lelucon yang
dilontarkan Bapak dan abang-abang saya lucu. Dan selama berminggu-minggu yang
sama, Ibu menolak bicara dengan saya. Tak hanya itu, Ibu juga selalu menyebut
nama Tuhan setiap kali melihat saya (sekitar 57.895 kali sehari). Sampai
akhirnya Ibu mengajak saya duduk dan berkata “Retno sayang, anak Ibu tuh
perempuan cuma satu. Besok-besok jangan botak lagi yah. Ibu mohooon
sekali.”

            Saya
menangis mendengarnya.

Tak pernah terpikir sama sekali oleh saya sebelumnya,
bahwa isu rambut saya ternyata sedemikian pentingnya bagi Ibu. Sama seperti tak
pernah terlintas oleh saya bahwa Ibu memendam satu permintaan sederhana
terhadap rambut saya. “Ibu pingin ngepangin rambut kamu nanti kalau udah
panjang ya,” pintanya.

Dan ya, saya tak pernah memotong rambut saya lagi
sejak malam itu.

*****

Ibu saya betul-betul luar biasa.

Saat saya menunjukkan tulisan-tulisan saya
tentangnya, pertanyaan pertamanya adalah “Ini bisa dilihat di internet ya?
Teman-teman kamu bisa baca?” Ketika saya menjawab “ya”, maka muka Ibu akan
bersemu merah. “Duh, dihapus aja ya No. Ibu malu..” katanya.

Dan sambil memeluknya saya akan berujar “Nggak papa
Ibu sayaaang. Biar semua orang tahu betapa indahnya Ibu, dan bahwa Retno punya
ibu yang hebaaaaaat sekaliiii!!!!”

Karena ya, ibu saya memang seorang yang betul-betul
luar biasa.

Dan betapa saya berterima kasih karena terlahir
darinya.

in her (or his) shoes

            Kemarin seorang teman bercerita pada saya, bahwa
sejak ia mengemukakan niat untuk menikah dengan pacarnya sekarang, ke dua orang
tuanya mendadak menjadi over protektif. Antar jemput ke mana-mana. Jam malam
diperketat, dari semula pukul 23 menjadi pukul 21. Weekend harus di rumah, dan
bukannya main bersama pacar atau pun teman-teman. “Gua berasa kaya gua nih anak
umur 17 tahun deh No,” keluh teman saya itu.

             Saya
tersenyum mendengarnya.

           Bukan
karena tak bersimpati, tapi karena kurang lebih saya juga mengalami hal serupa.
Saya katakan “kurang lebih” karena saya tidak mengemukakan niat untuk menikah
dalam waktu dekat pada orang tua. Jadi “kurang lebih” yang saya alami adalah
diperketatnya jam malam, permohonan untuk mengurangi waktu weekend dengan main
bersama teman-teman, dan puluhan telpon dari rumah saat saya tak kunjung pulang
pukul 20. Yang baru terjadi akhir-akhir ini adalah, saat Bapak memveto rencana
saya untuk traveling sendirian ke
Malang dan Surabaya, saat kami berada di Yogya. Pun saya sudah sering
bepergian sendirian ke
sana
sejak saya SMP, tetap saja Bapak menolak untuk menarik keputusannya.

Persis seperti teman saya, saya pun mulai merasa
diperlakukan seperti remaja umur 17 tahun yang tak becus mengurus dirinya
sendiri dan tak bertanggung jawab. Sampai ibu saya yang bijaksana mengemukakan
pendapatnya. “No, kalau nanti kamu jadi orang tua, pasti kamu akan ngerasain
khawatirnya kami. Coba sekarang umur kamu berapa, bentar lagi juga kamu pergi
menikah, punya anak, dan berada dalam posisi kami,” ujarnya lembut.

Saat itu, reaksi saya adalah tergelak dengan tidak
sensitifnya. “Ya olllooo Bu, masih lama kaliiii. Retno mah kudu nyari dulu
laki-laki yang khilaf mau sama Retno,” ujar saya bercanda.

Benar-benar reaksi yang sangat tidak sensitif.

******

           Dulu saat masih SD, saya pernah baca satu petuah
Barat yang mengatakan bahwa kalau ingin tahu rasanya berada dalam posisi orang
lain, maka cobalah untuk melepaskan sepatumu. Lalu, kenakan sepatu orang lain
dan berjalan-jalan lah sejauh kamu bisa. Pikir saya waktu itu, “Ih pasti kakinya lecet deh,
kan sepatu orang bisa kebesaran atau kekecilan di kaki
kita.”

Memang.

Tapi setidaknya, kita belajar merasakan kaki kita
berada di dalam sepatu orang lain. Belakangan baru saya paham, bahwa petuah ini
juga bisa berarti mencoba memandang suatu permasalahan dari sudut pandang orang
lain.

Dan mendengar cerita teman saya tadi, yang terbayang
di kepala saya justru sepasang orang tua yang tak rela putri kesayangannya
pergi. Seperti anak kecil yang haus kasih sayang, mereka pun mencoba berbagai
cara untuk menggenggam putri mereka. Mulai dari mengekor kemanapun si putri
pergi, sampai menjerit kencang-kencang agar si putri tinggal. Seperti anak
kecil yang rewel, tingkah laku mereka pun juga menguras kesabaran.

Tapi misalnya, seandainya, jikalau, kita sudi
melepaskan sepatu kita. Kemudian meluangkan waktu untuk mencoba sepatu mereka,
dan berjalan-jalan dengan kaki kita di dalamnya, tidakkah mereka hanya lah
sepasang orang tua yang kelewat panik ditinggal sendirian? Bahwa mereka mulai
letih menyusun berbagai rencana untuk mempertahankan putri kesayangan mereka.
Bahwa hanya ini lah cara yang mereka tahu, untuk menyatakan cinta dan perhatian
dalam waktu yang sangat terbatas. Sebelum si putri terbang meninggalkan mereka
dan membangun sarangnya sendiri.

******

Well, sampai saat ini saya memang belum mengemukakan
rencana pernikahan pada ke dua orang tua saya. Tapi belajar dari cerita teman
saya tadi, saya pun mulai mencoba melepaskan sepatu saya. Untuk kemudian
mencoba berjalan dengan sepatu mereka.

Saat ibu saya bercerita selama 3 hari berturut-turut
tentang rencananya menjenguk teman, kemudian seketika bertanya “Ret, kamu ada
acara apa nggak?”, maka saya mulai mendengarnya sebagai permintaan untuk
ditemani. Saat ibu saya menelpon dan bertanya ringan “Masih ingat rumah nggak
No?” saya mulai mendengarnya sebagai “Ibu kangen sama kamu.” Dan saya mulai
menambahkan kalimat “Retno kangen sama Ibu sayang!” di luar jawaban becanda
saya seperti “Ya inget lah Bu. Rumah kita di Jl. Manggis 4 No 2, belum pindah
kan??”

Atau saat Bapak melarang saya untuk bepergian ke
wilayah Jawa Timur, saya mulai melihatnya sebagai satu keinginan Bapak agar kami
bersama-sama melakukan perjalanan pulang ke Jakarta sebagai satu keluarga. Satu
kesempatan langka yang jarang terjadi.

Yah, ada masanya orang tua bisa sangat mengesalkan,
memang. Tapi kalau saja kita bersedia menanggalkan sepatu kita, dan menjajal
milik mereka, mungkin kita akan bisa paham alasannya. Karena toh sebentar lagi
kita juga akan pergi. Ya kan?

telur dinosaurus ahan

Ketiga keponakan saya memang kerap punya mainan
aneh-aneh. Salah satunya adalah saat mereka minta oleh-oleh mainan pada Ibu
saya, sebelum kami berangkat ke Yogya.

Ibu: “Kalian mau apa sayang?”
Ahan: “Telor dinosaurus!”
Kami (bengong): “He?”
Dafa: “Telol dinosaulus itu looo”
Ammar: “Au u ga mau elol dino aulus!!” (aku juga mau
telor dinosaurus!!-red)
Kami: (still) “He??”

Sebagai nenek yang baik hati dan sangat mencintai
ketiga cucunya, Ibu saya pun mencoba mencarikan mainan aneh itu. Sayang, karena
sakit, Ibu pun terpaksa menitipkannya pada saudara ipar saya, Mas Burhan dan
istrinya. Berangkatlah mereka dengan bekal pengetahuan minim tentang mainan
telur dinosaurus ini.

Tebak apa yang ditemui Mas Burhan dan istrinya.
Toko 1: “Yah, nggak ada yang isinya telor dinosaurus
Mas. Ada isinya buaya.”
Toko 2: “Yang telor dinosaurus abis Mas. Ada yang
isinya ayam-ayaman”
Toko 3: “Iya Mas, ini bisa isinya jadi ayam beneran.
Tapi dieramin dulu, gimana?”

Anyway, dengan darah dan air mata, Mas Burhan pun
sukses mendapatkan 3 butir telur dinosaurus itu. Ibu saya yang sangat ingin
menyenangkan ke tiga cucunya sampai memperlakukannya super hati-hati, persis
seperti telur dinosaurus sungguhan.

Setibanya di Jakarta, Ibu pun memberikannya dengan
suka cita pada Ahan.
Ibu: “Sayang, ini yaaa telur dinosaurusnyaaaa!!”
Ahan: “Horeeeee!!!! (lalu segera menyiapkan air
panas)
Kami: “Buat apa sayang?”
Ahan (menjelaskan panjang lebar): “Buat mecahin
telurnya itu lo. Jadi, kalau direndam di air panas, nanti keluar
dinosaurusnya.”

Dan jadilah kami yang terdiri dari Ibu (58 tahun),
Bapak (60 tahun), Wira (30 tahun), Hadi (26 tahun), saya (22 tahun) berkerumun
menyaksikan proses kelahiran si dinosaurus yang kesohor ini, dengan penasaran.
Saya bahkan membayangkan, ini seperti adegan di film Jurassic Park, dimana bayi
dinosaurus itu akan memecah cangkang telurnya, lalu menjerit kelaparan,
sehingga kami terpaksa berebutan menyuapinya dengan pipet. Waah, pasti seruu
nii, pikir saya.

15 menit kemudian…
Telur: “Kraaakk, Kraak” (mulai retak dan mengeluarkan
sebentuk dinosaurus karet berukuran sejempol kaki saya).
Ahan: “Horee!!! Udah pecaah!!”

Lalu dengan sigap Ahan mengambil dinosaurus karet
itu, kemudian membuang cangkang telur yang tersisa. Untuk kemudian bersiap-siap
memakai sepatu sekolah, meninggalkan kami yang bengong kebingungan. Sampai
akhirnya seorang dari kami berujar.

Bapak: “Udah Mas Ahan?” Gitu aja?”
Ahan (sambil menalikan sepatu): “Iyaa!”
Saya: “Trus mainannya bisa ngomong nggak? Atau
ngapain gitu?”
Ahan (tertawa seolah-olah pertanyaan saya bodoh
sekali): “Ya ndak lah Tante Retnooo. Tapi kalo dicelupin air lagi, nanti
mainannya terasa lengket sih”
Saya (mulai frustasi): “Beneran gitu aja???Trus
kulitnya dibuang gitu aja??”
Ahan (menjawab riang): “Iya! Wong aku Cuma pingin
mecahin telurnya aja kok. Makasih yaaaa Mbah Sam, Uti Ayu, Om Wira, Om Hadi,
Tante Retno. Pamit yaaa. Daaaaa!!”

 
Ealaah. Hosh.  

unwritten: natasha bedingfield


I am unwritten, can’t read my mind, I’m undefined
I’m just beginning, the pen’s in my hand, ending unplanned

Staring at the blank page before you
Open up the dirty window
Let the sun illuminate the words that you could not find

Reaching for something in the distance
So close you can almost taste it
Release your inhibitions
Feel the rain on your skin
No one else can feel it for you
Only you can let it in
No one else, no one else
Can speak the words on your lips
Drench yourself in words unspoken
Live your life with arms wide open
Today is where your book begins
The rest is still unwritten
The rest is still unwritten
The rest is still unwritten

kenapa saya menulis

        “Mengapa kamu ingin menulis?” itulah salah satu judul
sub bab dalam buku Write Where You Are: How to Use Writing to Make Sense of
Your Life karya Caryn Mirriam-Goldberg, PhD.

         Well,
alasan saya untuk menulis sebenarnya
sederhana saja. Karena saya butuh menulis. Sebagai orang yang sangat tidak
asertif, menulis membantu saya untuk mengungkapkan apa yang saya pikirkan dan
saya rasakan. Dan ya, nyatanya memang banyak hal yang bisa saya ungkapkan lebih
baik lewat tulisan.

       Saat
menulis saya bisa menemukan seorang sahabat yang menghadirkan sebuah dunia
mungil yang nyaman hanya dengan berbekalkan sebatang spidol hitam dan
berlembar-lembar kertas kosong. Disana, saya akan bersenang-senang dengan
bermain bersama kata, ide, dan tanda baca.

Seperti seorang sahabat yang mencintai kamu apa
adanya, saya bisa bercerita apa saja saat menulis. Saya bisa bercerita tentang
orang-orang yang saya temui hari ini, langit yang saya lihat, lagu yang saya
dengar, pertanyaan-pertanyaan tentang hidup yang tak henti memukuli kepala
saya, juga setumpuk kekonyolan dan percakapan lucu yang kerap terjadi antara
saya dengan teman-teman saya yang punya selera humor luar biasa.

       Dan
seperti seorang sahabat yang sangat sabar, menulis membantu saya melewati
hari-hari yang sulit. Seperti psikiater handal, ia akan duduk diam-diam dan
mendengarkan saya meracau. Dan saat saya kehabisan kata untuk menggambarkan apa
yang saya rasakan, menulis memperkenalkan saya pada sahabat lainnya, personifikasi
dan metafora. Bersama mereka, saya belajar menguraikan emosi-emosi yang kerap
kelewat abstrak untuk dipahami. Seperti pintu lemari pakaian tua yang menjadi
gerbang masuk Narnia dalam kisah CS Lewis, personifikasi dan metafora
mengantarkan saya pada pintu-pintu dunia imaji yang luar biasa. Dimana ada
seorang perempuan yang jatuh cinta pada Hujan, ada kota yang mengirimkan
surat-surat pemberitahuan kematian pada warganya, ada seorang gadis kesayangan
semua orang yang terpaksa dimakamkan dengan nisan tak bernama, dan masih banyak
lagi pintu yang menunggu untuk saya buka.

Saya menulis karena saya senang memilih kata-kata
yang akan saya gunakan, menambahinya imbuhan dan sisipan. Saya senang
merangkainya menjadi satu kalimat sederhana. Saya senang menciptakan
paragraph-paragraph dengan jeda-jeda emosi, dimana saya sebagai pembaca akan
terhenyak, tertawa, tercekat atau hanya sekedar menghela napas panjang. Saya
senang membaca keseluruhan tulisan berulang-ulang, memastikan alurnya mengalun
pelan seperti sampan yang berlayar mengikuti aliran sungai. Saya senang memilih
judul yang pas, saya senang mengoreksi ejaan dan spasi, kata yang di miringkan,
berapa jumlah tanda kurung dan tanda kutip yang tepat, apakah semua kalimat
sudah diberi titik, apakah komanya tidak terlalu banyak, apakah seluruh tulisan
sudah berada dalam jenis font dan ukuran yang sama, apakah semuanya memudahkan
untuk dibaca. Dan saya paling senang saat revisi terakhir dimana semuanya sudah
rapih, lalu saya bisa menghela napas lega dan bilang pada diri saya sendiri
“Hey No, kamu baru bikin satu tulisan lagi lho!”

Seperti sekarang.

                                                                 ******

Jadi, mengapa saya menulis?

Alasannya sederhana saja. Karena saya cinta menulis.

Itu saja.

circle of friends (4): ade armando

Dulu Ardian
pernah bilang sama Bang Ade, “Abang mestinya buka fansclub.” Saya sepenuhnya
setuju. Dan kalau fansclub itu betulan ada, saya pasti akan langsung mendaftar
sebagai salah satu anggota tetapnya.

Nama Ade Armando saya kenal sejak saya SMP. Saat itu,
keluarga kami berlangganan harian Republika, yang setiap minggu memuat tulisan
Bang Ade dalam rubric Marka (Media Ramah Keluarga), yang banyak membahas
mengenai dunia penyiaran. Begitu menariknya tulisan-tulisan Bang Ade, sehingga
saya selalu tak sabar menunggu-nunggu hari Minggu. Bahkan ayah saya—yang sangat
jarang tertarik dengan dunia tulis-menulis—sampai mengkliping tulisan-tulisan
Bang Ade yang dimuat di kolom Resonansi.

Selama bertahun-tahun lamanya, saya selalu
membayangkan saat saya bertemu dengan Ade Armando. Saya mungkin akan menjabat
tangannya, dan berujar “Waaa..tulisan Anda baguus sekali. Saya udah nge-fans
dari SMP, dan selalu pingin ketemu langsung lho. Apa saya boleh berteriak
sekarang?” Lalu saya akan berteriak norak “Gua dah ngomong sama Ade
Armandoooo!!!!!!”

Well, pelan-pelan impian saya mulai terwujud. Dimulai
dengan diterimanya saya di jurusan Ilmu Komunikasi UI. Dimana Ade Armando
menjabat sebagai ketua jurusannya. Saya ingat, pertama kalinya saya sungguhan
bertemu dengan idola saya ini adalah saat si ketua jurusan menyambut kami, para
mahasiswa baru. Sambil tersenyum Bang Ade memperkenalkan dirinya dengan “Ya,
saya Ade Armando..yang sama sekali tak berhubungan dengan Betty LaFea ya.” Mendengarnya
sambutan singkatnya, saya tahu bahwa idola saya ini punya selera humor yang
menarik.

Tambahkan sikap hangat yang selalu bersahabat, kadar
empati yang tinggi terhadap orang lain, berpikiran terbuka dalam diskusi
apapun, sangat sangat pintar, selalu
berhasil untuk positive thinking, dan terkesan bisa dimintai tolong oleh banyak
orang, menjadikan Bang Ade selalu dikerubungi banyak penggemar di kampus. Mulai
dari para mahasiswa, dosen, cleaning service, sampai penjual makanan kecil
keliling. Seorang mahasiswa bahkan pernah berbisik-bisik “Hey, itu the famous
Ade Armando” saat saya dan teman-teman makan bersama Bang Ade di kantin kampus.
Dan tentu saja yang dilakukan Bang Ade adalah menghampiri si mahasiswa dan
menyalaminya dengan ramah. “Halo, saya Ade Armando,” sapa Bang Ade. Satu sapaan
sederhana yang sukses membuat wajah si mahasiswa memerah seperti kepiting
rebus.

Karena Bang Ade memang selalu punya cara istimewa
untuk menyapa seseorang, siapapun itu. Ia selalu menyapa seseorang dengan
hangat dan entah bagaimana, selalu berhasil membuat lawan bicaranya merasa
menjadi seseorang yang lebih baik. Sama seperti Bang Ade juga selalu punya cara
istimewa dalam memberikan kritik.

Saya ingat, kelas pertama Bang Ade yang saya hadiri
adalah kelas Jurnalistik Media Cetak. Pada hari pertama, Bang Ade meminta kami
yang notabene mahasiswa baru untuk menulis apapun tanpa berhenti selama 2
menit. Saat itu saya berpikir “2 menit?? Tulisan apa yang bisa kamu buat dalam
waktu 2 menit?? Saya perlu berminggu-minggu untuk menghasilkan satu cerpen!!”

2 menit pun habis. Dan Bang Ade meminta salah satu
dari kami untuk membacakan hasil tulisannya. Tebak siapa yang dipilih acak Bang
Ade saat itu. Yup, saya. Sebelumnya ya pembaca, ini betul-betul di luar
bayangan saya. Karena dalam mimpi saya, saya membayangkan datang pada Bang Ade
dengan membawa beberapa tulisan—yang saya kira—cukup baik. Tulisan-tulisan yang
telah saya siapkan selama berminggu-minggu lamanya. Dan bukannya tulisan kacau
yang harus siap dalam waktu 2 menit.

Anyway, jadilah saya membacakan salah satu tulisan
terburuk sepanjang masa itu. Saya ingat, saya menulis tentang masa kecil saya
di Semarang, rumah yang saya tempati, SD Negeri tempat saya bersekolah, tempat
saya mengaji, jajanan yang saya makan, delman yang lewat rumah kami setiap 5
menit sekali, juga tentang kelinci saya yang mati dimakan anjing. Semuanya ditulis
dengan tata bahasa kacau, logika kalimat amburadul, tanpa adanya alur dan jalan
cerita, plus tulisan tangan yang keriting. Sama sekali tak pantas untuk
dibacakan di depan kelas. Terutama di depan seorang Ade Armando.

Tapi reaksi Bang Ade benar-benar di luar dugaan saya.

            Dengan sabar, Bang Ade mendengarkan ucapan saya yang
tergagap-gagap. Ia tidak menertawakan tulisan saya, seperti banyak mahasiswa lainnya
yang berbisik-bisik di belakang saya. Ia tidak menganggap saya bodoh atau aneh.
Ia hanya duduk diam, dan sungguhan mendengarkan. Setelahnya, Bang Ade berujar riang
“Saya suka kamu pakai banyak detil di tulisan kamu, meski tentu saja masih
harus di tata ulang yah. Karena ya, apa yang bisa kita tulis dalam waktu 2
menit
kan? Dan oh ya, omong-omong, saya suka detil kelinci
kamu dimakan anjing.”

Begitulah cara Bang Ade mengkritik mahasiswanya.

Ia akan memuji kelebihan si mahasiswa—apapun itu, kemudian
menunjukkan cara untuk mengatasi kekurangannya, sekaligus memberi semangat agar
si mahasiswa tidak menyerah. Mahasiswa mana yang tak merasa hebat dengan dosen
seperti itu?

******

Sejak saat itu, saya dengan tebal mukanya, rajin
membombardir email Bang Ade dengan esai-esai saya—yang setelah saya baca ulang
lagi sekarang ternyata sangat memalukan ya. Saya heran kenapa Bang Ade dulu
tahan membacanya. Sama seperti saya heran betapa Bang Ade selalu membalas email
saya dengan komentar-komentar positif, yang membuat saya merasa menjadi seorang
penulis handal.

Pun kami cukup sering berkirim email, tapi tetap saja
saya jarang mengobrol dengan Bang Ade. Saat sedang makan beramai-ramai (ini salah
satu hobi Bang Ade, ia rajin mentraktir orang), saya paling-paling cuma diam
mendengarkan, sementara teman-teman lain berebut menarik perhatian Bang Ade
dengan melemparkan topik-topik hebat. Topik-topik yang membuat mereka tampak
sangat pintar, sementara saya cuma terdiam di pojokan sambil membatin “Retno
dodol, Retno dodol, Retno dodol.” Dan saat kebetulan sedang duduk berdua, saya
selalu saja gagal menemukan topik yang cukup pintar dan menarik, sehingga
lagi-lagi saya hanya akan diam dan membatin “Retno gebleg, Retno gebleg, Retno
gebleg.”

Begitulah keadaan ini berlangsung bertahun-tahun
lamanya.

            Sampai saya cukup bodoh untuk mengakuinya pada Citra.
Yang mana, kemudian dilaporkan Citra dengan penuh suka cita pada Bang Ade.
Tentu saja, dengan pengabaian total atas kondisi psikologis saya, yang MUNGKIN SAJA merasa malu luar biasa
kan yah. Saya masih ingat selama berbulan-bulan
lamanya—atau tepatnya sampai sekarang—saat Citra dengan cueknya meledek “Cieee,
Retno yang nge-fans sama Bang Ade. Bingung nih yeee mau ngomong apaa.” Tentu
saja kesenangannya ini dilakukan di depan Bang Ade ya. Dan saya masih ingat
selama berbulan-bulan lamanya—atau tepatnya sampai sekarang—saat saya ingin
melempar seekor kucing ke Citra setiap kali ia jahil seperti
tadi.

Sementara itu, Citra terus mengajari saya untuk lebih
asertif dalam percakapan. Dan karena saya juga selalu gagal menemukan kucing
untuk dilempar, maka jadilah saya sungguhan mengobrol dengan Bang Ade.
Betul-betul mengobrol. Bukan sekedar obrolan dosen dan mahasiswa. Tapi juga
sebagai teman. Dimana kami bisa saling bercerita satu sama lain. Tentang buku,
film, acara dan musik bagus. Tentang orang-orang yang menyenangkan. Tentang
satu hari buruk lainnya. Sampai  tentang topik-topik
yang sungguhan tak penting seperti makanan yang saya lahap hari ini atau pun
setumpuk jokes tolol ciptaan saya (salah satunya adalah anagram Kusuka, btw).

Anyway, akhirnya saya berhasil juga menyampaikan secara
pribadi kekaguman saya terhadap semua tulisan Bang Ade. Akhirnya saya juga
berhasil menunjukkan padanya beberapa tulisan saya yang tidak begitu memalukan.
Fuuh.

Well, sampai sekarang saya memang tak pernah
berteriak norak seperti mimpi saya dulu saat SMP. Saya juga tak pernah
melakukan hal-hal bodoh lainnya saat bersama Bang Ade—rasanya (Hmm, mungkin ini
perlu di ricek lagi ke Citra kali yah). Tapi saat saya sedang pergi bersama
Citra dan Bang Ade, kemudian kebetulan bertemu seorang teman lama, saya bisa
dengan bangga memperkenalkan “Hey, ini temen saya, namanya Ade Armando.”   

 

angel: sarah mclahlan

Spend all your time waiting for that second chance
For the break that will make it OK
There’s always some reason to feel not good enough
And it’s hard at the end of the day
I need some distraction or a beautiful release
Memories seep from my veins
Let me be empty and weightless and maybe
I’ll find some peace tonight

In the arms of the Angel far away from here
From this dark, cold hotel room, and the endlessness that you fear
You are pulled from the wreckage of your silent reverie
You’re in the arms of the Angel; may you find some comfort here

So tired of the straight line, and everywhere you turn
There’s vultures and thieves at your back
The storm keeps on twisting, you keep on building the lies
That you make up for all that you lack
It don’t make no difference, escaping one last time
It’s easier to believe
In this sweet madness, oh this glorious sadness
That brings me to my knees

In the arms of the Angel far away from here
From this dark, cold hotel room, and the endlessness that you fear
You are pulled from the wreckage of your silent reverie
In the arms of the Angel; may you find some comfort here

You’re in the arms of the Angel; may you find some comfort here

tanya nta

Nta
hampir selalu jadi panduan kami saat menunjukkan arah. Dia bisa membaca peta,
tahu jalan, dan juga tahu jalan alternative. Tak heran kalau dia banyak
mendapat pertanyaan ajaib, seperti:

”Kalo dari Grogol ke
Kemayoran yang paling cepat dan gak kena macet naik apa ya?”

Atau
”Lo, tau kantor telkom yang
di daerah kebon jeruk?, dari Kemanggisan naik apa kesana?”


juga seperti
”Dari Ciledug ke Dufan, trayek bis termurah yang tanpa copetnya gimana?”


dan,
”Dari kampus UI Depok ke Unilever Petukangan, paling irit bensin lewat mana?
Yang gak macet aja deh, yang jalannya adem, kalaupun masuk tol, yang tiketnya
murah, ada kan Shinta?”


atau bahkan pertanyaan darurat seperti:
”Shinta, tolong gua nyasar, sekarang gua di daerah yang ada danaunya, gua di
tukang tambal ban pinggir jalan, dibawah pohon yang ditempelin poster iklan
tulisannya ’TADI, MENYEWAKAN ALAT PESTA’ di sebelah gua ada bungkus indomi kari
ayam, nah, gua harus ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara, gimana caranya?” (dikutip
dari Ask Shinta: www. shintaanita.blogspot.com)

Begitulah,
Nta adalah ibu navigasi banyak orang. Termasuk saya. Maka saat akan bepergian,
saya pun menelpon Nta.
Saya:
“Nta, nanya dong. Gua mau ke Semarang yah. Gimana caranya sampe di Semarang
dalam 1 jam, dengan bayaran murah, aman, bebas kecelakaan, dan ada pelayan
ganteng yang bisa dikecengin?”
Nta
(menjawab datar): “Gini No, pertama lo pergi ke dukun. Trus ntar lo minta jin
yang bisa nganter lo ke Semarang”
Saya
(menjawab riang sebelum menutup telpon): “Oh, ok. Thanks a lot Nta! Lo emang jago
pisan deh soal beginian!”

Setelah
menutup telpon….
Saya
(mulai mikir): “Hmm..kayanya ada yang janggal yah dengan percakapan
barusan..tapi gua nggak tahu apa. ..gee, I have no clue..”

Hmmm…..

« Previous entries