Beberapa hari lalu, saya tengah membereskan kamar saat menemukan koleksi
jurnal, catatan pendek, surat-surat lama, dan scrapbook yang telah tersimpan
bertahun-tahun lamanya. Alih-alih meneruskan untuk membereskan kamar, yang saya
lakukan kemudian ternyata malahan duduk manis berselonjor di atas karpet.
Dengan jemari membuka halaman pertama.
Dan mulai bernostalgia.
*******
Benda pertama dari koleksi ini adalah sebuah buku
tulis bersampul Card Captor Sakura—saat itu saya sedang tergila-gila dengan
anime dan manga. Buku ini mulai saya tulisi dengan sejumlah cerpen dan puisi,
saat saya berumur 16 tahun dan duduk di kelas 2 SMU.
Ide buku ini sebenarnya berasal dari teman saya,
Shendy. Dulu saat istirahat, saya kerap melihat teman-teman sekelas tekun
membaca buku cerpen miliknya, untuk kemudian menuliskan sejumlah komentar di dalamnya.
Terinspirasi dari situlah—tanpa niatan untuk berkompetisi—saya lalu mencontek
Shendy dengan membuat buku serupa.
Seperti banyak remaja lainnya, cerpen-cerpen awal
saya melulu tentang kisah cinta remaja. Mulai dari seorang gadis yang membenci
hari Valentine karena ditinggal mati oleh kekasihnya, seorang pria yang jatuh
cinta dengan pacar sahabatnya, sampai sepasang mantan kekasih yang dipertemukan
kembali saat mereka sudah punya pasangan masing-masing. Baru pada beberapa
belas lembar berikutnya, saya mulai belajar menulis hal-hal yang agak berbeda.
Seperti misalnya kerinduan seorang pelacur terhadap ibunya di desa, tiga
permohonan di hari Natal, dan beberapa jam perjalanan seorang fotografer di
atas bus kota.
Tak hanya berisi cerpen, buku itu juga berisi
sejumlah puisi. Mostly adalah puisi cinta, yang dengan rajinnya saya tulis
ulang kembali dalam sebuah buku tulis bersampul cantik dan diberi pita, sebagai
hadiah untuk pacar pertama saya. Sayang, saya lupa membuat kopinya. Sehingga
saat hubungan kami berakhir, maka praktis saya tak punya arsip (taelaa,
arsip)nya.
Baru pada pacar kedualah, saya mulai terpikir untuk
membuat kopi tulisan. Pacar saya saat itu tengah kuliah di luar kota. Adanya
hambatan jarak dan kesulitan untuk berkomunikasi—saat itu dia tak punya ponsel
dan tak aktif menggunakan imel—maka jadilah saya mulai membuat jurnal untuknya.
Karena sifatnya jurnal, maka isinya tak melulu
curhatan seputar hubungan kami. Di dalamnya, saya juga menulis sejumlah esai,
resensi buku, resensi film, rating sejumlah TV show dan video klip, sampai teka
teki silang ciptaan saya. Kalau sedang jail, saya bahkan membuat semacam game
“bersambung ke halaman…” atau menulis di atas halaman yang terbalik-balik.
Jurnal omong kosong inilah yang selalu saya oleh-olehkan padanya setiap kali ia
pulang pada libur semester, dengan satu kopinya tersimpan rapi di rak buku
saya. Saat hubungan kami berakhir di bulan ke-9, oleh-oleh jurnal ini pun
terpaksa berhenti di jurnal ke-4.
*****
Kembali berstatus single, sayapun mulai mengisi
kembali jurnal pribadi disambi menulis sejumlah feature mingguan di sebuah
harian nasional. Yang mengenalkan saya pada satu orang editor luar biasa
bernama Nina Chairani Ibrahim.
Mbak Nina atau Mbak Poy—begitu saya biasa
menyebutnya, adalah editor rubrik anak dan keluarga. Saya ingat, penugasan
pertama saya darinya adalah selembar print out berisikan topik, angle, nama
narasumber (plus no kontaknya), bahkan daftar pertanyaan. Print out ini lah
yang kemudian rutin saya terima darinya setiap Jumat sore (deadline kami adalah
hari Kamis).
Karena well, ya—tak seperti editor lain yang bahkan
malas mencari topik—Mbak Nina memang rajin membuat lembar penugasan. Setiap
kali tulisan saya turun cetak, ia jugalah orang yang rajin memberi sejumlah
masukan saran dan kritik. Mulai dari angle yang kurang tajam, jawaban
narasumber yang kurang digali, sampai judul yang tak menarik—saya buruk dalam
membuat judul, jadi setiap judul yang saya ajukan hampir selalu diganti dengan
judul lain pilihan editor. Tapi yang paling berbekas adalah pesannya untuk
selalu menulis dengan hati. “Pembaca pasti berasa kalo kita nulisnya nggak niat.
Jadi selalulah menulis dengan sepenuh hati,” ujarnya dalam satu bis kota arah
Mampang saat kami lagi-lagi pulang larut malam karena deadline.
Satu pesan yang selalu saya camkan hingga kini.
******
Banyak hal yang saya pelajari saat bekerja sebagai
wartawan. Misalnya saja disiplin dalam menerapkan manajemen waktu. Saat makan
siang bersama teman-teman di kampus misalnya. Sementara temen-teman lain bisa
kongkow-kongkow seharian, saya hanya bisa menjatah diri saya maksimal 15 menit
saja. Sering kali sesi kuliahpun disambi dengan mendaftar tulisan yang sudah
dan atau sedang dikerjakan, sampai daftar pertanyaan narasumber. Praktis saat
itu, saya yang mengambil kuliah 21 sks per semesternya, nyaris tak punya
catatan kuliah sama sekali.
Karena tak punya komputer, rentalpun menjadi salah
satu tempat nongkrong favorit saya. Saat kuliah pagi jam 8, biasanya saya akan
naik KRL Tanah Abang-Depok yang tiba
pukul 7.30. Setengah jam itulah yang saya habiskan di rental untuk mengedit
tulisan.
Nah, lain lagi kalau kuliah jam 10.30. Pagi-pagi saya
akan ke kantor di Mampang, dan menggunakan komputer kosong disana sampai pukul
9.45 (para editor biasanya baru datang pukul 13.00), untuk kemudian
berlari-lari mengejar angkot tujuan Depok. Usai kuliah adalah waktunya wawancara,
untuk kemudian kembali lagi ke kantor.
Setiap minggunya, saya biasa mendapat jatah tulisan
sekitar 3-4 feature setengah halaman koran (sekitar 6-7 ribu karakter), plus
sekitar 4-5 feature seperempat halaman koran (sekitar 4-5 ribu karakter).
Artikel yang ditulis pun bervariasi. Mulai dari rubrik keluarga, belia, griya,
budaya, fashion, kesehatan, dapur, profil keluarga artis, sampai rubrik
anjangsana (seputar gerai unik di mal).
Pada hari Senin-Rabu, biasanya saya bisa pulang cepat
sekitar pukul 21.00. Tapi saat deadline biasanya saya baru bisa pulang pukul
23.00, untuk bangun subuh esoknya dan kembali memulai hari. Sabtu Minggu yang
semestinya adalah waktu beristirahat sering kali diisi dengan liputan. Atau
kalau sedang senggang, saya akan berburu rumah dan gerai unik di Jakarta untuk
stok rubric Anjangsana dan Griya.
Ah, hari-hari yang berkejaran dengan waktu…
*****
Bagi saya, ide kreatif tidak datang dalam semalam.
Begitu juga dengan tulisan. Karena itu saat menulis artikel non fiksi, yang
pertama saya lakukan adalah riset, baik itu riset buku ataupun browsing data.
Untuk kemudian membuat kerangka tulisan, dilanjutkan dengan melakukan
wawancara. Setelah itu, barulah saya mulai menyusun tulisan.
Pun satu tulisan rampung, tak lantas pekerjaan saya
selesai. Saya masih harus membaca ulang sebanyak belasan kali. Memilah-milah
kutipan yang lebih atraktif sebagai kutipan langsung juga kalimat yang tepat
untuk subjudul. Memastikan setiap kalimat strukturnya sederhana sehingga mudah
dimengerti, paragraph tidak terlalu panjang agar tak meletihkan mata, alurnya
mengalir enak, serta kalimat penutup yang pas.
Sering kali saya masih harus meninggalkan tulisan ini
semalaman, untuk ditengok lagi keesokan harinya. Karena biasanya setelah bangun
tidur, saya akan bisa membaca tulisan dengan lebih jernih. Praktis saya butuh
sekitar 2-3 hari untuk menyelesaikan 1 tulisan.
Padahal, masih ada kejaran deadline. Plus setumpuk
tulisan yang menunggu dikerjakan. Saat itulah, saya belajar untuk menulis
dimana saja dan kapan saja. Bahkan saat sedang tak berhadapan dengan
komputer.
Nah, saat itu barang wajib saya selain ponsel adalah
notes kecil. Disanalah saya menyusun sejumlah daftar pertanyaan, daftar tulisan
yang harus dikerjakan, intisari kuliah hari ini, sampai potongan-potongan
kalimat yang lewat begitu saja di kepala saya. “Intinya, dengan notes ini, lo
bisa nulis di mana aja No,” begitu pesan Hadi, abang saya yang juga selalu
membawa notes kecil dalam tas pinggangnya.
Lambat laun, sayapun mulai mengenal pola dalam
sistematika tulisan saya. Ini membuat saya mulai lebih tanggap terhadap kalimat
dan topik yang lebih pas untuk pembuka, inti, dan penutup. Sering kali saat
berada di perjalanan, ataupun makan siang, kalimat-kalimat judul dan subjudul
seketika menari-nari di kepala saya.
Untuk ditangkap secepatnya.
******
Pelengkap dari koleksi tumpukan kertas saya ini
adalah scrapbook. Saya selalu tertarik dengan desain majalah yang
berwarna-warni, terutama majalah luar negeri. Karena itu, saya sering
mengguntingi dan menyobeki gambar, foto, kutipan dari setumpuk majalah bekas.
Atau apapun bentuk print out yang saya anggap menarik, mulai dari iklan,
lukisan dalam catalog sampai karcis nonton 21.
Untuk ditempelkan didalamnya.
Karena bidang luas halaman buku kelewat sempit,
sayapun mencoba untuk ganti objek. Misalnya saja dengan membuat kartu pos atau
kolase seukuran poster. Terakhir, saya juga melapisi pintu, tembok kamar dan
lemari baju dengan kolase kertas.
Dikelilingi benda-benda yang terasa familiar inilah,
saya biasanya akan duduk di sudut kamar. Beralaskan selembar bantal, saya mulai
menulisi halaman kosong jurnal dengan sebatang spidol hitam. Menenggelamkan
diri dalam dunia imajinasi, bermain bersama kata-kata.
Dan merasa pulang ke rumah.
******
Membaca ulang tulisan-tulisan lama saya tak pelak
seperti membuka-buka album foto lama. Ada campur aduk rasa disana. Mulai dari
setumpuk malu karena menyadari betapa culun, naif, dan meledak-ledaknya saya
dulu. Pun saya tahu persis itu adalah tulisan tangan saya sendiri, tetap saja
saya tercengang-cengang membacanya. Hampir setiap 3 lembar sekali, saya akan
berseru “Ya olloooo, dulu gua nulis kaya gini ya???” dengan pipi bersemu merah
dan mulai tertawa geli sendiri.
Ckckckck.
Saya pernah baca, dalam suatu wawancara di majalah
penulis Dewi Lestari pernah berkata “Menulis adalah perjalanan.” Setuju. Buat
saya, menulis juga berbanding lurus dengan perjalanan menuju tingkat kedewasaan
dan kematangan tertentu. Saat ini sambil terus belajar caranya menulis dengan
baik, saya pikir, saya juga belajar bertumbuh menjadi dewasa.
Dan karena saya pikir proses pendewasaan diri
berlangsung seumur hidup, maka bisa jadi pelajaran menulis adalah kelas
terpanjang yang pernah saya ikuti.
Mau bergabung dan belajar bersama?
******