Archive for June, 2007

teman-teman saya

Teman-teman saya tahu tempat belanja murah
meriah. Mereka menyukai paket all you can eat, dan diskon—apapun bentuknya. Tak
heran bila mereka hobi berburu baju vintage di Senen, sepatu di emperan Melawai. Tapi demi
alasan kepraktisan, juga mencari ponsel di Carrefour dan ITC.

Mereka rajin mengikuti perkembangan isu seputar dunia
komunikasi dan penyiaran, fasih berbahasa Inggris, dan punya ketertarikan
besar akan hidden text. Mereka menonton Oprah Winfrey Show, mengikuti serial
Friends, CSI, Desperate Housewives, juga Wisata Kuliner Bondan Winarno. Mereka
mendengarkan Jewel, Alanis Morisette, Letto, dan Linkin Park. Mereka membaca
karya Kafka dan Dickens, tapi juga terpingkal-pingkal membaca setiap tulisan
Adhitya Mulya dan Ellen DeGeneres. Mereka menggilai ketampanan Edward Norton dan Fachri Albar, plus selalu sukses salah tingkah saat bertemu internis tampan bernama Dr Nafrialdi.

Mereka suka coklat panas Dunkin Donut’s, chocolate
mousse Patio Kafe, tiramisu, blueberry cheesecake Seven Grain, kebab kaki lima, dan tahu gejrot.
Mereka ketagihan pecel ayam Takor, sup iga dengan banyak lada, juga mi ayam
stasiun UI.

Mereka membuat saya tertawa, lebih dari
siapa pun. Mereka menghela napas mendengar setiap lelucon konyol saya, dan
selalu memicingkan mata saat saya mulai melucukan hal-hal dalam kepala saya.
Berbagai hal. Dan meski pun mereka punya selera humor luar biasa, hanya Tuhan yang
tahu kenapa mereka tidak melempar saya keluar jendela saat saya mulai melakukan
hal-hal tolol—atau mungkin juga karena kami tidak selalu berada dalam situasi
dekat jendela. Oh well.

Mereka bisa memasak. Sekaligus tahu
persis, bahwa saya hanya jagoan menghabiskan apa yang sudah mereka masak. Mereka
juga para penulis yang hebat. Mereka punya gudang kosa kata yang kaya, peka
dalam melihat hal-hal sederhana, dan menuangkannya dalam rangkaian kalimat
indah yang selalu membuat saya berdecak kagum. Ingin rasanya saya menunjukkannya
pada setiap orang, dan berkata jumawa “Hey, saya kenal baik dengan penulisnya!”

Mereka tak punya impression management
aneh-aneh—mereka tak perlu melakukannya. Mereka mengenal setiap orang berhati
bidadari, juga setiap jiwa kesepian yang terabaikan.

Mereka menyukai lili putih, juga desain
minimalis yang bersih dan rapih. Mereka jatuh cinta pada hujan, malam
berbintang, dan langit senja. Mereka punya semua daftar perilaku terpuji yang
mereka pelajari seumur hidup mereka. Mereka mengambilkan minum untuk tamu,
menyilakan makan lebih dulu, membagi makanan, tertawa untuk menghormati setiap lelucon
yang terlontar, juga menyelimuti saat tidur. Dan mereka tahu persis caranya
mengapresiasi seseorang dengan pujian. Atau pun dengan satu ucapan terima
kasih.

Mereka selalu punya ide untuk menutup
ventilasi tanpa menggunakan kasa nyamuk, mengakali sepatu baru yang meleceti
tumit, juga caranya membasuh ego yang lebam dan babak belur. Mereka mengoleksi
setiap hal unik, absurd, bahkan hal-hal abstrak. Untuk kemudian merayakannya
bersama saya tanpa canggung.

Mereka hafal luar kepala pola jatuh
cinta saya. Pun begitu, mereka akan tetap bersikap pengertian saat saya lagi-lagi datang dengan
nama pria yang berbeda. Dan tetap mendengarkan dengan sabar setiap siklus
berisi sesi-sesi celoteh, pekik riang, isak tangis frustasi, dan kognisi yang
melelahkan, saat saya tengah kasmaran—atau setidaknya saya pikir, saya tengah
kasmaran.

Mereka mengajari saya caranya makan
sushi, caranya menawar barang, juga caranya minta tolong. Mereka ikut menemani
ke dokter, mengantrikan obat di apotek, membawakan makanan hangat, ikut menunggui
saat salah satu dari kami sakit. Dan mereka juga lah penumpang tetap roller
coaster mood saya.   

Mereka selalu tahu saat saya berbohong,
atau pun tak menceritakan yang sebenarnya. Dengan rajinnya, mereka mengumpulkan
setiap keping pertanda. Tapi dengan bijaknya, mereka memilih untuk diam saja. Bahkan
saat akhirnya saya putuskan untuk bicara, mereka akan berujar lembut “No, nggak
tahu ini akan bikin keadaannya lebih baik apa nggak ya. Tapi kami tahu kok.
Jadi kalo kamu nggak mau ngomongin juga nggak apa-apa.”

Mereka memaklumi setiap gangguan jeda
panjang. Untuk lagi-lagi berujar lembut. “No, beneran, kalo ceritanya nggak mau
diselesaikan nggak apa-apa.“ Lalu dengan pengertiannya mengganti topik, dan
mengubur dalam-dalam cerita saya sebelumnya.

Mereka tak pernah sekali pun menaikkan
intonasi suara, juga selalu siap menyeka setiap butir air mata yang meluncur di
pipi saya. Untuk kemudian menawarkan pelukan mendamaikan, setumpuk kata
penyemangat, juga satu kamar yang terbuka 24 jam untuk diinapi. Gratis. 

Mereka tak pernah menilang setiap
pelanggaran yang saya lakukan. Mereka juga tak pernah menghakimi setiap
keputusan yang saya ambil. Seirasional apa pun itu. Dalam setiap pertimbangan
yang saya tanyakan pada mereka, faktor kenyamanan saya lah yang selalu mereka
patok di urutan pertama. Bukan norma. Bukan etika. 

Mereka memberi saya berlembar-lembar alasan untuk
bertahan, menunggu dengan sabar saat saya mulai bersikap menyulitkan, dan tetap
tinggal saat lebih mudah buat mereka untuk pergi.

Dan mereka juga begitu pemaaf.

Mereka adalah para pecinta yang luar
biasa. Mereka memuja setiap detil karakter pasangan mereka, punya sejuta ide
romantis untuk membuktikannya, dan selalu haus untuk memahami tanpa batas. Makanya
saya yakin, pasangan mereka pasti lah para pria yang sangat beruntung. 

Karena teman-teman saya punya wajah dan
hati tercantik di dunia.

 

ordinary miracle, by sarah mclahlan


It’s not that unusual
When everything is beautiful
It’s just another
Ordinary miracle today

The sky knows when it’s time to snow
Don’t need to teach a seed to grow
It’s just another
Ordinary miracle today

Life is like a gift, they say
Wrapped up for you everyday
Open up, and find a way
To give some of your own

Isn’t remarkable?
Like everytime a raindrop falls
It’s just another
Ordinary miracle today

The birds in winter have their fling
And always make it back by spring
It’s just another
Ordinary miracle today

When you wake up everyday
Please don’t throw your dreams away
Hold them close to your heart
‘Cause we are all a part
Of the ordinary miracle

Do you want to see a miracle
It seems so exceptional
That things just turn out after all
It’s just another
Ordinary miracle today

The sun comes out and shines some bright
And disappears again at night
It’s just another
Ordinary miracle today

It’s just another
Ordinary miracle today

bukan hal mudah terbuat dari kaca

        Bukan hal mudah terbuat dari kaca. Karena saking transparannya, ia tak punya warna. Perempuan kaca tahu betul rasanya. Tubuhnya hampir selalu menyatu dengan latar belakang tempat yang dijejaknya. Persis seperti bunglon. Seperti gambaran betapa coklat keemasannya jalan kota yang bermandi tumpukan daun kering di musim gugur. Atau betapa putih keperakannya trotoar jalan di musim salju. Pemandangan-pemandangan kota yang cantik, tanpa sedikit pun tanda keberadaan si perempuan kaca.
        Ketransparanan ini juga yang membuat nyaris tak seorang pun penduduk kota menyadari keberadaannya. Tidak juga para tetangganya. Mereka semua bisa merasa bersentuhan dengannya, saat berpapasan di jalan. Mereka juga bisa mendengar suara lembutnya yang menyapa “Apa kabar Anda hari ini?”. Tapi tak seorang pun bisa melihatnya, atau pun membalas senyuman ramahnya.
        Dengan wajah sedih, perempuan kaca pun berlalu meninggalkan orang-orang yang disapanya dengan ramah. Tanpa seorang pun menyadari kepergiannya. Persis seperti hantu.
                                                            ******

        Bukan hal mudah terbuat dari kaca. Karena saking rapuh tubuh si perempuan kaca, maka tak banyak yang bisa dilakukannya. Hampir sepanjang harinya dihabiskan dengan duduk-duduk di taman kota, mengamati kesibukan dunia sekitar yang berputar dengan begitu cepatnya. Ia akan duduk diam-diam mengamati para penglaju yang tergesa-gesa mengejar bus kota, dan pulang dengan wajah kuyu petangnya. Orang-orang yang berjalan cepat dan berlari. Orang-orang berpeluh dengan napas terengah-engah, begitu terburu-buru agar menghemat waktu sepersekian detiknya. Tanpa tahu akan diapakan semua tabungan detikan waktu mereka.
        Perempuan kaca akan mengamati ini semua selama berjam-jam lamanya. Sampai matahari membakar hari menjadi gosong, dan tiba waktunya untuk pulang. Lalu mencoba mensyukuri dunianya sebisanya. “Setidaknya, dunia saya berputar lebih lambat dari dunia mereka,” begitu perempuan kaca merapal mantranya.
                                                        *******
        Bukan hal mudah terbuat dari kaca. Karena saking rapuh tubuhnya, maka perempuan kaca harus ekstra hati-hati menjaga dirinya agar tak terluka. Ia tak pernah minum minuman panas. Ia selalu menjauhi api. Ia juga tak lupa untuk selalu memastikan lampu lalu lintas menyala merah, sebelum memutuskan untuk menyeberang jalan.
        Karena perempuan kaca tahu, tak ada orang lain yang akan menjaganya. Tidak ada seorang pun yang menggandeng lengannya, saat ia menyeberang jalan. Tidak ada seorang pun yang akan berteriak mengingatkannya, bahkan saat seorang pengemudi truk gandeng melanggar lampu merah dan menabraknya. Menghamburkan ribuan pecahan kaca dirinya ke seluruh jalan.
        Mendengar suara barang pecah, si pengemudi seketika mengerem truknya. Lalu turun dan memastikan pendengarannya. Sementara para penghuni trotoar lainnya mulai merubung seperti lalat yang tak berguna. “Ah, hanya kaca pecah. Bukan hal besar,” gumam mereka. Untuk kemudian saling tuding dan sikut tentang siapa yang harus membersihkan jalanan dari serpihan-serpihan kaca.
        “Kamu saja! Nanti tangan saya gores!”
        “Enak saja! Memangnya saya tidak bakal terluka apa?? Kamu saja!”
         Dan perdebatan yang tak berjalan kemana-mana ini pun berakhir dengan si pengemudi truk gandeng yang memanjat truknya, menyalakan mesin, kembali melaju. Sementara kerumunan penonton mulai bubar, mencoba mengejar lagi sepersekian menit waktu mereka yang terbuang percuma akibat menyaksikan insiden tadi. Meninggalkan jalan raya yang masih dipenuhi serpihan kaca tubuh si perempuan kaca.
        Memang, bukan lah hal mudah terbuat dari kaca.       

fantasmagoria

Itu adalah satu petang yang indah.

Kay
sedang berdiri di tengah-tengah ruang duduknya, menghirup segelas scotch di
tangannya. menikmati terbenamnya cahaya matahari yang berpendar-pendar memburatkan
warna kemerahan seperti darah. Beberapa ekor burung tampak pulang ke sarang
yang nyaman. Sungguh satu petang yang indah.

Tiba-tiba saja, Kay melihat adanya sebentuk mesin
sentrifugal hitam yang sangat besar di depan matanya. Di samping mesin itu,
berdiri sesosok wanita bergaun pengantin tengah membelakangi Kay. Pengantin itu
mengenakan sepotong gaun putih keperakan yang memperlihatkan bahu putihnya yang
terbuka dan ekor gaun yang menyapu lantai. Tangan kanannya membawa sebuah
tabung gelas seukuran vas bunga berisikan darah.

            Seketika
sosok itu berbalik.

          Itu
adalah diri nya. Sosok
itu kemudian pelahan mendekati mesin sentrifugal hitam, lalu memasukkan tabung
darah yang dibawanya ke dalam salah satu lubang mesin. Telunjuk kanannya
kemudian memencet sebuah tombol pada mesin. Mesin pun sekonyong-konyong
berputar dengan cepat, sangat cepat. Mengeluarkan suara benturan tabung gelas
dengan jari-jari mesin.

Telunjuk kanan si pengantin menekan tombol untuk
menambah kekuatan perputaran. Perputaran mesin makin cepat. Suara gemeletak
tabung gelas yang memukul-mukul logam jari-jari mesin menjadi semakin keras dan
keras.

            Mesin
pun pecah. Memencarkan
ribuan potongan logam dan gelas ke seluruh penjuru ruang duduk. Darah muncrat
ke mana-mana. Memerciki gaun putih si pengantin. Memerciki tembok, lukisan,
kusen jendela. Meresap ke dalam karpet. Darah
di kusen jendela yang terbuka pelahan-lahan meleleh ke luar, menyatu seketika dengan
gambaran matahari yang terbenam, tanpa pernah Kay tahu mana ujung dan
pangkalnya.

      Sementara
sosok pengantin dengan gaun bernoda darah di hadapannya tersenyum. Mengulurkan
tangannya yang berlumuran darah pada Kay. Dan Kay pun menjerit
sekencang-kencangnya.

5000 ways to die, by nerf herder

There must be 5000 ways to die
And each one ends the same way if you try
Your friends all stand around
While they dump you in the ground
And the people who loved you will ask why oh why oh why oh why

And the bastard you hated the most
Will stand up and give you a toast
He’ll say "We were such good friends especially near the end"
Then he’ll feel up your girlfriend in front of your ghost

So get in your car and drive real fast
Up in the attic with a shotgun blast
Take a bath with a clock radio
Vodka and valium overdose
Have you ever tried?
There must be 5000 ways to die

And if you’re very lucky
You’ll get your picture in the paper on page three
25 words will summarize how you spent your whole damn life
One day on that page
Next day into the hamster cage

So get in your car and drive real fast
Up in the attic with a shotgun blast
Take a bath with a clock radio
Vodka and valium overdose
All the glamour can be yours with a loaded .44
Have you ever tried?
There must be 5000 ways to die

Susie Q

        Yang terburuk dari satu upaya bunuh diri pastilah saat kamu gagal.
        Tepat saat kamu membuka mata, kamu akan segera tersadar bahwa kamu masih berada di sini. Dunia usang yang sama, yang terus-menerus berputar dengan poros tua nya yang karatan, tanpa henti mengeluarkan bunyi “kriet” “kriet” setiap kali ia bergerak. Di mana persediaan oksigennya tak pernah cukup untuk kamu bernapas. Yang membuat malam-malammu terjaga dengan mata nyalang dan menyesakkan, begitu sesaknya sampai dadamu, tidak, seluruh tubuhmu terasa nyeri karenanya.
        Ya, kamu saja masih berada di sini.
        Tak hanya itu, akan ada banyak orang.
        Selalu ada banyak orang, juga dengan banyak pertanyaan membosankan. Dengan tatapan sedih, atau simpati, atau menghibur, mereka akan bertanya “Kenapa?” Saat kamu tak kunjung menjawab pertanyaan itu, merasa frustasi, mereka akan mulai mengutuki dirinya sendiri. Menyalahkan diri atas segala getir dan derita. Sambil menjambaki rambut mereka sampai lepas dari kulit kepalanya, mereka akan berteriak “Pasti karena saya! Pasti karena kami! Apakah kami seburuk itu, Susie?” Lalu mereka akan menghampirimu yang sedang terbaring menatap langit-langit rumah sakit, menggenggam lembut tangan kirimu yang terbalut perban. Dan minta maaf. “Maafkan kami untuk segalanya Susie, katakan kamu maafkan kami..”. Mengulang-ulang permintaan maaf sambil terisak-isak, menjanjikan masa mendatang yang lebih baik. Dunia yang lebih baik.
        Seketika kamu merasa begitu letih luar biasa.
        Dan bermimpi untuk satu tidur lelap yang panjang.

doa

Semoga Tuhan memberi saya keberanian,
untuk mengubah hal-hal yang bisa saya ubah
juga kesabaran,

untuk menerima hal-hal yang tak akan pernah bisa saya ubah

Di atas segalanya,
semoga Tuhan memberi saya kebijaksanaan,
untuk membedakan keduanya.

nta’s special gift

        Beberapa hari yang lalu, seorang teman saya, Nta, memberikan hadiah istimewa. Yaitu 3 voucher special buatannya sendiri. Berikut tulisan yang tertera di atasnya:
·    Chatting via YM as long as you need: Berlaku Selamanya
·    Tukarkan kupon untuk mengaktifkan dua telinga pemberi kupon untuk mendengarkan apa pun yang mau kamu bicarakan. *Bisa juga digunakan untuk membuatnya mengatakan sesuatu seperti “It’s gonna be okay..”: Berlaku Selamanya
·    Atraksi Jalan Jongkok dan Kayang Berbagai Gaya, performed by Shinta herself.
TENTU SAJA, saat melihat kupon ketiga saya sontak berteriak “MAU YANG INI! MAU YANG INI! SEKARANG! SEKARANG!” (ohya, saat itu kami sedang berada di jembatan penyeberangan, btw. Pasti makin seru buat atraksi kan??)
Nta (tersenyum): “I knew it! Tapi No cantiik, baru bisa setelah tahun 2119 yah!”
DAN TERNYATA OH TERNYATA, di bawah kupon ke-3 tadi, ada tulisan dengan font yang sangat kecilnya, diketik dengan tinta yang sangat kaburnya, bertuliskan “Berlaku Setelah Tahun 2119”.
Damn.

        Tapi “trik” tadi tetap tak mengurangi rasa terima kasih saya pada salah satu teman paling luar biasa, Shinta Anita Sari, atas hadiah istimewanya.
Love you, angel! I miss you already! Jadi, pulanglah di tahun 2119 ya!

follow-on call

        Saya sukaaa sekali telepon umum koin. Selain karena lebih murah ketimbang wartel (kalau di wartel, 1x tlp: Rp 300, dengan telepon koin, 1x tlp: Rp 100), telepon koin juga punya satu tombol yang selamanya akan jadi tombol favorit saya. Itu adalah tombol follow-on call. Tombol ini sangat berguna waktu kamu punya koin Rp 500, tapi percakapan kamu selesai sebelum koin Rp 500 kamu habis. Cukup dengan menekan follow-on call, kamu bisa menelpon nomor lain dan menghabiskan sisa koin Rp 500 kamu tadi. Ckckck, canggih yah?
        Well, sayangnya, memang ada sejumlah orang yang tak bisa menghargai kecanggihan tombol ini. Teman-teman saya adalah contoh terbaiknya.
Pada suatu siang yang cerah
Saya: “Neng, jangan tutup telponnya dulu yah! Masih ada Rp 300 nih!”
Citra: “Ogah! Lo gila aja sono sendiri!”
Saya: “Eh dibilangin jangan…”
Citra (nyamber): “Retnooo, ada petir!! Gua nggak bisa denger suara lo lagiiii!!”
Klik

TAPI TENANG PEMBACA! Karena ada tombol follow-on call! YAY!
Ain: “Halo? Napa Jo?”
Saya (riang): “Ain! Thank God! Gini In, gua kan tadi telepon Citra, terus masih ada sisa Rp 300, trus gua sambung dengan telepon lo deh!”
Ain (kesal): “JADI GUA CUMA DIHARGAIN 300?”
Saya (jujur): “Well, ya kali ini sisanya segitu. Kalo besok-besok sisa Rp 400 bisa berubah sih. Anyway, mau minta tolong nih gua.”
Ain: “APA? NGOBROL AMPE KOINNYA ABIS?”
Saya: “Hehehe, iya…”
Ain (ngambek): “Ogah! Harga gua cuma Rp 300 sih!”
Saya (membujuk): “Tapi jangan ditutup yah In geulis..”
Ain (mengancam): “Ogah. Tutup ah!”
Saya (merayu): “I love u, I love u, I love u, I love u”
Ain (masih ngambek): “Cih. Ogah. Tutup ah!”
Saya (mulai tereak2): “DON’T HANG UP ON ME! DON’T YOU DARE..”
Ain (motong): “DAA GANJOO..GUA DULUAN YANG TUTUP TELPONNYA!”
Klik.

Masih ada sisa Rp 100. Sabar No, sabar.
Saya: “Ntaaaa cantiiik, dimanaaaa?”
Nta: “Halo? Nggak kedengeraaaaan!”
Saya: “NTAAAAAA, DIMANAAAAA?”
Nta: “Oh No. Udah, udah kedengeran, yay! Eh tapi lowbatt nih No, jadi bentar lagi mat..”
Klik.

Begitulah cara saya berusaha sekerasnya memanfaatkan tombol follow on-call. Dan juga cara teman-teman saya menghargainya.
Hosh.

losing hope

        Hope sudah pergi. Percuma saja berteriak-teriak sampai serak memanggilnya. Kakinya yang selincah kijang pasti sudah membawanya jauh dari sini. Atau mungkin ia malah sudah sukses menemukan pintu keluar dari labirin ini.
        Lalu dengan senyum penuh kemenangan ia akan mulai menyulut rokoknya, mengisapnya dalam-dalam, menghembuskan asapnya dalam bentuk lingkaran-lingkaran putih yang berlubang, menyelonjorkan kakinya, sambil sesekali menatap arloji, menghitung berapa lama lagi waktu yang saya butuhkan untuk keluar. Dan sambil menunggu saya, otak Hope akan mulai merencanakan permainan berikutnya bagi kami berdua.

        Seperti biasa, Hope tidak punya persiapan apa pun. Ia tak pernah mau repot membawa bekal makanan, atau pun botol minuman. Ia bahkan tidak membekali saya dengan senter, pemantik, atau bahkan sekotak korek api. Katanya, kenihilan cahaya dalam permainan kami justru akan menambah tingkat ketegangan, yang justru akan membuat permainan makin seru.

        Khas Hope. Ia selalu saja senang menantang bahaya.

        Saya ingat, saat saya baru diijinkan membawa mobil Papa untuk pertama kalinya, Hope lah yang punya ide gila permainan menyetir sambil menutup mata. Sambil tertawa cekikikan ia akan membisikkan berbagai petunjuk di kuping saya. Untuk kemudian tertawa berderai-derai, saat saya berhasil membawa kami berdua melewati jalanan bertebing. Dengan syal merah yang berkibar-kibar di lehernya dan rambut ikal yang dikacaukan angin, Hope akan mengangkat ke dua tangannya tinggi-tinggi. “WE DID IT!!! YAY!!!”

                                                        ******
 
        Labirin ini adalah salah satu permainan favoritnya. Hope selalu senang menyusuri setiap lorong yang ada. Dan ingatannya memang luar biasa. Ia bisa mengingat dengan tepat setiap persimpangan, setiap lorong buntu, bahkan juga setiap lubang jebakan yang ada. Tak heran, bila hanya butuh waktu 15 menit bagi kakinya yang tak bersandal untuk membawanya melesat pergi. “Yuk, dulu-duluan!,” ajaknya. Untuk kemudian bersenandung riang, meninggalkan saya sendirian dalam kegelapan lorong labirin.

        Seperti biasa, Hope juga pasti lupa betapa buruknya kemampuan navigasi saya. Atau mungkin ia bukan lupa, tapi tidak peduli. Hanya bermain-main yang dipedulikannya, seperti biasa. Bahkan saat saya tahu ia akan menunggui saya di pintu keluar labirin ini, saya juga tahu bahwa ia tak akan bertahan lama disana.
             Karena Hope bukan lah gadis penyabar. Dan ia benci menunggu. Tak lama setelah berhasil merancang permainan berikutnya, kepalanya yang cepat bosan akan segera menemukan objek lain yang lebih menarik. Mungkin seekor kelinci yang melompat-lompat di hadapannya. Mungkin layangan putus yang menggoda kakinya untuk ikut mengejar bersama segerombol anak kecil. Mungkin dering sepeda tukang pos yang tengah bekerja mengantarkan tas-tas penuh surat. Apa pun yang bisa menarik perhatiannya, akan membuat Hope segera melupakan janjinya untuk menunggu saya.

        Ia akan berlari secepat kilat, meninggalkan saya yang tersesat dalam labirin terkutuk ini, di mana setiap lorong dan tikungan tampak sama di mata saya. Tak pernah terlintas di pikirannya, bahwa saya mulai kehausan dan kelaparan, sementara kedua tumit saya mulai terasa pegal dan nyeri. Tak pernah terlintas ide di kepalanya, bahwa saat berbulan-bulan lamanya saya menghilang, adalah karena saya tak pernah berhasil menemukan jalan keluar dari labirin ini. Saking sibuknya bermain-main dengan dunianya, tak pernah terpikir juga olehnya untuk mencari saya.

        Dan saat bau busuk mayat saya mulai menyeruak dari labirin ini, tak pernah terpikirkan oleh Hope bahwa saya, temannya, teman yang selalu setia menungguinya di kala ia demam dan mengganti kompresnya setiap 2 jam sekali, teman yang selalu membawakannya sekotak es krim vanilla saat ia sedih, teman yang selalu siap 24 jam untuknya, sudah tak bernyawa. Bahkan saat nanti mayat saya yang membiru dan terbujur kaku ditemukan di salah satu lorong labirin ini, tetap tak pernah terlintas secuil pun pikiran di kepala Hope, bahwa saya sudah menghabiskan suara saya dengan sia-sia untuk berteriak memanggilnya. Atau betapa dalam kegelapan yang dingin mencekam, saya mencoba menghabiskan setiap detik dari sisa umur saya di sana dengan berdoa.

        Untuk ditemukan.

        Semua itu tak pernah terpikirkan sama sekali oleh Hope.

        Bahkan tepat saat peti mati saya diturunkan ke dalam lubang, Hope tetap saja akan selalu berhasil menemukan objek lain yang lebih menarik. Mungkin nisan retak dan lumutan berukiran kabur di samping nisan saya. Mungkin butir-butir biji rumput yang diantarkan angin tepat di depan hidungnya. Atau mungkin, seekor kupu-kupu bersayap putih yang menggoda kakinya untuk mengejar.

        Seperti biasa.