Archive for July, 2007

ketiga putri saya

        Saya punya tiga orang putri.
        Putri pertama saya dipenjara.
        Namanya Dursilawati. Parasnya cantik luar biasa, dengan rambut keriting berwarna merah menyala. Tubuhnya juga padat berisi dengan bibir penuh yang sensual. Saya paling suka melihatnya saat baru keramas. Dengan ikal-ikal kecil di puncak dahi dan kulit yang bercahaya habis mandi, di mata seorang wanita sekali pun, Dursilawati tampak seperti seorang dewi kiriman dari surga.
        Tapi Dursilawati juga seorang yang temperamental. Emosinya kerap meledak-ledak tak terkendali. Pada umur 7 tahun, ia membakar rumah tetangga kami. Karena tetangga kami, seorang duda tanpa anak yang tinggal sendiri itu menyelipkan tangannya ke dalam rok Dursilawati. Siang itu, Dursilawati tengah mengantarkan pie buatan saya ke rumah si tetangga. Si tetangga pun mengajaknya masuk, dan menyilakannya duduk. Rupanya, sambil duduk-duduk mengobrol, tetangga kami itu mencoba mencari kesempatan untuk menggerayanginya.
        Malamnya, Dursilawati membakar rumah si tetangga. Dengan si tetangga masih berada di dalamnya. Saat saya tanya apakah ia merasa bersalah, dengan tenang Dursilawati menjawab “Ya. Saya merasa bersalah karena tak lebih dulu mengebiri kelaminnya dan mengumpankannya pada anjing depan rumah, sebelum membakarnya.”
        Putri kedua saya masuk rumah sakit jiwa. Ia bernama Sarasvati. Seperti namanya, Sarasvati seorang anak yang luar biasa cerdasnya. Sejak umur 3 tahun, ia sudah bisa membaca. Perpustakaan wilayah adalah taman bermain favoritnya, tempat dimana Sarasvati bisa duduk berjam-jam, dengan setumpuk buku menunggu untuk dibuka. Di umur nya yang ke 5, Sarasvati sudah melahap semua karya Dickens. Gelar sarjana diraihnya pada umur 16 tahun. Dengan gelung rapih rambutnya yang berwarna pirang kecoklatan dan mata tajam, Sarasvati hampir selalu sukses memukau para pendengar dengan orasinya. Yang makin memantapkan langkahnya untuk menjadi politisi wanita nomor satu di negeri ini.
        Sayang, entah sejak kapan, ia merasa seolah-olah dikuntit oleh satu tim sewaan rivalnya. Ia merasa dimata-matai sepanjang hari. Pun begitu, pengawalan ketat tetap tak membuatnya lega. Karena itu, ia selalu memastikan semua telpon tidak disadap, bahkan menghindari makan malam di luar. Sarasvati bersikeras ada yang menanam alat pelacak jejak dalam tubuhnya. Setelah pada satu sore Sarasvati mengiris kuping kirinya untuk mencari alat pelacak itu, seketika saya tersadar, bahwa tempat yang cocok untuknya adalah rumah sakit jiwa.
        Dan putri terakhir saya, Indumati namanya, dengan sukarela mencabut nyawanya. Sejak dulu, saya memang tak terlalu akrab dengan putri terakhir saya ini. Di mata saya, Indumati kelewat pendiam dan biasa-biasa saja. Ia tidak cantik. Ia tidak pintar. Sama sekali tidak istimewa. Setiap kali kedua kakaknya pulang membawa rapor dengan nama mereka tercetak sebagai juara pertama, atau pemenang dalam berbagai kompetisi pidato, menari, bernyanyi, bahkan mendongeng, putri terakhir saya ini hampir tak pernah membawa apa pun untuk dipamerkan.
        Sepanjang hari yang dilakukan Indumati hanya lah menyendiri dan melukis. Sesekali, saya sempat melihatnya menulisi buku hariannya yang bersampul hitam. Warna kesukaannya. Persis seperti warna rambut sepinggangnya, yang kontras dengan kulitnya yang sepucat kertas.
        Indumati juga seorang yang sangat pengalah. Sejak dulu, setiap kali saya membagikan oleh-oleh permen atau boneka, ia bahkan tak ikut berebut bersama ke dua kakaknya. Ia hanya diam menunggu di kejauhan. Sampai akhirnya tersisa satu permen atau boneka—sering kali yang terburuk dari semuanya. Baru lah Indumati akan mengambil bagiannya dan pergi bermain sendirian.
       Namun bagaimana pun juga, kematiannya tetap saja mengejutkan saya. Saya ingat pagi saat saya menemukannya tak bernyawa. Disampingnya, tergeletak sebotol pil tidur kosong. Tubuhnya dingin, dan saya tahu saya sudah terlambat.
       Dari buku hariannya, belakangan saya tahu bahwa ini bukanlah percobaan bunuh diri pertamanya. Pada umur 7 tahun, ia telah mencoba menenggelamkan dirinya di sungai dekat rumah. Pada umur 10 tahun, ia mencoba menabrakkan dirinya pada mobil yang melintas di jalan raya. Pada umur 15 tahun, ia mencoba menenggak racun serangga. Malam-malam masa remajanya dihabiskan Indumati dengan mengerati urat nadinya. Menyisakan sejumlah bekas luka silet memanjang di tangan kirinya. Bekas luka yang untuk pertama kalinya saya lihat di pemakamannya, karena Indumati selalu mengenakan blus tangan panjang, tak peduli seterik apa pun cuacanya. Sebotol pil tidur kosong yang saya temukan itu adalah percobaan bunuh diri terakhirnya. Akhirnya, Indumati berhasil juga.   
        Dan disinilah saya, si ibu yang gagal mendidik ketiga putrinya.
        Sendirian.

the mask

        Semua orang punya topengnya.
        Begitu juga saya.
        Topeng saya terbuat dari kulit yang tipis dan sangat lentur. Begitu lenturnya, sampai-sampai saat saya memasangnya, ia langsung melekat di kulit wajah saya dengan pas nya seperti kulit kedua. Membuat saya merasa seolah-olah tidak sedang bertopeng. Apalagi warna bahan kulitnya juga senada dengan kulit wajah saya.
Tak hanya itu, bagian lubang mata dan mulutnya juga sangat fleksibel. Cukup tersenyum selama 3 menit saja, untuk membuat satu senyuman topeng yang awet selama berminggu-minggu. Dan begitu alamiahnya senyuman itu, sampai-sampai tak ada seorang pun yang sadar bahwa itu hanya lah  satu senyuman topeng.
        Tentu saja, topeng ini sangat membantu saya. Karena setiap hari saya bertemu dengan banyak orang dan berpesta, topeng ini membantu saya untuk tetap tampak cantik dan bercahaya. Apalagi, meski tetap mengenakan topeng, saya tetap bisa mengenakan make-up di atasnya, juga menata rambut saya sesukanya.
        Topeng ini juga membantu saya menyembunyikan semua bekas luka dan parut-parut di wajah saya. Hingga saat ini, hanya sedikit orang yang tahu bahwa wajah saya berlubang besar. Tidak juga suami saya, pria yang dengannya saya setiap malam tidur bersama.
        Ia tidak tahu bahwa mata saya tidak simetris satu sama lain. Ia tidak tahu bahwa bibir saya sumbing, dan selalu menyunggingkan satu senyuman miring. Ia juga tidak tahu betapa wajah saya dipenuhi dengan jerawat bernanah, setiap nanahnya meruapkan bau busuk bercampur anyir darah dari luka-luka yang masih basah. Dan betapa sejumlah belatung keluar menggeliat-geliat dari lubang-lubang kecil di wajah saya. Yang kerap membuat saya merasa gatal luar biasa dan bernafsu untuk memuaskannya dengan menggaruknya sampai berdarah-darah.
        Begitu menjijikannya rupa asli saya, sehingga saya selalu berhati-hati untuk melepas topeng saya. Kerap kali saya melakukannya tengah malam, saat tamu terakhir sudah pulang dan gelas-gelas sudah dirapikan. Saat sendirian di kamar rias itu lah, saya akan melepasnya. Menyimpannya rapih dalam kotak khusus yang terbuat dari tembaga. Untuk kemudian membersihkan setiap nanah di wajah saya, dan mengolesinya dengan salep anti kuman. Salep yang meski digunakan selama seumur hidup juga tak akan pernah menyembuhkan semua luka di wajah saya. “Tapi setidaknya, bisa mengurangi nya sedikit,” ujar dokter kulit saya mencoba membesarkan semangat saya.
        Klise.
        Setiap dokter pasti akan berkata begitu. Mencoba membesarkan semangat pasiennya. Peduli apa mereka dengan hidup saya? Toh penyakit saya malah membawa berkah buatnya. Buat apa mereka repot-repot berusaha menyembuhkan saya?
                                                                *******
        Malam sudah larut saat saya melepas topeng saya. Saya sedang menutup kotak penyimpanan dari tembaga, ketika sekonyong-konyong pintu terbuka.         Menyembulkan satu wajah pelayan baru saya.
        Yang ternganga ngeri melihat bayangan wajah saya dari kaca. Beberapa detik kemudian, kakinya limbung dan ia pun jatuh pingsan. Dengan secangkir teh hijau, yang kini pecah berantakan di sampingnya.
        Saya menghela napas.
        Dasar anak baru, selalu saja mau tahu banyak hal. Merepotkan saja.
        Lalu dengan cepat, saya seret dia ke dalam kamar rias saya. Saya ikat tangan dan kakinya. Saya sumpal mulutnya. Dan saya tikam dadanya dalam-dalam dengan sebilah pisau daging.
        Setelah saya pastikan ia tak lagi bernyawa, saya potong-potong tubuhnya sebanyak 23 bagian. Setiap bagian saya bungkus kantung plastic dengan diberi batu pemberat. Yang kemudian saya lempar ke 23 tempat berbeda, pada dini harinya. Mulai dari laut, sumur, sampai kandang anjing herder saya yang menjilati camilan dini hari nya itu sampai licin tandas.
                                                            ******
        Keesokan harinya, saya turun ke ruang pelayan dengan tenang untuk memesan sarapan bagi suami saya. “Oh ya, omong-omong pelayan baru yang terlalu mau tahu itu pulang semalam. Saya memergokinya tengah menyelinap ke kamar rias saya, mencoba mencuri beberapa perhiasan dan permata.” ujar saya dengan suara lembut.
        “Ya Tuhan! Saya sungguh-sungguh tidak menyangkanya! Maafkan saya Nyonya, harusnya saya awasi dia dengan lebih ketat! Apakah Nyonya memecatnya?” tanya kepala pelayan saya panik, merasa begitu bersalahnya.
        Saya tersenyum. Ah, kepala pelayan yang begitu setia.
        “Tidak. Malah permata itu saya berikan padanya. Tapi rupanya, ia merasa begitu malu pada dirinya sendiri, sehingga memutuskan untuk pergi..”
        Seketika semua pelayan saya menatap saya dengan tatapan terharu.
        “Alangkah baiknya Nyonya saya yang cantik dan bercahaya. Nyonya sungguh-sungguh pemurah dan berhati selembut bidadari..” ujar kepala pelayan sambil mengusap air mata yang menggenangi pelupuk matanya.
        Sementara saya cuma tersenyum ramah. Satu senyuman yang telah awet selama berminggu-minggu lamanya, tanpa seorang pun juga yang menyadarinya.
        Dan begitu lah rahasia ini terkunci rapat-rapat. Aman.
        Bersama topeng saya.

these word, by natasha bedingfield


These words are my own
Threw some chords together
The combination D-E-F
Is who I am, is what I do
And I was gonna lay it down for you
Try to focus my attention
But I feel so A-D-D
I need some help, some inspiration
(But it’s not coming easily)
Whoah oh…

Trying to find the magic
Trying to write a classic
Don’t you know, don’t you know, don’t you know?
Waste-bin full of paper
Clever rhymes, see you later

These words are my own
From my heart flow
I love you, I love you, I love you, I love you
There’s no other way
To better say
I love you, I love you…

Read some Byron, Shelly and Keats
Recited it over a Hip-Hop beat
I’m having trouble saying what I mean
With dead poets and drum machines
I know I had some studio time booked
But I couldn’t find a killer hook
Now you’ve gone & raised the bar right up
Nothing I write is ever good enough

These words are my own
From my heart flow
I love you, I love you, I love you, I love you
There’s no other way
To better say
I love you, I love you…

I’m getting off my stage
The curtains pull away
No hyperbole to hide behind
My naked soul exposes
Whoah.. oh.. oh.. oh.. Whoah.. oh..

Trying to find the magic
Trying to write a classic
Waste-bin full of paper
Clever rhymes, see you later

These words are my own
From my heart flow
I love you, I love you, I love you, I love you

That’s all I got to say,
Can’t think of a better way,
And that’s all I’ve got to say,
I love you, is that okay?