Archive for September, 2007

waktu ahan pulang sendiri

Di Bogor, sekolah Ahan berjarak cukup
dekat dengan kantor ayahnya, yang juga abang sulung saya, Indro. Nah, jadilah
sejak pindah ke Bogor, setiap pulang sekolah, ia akan dijemput oleh Indro untuk
kemudian pulang ke rumah bersama.

Pada suatu hari, Indro telat menjemput
karena ada meeting di kantornya. Maka yang dilakukan bocah pintar ini adalah
menyambangi kantor Indro. “Trus aku
minta disebrangin ma tukang gado-gado, Tante Retno!” celotehnya.

“Oya? Waah, kamu hebat! Tante bangga sama
kamu, anak pintar yang ganteng! Tadi Mas Ahan bilang apa pas minta
diseberangin?”

“Aku bilang ‘Bu, tolong sebrangin dong.
Soalnya saya nggak bisa nyebrang’.”

“Trus, pas sampe kantor Papa, kamu bilang
apa ke satpam?”

“Aku bilang ‘Pak, saya anaknya Pak Indro,
mau ketemu sama Pak Indro,.”

Pintarnya anak ini ya?

 *****

Beberapa hari kemudian, dia lalu menelpon
saya lagi.

“Tante Retnoooo, tadi aku nggak
disebrangin ma tukang gado-gado lagi! Tadi aku disebrangin ma tukang sampah!”
ujarnya setengah berteriak.

See? Betapa pintarnya dia ya?

waktu ahan mau punya gundam

Kemarin salah satu abang saya, Wira, baru beli mainan
robot Gundam. Dalam satu kardus besar itu berisi banyak plastic bening bagian
yang belum dirakit. Sayang, mainan ini dibeli Wira untuk dirinya sendiri. Bukan
buat Ahan.

Maka yang dilakukan Ahan hari ini adalah memeluk
kardus Gundam itu seharian. Dan tanpa henti berceloteh riang.

“Tante Retno, aku kan juga punya yang kecilnya. Dulu
aku ngerakitnya sampai seharian lho. Mulai dari tangannya dulu, lalu badannya,
trus kakinya”

“Kalo punya ini nggak boleh dibawa ke sekolahan, ntar
dipinjem sama temennya, trus dirusakin deh. Ya kan Tante Retno?”

“Tante Retno, ini robot Gundam yang pertama lho, tau
nggak?”

“Tante Retno, mau liat yang ada orangnya ndak?”

“Tapi Tante Retno, kalo aku ngerakit ini semua bisa
sampai seminggu, soalnya aku baru bisa pas pulang sekolah..”

“Tante Retno, liat deh, robot ini nggak punya kaki.
Soalnya dia bisa terbang. Hebat yah?”

 Sementara
saya cuma bisa mendengarkan suara cemprengnya yang tanpa henti berceloteh
riang, dengan mata yang berbinar-binar penuh semangat. Tanpa paham sedikitpun
juga tentang apa yang sedang dibicarakannya. Yang saya tahu hanyalah bahwa Ahan
tampak begitu lucu dan menggemaskan saat itu. Sooo cute. 

 Saat
Ahan mulai kehabisan kata dengan tangannya masih memeluk-meluk kardus Gundam
Wira, saya pun bertanya “Mas Ahan mau ya mainan ini?”

Lalu dengan wajah tersipu, Ahan pun menggangguk.

 “Tapi
mainan ini mahal, aku mau nabung dulu. Tante Retno doain ya, biar aku punya
uang banyak dan bisa beli ini?” ujarnya dengan wajah polos.

 Saya
tersenyum mendengarnya.

Ah, angel…