Titik nol kilometer tidak berupa sebuah
menara.
Juga tidak berwujud sebuah tugu
peringatan, dengan papan nama yang dipancang permanen, tempat orang-orang bisa
berfoto bersama. Dimana nanti mereka bisa memajang foto mereka yang berbingkai
perak dengan rasa bangga di ruang tamu, demi bisa menepuk dada dan berkata kepada
setiap pengunjung temporernya “Oh ya, saya pernah kesana. Ke titik nol
kilometer dunia.” Berusaha keras mengundang decak kagum dan antusiasme
basa-basi di sela-sela dentingan cangkir teh dan kopi.
Bukan itu.
Karena sebenarnya, titik nol kilometer
lebih berupa sebuah hutan. Atau tepatnya, sebuah rimba yang demikian besarnya,
dimana akar-akar pohon tertua di dunia terurai seperti lebatnya rambut yang
tumbuh di kepala. Sementara pohon-pohon berdaun lebar berlomba mencapai
angkasa, saling sikut, saling tebas, saling libas, saling dorong, saling sandung, saling tepuk, saling tindih, saling
tumpuk. Tapi juga sekaligus saling taut, saling rangkul, saling tarik, saling peluk.
Yang membuat kegelapan menjadi begitu
pekatnya di titik nol kilometer. Karena setiap lembar daun yang lebar kelewat
sibuk berkutat dalam hubungan cinta-benci mereka, tanpa pernah sekalipun bisa beranjak
untuk pergi. Atau setidaknya sedikit menyingkir, menyilakan sedikit sinar matahari
mampir, agar memerahkan permukaan tanah yang lembab, atau
menghangatkan tulang-tulang yang bergemeletukan dari bibir-bibir yang tanpa
henti mengepulkan uap.
******
Titik nol kilometer bukanlah satu objek
wisata.
Orang tidak sukacita pergi ke sana untuk tamasya, menumpang kapal feri di akhir pekan dengan menenteng keranjang piknik
berisi setumpuk sandwich daging asap beroles mustard, ditemani sebotol besar limun dingin.
Pada kenyataannya, justru banyak orang yang lupa
bagaimana caranya mereka bisa mencapai titik nol kilometer. Sebagian mengaku,
mereka sedang menyetir hidup mereka dengan kecepatan rata-rata—sekitar
60-70km/jam—untuk kemudian seketika tiba di titik nol kilometer. Sebagian
bercerita bahwa mereka sedang menyetir hidup mereka dengan kecepatan
tinggi—mungkin sekitar 270-300km/jam—dan wush!, mereka terbang kesana. Ke titik nol
kilometer, dimana kisah ngebut-nekat-rayakan-hidup-hari-ini milik mereka
disimak dengan tekun oleh sekelompok orang yang bahkan tak punya kendaraan
pribadi untuk mengendarai hidup mereka sendiri. Yang membuat kelompok ini
terpaksa berdesakan setiap pagi dan petang dalam angkutan umum, bermandi peluh
dan letih, dengan hasrat mengenyangkan diri dengan sepiring makan malam hangat,
berlaukkan secuil mimpi dan sebutir harapan.
Ya, mereka semua tersesat disana.
Tanpa satupun juga bunyi alarm
peringatan, atau sedikitnya beberapa rambu petunjuk jalan. Sehingga mereka
setidaknya bisa melakukan antisipasi dini untuk melunasi semua tagihan dan hutang, menutup
rekening di bank, menyumbangkan pakaian dan beramal. Atau menulis sejumlah kartu
ucapan terima kasih pada orang-orang terkasih.
Tidak.
Karena saat orang tersesat di titik nol
kilometer, tak pernah tersedia fasilitas berupa sedikit waktu untuk pamit.
Lebih tepatnya, tidak tersedia layanan fasilitas apapun di titik nol kilometer.
Tidak ada restoran atau kafetaria. Tidak ada apotek. Tidak ada klinik. Tidak ada toilet. Tidak ada internet. Tidak
ada motel. Tidak ada wartel.
Bahkan kalaupun kamu kebetulan bawa ponsel,
tetap saja tak ada hal berguna yang bisa dilakukannya selain dilempar
sebagai rongsokan usang. Karena tak ada sedikitpun juga sinyal kehidupan di
titik nol kilometer. Jadi, sampai baterai ponsel kamu kosong, silakan bersumpah serapah sampai puas. Dan nanti saat kehabisan suara, kamu bisa duduk manis,
menikmati alunan rekaman musik, iklan, dan serial pendek yang terekam dalam
ponsel kamu. Mencoba mencecap sedikit kenikmatan hidup yang seketika terasa
begitu mahal dan langka, karena kini hanya tinggal berumur sekian jam saja.
Dalam situasi yang nyaris membuat gila
seperti ini, apalagi yang bisa dilakukan selain belajar bicara? Jadi memang itulah cara
yang dilakukan semua orang yang tersesat di titik nol kilometer ini demi mengisi
hampa.
Dimulai dengan mencoba memecah es keheningan yang dingin dan licin, menggunakan satu sapaan sederhana. Kemudian dilanjutkan dengan sejumlah sesi tanya jawab. Setelah beberapa jam melayang, voila! setiap jiwa yang tersesat ini mendadak
merasa punya teman senasib sepenanggungan.
Lalu mereka pun mulai berburu makanan
bersama. Bahu-membahu mempelajari tumbuhan mana yang bisa dimakan, menyiapkan
jebakan, mengumpulkan kayu bakar untuk menyulut api unggun, mematok tenda
sederhana dari dedaunan.
Merasa aman.
******
Waktupun
menguap ke udara.
Sebagian
orang telah sukses beradaptasi. Sebagian orang yang sudah merasa kelewat
nyaman, bahkan sampai mendirikan pondok permanen dan mencoba menyambung hidup
dengan bercocok tanam. Mereka tebasi dedaunan lebar yang menghalangi sinar
matahari selama ini. Dengan rajinnya, mereka bolak-balik tanah, agar gembur. Tak lupa
mereka sirami setiap benih agar nantinya bisa tumbuh subur.
Yang
membuat orang-orang ini belajar untuk kembali menyunggingkan sebuah senyuman.
Sekaligus juga belajar untuk kembali punya ambisi, agar bisa makan sesuap mimpi
waktu panen nanti.
Tak hanya
itu, mereka juga menikahi satu sama lain. Dan setelah melewati sejumlah pesta
pernikahan dan perayaan kelahiran bayi, kamu mulai berpikir bahwa kehidupan kembali
bernafas di titik nol kilometer. Meski denyutnya masih kelewat lemah, tapi toh
setidaknya sudah cukup stabil. Dan kamu mulai punya gagasan, bahwa mungkin,
mungkin orang-orang ini tak lagi perlu diselamatkan.
Toh
bertahun-tahun telah lewat. Toh mereka juga kini sudah tampak bahagia dan
menikmati kehidupan mereka yang sekarang. Toh mereka juga mungkin sudah
terlupakan, terhapus dari kenangan semua orang yang ditinggalkan. Jadi buat apa
repot-repot menghubungi polisi dan regu penyelamat?
*****
Well,
kabar baiknya adalah, kamu bukan yang pertama punya gagasan cemerlang itu,
percayalah. Tapi kabar buruknya adalah, bahwa kamu salah. Kamu sama sekali
salah.
Karena
jauh di belantara pikiran dan keinginan mereka, orang-orang yang tersesat ini
tetap rindu untuk pulang. Pada masakan Ibu yang masih hangat. Pada empuknya kasur.
Pada nikmatnya membasuh diri di bawah pancuran.
Pada
pelukan yang telah bertahun-tahun diakrabi bahu, lengan, dan dada sesak mereka
yang resah. Pada ciuman mendamaikan di petang sepulang kantor. Pada cinta
dari orang-orang terkasih, yang telah mereka tinggalkan. Pada dunia kumal dan usang, yang meski terus-menerus berputar pada porosnya yang aus dan karatan, ternyata tetap menjadi satu-satunya tempat yang paling ideal untuk sebuah bentuk kehidupan.
Jauh
tersembunyi di belantara pikiran, orang-orang yang tersesat ini sadar
sepenuhnya bahwa mereka hanya berpura-pura betapa kehidupan mereka kembali
berputar seperti sebagaimana mestinya. Ya, mereka kembali bekerja. Ya, mereka
kembali punya keluarga. Tapi betapa suami dan istri yang telah mereka nikahi
ini tetap saja orang-orang asing. Bahwa
pada dasarnya, diantara mereka hanyalah ada dua persamaan. Kebutuhan akan seks dan ketakutan akan ditinggalkan sendirian.
Jauh tersembunyi di belantara pikiran
mereka, orang-orang ini tahu pasti rasanya hampa. Betapa pahitnya mencoba untuk
tersenyum dan mengaku bahwa diri mereka baik-baik saja. Seperti satu ekspresi
kaku dari topeng yang dipaku permanen di wajahmu. Dimana kamu masih bisa
merasakan ujung-ujung paku yang karatan menggoresi bibir dan tulang pipi.
Sama getirnya dengan mencoba terdengar
riang. Seolah-olah ada kaset lama yang diputar berulang-ulang di dalam
kepalamu. Dimana pita kaset mulai keriting dan setiap 3 menit mengeluarkan
suara melengking yang membuatmu seketika ingin mengiris-iris kuping.
Maka, jauh tersembunyi di belantara
pikiran mereka, orang-orang inipun mulai bermimpi untuk mati. Betapa setiap
malam, mereka akan pergi tidur dengan harapan agar tak terbangun lagi keesokan
pagi.
Karena
jauh tersembunyi di belantara pikiran mereka, ada gema yang berjalan
mondar-mandir. Terus-menerus berujar dan mencacat betapa titik nol kilometer
bahkan tidak pernah terdaftar di skala ordinat peta kehidupan. Betapa semua
orang di dunia normal menggunjingkannya, membuat asumsi, melakukan penelitian,
menulis buku, membuat film, membuat talkshow.
Tapi tetap saja, hasilnya nihil. Tak
pernah ada bukti otentik. Tak pernah ada petunjuk spesifik. Titik nol kilometer
adalah satu titik kehidupan yang tak teridentifikasi.
Jauh tersembunyi di belantara pikiran
orang-orang yang tersesat ini, diantara setiap jalinan cabang yang demikian rumitnya,
mereka sadar bahwa kali ini, harapan sungguh-sungguh telah pergi.
Dan bahwa di titik nol kilometer, mereka
semua, tersesat selamanya.
Tanpa pernah bisa kembali lagi.
******