Banyak orang yang menganggap angka 13 sebagai angka sial. Tapi tidak demikian dengan saya. Karena 13 justru adalah angka usia di mana saya mengalami masa-masa yang sangat menyenangkan. Masa-masa SMP.
SMP saya adalah SMP 89, sebuah SMP negeri yang berada dekat rumah. Hanya butuh 5 menit berjalan kaki untuk mencapainya. Begitu dekatnya, sampai-sampai dulu saya sering pulang ke rumah saat membolos pelajaran terakhir. Karena ke dua orang tua saya bekerja, dan semua abang saya sekolah, jadi lah saya ratu kecil di rumah. Sampai akhirnya, teman-teman saya datang mengantarkan tas sekolah saya, setelah bel pulang berbunyi—bunyi yang lebih mirip nada tunggu telepon rumah saya sebenarnya.
Saya ingat, dulu saya duduk di kelas 1-7. Dan karena gedung kelas yang ada sangat terbatas, jadi lah kami murid kelas 1 dimasukkan kelas siang. Saya ingat, saya selalu saja bangun siang, sekitar jam 8. Meja makan berantakan dengan piring-piring bekas sarapan dan gelas-gelas setengah kosong. Tapi ketimbang mencuci piring dan membereskan rumah seperti pesan Ibu, yang saya lakukan malahan menyetel televisi. Musik Pagi di AN TV. Nuansa Musik di RCTI. Dan tentu saja, MTV.
Dua jam kemudian, baru lah saya mulai mencuci piring. Sambil menyetel volume yang kencang, saya mulai membilasi piring dan gelas. Kemudian merapikan tempat tidur. Dilanjutkan menyapu rumah, sambil merapikan setiap kamar yang saya masuki. Terakhir, menanak nasi untuk makan siang orang rumah yang akan pulang. Hanya nasi, karena Ibu akan membawa lauk-pauk makan siang, seusai ia mengajar.
Sekitar jam 12 baru lah saya berangkat dari rumah. Dengan mampir dulu di depan ruangan laboratorium biologi, di mana saya dan serenceng murid pemalas lainnya akan mencontek PR beberapa teman yang rajin. Untuk kemudian masuk kelas pada pukul 13, dan pulang pada pukul 17.30.
*******
Kantin SMP saya ada tiga. Satu terletak di dekat pos satpam—yang tak pernah diisi satpam. Disana, ada penjual es teh bernama Alek (dengan “k”, bukan “x”) yang dulu sering mengomeli saya karena kerap menghabiskan persediaan sedotannya (ya, dulu saya hobi minta minum ke orang lain, bermodalkan sedotan baru), dan warung bakso yang punya menu bakso telur, yang juga menu favorit saya.
Kantin kedua adalah kantin di belakang sekolah, yang menjual nasi uduk. Ini adalah kantin tempat saya, dan kedua teman dekat saya, Ayu dan Marsitta, akan belajar bersama sebelum ulangan umum kelas 3, sambil sarapan. Ini juga tempat Marsitta kerap membagikan kue atau makanan lainnya, yang akan direbutkan Ayu dan saya melalui perang sendok dan garpu. Literally.
Sementara kantin ketiga adalah kantin di samping kelas 2-1. Kantin yang sekaligus juga kantin favorit saya, karena menu utamanya adalah mi instant seharga serebu. Plus, penjualnya jarang mengomel saat saya menghabiskan persediaan sedotannya—ini terjadi saat Alek mulai bersungut-sungut melihat saya menghampirinya, sehingga saya terpaksa ganti target. Selain itu, kantin ini, juga kelas ini yang mengenalkan saya pada seorang teman yang sangat menyenangkan.
Namanya I Gusti Ayu Adnyani.
Biasa dipanggil Ayu, anak bertubuh mungil ini beragama Hindu. Saat saya kelas 1 dan 2, Ayu adalah tipe siswi popular, karena ia pintar, cantik—yang mana baru saya sadari bertahun-tahun kemudian ya. Gee, pantas saja dia sering dapat surat cinta dari siswa lainnya ya. Anyway, sementara saya hanya lah siswi tomboy berantakan, yang kerap melakukan jokes konyol. Karena saya punya kebutuhan besar untuk membuat teman-teman saya tertawa, maka saya sering main ke rumah teman-teman saya, meski pun ia bukan geng saya (saya menyebutnya geng, karena dulu teman-teman SMP saya menyebut kami begitu. “Geng” ini duduk di satu baris kelas, dimana para personelnya adalah siswi-siswi popular yang hobi bergosip. Well, sampai sekarang pun saya bingung kenapa dulu saya bisa ada disana yah. Karena saya sama sekali tidak popular juga tidak hobi bergosip, apalagi menggencet adik kelas—jadi hmm..itu pasti karena kebetulan saja saya memilih kursi di barisan itu, dan terjebak disana. Oh well).
Nah, pada suatu hari, mainlah saya ke rumah Ayu, bersama seorang temannya, Asti. Saat itu sore hari, saat seorang keponakan Ayu yang masih bayi disuapi oleh pembantunya. Karena saya ingin membuat si bayi tertawa, maka saya pun memasang banyak mimik lucu, sebelum pulang.
Sesampainya di rumah, Ayu menelpon saya. “Eh dasar lo ya. Abis liat lo, ponakan gua muntah-muntah tuh,” ujarnya geli. Telpon itu lah yang berujung pada ratusan obrolan di telpon, juga sekian banyak jam yang kami lewatkan bersama—mulai dari mal, tempat les matematika, Mc Donald’s, Swensen’s, Dunkin Donut’s, perpustakaan, danau belakang Citraland, rumah saya, rumah dia—tentu saja dengan persetujuan awal, saat keponakannya tidak ada.
Karena Ayu betul-betul seorang teman yang menyenangkan. Dia bisa diajak seru main kejar-kejaran di escalator mal, atau balapan naik lift. Dia hobi baca dan kami sering bertukar buku bacaan karenanya. Dia mengenalkan saya pada novel John Grisham dan Sidney Sheldon, sementara saya mengenalkannya pada Mario Puzo, Amy Tan, dan Agatha Christie. Dan yang terpenting, Ayu punya selera humor yang luar biasa.
Kami bisa berlomba menutup telpon dengan berteriak “Gua duluan!!”, atau memelesetkan nama “Romi”—salah satu fans Ayu—menjadi “Topi”, “Rompi”, “Kopi”, “Sloki”, “Ceki”, “Roti”, atau “Sapi”. Atau sekedar mengusili penjaga koperasi kami, seorang pria berkumis bernama Pak Asda, yang kerap dipanggil Ayu dengan sebutan “OmAs—Om Asda”. Ayu paham saat saya mengenakan seragam batik di hari Selasa, itu pasti karena saya belum mencuci seragam putih saya, dan ia akan membantu saya berbohong pada guru BP dengan “Iya Bu Dina. Retno lupa ini hari Selasa, dikira ini hari Jumat, trus tadi dia datang telat deh!” Ayu juga paham saat saya mengirimkan ikat pinggang karate warna kuning sebagai ucapan selamat hari raya Kuningan (yang dibalas dengan kiriman tempelan foto kepala saya dalam berbagai pose Geri Haliwell dalam klip Look at Me). Atau saat saya iseng menelponnya di telpon umum, dan kemudian memberikan gagang telpon begitu saja pada seorang kenek angkot, reaksi Ayu hanya lah tertawa terbahak-bahak. Well, tidak “hanya” sih, karena ia juga memaki saya “Dasar lo tuh yaa!! Kok bisa-bisanya lo biarin dia ngomong sama gua???”. Yah, jokes kecil semacam itu lah.
Di malam ulang tahun saya, Ayu akan menelpon saya setiap 15 menit sekali untuk bernyanyi lagu “Abang tukang bakso, mari mari sini, aku mau belii”. Hanya saja, untuk 15 menit berikutnya, ia akan mengganti kata “bakso” dengan nama makanan favoritnya, seperti mi ayam, somay, pempek, pizza, dan masih banyak lagi. Setelah puas mengganggu saya, keesokan harinya, ia akan memberikan kado-kado aneh. Seperti underwear ungu ternorak di dunia, misalnya. Yang dengan rajinnya dijahiti Ayu lagi dengan manik-manik bling-bling berbentuk hati. Pada ulang tahun saya yang ke-17, Ayu malah dengan nekatnya datang ke rumah saya jam 12 malam sambil membawa karangan bunga. “Karena gua pingin jadi orang pertama yang ngucapin selamat ultah ma lo. Welcome to our seventeen world, Sis!”
Begitulah.
Setiap hari yang dilewatkan bersama Ayu adalah jam-jam obrolan panjang menyenangkan, juga jam-jam main yang seru. Dan sekaligus juga jam-jam panjang keheningan menyamankan, saat kami jalan kaki berdua pada pukul 4 pagi di jalan raya.
******
13 adalah angka usia yang saya sukai karena itu juga pertama kalinya saya belajar menulis. Saat itu, saya mengikuti sejumlah lomba resensi buku, diantaranya adalah buku-buku karangan Nh. Dini—yang selama beberapa bulan berikutnya, saya lahap habis semua serinya.
Hanya karena saya jatuh cinta dengan cara seorang Nh. Dini mendeskripsikan sesuatu. Dalam seri Sebuah Lorong di Kotaku misalnya, ia bisa menuliskan dengan rinci tentang pengalamannya naik kereta api ke rumah kakek, atau pengalamannya menangkap ikan, atau bahkan hal sesederhana kegemarannya makan nasi besek. Dan semuanya dituliskan dengan begitu menariknya, sampai-sampai saya merasa seolah-olah bisa mendengar kecipak air yang muncrat saat seekor ikan hasil pancingan mereka tertangkap, atau mencium aroma sedap serundeng dari nasi besek Dini.
Wow.
13 juga angka usia dimana saya banyak sekali membaca buku yang menyenangkan. Saya menikmati cerita keseharian anak-anak ala Astrid Lindgrent, menebak-nebak pembunuh dalam serial Agatha Christie, tertawa terbahak-bahak membaca serial Lupus dan Olga karangan Hilman atau serial Asterix terjemahan Bu Rahartati Bambang, dan terpesona pada banyak ide luar biasa, seperti persahabatan manusia dengan drakula dalam serial Drakula Cilik karya Angela Sommer Bodenburg, kelicikan dan dendam para tokoh Sidney Sheldon, persahabatan seekor babi dan laba-laba karya EB White, sikap dingin dan aksi tutup mulut para mafia dalam karya Mario Puzo, juga tulisan-tulisan sederhana bubin LantanG yang selalu berhasil membuat saya merenung. Dan menghela napas sejenak.
Hampir tiap hari saya tak pernah absen dari daftar pengunjung perpustakaan setempat. Saya akan menyusuri setiap rak buku yang ada, mulai dari rak buku Sastra, Fiksi, Sejarah, Bahasa, Psikologi, Agama, Geografi, Biologi, Ekonomi, bahkan Fisika. Hanya karena saya senang menikmati berada dalam tumpukan buku, dan betapa saya senang membiarkan mata dan jari telunjuk kanan saya menyusuri setiap judul yang ada. Untuk kemudian menarik keluar sebuah buku saat saya menemukan judul yang menarik.
Saya ingat, saya akan pulang ke rumah dengan gembira membawa dua buku pinjaman hasil buruan saya. Lalu setelah mencuci tangan dan kaki dengan tak sabar, saya akan berbaring di atas kasur saya, mulai membuka halaman pertama. Menghirup aroma kertas di depan hidung saya, juga kemerisik halaman yang saya buka lembar demi lembar. Untuk kemudian menenggelamkan diri saya di dalamnya, sebuah dunia yang ajaib luar biasa.
Tanpa sedikit pun merasa bosan.
******
Ada sejuta alasan kenapa saya memilih angka 13 sebagai salah satu angka usia favorit saya. Tapi satu alasan yang bisa merangkum semuanya adalah bahwa 13 tahun adalah masanya saya bersenang-senang. Betapa saya bebas melakukan setumpuk kesalahan tanpa perlu merasa kuatir untuk mempertanggung jawabkannya. Karena saya belum cukup dewasa, dan saya tahu kesalahan-kesalahan kecil saya akan selalu dimaklumi. Betapa saya dengan naifnya punya begitu banyak mimpi, tanpa perlu dihantui kecemasan saat gagal meraihnya.
Betapa saya bisa bersenang-senang dengan semua kebodohan, kejailan, kekonyolan, kenaifan, keluguan, kepolosan, keirasionalan, juga semua kemustahilan. Untuk kemudian menertawakannya begitu saja, saat ada masanya realita menampar kepala saya. Ya, menertawakannya sampai terbahak-bahak dan keluar air mata. Lalu membiarkannya lewat begitu saja, untuk kemudian menunggu dengan tak sabar hari seru lainnya.
Sebuah dunia yang begitu sempurna.
Sungguh-sungguh sempurna.