Archive for October, 2007

master of the game

        Setiap hari Susie Q bertaruh dengan nyawanya untuk mati.
        Kalau kereta terlambat 5 menit, maka ia akan melompat ke rel seberang, tepat saat kereta lain melintas. Kalau bis yang ditumpanginya membuatnya berdiri saking penuh sesaknya, maka ia akan melompat ke jalan saat bis tengah melaju kencang. Kalau sms yang akan diterimanya dalam 5 menit ke depan adalah dari seorang dengan abjad A di namanya, maka ia akan mengiris nadinya. Kalau merk pasta yang ada adalah merk P dan bukannya G seperti yang diharapkannya, maka ia akan mengiris nadinya. Kalau saat koin itu dibalik yang keluar adalah kepala, maka ia akan mengiris nadinya. Kalau telpon itu berhenti berdering pada bunyi deringan ke tiga, maka ia akan menembak kepalanya.
        Kalau tim sepakbola M kalah, maka ia akan menembak kepalanya. Kalau angka yang keluar adalah 19, maka ia akan menembak kepalanya. Kalau taksi yang ditelponnya tak kunjung datang, maka ia akan menembak kepalanya. Kalau resepsionis yang menyambutnya adalah seorang pria, dan bukannya wanita, maka ia akan menembak kepalanya. Kalau suara yang datang berikutnya di dalam rimba kepalanya adalah si pria gema, dan bukannya si janda tua, maka ia akan menembak kepalanya.
        Dan kalau suatu hari nanti Susie Q terbangun dalam satu dunia tanpa suara, maka ia bertaruh akan menembak kepalanya. Karena saat itulah, Susie Q tersadar bahwa untuk pertama kalinya, ia keluar sebagai pemenang dalam permainan judi rekaannya.
        Game over.

lukisan-lukisan saya kelak

        Pada masanya nanti, lukisan-lukisan saya akan penuh dengan warna pastel. Langit akan berwarna biru yang damai, dan bukannya abu-abu mendung yang muram. Matahari juga akan berwarna kuning cerah yang hangat, dan bukannya berwarna merah pekat, bercampur dengan warna darah dari tabung gelas yang pecah.
        Hutan tak lagi berwarna ungu biru yang dingin, melainkan berwarna hijau pastel, dan para burung dengan ekor warna-warni akan riuh beterbangan. Lautan akan berwarna biru kehijauan transparan, dengan pemandangan taman laut yang memukau. Dan bukannya lautan lengang tanpa satupun juga riak gelombang.
        Pada masanya nanti, lukisan-lukisan saya akan punya banyak pintu yang terbuka. Dimana tidak akan pernah ada lagi satupun juga kunci pintu yang hilang. Dan akan selalu ada alternative jalan keluar dari lukisan labirin, tanpa satupun juga jebakan mematikan.
        Pada masanya nanti, lukisan-lukisan saya akan penuh dengan pengharapan. Dimana tak akan ada jurang tanpa dasar yang menyesakkan. Juga tak akan ada lagi lukisan para siswa dan siswi yang dihukum di depan kelas dengan wajah setengah menangis dan tangan dipenuhi gores kemerahan bekas sabetan.
        Kursi kosong dan tiang gantungan tak lagi menjadi sebuah penantian berkepanjangan. Jantung hati tak lagi menjadi menu utama makan malam. Hari yang cerah dan berangin akan berhiaskan pelangi cantik dengan 7 warna, dan bukannya dengan satu nisan berukirkan nama saya diatasnya.
        Mimpi-mimpi buruk menjadi kanibal tak lagi membuat terjaga di tengah malam dengan napas tersengal. Dan kado-kado yang terbungkus cantik dalam kain sutra berhiaskan pita satin akan sungguhan berisikan Kedamaian, Kebahagiaan, Pemberian Maaf, Keikhlasan, Cinta dan Kasih Sayang. Dan bukannya kado-kado tipuan yang berisi 7 dosa mematikan.
        Pada masanya nanti, lukisan-lukisan saya akan diwarnai wajah-wajah yang tersenyum. Para wanita akan membuka topeng “Smiley” dan kacamata hitam mereka, memperlihatkan sepasang mata indah yang utuh dan sehat. Mata yang sungguhan tersenyum dari hati, dan bukannya mengucurkan air mata darah tanpa henti.
                                                                *****
        Dan pada masanya nanti, saya akan membungkus semua lukisan baru ini dengan hati-hati. Untuk kemudian mengangkutnya ke rumah baru saya. Dengan kepala dipenuhi imaji, betapa cantiknya lukisan-lukisan ini semua kala menghiasi ruang tamu, ruang tengah, kamar mandi, dan kamar tidur saya.
        Kelak.

       

maybe tomorrow, by stereophonics

Been down and I’m wondering why
These little black clouds keep walking around with me, with me
Waste time and I’d rather be high
Think I’ll walk me outside and buy a rainbow smile but be free, be all free
So maybe tomorrow I’ll find my way home
So maybe tomorrow I’ll find my way home

I look around at a beautiful life
I been the upper side of down; been the inside of out but we breathe, we breathe

I wanna a breeze and an open mind
I wanna swim in the ocean, wanna take my time for me, it’s all free

So maybe tomorrow I’ll find my way home
So maybe tomorrow I’ll find my way home

pleasantville (2)

Seorang pelukis keliling kemarin berkunjung ke rumah
abu-abu saya.

Pria itu bertubuh tinggi, mengenakan kaus oblong
warna hijau, dengan jins biru langit yang warnanya sudah hampir pudar.
Rambutnya yang ikal sudah waktunya untuk dipotong. Kakinya tak bersandal.

Dengan lengan mengepit sejumlah kanvas, alat lukis,
dan kuas, ia mengetuk pintu, menawarkan jasanya untuk mengecat rumah saya. Seperti
pada banyak orang asing lainnya, sikap saya pun mulanya sangat tak bersahabat.
Saya hanya bicara seperlunya, bahkan tanpa merasa perlu repot-repot membuka
pintu. “Maaf, saya tidak bicara dengan orang asing. Dan dunia saya sudah cukup
punya warna,” tolak saya dari balik pintu.

Tapi pelukis itu tidak pergi.

Dari balik jendela, saya melihat, bahwa dia malahan
mengeluarkan kuas dan alat lukisnya. Untuk kemudian mewarnai setiap helai daun
dan rumput abu-abu saya, dengan warna hijau yang segar. Dia tambahkan warna
oranye di ladang bunga tulip abu-abu dan warna ungu di ladang bunga lavender
abu-abu. Berjam-jam lamanya ia bekerja, bekerja, dan bekerja. Matahari saya makin
tinggi, saat pelukis itu mulai mewarnainya dengan warna kuning cerah.

Masih dari balik jendela, saya mengintipnya yang
sibuk mewarnai langit abu-abu dengan paduan warna yang cukup rumit, saat
matahari tenggelam di ufuk barat. Pelukis itu mewarnainya dengan warna kuning,
merah, oranye, hijau, sekaligus perak dan emas disana. Saya lihat, pelukis itu
juga tak hanya menggunakan cat minyak. Tapi ia juga menggunakan cat air,
krayon, pensil warna, spidol, bahkan campuran dari sejumlah dedaunan yang
ditumbuknya sendiri. Yang menghasilkan paduan warna tak biasa, yang tak pernah
saya lihat sebelumnya dalam lukisan pemandangan manapun.

Saya cuma tahu, bahwa langit saya kemudian jadi luar biasa
cantiknya.

******

Pelukis itu tengah mengemasi semua barang bawaannya,
saat saya membuka pintu. Seketika pelukis itu menoleh, tersenyum. Satu senyuman
tulus, yang seketika membuatnya berbeda dari banyak orang asing lainnya.

“Ya?” tanyanya sambil tersenyum geli. Kaus hijaunya
sekarang sudah bernoda cat dimana-mana, begitu juga tangan, lengan, dan
pipinya.

Saya terdiam, seketika merasa rikuh berdiri di
hadapannya yang tampak begitu hidup dan berwarna. Membuat gaun, sepatu, dan
kulit tubuh saya yang abu-abu terasa begitu kusam dan lusuh.

“Well, saya cuma mau bilang, saya punya kamar mandi
di dalam, kalau kamu mau membersihkan diri. Dan kebetulan saya juga baru
menjerang seteko kopi..” ujar saya terbata-bata, dengan kepala tertunduk malu.

Tapi pelukis keliling itu cuma tersenyum.

“Sure, that’d be nice!,” jawabnya ringan.

Saya tersenyum.

“Yeah, that’d be nice..”

Dan menyilakannya masuk.

*****

 

 

 

mbak imah

Pertemuan dengan malaikat bisa terjadi tanpa terduga.

Beberapa waktu lalu misalnya, saya menemukan malaikat
ini saat akan menjahitkan kebaya.  Well—seperti
perempuan pada umumnya yang selalu terobsesi dengan barang bagus berharga
murah—saya pun minta rekomendasi teman saya, Citra dan Nta.

Hasilnya, kedua teman saya ini sepakat bahwa Mbak
Imah adalah pilihan yang paling tepat. Nta misalnya, menjahitkan kebaya
pernikahannya disana. Diikuti Citra yang lalu menjahitkan sejumlah kemeja.
“Pokoknya kalau mau jahitan yang murah dan bagus, ke Mbak Imah aja deh, “ ujar
mereka berpromosi.

Well, dan ternyata kedua teman saya ini memang tak
salah pilih.

Mbak Imah ternyata pernah bekerja sebagai penjahit di
sejumlah butik terkenal, diantaranya adalah butik Adjie Notonegoro, dimana dia
pernah bekerja selama 4 tahun disana. Karena butik identik dengan sesuatu yang
eksklusif, maka saya sempat mengira bahwa para karyawannya juga cukup sejahtera.

Yang mana, tidak.

Mbak Imah tetap tinggal di rumah petak, dengan 1
kamar tidur, tanpa ruang tamu dan pagar halaman. “Ya, yang kaya mah yang punya
butiknya Mbak. Kita-kita mah tetep gini-gini aja,” ujar Mbak Imah sambil
tersenyum.

Karena hasil kerjanya bagus, maka Mbak Imah pun
sering mendapat tip dari sejumlah pelanggan. “Ya kalau dapet tip, paling saya
jajanin, beli makanan buat rame-rame. Karena nggak enak kan yah, masa kita
dapet tip, temen kita nggak dapet,” ujar ibu 3 anak ini.

Tak jarang, Mbak Imah juga mendapat pesanan langsung
dari pelanggan untuk menjahitkan gaun. Namun meski sudah diiming-imingi bayaran
besar tanpa dipotong pemilik butik, dan antar jemput di luar kantor saat
pesanan jadi, tetap saja Mbak Imah menolak. “Ah, saya mah nggak berani, Mbak
Retno. Biar gimana, saya kan kerja disana, kalau main sembunyi-sembunyi gitu
saya takut dosa ah,” ujarnya sambil tertawa polos.

 ******

Kini Mbak Imah sudah membuka usahanya sendiri, dengan
nama Imah Busana. “Yah, masih kecil-kecilan sih Mbak Retno. Tapi ya
alhamdulillah, ada aja yang mesen. Buat saya mah, yang penting hidup itu cukup
aja. Nggak usah berlebihan, jangan juga kekurangan. Cukup aja, supaya kita bisa
belajar bersyukur..” ujarnya sambil tersenyum ikhlas.

Sementara saya cuma tercenung.

Ah, malaikat itu memang ada dimana-mana…

 

*Bagi yang tertarik menjahitkan baju di Mbak Imah,
ibu ini bisa dihubungi di (021) 7330239/ 0819 32675819. Oya, rumahnya memang
agak jauh, di daerah Ciledug. Tapi hasil jahitannya dijamin puas kok!

di titik nol kilometer

 

Titik nol kilometer tidak berupa sebuah
menara.

Juga tidak berwujud sebuah tugu
peringatan, dengan papan nama yang dipancang permanen, tempat orang-orang bisa
berfoto bersama. Dimana nanti mereka bisa memajang foto mereka yang berbingkai
perak dengan rasa bangga di ruang tamu, demi bisa menepuk dada dan berkata kepada
setiap pengunjung temporernya “Oh ya, saya pernah kesana. Ke titik nol
kilometer dunia.” Berusaha keras mengundang decak kagum dan antusiasme
basa-basi di sela-sela dentingan cangkir teh dan kopi.

Bukan itu.

Karena sebenarnya, titik nol kilometer
lebih berupa sebuah hutan. Atau tepatnya, sebuah rimba yang demikian besarnya,
dimana akar-akar pohon tertua di dunia terurai seperti lebatnya rambut yang
tumbuh di kepala. Sementara pohon-pohon berdaun lebar berlomba mencapai
angkasa, saling sikut, saling tebas, saling libas, saling dorong, saling sandung, saling tepuk, saling tindih, saling
tumpuk. Tapi juga sekaligus saling taut, saling rangkul, saling tarik, saling peluk.

Yang membuat kegelapan menjadi begitu
pekatnya di titik nol kilometer. Karena setiap lembar daun yang lebar kelewat
sibuk berkutat dalam hubungan cinta-benci mereka, tanpa pernah sekalipun bisa beranjak
untuk pergi. Atau setidaknya sedikit menyingkir, menyilakan sedikit sinar matahari
mampir, agar  memerahkan permukaan tanah yang lembab, atau
menghangatkan tulang-tulang yang bergemeletukan dari bibir-bibir yang tanpa
henti mengepulkan uap.

                                                     ******

Titik nol kilometer bukanlah satu objek
wisata.

Orang tidak sukacita pergi ke sana untuk tamasya, menumpang kapal feri di akhir pekan dengan menenteng keranjang piknik
berisi setumpuk sandwich daging asap beroles mustard, ditemani sebotol besar limun dingin.

Pada kenyataannya, justru banyak orang yang lupa
bagaimana caranya mereka bisa mencapai titik nol kilometer. Sebagian mengaku,
mereka sedang menyetir hidup mereka dengan kecepatan rata-rata—sekitar
60-70km/jam—untuk kemudian seketika tiba di titik nol kilometer. Sebagian
bercerita bahwa mereka sedang menyetir hidup mereka dengan kecepatan
tinggi—mungkin sekitar 270-300km/jam—dan wush!, mereka terbang kesana. Ke titik nol
kilometer, dimana kisah ngebut-nekat-rayakan-hidup-hari-ini milik mereka
disimak dengan tekun oleh sekelompok orang yang bahkan tak punya kendaraan
pribadi untuk mengendarai hidup mereka sendiri. Yang membuat kelompok ini
terpaksa berdesakan setiap pagi dan petang dalam angkutan umum, bermandi peluh
dan letih, dengan hasrat mengenyangkan diri dengan sepiring makan malam hangat,
berlaukkan secuil mimpi dan sebutir harapan.

Ya, mereka semua tersesat disana.

Tanpa satupun juga bunyi alarm
peringatan, atau sedikitnya beberapa rambu petunjuk jalan. Sehingga mereka
setidaknya bisa melakukan antisipasi dini untuk melunasi semua tagihan dan hutang, menutup
rekening di bank, menyumbangkan pakaian dan beramal. Atau menulis sejumlah kartu
ucapan terima kasih pada orang-orang terkasih.

Tidak.

Karena saat orang tersesat di titik nol
kilometer, tak pernah tersedia fasilitas berupa sedikit waktu untuk pamit.
Lebih tepatnya, tidak tersedia layanan fasilitas apapun di titik nol kilometer.
Tidak ada restoran atau kafetaria. Tidak ada apotek. Tidak ada klinik. Tidak ada toilet. Tidak ada internet. Tidak
ada motel. Tidak ada wartel.

Bahkan kalaupun kamu kebetulan bawa ponsel,
tetap saja tak ada hal berguna yang bisa dilakukannya selain dilempar
sebagai rongsokan usang. Karena tak ada sedikitpun juga sinyal kehidupan di
titik nol kilometer. Jadi, sampai baterai ponsel kamu kosong, silakan bersumpah serapah sampai puas. Dan nanti saat kehabisan suara, kamu bisa duduk manis,
menikmati alunan rekaman musik, iklan, dan serial pendek yang terekam dalam
ponsel kamu. Mencoba mencecap sedikit kenikmatan hidup yang seketika terasa
begitu mahal dan langka, karena kini hanya tinggal berumur sekian jam saja.

Dalam situasi yang nyaris membuat gila
seperti ini, apalagi yang bisa dilakukan selain belajar bicara? Jadi memang itulah cara
yang dilakukan semua orang yang tersesat di titik nol kilometer ini demi mengisi
hampa.

Dimulai dengan mencoba memecah es keheningan yang dingin dan licin, menggunakan satu sapaan sederhana. Kemudian dilanjutkan dengan sejumlah sesi tanya jawab. Setelah beberapa jam melayang, voila! setiap jiwa yang tersesat ini mendadak
merasa punya teman senasib sepenanggungan.

Lalu mereka pun mulai berburu makanan
bersama. Bahu-membahu mempelajari tumbuhan mana yang bisa dimakan, menyiapkan
jebakan, mengumpulkan kayu bakar untuk menyulut api unggun, mematok tenda
sederhana dari dedaunan.

Merasa aman.

                                                                 ******

           Waktupun
menguap ke udara.

          Sebagian
orang telah sukses beradaptasi. Sebagian orang yang sudah merasa kelewat
nyaman, bahkan sampai mendirikan pondok permanen dan mencoba menyambung hidup
dengan bercocok tanam. Mereka tebasi dedaunan lebar yang menghalangi sinar
matahari selama ini. Dengan rajinnya, mereka bolak-balik tanah, agar gembur. Tak lupa
mereka sirami setiap benih agar nantinya bisa tumbuh subur.

         Yang
membuat orang-orang ini belajar untuk kembali menyunggingkan sebuah senyuman.
Sekaligus juga belajar untuk kembali punya ambisi, agar bisa makan sesuap mimpi
waktu panen nanti.

        Tak hanya
itu, mereka juga menikahi satu sama lain. Dan setelah melewati sejumlah pesta
pernikahan dan perayaan kelahiran bayi, kamu mulai berpikir bahwa kehidupan kembali
bernafas di titik nol kilometer. Meski denyutnya masih kelewat lemah, tapi toh
setidaknya sudah cukup stabil. Dan kamu mulai punya gagasan, bahwa mungkin,
mungkin orang-orang ini tak lagi perlu diselamatkan.

         Toh
bertahun-tahun telah lewat. Toh mereka juga kini sudah tampak bahagia dan
menikmati kehidupan mereka yang sekarang. Toh mereka juga mungkin sudah
terlupakan, terhapus dari kenangan semua orang yang ditinggalkan. Jadi buat apa
repot-repot menghubungi polisi dan regu penyelamat?

                                                             *****

       Well,
kabar baiknya adalah, kamu bukan yang pertama punya gagasan cemerlang itu,
percayalah. Tapi kabar buruknya adalah, bahwa kamu salah. Kamu sama sekali
salah.

        Karena
jauh di belantara pikiran dan keinginan mereka, orang-orang yang tersesat ini
tetap rindu untuk pulang. Pada masakan Ibu yang masih hangat. Pada empuknya kasur.
Pada nikmatnya membasuh diri di bawah pancuran.

          Pada
pelukan yang telah bertahun-tahun diakrabi bahu, lengan, dan dada sesak mereka
yang resah. Pada ciuman mendamaikan di petang sepulang kantor. Pada cinta
dari orang-orang terkasih, yang telah mereka tinggalkan. Pada dunia kumal dan usang, yang meski terus-menerus berputar pada porosnya yang aus dan karatan, ternyata tetap menjadi satu-satunya tempat yang paling ideal untuk sebuah bentuk kehidupan.

         Jauh
tersembunyi di belantara pikiran, orang-orang yang tersesat ini sadar
sepenuhnya bahwa mereka hanya berpura-pura betapa kehidupan mereka kembali
berputar seperti sebagaimana mestinya. Ya, mereka kembali bekerja. Ya, mereka
kembali punya keluarga. Tapi betapa suami dan istri yang telah mereka nikahi
ini tetap saja orang-orang asing. Bahwa
pada dasarnya, diantara mereka hanyalah ada dua persamaan. Kebutuhan akan seks dan ketakutan akan ditinggalkan sendirian.

Jauh tersembunyi di belantara pikiran
mereka, orang-orang ini tahu pasti rasanya hampa. Betapa pahitnya mencoba untuk
tersenyum dan mengaku bahwa diri mereka baik-baik saja. Seperti satu ekspresi
kaku dari topeng yang dipaku permanen di wajahmu. Dimana kamu masih bisa
merasakan ujung-ujung paku yang karatan menggoresi bibir dan tulang pipi.

Sama getirnya dengan mencoba terdengar
riang. Seolah-olah ada kaset lama yang diputar berulang-ulang di dalam
kepalamu. Dimana pita kaset mulai keriting dan setiap 3 menit mengeluarkan
suara melengking yang membuatmu seketika ingin mengiris-iris kuping.

Maka, jauh tersembunyi di belantara
pikiran mereka, orang-orang inipun mulai bermimpi untuk mati. Betapa setiap
malam, mereka akan pergi tidur dengan harapan agar tak terbangun lagi keesokan
pagi.

           Karena
jauh tersembunyi di belantara pikiran mereka, ada gema yang berjalan
mondar-mandir. Terus-menerus berujar dan mencacat betapa titik nol kilometer
bahkan tidak pernah terdaftar di skala ordinat peta kehidupan. Betapa semua
orang di dunia normal menggunjingkannya, membuat asumsi, melakukan penelitian,
menulis buku, membuat film, membuat talkshow.

Tapi tetap saja, hasilnya nihil. Tak
pernah ada bukti otentik. Tak pernah ada petunjuk spesifik. Titik nol kilometer
adalah satu titik kehidupan yang tak teridentifikasi.

Jauh tersembunyi di belantara pikiran
orang-orang yang tersesat ini, diantara setiap jalinan cabang yang demikian rumitnya,
mereka sadar bahwa kali ini, harapan sungguh-sungguh telah pergi.

Dan bahwa di titik nol kilometer, mereka
semua, tersesat selamanya.

Tanpa pernah bisa kembali lagi.

                                                              ******

 

seorang gadis dengan senyuman terpaku di wajahnya

Gadis itu adalah tetangga di samping kamar kos saya.

          Seperti
semua orang di dunia, dia juga punya topeng. Topeng itu berupa satu ekspresi
senyuman lebar, selebar senyuman badut sirkus yang kerap saya tonton saat masih
kanak-kanak. Tidak seperti banyak topeng lainnya yang terbuat dari kulit yang
sangat tipis dan lentur, topeng gadis itu terbuat dari kayu yang keras dan
cukup tebal. Karena itu, agar topengnya tidak bergeser-geser sepanjang hari,
maka setiap pagi si gadis memaku topeng itu ke wajahnya. Saya pernah
diberitahu, bahwa ada beberapa titik penting di wajahnya yang harus dipaku.

“Pertama, kedua lesung pipit. Lalu dagu, bibir atas,
bibir bawah. Dan terakhir, ujung mata,” ujarnya.

“Kenapa?” tanya saya ingin tahu.

“Karena di sejumlah titik itulah terdapat otot-otot
wajah yang berubah saat kamu tersenyum. Kalau ingin punya satu senyuman topeng
yang awet di wajah, maka kamu harus memaku wajahmu dalam-dalam,” jelasnya.

                                                       ******

Seperti banyak orang di dunia, gadis itu juga tidak
menyukai pekerjaannya. Dimana dia harus berdiri sepanjang hari, menjadi sales
suatu produk kecantikan untuk wanita. “Makanya, saya harus pasang topeng itu.
Karena sepanjang harinya kamu berhadapan dengan calon pembeli,” ujarnya pada
suatu ketika.

Saya tercenung mendengarnya.

“Tapi kalau hanya sebatas urusan pekerjaan, kenapa
kamu masih tetap memakainya saat di luar jam kantor?” tanya saya.

Seketika gadis itu terdiam.

Lalu pelan-pelan, ia membuka topengnya. Mencabuti
semua paku yang tertanam dalam-dalam di bawah kulit wajahnya. Saat belasan paku
yang karatan itu berjejer di hadapan kami, saat itulah saya melihat wajah
aslinya. Untuk pertama kalinya.

Dan betapa pemandangan yang saya lihat sungguh-sungguh
memilukan.

Karena wajah itu nyaris tak lagi layak disebut wajah.
Betapa seluruh permukaan kulit wajah tertutup darah, yang mengalir dari
sejumlah luka bekas paku. Sebagian luka memang tampak mengering, meninggalkan
borok-borok hitam kecoklatan. Tapi sebagian besar luka, terutama yang berada di
bagian pipi dan bibir, tampak membengkak mengeluarkan nanah kental berwarna
putih kekuningan. Sementara bau anyir darah dan nanah meruap ke udara,
menyengat hidung.

Saya bahkan tak lagi bisa menghitung berapa jumlah
bekas paku di wajahnya, karena ada begitu banyaknya lubang-lubang di sana.
Seperti membaca pikiran saya, dia pun menjelaskan “Well, ya, ada kalanya, paku
saya meleset. Atau betapa luka paku yang kemarin belum juga sembuh, sehingga
saya harus memaku di bagian otot yang lain.”

“Pasti sakit sekali ya..” ujar saya prihatin.

Si gadis menghela napas.

“Ya. Sangat. Lebih dari yang kamu bisa bayangkan.
Tapi ada begitu banyak orang yang lebih mencintai senyuman topeng ini,
ketimbang rupa asli saya. Oh well. “ ujarnya sambil mengangkat bahu.

           Malam
itu sekaligus juga malam terakhir saya melihatnya.

          Karena
keesokan harinya, si gadis dipindahtugaskan ke luar kota. Saya masih ingat pagi
saat ia mengetuk pintu kamar saya, untuk menyerahkan satu bungkusan yang
terbalut kertas koran.

           “Ini
buat kenang-kenangan yah. Terima kasih untuk semuanya,” ujarnya sambil
tersenyum. Satu senyuman topeng paling manis yang pernah saya lihat.

          Sepeninggal
si gadis, cepat saya robek bungkusan koran itu. Dan diantara sobekan koran yang
berantakan, saya menemukan sebuah topeng kayu dengan ekspresi tersenyum.

             Saya
tengah mematut-matut diri saya di kaca dengan mengenakan topeng itu, saat
terdengar ketukan di pintu. Ah, itu pasti pacar saya. Kami memang berencana
untuk makan malam bersama.

         Tergopoh-gopoh,
saya segera berlari kea rah pintu. Dengan satu tangan memegang topeng agar tak
bergeser,  saya pun segera membuka pintu.
Dimana sosok tinggi pacar saya tampak terpana menatap wajah saya.

         “Wow,
kamu cantik sekali, sayang. Apa yang berubah ya?” tanyanya sambil mengecup dahi
saya.

             Saya
tersenyum. “Oh ya?”

         “Ya,
kamu benar-benar tampak cantik sekali. Apalagi senyuman kamu..” ujar pacar saya
dengan mata masih terpukau mengagumi wajah saya.

         Masih
sambil tersenyum, saya pun menyilakannya duduk. Menawarinya segelas limun
dingin untuk teman menunggu sementara saya berdandan dan bersiap-siap. Tak
lupa, saya nyalakan televisi.

         Sementara
saya pergi ke kamar mandi.

         Dan
mulai memaku topeng itu dalam-dalam ke wajah saya.

                                                                         ******