ketiga putri saya
Saya punya tiga orang putri.
Putri pertama saya dipenjara.
Namanya Dursilawati. Parasnya cantik luar biasa, dengan rambut keriting berwarna merah menyala. Tubuhnya juga padat berisi dengan bibir penuh yang sensual. Saya paling suka melihatnya saat baru keramas. Dengan ikal-ikal kecil di puncak dahi dan kulit yang bercahaya habis mandi, di mata seorang wanita sekali pun, Dursilawati tampak seperti seorang dewi kiriman dari surga.
Tapi Dursilawati juga seorang yang temperamental. Emosinya kerap meledak-ledak tak terkendali. Pada umur 7 tahun, ia membakar rumah tetangga kami. Karena tetangga kami, seorang duda tanpa anak yang tinggal sendiri itu menyelipkan tangannya ke dalam rok Dursilawati. Siang itu, Dursilawati tengah mengantarkan pie buatan saya ke rumah si tetangga. Si tetangga pun mengajaknya masuk, dan menyilakannya duduk. Rupanya, sambil duduk-duduk mengobrol, tetangga kami itu mencoba mencari kesempatan untuk menggerayanginya.
Malamnya, Dursilawati membakar rumah si tetangga. Dengan si tetangga masih berada di dalamnya. Saat saya tanya apakah ia merasa bersalah, dengan tenang Dursilawati menjawab “Ya. Saya merasa bersalah karena tak lebih dulu mengebiri kelaminnya dan mengumpankannya pada anjing depan rumah, sebelum membakarnya.”
Putri kedua saya masuk rumah sakit jiwa. Ia bernama Sarasvati. Seperti namanya, Sarasvati seorang anak yang luar biasa cerdasnya. Sejak umur 3 tahun, ia sudah bisa membaca. Perpustakaan wilayah adalah taman bermain favoritnya, tempat dimana Sarasvati bisa duduk berjam-jam, dengan setumpuk buku menunggu untuk dibuka. Di umur nya yang ke 5, Sarasvati sudah melahap semua karya Dickens. Gelar sarjana diraihnya pada umur 16 tahun. Dengan gelung rapih rambutnya yang berwarna pirang kecoklatan dan mata tajam, Sarasvati hampir selalu sukses memukau para pendengar dengan orasinya. Yang makin memantapkan langkahnya untuk menjadi politisi wanita nomor satu di negeri ini.
Sayang, entah sejak kapan, ia merasa seolah-olah dikuntit oleh satu tim sewaan rivalnya. Ia merasa dimata-matai sepanjang hari. Pun begitu, pengawalan ketat tetap tak membuatnya lega. Karena itu, ia selalu memastikan semua telpon tidak disadap, bahkan menghindari makan malam di luar. Sarasvati bersikeras ada yang menanam alat pelacak jejak dalam tubuhnya. Setelah pada satu sore Sarasvati mengiris kuping kirinya untuk mencari alat pelacak itu, seketika saya tersadar, bahwa tempat yang cocok untuknya adalah rumah sakit jiwa.
Dan putri terakhir saya, Indumati namanya, dengan sukarela mencabut nyawanya. Sejak dulu, saya memang tak terlalu akrab dengan putri terakhir saya ini. Di mata saya, Indumati kelewat pendiam dan biasa-biasa saja. Ia tidak cantik. Ia tidak pintar. Sama sekali tidak istimewa. Setiap kali kedua kakaknya pulang membawa rapor dengan nama mereka tercetak sebagai juara pertama, atau pemenang dalam berbagai kompetisi pidato, menari, bernyanyi, bahkan mendongeng, putri terakhir saya ini hampir tak pernah membawa apa pun untuk dipamerkan.
Sepanjang hari yang dilakukan Indumati hanya lah menyendiri dan melukis. Sesekali, saya sempat melihatnya menulisi buku hariannya yang bersampul hitam. Warna kesukaannya. Persis seperti warna rambut sepinggangnya, yang kontras dengan kulitnya yang sepucat kertas.
Indumati juga seorang yang sangat pengalah. Sejak dulu, setiap kali saya membagikan oleh-oleh permen atau boneka, ia bahkan tak ikut berebut bersama ke dua kakaknya. Ia hanya diam menunggu di kejauhan. Sampai akhirnya tersisa satu permen atau boneka—sering kali yang terburuk dari semuanya. Baru lah Indumati akan mengambil bagiannya dan pergi bermain sendirian.
Namun bagaimana pun juga, kematiannya tetap saja mengejutkan saya. Saya ingat pagi saat saya menemukannya tak bernyawa. Disampingnya, tergeletak sebotol pil tidur kosong. Tubuhnya dingin, dan saya tahu saya sudah terlambat.
Dari buku hariannya, belakangan saya tahu bahwa ini bukanlah percobaan bunuh diri pertamanya. Pada umur 7 tahun, ia telah mencoba menenggelamkan dirinya di sungai dekat rumah. Pada umur 10 tahun, ia mencoba menabrakkan dirinya pada mobil yang melintas di jalan raya. Pada umur 15 tahun, ia mencoba menenggak racun serangga. Malam-malam masa remajanya dihabiskan Indumati dengan mengerati urat nadinya. Menyisakan sejumlah bekas luka silet memanjang di tangan kirinya. Bekas luka yang untuk pertama kalinya saya lihat di pemakamannya, karena Indumati selalu mengenakan blus tangan panjang, tak peduli seterik apa pun cuacanya. Sebotol pil tidur kosong yang saya temukan itu adalah percobaan bunuh diri terakhirnya. Akhirnya, Indumati berhasil juga.
Dan disinilah saya, si ibu yang gagal mendidik ketiga putrinya.
Sendirian.