teman-teman saya
Teman-teman saya tahu tempat belanja murah
meriah. Mereka menyukai paket all you can eat, dan diskon—apapun bentuknya. Tak
heran bila mereka hobi berburu baju vintage di Senen, sepatu di emperan Melawai. Tapi demi
alasan kepraktisan, juga mencari ponsel di Carrefour dan ITC.
Mereka rajin mengikuti perkembangan isu seputar dunia
komunikasi dan penyiaran, fasih berbahasa Inggris, dan punya ketertarikan
besar akan hidden text. Mereka menonton Oprah Winfrey Show, mengikuti serial
Friends, CSI, Desperate Housewives, juga Wisata Kuliner Bondan Winarno. Mereka
mendengarkan Jewel, Alanis Morisette, Letto, dan Linkin Park. Mereka membaca
karya Kafka dan Dickens, tapi juga terpingkal-pingkal membaca setiap tulisan
Adhitya Mulya dan Ellen DeGeneres. Mereka menggilai ketampanan Edward Norton dan Fachri Albar, plus selalu sukses salah tingkah saat bertemu internis tampan bernama Dr Nafrialdi.
Mereka suka coklat panas Dunkin Donut’s, chocolate
mousse Patio Kafe, tiramisu, blueberry cheesecake Seven Grain, kebab kaki lima, dan tahu gejrot.
Mereka ketagihan pecel ayam Takor, sup iga dengan banyak lada, juga mi ayam
stasiun UI.
Mereka membuat saya tertawa, lebih dari
siapa pun. Mereka menghela napas mendengar setiap lelucon konyol saya, dan
selalu memicingkan mata saat saya mulai melucukan hal-hal dalam kepala saya.
Berbagai hal. Dan meski pun mereka punya selera humor luar biasa, hanya Tuhan yang
tahu kenapa mereka tidak melempar saya keluar jendela saat saya mulai melakukan
hal-hal tolol—atau mungkin juga karena kami tidak selalu berada dalam situasi
dekat jendela. Oh well.
Mereka bisa memasak. Sekaligus tahu
persis, bahwa saya hanya jagoan menghabiskan apa yang sudah mereka masak. Mereka
juga para penulis yang hebat. Mereka punya gudang kosa kata yang kaya, peka
dalam melihat hal-hal sederhana, dan menuangkannya dalam rangkaian kalimat
indah yang selalu membuat saya berdecak kagum. Ingin rasanya saya menunjukkannya
pada setiap orang, dan berkata jumawa “Hey, saya kenal baik dengan penulisnya!”
Mereka tak punya impression management
aneh-aneh—mereka tak perlu melakukannya. Mereka mengenal setiap orang berhati
bidadari, juga setiap jiwa kesepian yang terabaikan.
Mereka menyukai lili putih, juga desain
minimalis yang bersih dan rapih. Mereka jatuh cinta pada hujan, malam
berbintang, dan langit senja. Mereka punya semua daftar perilaku terpuji yang
mereka pelajari seumur hidup mereka. Mereka mengambilkan minum untuk tamu,
menyilakan makan lebih dulu, membagi makanan, tertawa untuk menghormati setiap lelucon
yang terlontar, juga menyelimuti saat tidur. Dan mereka tahu persis caranya
mengapresiasi seseorang dengan pujian. Atau pun dengan satu ucapan terima
kasih.
Mereka selalu punya ide untuk menutup
ventilasi tanpa menggunakan kasa nyamuk, mengakali sepatu baru yang meleceti
tumit, juga caranya membasuh ego yang lebam dan babak belur. Mereka mengoleksi
setiap hal unik, absurd, bahkan hal-hal abstrak. Untuk kemudian merayakannya
bersama saya tanpa canggung.
Mereka hafal luar kepala pola jatuh
cinta saya. Pun begitu, mereka akan tetap bersikap pengertian saat saya lagi-lagi datang dengan
nama pria yang berbeda. Dan tetap mendengarkan dengan sabar setiap siklus
berisi sesi-sesi celoteh, pekik riang, isak tangis frustasi, dan kognisi yang
melelahkan, saat saya tengah kasmaran—atau setidaknya saya pikir, saya tengah
kasmaran.
Mereka mengajari saya caranya makan
sushi, caranya menawar barang, juga caranya minta tolong. Mereka ikut menemani
ke dokter, mengantrikan obat di apotek, membawakan makanan hangat, ikut menunggui
saat salah satu dari kami sakit. Dan mereka juga lah penumpang tetap roller
coaster mood saya.
Mereka selalu tahu saat saya berbohong,
atau pun tak menceritakan yang sebenarnya. Dengan rajinnya, mereka mengumpulkan
setiap keping pertanda. Tapi dengan bijaknya, mereka memilih untuk diam saja. Bahkan
saat akhirnya saya putuskan untuk bicara, mereka akan berujar lembut “No, nggak
tahu ini akan bikin keadaannya lebih baik apa nggak ya. Tapi kami tahu kok.
Jadi kalo kamu nggak mau ngomongin juga nggak apa-apa.”
Mereka memaklumi setiap gangguan jeda
panjang. Untuk lagi-lagi berujar lembut. “No, beneran, kalo ceritanya nggak mau
diselesaikan nggak apa-apa.“ Lalu dengan pengertiannya mengganti topik, dan
mengubur dalam-dalam cerita saya sebelumnya.
Mereka tak pernah sekali pun menaikkan
intonasi suara, juga selalu siap menyeka setiap butir air mata yang meluncur di
pipi saya. Untuk kemudian menawarkan pelukan mendamaikan, setumpuk kata
penyemangat, juga satu kamar yang terbuka 24 jam untuk diinapi. Gratis.
Mereka tak pernah menilang setiap
pelanggaran yang saya lakukan. Mereka juga tak pernah menghakimi setiap
keputusan yang saya ambil. Seirasional apa pun itu. Dalam setiap pertimbangan
yang saya tanyakan pada mereka, faktor kenyamanan saya lah yang selalu mereka
patok di urutan pertama. Bukan norma. Bukan etika.
Mereka memberi saya berlembar-lembar alasan untuk
bertahan, menunggu dengan sabar saat saya mulai bersikap menyulitkan, dan tetap
tinggal saat lebih mudah buat mereka untuk pergi.
Dan mereka juga begitu pemaaf.
Mereka adalah para pecinta yang luar
biasa. Mereka memuja setiap detil karakter pasangan mereka, punya sejuta ide
romantis untuk membuktikannya, dan selalu haus untuk memahami tanpa batas. Makanya
saya yakin, pasangan mereka pasti lah para pria yang sangat beruntung.
Karena teman-teman saya punya wajah dan
hati tercantik di dunia.