Archive for May, 2007

cry me a river

        Wanita itu datang lagi ke taman ini. Seperti biasa, ia mengenakan mantel panjang warna hitam. Warna yang senada dengan sepatu bot, rambut sebahunya, dan kacamata hitamnya. Warna yang kontras dengan kulit putihnya yang sepucat kertas.
        Ia tidak pernah mengobrol. Juga tak pernah bersenandung. Tangannya tidak membawa buku bacaan, atau pun menggenggam IPod mungil. Sejujurnya, saya bahkan tak pernah sekali pun melihatnya membawa barang bawaan satu pun juga. Saya hanya melihatnya datang sendirian ke taman ini, duduk di kursi taman yang rindang di seberang saya. Hanya duduk menyilangkan kakinya dan menatap lurus ke depan.
        Mungkin ia tertidur. Tapi kepalanya tak pernah tertunduk lemas. Meski berkacamata hitam, ia selalu tampak waspada. Ia bahkan tak pernah memainkan jarinya, atau juga rambut sebahunya yang berkilau. Ia hanya duduk menyilangkan kakinya, dan menatap lurus ke depan.
        Ia cantik. Meski kacamata hitamnya yang besar hampir menutupi seluruh wajahnya, saya tahu ia cantik. Saya selalu membayangkan betapa indah warna matanya, juga lentik bulu matanya. Betapa cantiknya ia.
        Sayang, wanita itu tak pernah sekali pun melepas kacamata hitamnya. Ia juga tak pernah sekali pun melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. Tidak sekali pun, bahkan saat ia telah berjam-jam duduk di taman ini. Ia hanya duduk diam, menyilangkan kakinya, dan menatap lurus ke depan.
        Ia tidak makan, tidak minum, bahkan tidak juga bangkit untuk ke kamar mandi. Ia tidak memainkan ponsel, atau pun bicara di ponsel. Ia tidak memberi makan burung-burung merpati, juga tidak mengusir setiap ekor lalat dan nyamuk yang singgah di kakinya.
        Ia hanya duduk diam-diam menyilangkan kakinya.
        Dan menatap lurus ke depan.
                                                            ********
        Karena penasaran, maka hari ini saya putuskan untuk menungguinya. Saya akan menunggu sampai bisa melihatnya pergi. Saya duga, ia ada janji kencan rahasia dengan seorang pria.
        Saya ingin tahu, seberapa tampan dan hebatnya pria itu.
        Saya harus tahu.
        Tapi hari sudah larut malam, saat pria misterius itu tak kunjung datang. Sementara taman sudah lengang dan perut saya mulai keroncongan. Kaki saya pegal duduk seharian, dan tangan saya mulai mengusiri nyamuk-nyamuk yang beterbangan. Saya lirik sekilas wanita itu.
        Ia masih ada di sana.
        Tak tahan lagi, saya bangkit. Saya hampiri wanita itu.
        “Maaf, tapi hari sudah malam. Dan tidak baik rasanya seorang wanita muda duduk-duduk di taman sendirian malam-malam begini. Bagaimana kalau saya antarkan pulang? Tentu saja, kalau kamu tidak keberatan..” tawar saya.
        Semula wanita itu tak bereaksi. Kepalanya masih menatap lurus ke depan, seolah-olah tak mendengar satu patah pun kata dari saya. Saya sudah siap mencap wanita ini gila, saat tiba-tiba saja terjadi keajaiban.
        Pelan, pelan sekali, kepala wanita itu menoleh ke arah saya.
        Saya tersenyum. “Nah kan? Yuk pulang, nanti orang rumah kamu kuatir lho..” bujuk saya.
        Tapi wanita itu tak menjawab.
        Pelan-pelan, setetes darah meluncur turun dari balik kacamata hitamnya. Setetes, yang disambut bertetes-tetes lainnya. Membentuk dua garis lurus tegak di pipi pucatnya. Membentuk genangan darah di pangkuan mantel hitamnya, yang kini mulai menetes turun di betis mungilnya, membentuk kubangan kecil darah yang kental di bawah kakinya.
        Darah terus meluncur tanpa henti dari balik kacamata hitamnya yang kini tengah menatap saya lekat-lekat. Darah di pipinya. Darah di mantel hitamnya. Darah di jemari tangannya. Darah di bibirnya. Darah di hidungnya. Darah di dagunya. Darah di lehernya. Darah di dadanya. Darah di betisnya. Darah di perutnya. Darah di mata kakinya. Darah di botnya. Darah, darah, darah dimana-mana, membanjiri semuanya, seolah-olah hendak menelan saya dan dia. Menenggelamkan kami berdua.
        Sementara saya cuma bisa terbelalak menatap semuanya, pelan, pelan sekali, tangan mungilnya yang berlumuran darah bergerak ke arah wajahnya yang juga berlumuran darah. Meraih gagang kacamata hitamnya, melepasnya tepat di depan mata saya yang terbelalak ngeri.
        Dan saya melihatnya.    

lagu enak di malam hari

seven years: norah jones

Spinning, laughing, dancing to her favorite song

A little girl with nothing wrong

Is all alone

Eyes wide open

Always hoping for the sun

And she’ll sing her song to anyone
that comes along

Fragile as a leaf in autumn

Just fallin’ to the ground

Without a sound

Crooked little smile on her face

Tells a tale of grace

That’s all her own

Spinning, laughing, dancing to her favorite song

A little girl with nothing wrong

And she’s all alone

(when i was) thirteen

        Banyak orang yang menganggap angka 13 sebagai angka sial. Tapi tidak demikian dengan saya.  Karena 13 justru adalah angka usia di mana saya mengalami masa-masa yang sangat menyenangkan. Masa-masa SMP.
        SMP saya adalah SMP 89, sebuah SMP negeri yang berada dekat rumah. Hanya butuh 5 menit berjalan kaki untuk mencapainya. Begitu dekatnya, sampai-sampai dulu saya sering pulang ke rumah saat membolos pelajaran terakhir. Karena ke dua orang tua saya bekerja, dan semua abang saya sekolah, jadi lah saya ratu kecil di rumah. Sampai akhirnya, teman-teman saya datang mengantarkan tas sekolah saya, setelah bel pulang berbunyi—bunyi yang lebih mirip nada tunggu telepon rumah saya sebenarnya.
        Saya ingat, dulu saya duduk di kelas 1-7. Dan karena gedung kelas yang ada sangat terbatas, jadi lah kami murid kelas 1 dimasukkan kelas siang. Saya ingat, saya selalu saja bangun siang, sekitar jam 8. Meja makan berantakan dengan piring-piring bekas sarapan dan gelas-gelas setengah kosong. Tapi ketimbang mencuci piring dan membereskan rumah seperti pesan Ibu, yang saya lakukan malahan menyetel televisi. Musik Pagi di AN TV. Nuansa Musik di RCTI. Dan tentu saja, MTV.
        Dua jam kemudian, baru lah saya mulai mencuci piring. Sambil menyetel volume yang kencang, saya mulai membilasi piring dan gelas. Kemudian merapikan tempat tidur. Dilanjutkan menyapu rumah, sambil merapikan setiap kamar yang saya masuki. Terakhir, menanak nasi untuk makan siang orang rumah yang akan pulang. Hanya nasi, karena Ibu akan membawa lauk-pauk makan siang, seusai ia mengajar.
        Sekitar jam 12 baru lah saya berangkat dari rumah. Dengan mampir dulu di depan ruangan laboratorium biologi, di mana saya dan serenceng murid pemalas lainnya akan mencontek PR beberapa teman yang rajin. Untuk kemudian masuk kelas pada pukul 13, dan pulang pada pukul 17.30.
                                                        *******
        Kantin SMP saya ada tiga. Satu terletak di dekat pos satpam—yang tak pernah diisi satpam. Disana, ada penjual es teh bernama Alek (dengan “k”, bukan “x”) yang dulu sering mengomeli saya karena kerap menghabiskan persediaan sedotannya (ya, dulu saya hobi minta minum ke orang lain, bermodalkan sedotan baru), dan warung bakso yang punya menu bakso telur, yang juga menu favorit saya.
        Kantin kedua adalah kantin di belakang sekolah, yang menjual nasi uduk. Ini adalah kantin tempat saya, dan kedua teman dekat saya, Ayu dan Marsitta, akan belajar bersama sebelum ulangan umum kelas 3, sambil sarapan. Ini juga tempat Marsitta kerap membagikan kue atau makanan lainnya, yang akan direbutkan Ayu dan saya melalui perang sendok dan garpu. Literally.
        Sementara kantin ketiga adalah kantin di samping kelas 2-1. Kantin yang sekaligus juga kantin favorit saya, karena menu utamanya adalah mi instant seharga serebu. Plus, penjualnya jarang mengomel saat saya menghabiskan persediaan sedotannya—ini terjadi saat Alek mulai bersungut-sungut melihat saya menghampirinya, sehingga saya terpaksa ganti target. Selain itu, kantin ini, juga kelas ini yang mengenalkan saya pada seorang teman yang sangat menyenangkan.
        Namanya I Gusti Ayu Adnyani.
        Biasa dipanggil Ayu, anak bertubuh mungil ini beragama Hindu. Saat saya kelas 1 dan 2, Ayu adalah tipe siswi popular, karena ia pintar, cantik—yang mana baru saya sadari bertahun-tahun kemudian ya. Gee, pantas saja dia sering dapat surat cinta dari siswa lainnya ya. Anyway, sementara saya hanya lah siswi tomboy berantakan, yang kerap melakukan jokes konyol. Karena saya punya kebutuhan besar untuk membuat teman-teman saya tertawa, maka saya sering main ke rumah teman-teman saya, meski pun ia bukan geng saya (saya menyebutnya geng, karena dulu teman-teman SMP saya menyebut kami begitu. “Geng” ini duduk di satu baris kelas, dimana para personelnya adalah siswi-siswi popular yang hobi bergosip. Well, sampai sekarang pun saya bingung kenapa dulu saya bisa ada disana yah. Karena saya sama sekali tidak popular juga tidak hobi bergosip, apalagi menggencet adik kelas—jadi hmm..itu pasti karena kebetulan saja saya memilih kursi di barisan itu, dan terjebak disana. Oh well).
        Nah, pada suatu hari, mainlah saya ke rumah Ayu, bersama seorang temannya, Asti. Saat itu sore hari, saat seorang keponakan Ayu yang masih bayi disuapi oleh pembantunya. Karena saya ingin membuat si bayi tertawa, maka saya pun memasang banyak mimik lucu, sebelum pulang.
        Sesampainya di rumah, Ayu menelpon saya. “Eh dasar lo ya. Abis liat lo, ponakan gua muntah-muntah tuh,” ujarnya geli. Telpon itu lah yang berujung pada ratusan obrolan di telpon, juga sekian banyak jam yang kami lewatkan bersama—mulai dari mal, tempat les matematika, Mc Donald’s, Swensen’s, Dunkin Donut’s, perpustakaan, danau belakang Citraland, rumah saya, rumah dia—tentu saja dengan persetujuan awal, saat keponakannya tidak ada.
        Karena Ayu betul-betul seorang teman yang menyenangkan. Dia bisa diajak seru main kejar-kejaran di escalator mal, atau balapan naik lift. Dia hobi baca dan kami sering bertukar buku bacaan karenanya. Dia mengenalkan saya pada novel John Grisham dan Sidney Sheldon, sementara saya mengenalkannya pada Mario Puzo, Amy Tan, dan Agatha Christie. Dan yang terpenting, Ayu punya selera humor yang luar biasa.
        Kami bisa berlomba menutup telpon dengan berteriak “Gua duluan!!”, atau memelesetkan nama “Romi”—salah satu fans Ayu—menjadi “Topi”, “Rompi”, “Kopi”, “Sloki”, “Ceki”, “Roti”, atau “Sapi”. Atau sekedar mengusili penjaga koperasi kami, seorang pria berkumis bernama Pak Asda, yang kerap dipanggil Ayu dengan sebutan “OmAs—Om Asda”. Ayu paham saat saya mengenakan seragam batik di hari Selasa, itu pasti karena saya belum mencuci seragam putih saya, dan ia akan membantu saya berbohong pada guru BP dengan “Iya Bu Dina. Retno lupa ini hari Selasa, dikira ini hari Jumat, trus tadi dia datang telat deh!” Ayu juga paham saat saya mengirimkan ikat pinggang karate warna kuning sebagai ucapan selamat hari raya Kuningan (yang dibalas dengan kiriman tempelan foto kepala saya dalam berbagai pose Geri Haliwell dalam klip Look at Me). Atau saat saya iseng menelponnya di telpon umum, dan kemudian memberikan gagang telpon begitu saja pada seorang kenek angkot, reaksi Ayu hanya lah tertawa terbahak-bahak. Well, tidak “hanya” sih, karena ia juga memaki saya “Dasar lo tuh yaa!! Kok bisa-bisanya lo biarin dia ngomong sama gua???”. Yah, jokes kecil semacam itu lah.
        Di malam ulang tahun saya, Ayu akan menelpon saya setiap 15 menit sekali untuk bernyanyi lagu “Abang tukang bakso, mari mari sini, aku mau belii”. Hanya saja, untuk 15 menit berikutnya, ia akan mengganti kata “bakso” dengan nama makanan favoritnya, seperti mi ayam, somay, pempek, pizza, dan masih banyak lagi. Setelah puas mengganggu saya, keesokan harinya, ia akan memberikan kado-kado aneh. Seperti underwear ungu ternorak di dunia, misalnya. Yang dengan rajinnya dijahiti Ayu lagi dengan manik-manik bling-bling berbentuk hati. Pada ulang tahun saya yang ke-17, Ayu malah dengan nekatnya datang ke rumah saya jam 12 malam sambil membawa karangan bunga. “Karena gua pingin jadi orang pertama yang ngucapin selamat ultah ma lo. Welcome to our seventeen world, Sis!”
        Begitulah.
        Setiap hari yang dilewatkan bersama Ayu adalah jam-jam obrolan panjang menyenangkan, juga jam-jam main yang seru. Dan sekaligus juga jam-jam panjang keheningan menyamankan, saat kami jalan kaki berdua pada pukul 4 pagi di jalan raya.
                                                           ******
        13 adalah angka usia yang saya sukai karena itu juga pertama kalinya saya belajar menulis. Saat itu, saya mengikuti sejumlah lomba resensi buku, diantaranya adalah buku-buku karangan Nh. Dini—yang selama beberapa bulan berikutnya, saya lahap habis semua serinya.
        Hanya karena saya jatuh cinta dengan cara seorang Nh. Dini mendeskripsikan sesuatu. Dalam seri Sebuah Lorong di Kotaku misalnya, ia bisa menuliskan dengan rinci tentang pengalamannya naik kereta api ke rumah kakek, atau pengalamannya menangkap ikan, atau bahkan hal sesederhana kegemarannya makan nasi besek. Dan semuanya dituliskan dengan begitu menariknya, sampai-sampai saya merasa seolah-olah bisa mendengar kecipak air yang muncrat saat seekor ikan hasil pancingan mereka tertangkap, atau mencium aroma sedap serundeng dari nasi besek Dini.
        Wow.
        13 juga angka usia dimana saya banyak sekali membaca buku yang menyenangkan. Saya menikmati cerita keseharian anak-anak ala Astrid Lindgrent, menebak-nebak pembunuh dalam serial Agatha Christie, tertawa terbahak-bahak membaca serial Lupus dan Olga karangan Hilman atau serial Asterix terjemahan Bu Rahartati Bambang, dan terpesona pada banyak ide luar biasa, seperti persahabatan manusia dengan drakula dalam serial Drakula Cilik karya Angela Sommer Bodenburg, kelicikan dan dendam para tokoh Sidney Sheldon, persahabatan seekor babi dan laba-laba karya EB White, sikap dingin dan aksi tutup mulut para mafia dalam karya Mario Puzo, juga tulisan-tulisan sederhana bubin LantanG yang selalu berhasil membuat saya merenung. Dan menghela napas sejenak.
        Hampir tiap hari saya tak pernah absen dari daftar pengunjung perpustakaan setempat. Saya akan menyusuri setiap rak buku yang ada, mulai dari rak buku Sastra, Fiksi, Sejarah, Bahasa, Psikologi, Agama, Geografi, Biologi, Ekonomi, bahkan Fisika. Hanya karena saya senang menikmati berada dalam tumpukan buku, dan betapa saya senang membiarkan mata dan jari telunjuk kanan saya menyusuri setiap judul yang ada. Untuk kemudian menarik keluar sebuah buku saat saya menemukan judul yang menarik.
        Saya ingat, saya akan pulang ke rumah dengan gembira membawa dua buku pinjaman hasil buruan saya. Lalu setelah mencuci tangan dan kaki dengan tak sabar, saya akan berbaring di atas kasur saya, mulai membuka halaman pertama. Menghirup aroma kertas di depan hidung saya, juga kemerisik halaman yang saya buka lembar demi lembar. Untuk kemudian menenggelamkan diri saya di dalamnya, sebuah dunia yang ajaib luar biasa.
        Tanpa sedikit pun merasa bosan.
                                                        ******

        Ada sejuta alasan kenapa saya memilih angka 13 sebagai salah satu angka usia favorit saya. Tapi satu alasan yang bisa merangkum semuanya adalah bahwa 13 tahun adalah masanya saya bersenang-senang. Betapa saya bebas melakukan setumpuk kesalahan tanpa perlu merasa kuatir untuk mempertanggung jawabkannya. Karena saya belum cukup dewasa, dan saya tahu kesalahan-kesalahan kecil saya akan selalu dimaklumi. Betapa saya dengan naifnya punya begitu banyak mimpi, tanpa perlu dihantui kecemasan saat gagal meraihnya.
        Betapa saya bisa bersenang-senang dengan semua kebodohan, kejailan,  kekonyolan, kenaifan, keluguan, kepolosan, keirasionalan, juga semua kemustahilan. Untuk kemudian menertawakannya begitu saja, saat ada masanya realita menampar kepala saya. Ya, menertawakannya sampai terbahak-bahak dan keluar air mata. Lalu membiarkannya lewat begitu saja, untuk kemudian menunggu dengan tak sabar hari seru lainnya.
        Sebuah dunia yang begitu sempurna.
        Sungguh-sungguh sempurna.   

masokis

        Orang terjahat yang pernah menyakiti diri saya pasti lah saya sendiri. Karena saya tahu persis betapa besarnya kecintaan diri saya pada kata-kata, maka itu lah senjata terampuh yang saya gunakan untuk menyakiti diri saya sendiri. Karena saya juga lah satu-satunya orang yang paling banyak menghabiskan waktu bersama diri saya, maka saya paling tahu kelemahannya, kebenciannya, kebusukannya, serta hal-hal pribadi yang dikuncinya rapat-rapat dari dunia luar. Berbekal itu lah, saya rancang kata-kata paling sempurna untuk membuatnya merasa menjadi seorang pecundang yang rendah serendah-rendahnya.
        Orang yang paling keras terhadap diri saya juga pasti lah saya sendiri.  Saat terjadi hal-hal di luar harapan diri saya, maka saya akan menuding diri saya, menyalahkannya atas segala kelalaian dan keabaian. Begitu kejamnya saya pada diri saya sendiri, sampai-sampai saya tak pernah memberinya jeda untuk menghela napas. Dan tak ada ampun saat diri saya tergelincir melakukan kesalahan. Dengan kejamnya, kata-kata saya akan mencacinya, mencacah harga diri saya seperti cacing.
        Atas semua kesalahan yang dilakukannya, atas semua hal yang tak dikerjakannya, atas semua hal yang tak sempat diraihnya, atas semua kegagalannya. Atas semuanya. Terus dan terus, lagi dan lagi, saya akan menghukum diri saya sendiri dengan brutalnya. Tanpa henti-henti.
        Hanya saya lah orang yang pernah membuat diri saya menangis selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Hanya saya, orang yang terus-menerus membuat diri saya merasa buruk dengan tak membiarkan diri saya melupakan kesalahan yang pernah dibuatnya. Begitu buruknya, sampai-sampai diri saya akan berpikir bahwa satu-satunya hal terbaik yang bisa dilakukannya adalah mati. Mati dan lukislah pelangi, begitu selalu ujar saya pada diri saya sendiri.
        Dan hanya saya lah, satu-satunya orang paling banyak berutang maaf pada diri saya.  Sayangnya, hanya saya lah orang yang paling angkuh untuk minta maaf pada diri saya sendiri. Bahkan dengan setumpuk kesalahan dan hal jahat yang saya lakukan, juga kata-kata mengerikan yang pernah saya ucapkan, tak pernah sekali pun saya minta maaf pada diri saya.
        Tidak sekali pun juga.
                                                            *******
        Puaskah saya? Begitu diri saya kerap bertanya, saat jiwanya sekarat berlumuran darah dari luka hasil siksaan saya. Bahkan saat luka yang lama belum juga sembuh.
        Setelah terdiam sejenak, saya akan menjawab, Tidak, tentu saja tidak. Tapi seumur hidup saya, saya cuma tahu caranya menyakiti diri saya. Hanya itu lah tujuan dan fungsi saya ada. Saya tak tahu lagi lainnya.
        Lalu kami berdua akan menghela napas.
        Kemudian, menangis bersama.

another mantra

sorry to myself: alanis morisette

For hearing all my doubts so selectively and

For continuing my numbing love endlessly.

For helping you and myself: not even considering

For beating myself up and over functioning.

To whom do I owe the biggest apology?

No one’s been crueller than I’ve been to me.

For letting you decide if I indeed was desirable

For myself love being so embarrassingly conditional.

And for denying myself to somehow make us compatible

And for trying to fit a rectangle into a ball.

And

To whom do I owe the biggest apology?

No one’s been crueller than I’ve been to me.

I’m sorry to myself.

My apologies begin here before everybody else.

I’m sorry to myself.

For treating me worse than I would anybody else.

For blaming myself for your unhappiness

And for my impatience when I was perfect where I was.

Ignoring all the signs that I was not ready,

And expecting myself to be where you wanted me to be.

To whom do I owe the first apology?

No one’s been crueller than I’ve been to me.

And

I’m sorry to myself.

My apologies begin here before everybody else.

I’m sorry to myself.

For treating me worse than I would anybody else.

Well, I wonder which crime is the biggest ?

Forgetting you or forgetting myself…

Had I heeded the wisdom of the latter,

I would’ve naturally loved the former.

For ignoring you: my highest voices.

For smiling when my strife was all too obvious.

For being so disassociated from my body,

And for not letting go when it would’ve been the kindest thing.

To whom do I owe the biggest apology?

No one’s been crueler than I’ve been to me.

And

I’m sorry to myself.

My apologies begin here before everybody else

I’m sorry to myself.

For treating me worse than I would anybody else.

I’m sorry to myself.

My apologies begin here before everybody else

I’m sorry to myself.

For treating me worse than I would anybody else

Nn. Grey

Nn. Grey adalah seorang juru ketik yang tinggal di
Kota Pelangi. Setiap pagi, gadis muda berwajah biasa-biasa saja ini akan menggelung
rambut hitamnya menjadi sebuah sanggul kecil, sebelum pergi berangkat kerja
dengan mengenakan setelan abu-abu yang sewarna dengan matanya. Lalu dengan mengenakan sepatu
hitam yang disemir mengkilap, ia akan berjalan kaki ke kantor tempatnya telah
bekerja selama sepuluh tahun lamanya.

Setibanya di tempat kerja, ia akan memasang selembar
kertas polos di mesin ketiknya. Dan mulai bekerja. Sampai tiba waktunya makan
siang. Saat itu, beberapa orang pria dan wanita dari kantor sebelah akan
memasuki pintu kantornya. Mereka datang untuk mengajak makan siang.

Tapi tidak untuk mengajak Nn. Grey.

Mereka datang untuk mengajak Nn. Reed, Nn. Gold, Nn.
Blake, atau bahkan Nn. Brown yang pemalu. Hanya sesekali saja para pria dan
wanita dari kantor sebelah ini menyapa Nn. Grey. Itu adalah saat Nn. Reed, Nn.
Gold, Nn. Blake atau Nn. Brown sedang ke kamar mandi, atau tengah merapikan
mejanya untuk bersiap-siap. Sambil menunggu mereka, para pria dan wanita dari
kantor sebelah ini akan menyapukan pandangan ke seluruh kantor. Dan berhenti
pada Nn. Grey.

“Oh halo Nn. Grey! Sampai hampir lupa kamu ada. Apa
kabar?” tanya mereka berbasa-basi.

Dan Nn. Grey akan tersenyum. “Baik, terima kasih
sudah bertanya,” jawabnya. Sementara si penanya hanya akan mengangguk acuh
sambil  menatap jam tangannya dengan tak
sabar.

Lalu usai Nn. Reed, Nn. Gold, Nn. Blake atau Nn.
Brown usai bersiap-siap, mereka akan pergi beramai-ramai. Riuh mengobrol dan
tertawa, meninggalkan pintu kantor di belakang mereka tertutup di hadapan Nn.
Grey.

Tapi tidak apa-apa. Karena Nn. Grey selalu punya
bekalnya. Dua potong sandwich tuna yang disiapkannya saat sarapan. Lalu ia akan
menyeduh secangkir teh dengan air hangat. Dan duduk diam-diam di kursinya,
menyantap bekal makan siangnya.

Sendirian.

Sepulang kerja, Nn. Grey akan mampir ke sebuah toko
serba ada. Ia akan membeli beberapa bungkus mi instant, atau sekaleng sup ayam.
Setelah menambah belanjaannya yang sangat sedikit dengan sekantung kecil permen
pedas, Nn. Grey akan mengantri di kasir. Tapi saat tiba gilirannya membayar, seorang ibu bertubuh
gemuk dengan rambut di cat pirang platina akan menyerobotnya.

“Sori, saya buru-buru nih,” ujar si ibu yang sibuk
mencari kartu kredit di dompetnya, tanpa merasa perlu untuk memandang wajah Nn.
Grey.

Tapi tidak apa-apa. Nn. Grey akan menunggu.

            Setelah membayar belanjaannya yang sangat sedikit
itu, Nn. Grey akan pulang ke rumahnya. Sebuah apartemen kecil yang terletak di
lantai
lima. Begitu kecilnya, sampai-sampai dalam dua puluh delapan langkah saja ia akan usai mengitari seisinya.

Setelah mengunci pintunya, Nn. Grey akan memanaskan
sup di atas sebuah kompor kecil. Sambil menunggu sup, ia akan mencuci wajahnya,
lalu mengganti stelan kerjanya dengan sebuah piyama tua. Piyama berwarna
abu-abu pudar yang membungkus tubuhnya, saat ia kemudian makan malam sendirian di
sebuah meja kecil, ditemani suara dari sebuah radio tua. Satu-satunya barang
berharga miliknya, yang kini tengah menyiarkan ramalan cuaca.

Usai siaran berita ramalan cuaca, Nn. Grey akan pergi
tidur. Ia akan mencoba membaca beberapa lembar harian Kota Pelangi, yang tak
sempat dibacanya tadi pagi. Nn. Grey akan mengecek kolom baris “Kepada Yang
Tercinta”, siapa tahu ada yang mengirim salam untuknya.

Untuk kemudian menutup koran itu, saat tak
menemukannya. Lalu ia akan mematikan lampu baca di sisi tempat tidurnya, dan
bergelung dalam piyama abu-abu pudarnya.

Pada malam-malam yang tak tertahankan, Nn. Grey akan
menyurukkan wajahnya pada sepotong bantal. Sambil terisak ia akan berbisik pada
dirinya, “Tidak apa-apa, Tidak apa-apa”

Sampai ia merasa lelah, kemudian terlelap karenanya.

                                                    ******

the hill

Saya tahu pasti di mana saya akan dimakamkan.

            Tempat itu adalah sebuah bukit dekat rumah masa kecil
saya. Dulu saya biasa mendakinya setiap sore, hanya untuk menyaksikan
pemandangan separuh
kota saya dari puncaknya. Sambil bersandar pada
satu-satunya pohon besar di
sana.
Saya akan duduk termenung, mengagumi semuanya.

            Betapa setiap rumah dan bangunan hanya tampak seperti
bangunan kotak-kotak berwarna-warni.
Ada beberapa jendela yang terbuka, membuat saya
termenung dan menerka-nerka siapakah penghuninya. Mungkin, seorang wanita
lanjut usia yang sedang menisik kaus kaki biru muda untuk putranya, sambil
menunggu putra kesayangnnya pulang kerja. Mungkin juga, seorang ibu muda yang
tengah menyusui bayi mungilnya yang berpipi gembil. Mungkin sepasang kekasih
sedang berciuman dengan gemetaran untuk pertama kalinya. Mungkin juga seorang
gadis sedang mencuci piring keramik berukiran bunga, sambil bersenandung riang.

Sementara saya akan terus duduk termenung, memandangi
semuanya, mengagumi semuanya. Dan tersenyum. Sampai hari beranjak petang, dan abang
saya akan datang. Dengan napas terengah-engah, ia akan mendaki bukit, kemudian
menyampaikan sebuah pesan. “Hey, dicari Ibu tuh. Dia sudah siapkan makan
malam,” ujarnya.

Lalu kami akan menuruni bukit bersama, menuju sarang
yang nyaman dengan sebuah meja makan bercat biru pudar, tempat sepiring makan
malam hangat disiapkan dengan semerbak wangi bunga sedap malam, yang ditata Ibu
dalam sebuah vas bunga di meja kecil berplitur, dekat meja makan.

Sebuah sarang tempat kami akan pulang.

Rumah.

*****

“Kenapa disana?” begitu tanya salah satu abang saya,
dua hari sebelum hari kematian saya.

Saya menghela napas.

“Saya hanya ingin menyaksikan pemandangan yang sama,
yang selalu membuat saya merasa nyaman dan tersenyum, saat saya beristirahat
nanti.”

“Tapi saya tak akan bisa lagi menjemputmu untuk makan
malam,” ujar abang saya dengan wajah murung.

Saya tersenyum.

“Bisa. Hanya saja, kita tak akan bisa lagi makan
malam bersama.”

the perfect one

        Itu adalah hari dimana saya jatuh cinta.

        Sore itu saya ada janji minum teh bersama seorang teman. Saya sedang mendorong pintu masuk kafe, saat teman saya melambaikan tangannya. Tapi ia tidak sendirian. Di sampingnya, ada seorang pria berkacamata, yang sedang mengaduk cangkir kopi dengan satu sendok kecil.
Teman saya pun memperkenalkan saya pada temannya.

        “Ini Damba, dia suka sekali nulis lho!,” ujar teman saya riang.   
        Sementara saya tersipu lalu mulai mengeluarkan jokes konyol. “Yeah, nulis ‘Ini ibu Budi, ini bapak Budi’,” ujar saya sambil tertawa.

        Tapi pria itu tidak tertawa.

        Dia juga tidak tertawa saat saya berhenti bercanda, dan dengan sangat enggan karena malu, mulai bercerita tentang tulisan-tulisan saya. Tentang penulis-penulis favorit saya, juga karya-karya besar mereka.
Dan dia orang pertama yang tidak tertawa, saat saya bilang bahwa suatu hari nanti saya akan menjadi seperti mereka.
        “Ya, saya percaya kamu bisa,” ujarnya serius.

        Saat itulah saya jatuh cinta padanya.

                                                            *******

        Dan saya makin jatuh cinta padanya, setiap kali ia tertawa. Dan saya makin jatuh cinta padanya saat pada hari-hari berikutnya ia membawakan saya seikat bunga. Kadang sebuket besar bunga mawar merah gelap, kadang seikat bunga lili, kadang hanya segenggam bunga liar yang ditemuinya di jalan.

        Dan saya makin jatuh cinta padanya, setiap kali ia memuji betapa memukaunya saya. Dan saya makin jatuh cinta padanya setiap kali ia berhasil membuat saya tertawa. Benar-benar tertawa. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia selalu berusaha menyisihkan setiap potongan cabai dan paprika dari setiap masakan saya, hanya karena ia tahu bahwa saya tak suka masakan pedas. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia menemani saya terjaga di tengah malam buta. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia berusaha menghabiskan omelet keasinan buatan saya dengan lahapnya. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia berhati-hati memilih kata dan kalimat untuk memberitahukannya pada saya, berhari-hari kemudian.

        Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia menemani saya berdansa. Saya akan menyandarkan kepala saya di bahunya, mencoba meresapi aroma dan keberadaannya ke dalam pori-pori saya. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia menyimpan rapi setiap lembar tulisan dan puisi yang saya peruntukkan baginya. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia menghapus setiap air mata saya, bahkan sebelum air mata itu sempat meluncur turun di pipi saya. Dan saya makin jatuh cinta padanya, setiap kali ia berujar, betapa beruntungnya dia karena memiliki saya. Saya ingat, saya akan bersorak riang, dan tak bisa berhenti tersenyum sepanjang hari. Saya ingin bicara pada setiap orang asing yang saya temui di jalan, tentang betapa menakjubkannya hari saya, betapa indahnya sinar matahari yang membuat dunia menjadi begitu berkilau keemasan.

        Dan saya makin jatuh cinta padanya, pada setiap pagi dimana saya terbangun di sisinya, menatapnya terlelap di samping saya.
Ah, satu lagi hari yang indah untuk dilewati bersamanya.

                                                            ******

        Hari ini, saya tengah mengenang kembali saat pertemuan pertama kami dulu, pada suatu sore di kafe. Saya ingat, langit di luar kafe yang menggelap setelah kami mengobrol selama berjam-jam lamanya. Seketika saya tersadar bahwa saya belum sekalipun menanyakan namanya.

        “Jadi, siapa nama kamu ya?” tanya saya.

        Sambil tersenyum, dia mencondongkan tubuhnya, lalu dengan lembut membisikkan namanya di telinga saya. Lalu saya akan tercenung, dan menatapnya tak percaya.

        Namanya adalah Mimpi.

belajar menggunakan ke dua telinga

        Saya kerap merasa was was dengan wujud teman sebangku saya setiap kali harus bepergian ke luar kota. Biasanya, saya akan sengaja datang lebih awal agar bisa mendului calon teman sebangku saya dan memilih kursi yang dekat jendela.
        Lalu setelah duduk manis, sambil menunggu waktu keberangkatan, saya akan mengisi waktu dengan menebak-nebak calon teman sebangku saya nantinya. Apakah ia tua atau muda, apakah ia bepergian sendiri atau bersama keluarganya, apakah ia pria atau wanita, apakah ia membawa koper besar atau ransel punggung, apakah ia mengenakan jins dan kaus yang nyaman, apakah ia mengenakan sepatu kets atau sandal jepit, apakah ia seorang yang pendiam dan serius ataukah ia orang yang senang mengobrol, apa saja koleksi lagu dalam IPod atau discmannya, buku seperti apa yang dibawanya, apakah ia bisa diajak bercanda, apakah ia suka mengisi TTS, apakah ia menyiapkan banyak uang receh untuk diberikan pada para pengamen dan pengemis yang lewat, apakah ia menyiapkan bekal dari rumah atau memilih untuk membeli nasi bungkus saja untuk makan malamnya, apakah ia tidur mengorok dengan mulut terbuka, apakah wajahnya akan sangat berminyak dan tampak kuyu setibanya kami di tempat tujuan. Dan apakah setelah berpisah nanti, kami masih akan bertemu lagi sebagai sepasang teman lama.
        Well, seringnya harapan saya tak terkabul memang.
        Sering kali teman sebangku saya adalah seorang pria berumur sekitar 25-30 tahun, suatu jenjang umur dimana seorang pria tengah giat-giatnya mencari jodoh. Bahkan saat sedang berada dalam perjalanan. Dan wala, disinilah saya— gadis muda yang bepergian sendirian—terjebak  bersamanya.
        Sering kali ia juga tak cukup menarik untuk diajak ngobrol. Karena pertanyaannya hanya berkisar seputar “Apakah saya punya pacar atau tidak”, “Bolehkah ia kapan-kapan mampir ke rumah saya,” “Dimana alamat rumah saya”, dan “Berapa nomor ponsel saya.” Sering kali saya juga mengantisipasinya dengan mengenakan cincin di jari manis dan menjawab pertanyaan pertama dengan “Iya, saya nanti dijemput suami dan anak ke tiga kami. Kangennya sama mereka!”. Dan karena teman sebangku saya ini seringnya juga tak membawa buku ataupun discman, jadilah sepanjang malam saya terpaksa berpura-pura mendapat sms dan telpon mesra dari suami tercinta, demi menghindari percakapan.
        Tapi suatu kali, teman sebangku saya adalah seorang ibu-ibu yang bawel luar biasa. Bayangkan, baru satu jam duduk bersama saya sudah tahu hampir separuh kisah hidupnya. Saya tahu bahwa ayahnya meninggalkannya sejak ia masih berumur 3 tahun. Saya tahu bahwa ia terpaksa menikah di umur 20 tahun dan meninggalkan kuliah, karena keburu hamil. Dan hanya dalam waktu 3 tahun, si suami meninggalkannya demi wanita lain. Wow, dalam 8 jam perjalanan, niscaya saya bisa menerbitkan satu novel biografi plus 3 profil yang dimuat bersambung di majalah. Tak hanya terkenal, saya juga akan mendulang untung besar, terlebih bila novel tersebut kemudian difilmkan. Hmm, pasti akan repot menjalani masa promosi yang seolah tak ada habisnya itu.
        Tapi hey, masalahnya bukan itu.
        Masalahnya adalah novel itu bahkan belum tercipta, dan saya tetap saja harus menghabiskan 8 jam perjalanan dengan garingnya bersama seorang teman sebangku yang bahkan tidak memberikan secuil pun kesempatan bagi saya untuk bicara, atau sekedar minta ijin untuk memasang earphone. Dengan sangat enggan, saya pun mulai mendengarkan cerita yang mengalir seperti banjir itu.
        Perlahan, saya pun mulai menyadari betapa frustasinya ibu-ibu ini. Betapa ia dengan percaya dirinya membagi seluruh pahit getir hidupnya pada saya, orang asing yang mungkin tak akan pernah dia ingat namanya. Saat itu juga, saya mulai memahami betapa kesepiannya orang ini. 
        Dan saya mulai benar-benar mendengarkan.
        Tak terasa, kereta yang saya tumpangi telah mulai memasuki stasiun tujuan. Saya tengah mengemasi barang bawaan saya—1 back pack dan 1 tas tangan kecil—lalu mulai bersiap-siap berjalan menuju ke pintu keluar saat ibu-ibu berujar             “Maaf, tadi ibu belum tanya nama lengkap adik.”
        Dengan agak terkejut, saya pun menyebutkannya.
        “Oh, Retnadi Nur’aini ya. Makasih ya Dik sudah mendengarkan. Saya akan selalu doakan Adik supaya selamat,” ujar ibu-ibu tulus.
        Saya tersenyum. Sekaligus merasa bersalah karena sempat berprasangka buruk padanya, orang yang mengajarkan saya untuk berempati. Saya pernah baca bahwa mungkin Tuhan menciptakan 2 telinga dan 1 mulut, karena Dia ingin kita lebih banyak untuk mendengarkan ketimbang bicara.
        Well, hari itu saya belajar menggunakan ke dua telinga saya.   

salju pertama di bulan desember

        Seorang gadis kecil bermata hijau tengah terpukau menatap butiran putih salju yang turun pelahan. Salju pertama di bulan Desember. Sebentar lagi Natal. Dan Santa Claus dengan kereta rusanya akan menyelinap masuk lewat cerobong asap membawa sekarung penuh hadiah untuk anak-anak baik.
        Gadis kecil itu telah berusaha menjadi anak yang baik.
        Ia mematuhi semua perintah ibunya untuk tidak mengotori gaun barunya yang berwarna putih, gaun yang sangat ingin dipamerkannya pada teman-teman, karena ia tampak seperti seorang malaikat kecil di dalamnya.
        Ia membantu ibunya membuat kue jahe, lusinan kue jahe, yang harumnya memenuhi kue dapur. Ia juga mematuhi anjuran ibunya untuk selalu memasang topi selama musim panas. Beberapa malam lalu, ia bahkan membersihkan sendiri lantai yang ditumpahinya dengan saus spageti. Dengan rajin, gadis kecil itu menggosok lantainya sampai berkilat, dan ia bisa berkaca di baliknya.
        Ia juga berusaha untuk tidak menyelinap ke balik selimut ibunya, saat malam menjelang. Sambil berhitung “Satu Mississippi, dua Mississippi, tiga Mississippi,..” ia akan memberanikan diri tidur di kasurnya sendiri, meski dengan lampu menyala karena ia takut gelap. Untuk kemudian terlelap pada hitungan ke-97.
        Dan ia sangat berharap Santa Claus tahu itu semua, lalu mengabulkan doanya untuk memiliki sebuah boneka porselen dari toko Bernie’s. Boneka itu cantik sekali. Rambutnya pirang berombak dengan mata biru. Boneka itu juga mengenakan sepotong gaun warna biru berpita, yang warnanya senada dengan warna matanya.             Benar-benar boneka yang cantik sekali.
                                                                ******
        Seorang pria tampak meluruskan punggungnya di sebuah kursi hitam berputar dalam ruangan kantornya yang lengang. Di hadapannya, bertumpuk gunungan pekerjaan yang harus diselesaikannya.
        Padahal sebentar lagi Natal, pikirnya.
        Ia melonggarkan dasi dan menatap jendela kantornya. Di luar, butir-butir putih salju turun pelahan. Dibingkai jendela kantor, pria ini menyaksikan semuanya.
        Salju pertama telah turun di bulan Desember.
        Seketika ia teringat pada rumah masa kecilnya. Pada ibunya yang selalu beraroma rempah-rempah dan sabun. Yang berambut putih dan berkacamata dengan bingkai bulat. Yang menghabiskan waktu luangnya dengan membuat aneka manisan dan selai untuk disimpan di gudang persediaan makanan mereka. Ibunya akan bersenandung pelan sambil bekerja, lalu akan tersenyum lebar melihatnya pulang. Lalu ibunya akan menyapa lembut “Halo, jagoan!”
        Pria itu juga teringat pada ayahnya. Pria pendiam bertubuh kekar dengan kulit kecoklatan terbakar matahari. Tidak seperti aroma feminin sang ibu, ayahnya justru selalu beraroma campuran keringat, tembakau, kayu yang baru di belah, serta tanah lengket yang serpihannya berjatuhan dari sol sepatu butnya.
        Saat ini pasti ayah ibunya tengah berada di depan perapian yang berada di ruang tengah. Perapian yang hangat. Ibunya pasti sedang merajut selembar sweter atau kaus kaki atau sarung tangan. Apa pun, untuknya. Sementara ayahnya akan mengisap pipa sambil membaca koran. Diiringi kemeratak kayu yang terbakar, sesekali mereka akan mengobrol ringan. Ibunya akan bercerita tentang anak anjing tetangga yang baru melahirkan enam ekor anak anjing, atau mawar baru di kebun Ny. Marple, atau tukang susu yang baru sembuh dari flu. Aneka obrolan yang akan ditanggapi pendek-pendek oleh ayahnya. Tapi mereka berdua tahu, bahwa sang ayah mendengarkan. Sungguh-sungguh mendengarkan.
        Setiap Natal, ayahnya akan membawa sebatang cemara hidup yang masih segar. Dengan disemangati ibunya, ia akan membantu sang ayah menggotong cemara itu masuk. Lalu mereka berdua akan menghiasnya dengan aneka hiasan natal yang disimpan rapi di laci ketiga lemari penyimpanan, sementara aroma kalkun yang dipanggang ibunya membuat air liur menetes-netes. Setelah membuat mistletoe dan hiasan untuk dipajang di pintu depan, mereka akan menggantung 3 kaus kaki di atas perapian.
        Ah, betapa merindukan.
        Sebentar lagi Natal.
                                                            ******
        Di sebuah bar yang nyaris kosong, seorang wanita dengan lipstick yang mulai pudar tampak menenggak campuran scotch-whisky nya, entah untuk gelas ke berapa. Sementara pemilik barnya, seorang pria nyaris botak bercelemek putih, hanya menggeleng-gelengkan kepala menonton si wanita. Si pemilik bar tengah mengelap gelas-gelas rampingnya, saat salju turun.
        Salju yang juga disaksikan si wanita dari balik jendela bar.
        Sekonyong-konyong, ia melihat dirinya sendiri di tengah salju itu. Bersama seorang pria yang memberinya sebentuk kotak kecil, berisi cincin bermata berlian. Ia melihat dirinya yang terpekik riang, lalu memeluk leher si pria, menghadiahinya satu ciuman manis. Untuk kemudian meminta si pria mengenakan cincin itu di jari manis mungil miliknya.
        Cincin yang nantinya akan di buang ke tengah gundukan salju tahun berikutnya. Sambil menangis dan berteriak mengumpatkan kata-kata kasar, ia melihat dirinya sendirinya yang frustasi. Sementara si pria cuma menunduk lemas, lalu mengambil cincin itu. Dan pergi. 
        Setetes air mata jatuh di pipi si wanita, sementara tangannya iseng memainkan gelas. Sebentar lagi Natal. Natal pertama yang tak dilewatkannya bersama kekasihnya.
        Dan betapa ia merindukannya. Sangat.
                                                            ******
        Salju pertama telah turun di bulan Desember. Merangkum kota dan seisinya menjadi satu warna. Putih, putih, dan putih. Membersihkan sudut-sudut hati yang kotor, melarutkan seluruh kesedihan, dalam atmosfer kudus yang agung.
        Sementara itu di sebuah rumah, seorang gadis kecil bermata hijau tengah mengagumi butiran salju yang turun, sambil memimpikan boneka idamannya. Di sebuah ruangan kantor yang lengang, seorang pria tengah menggali kenangan masa kecilnya. Dan di sebuah bar yang nyaris kosong, seorang wanita dengan lipstick yang nyaris pudar tengah menangis terisak-isak meratapi kekasihnya.
        Dan sayup-sayup terdengar “Jingle bells, jingle bells, jingle all the way..”

« Previous entries