Archive for December, 2007

life for rent, by dido

I haven’t really ever found a place that I call home

I never stick around quite long enough to make it

I apologize that once again I’m not in love

But it’s not as if I mind

that your heart ain’t exactly breaking

It’s just a thought, only a thought

But if my life is for rent and I don’t lean to buy

Well I deserve nothing more than I get

Cos nothing I have is truly mine

I’ve always thought

that I would love to live by the sea

To travel the world alone

and live my life more simply

I have no idea what’s happened to that dream

Cos there’s really nothing left here to stop me

It’s just a thought, only a thought

But if my life is for rent and I don’t learn to buy

Well I deserve nothing more than I get

Cos nothing I have is truly mine

While my heart is a shield and I won’t let it down

While I am so afraid to fail so I won’t even try

Well how can I say I’m alive

If my life is for rent…

satu puisi menyejukkan

MEMAAFKAN
Oleh: Danielle Rosenblatt

Maafkan matahari tidak bersinar,
Langit mengajak pesiar
Maafkan bintang pemenuh harapan,
Bulan menyajikan jamuan
Maafkan hujan atas terpaannya,
Awan tak bisa menahan air matanya

Jangan membenci burung yang bebas,
Jangan iri pada sayap mereka yang mengebas.
Jangan rintangi angin, cobalah dengarkan tangisannya
Atau angin akan melewati Anda

Maafkan badai yang tak bermaksud menyiksa,
Tak tahan menyajikan pesonanya
Maafkan bumi yang tak pernah berhenti berputar
Jangan membenci matahari karena terlalu terik membakar

Hidup tak dimaksud untuk menimbulkan lara
Bunga mekar karena curah hujan mendera

Badai akan datang, dan akan pergi
Matahari akan bersinar, menumbuhkan rumput lagi

Angin tak bisa menahan sengat
Bintang malam hari menerangi langit pekat

Maafkan dunia tempat penghidupan
Damailah kita semua jika memaafkan

sebuah jalan yang jarang ditapaki

        Ada sebuah jalan yang jarang ditapaki.
        Begitu jarangnya kaki-kaki menjejak, sampai-sampai tak ada tangan yang cukup peduli untuk membabati rerumputan yang tumbuh di sampingnya. Yang membuat semak belukar dan alang-alang setinggi dada tumbuh liar melebar sampai menutupi bahu jalan dan membuat tubuh jalan gatal-gatal. Tanpa punya kemampuan untuk menggaruk, ataupun menaburkan bedak.
        Tidak seperti jalan lain yang dipenuhi lampu-lampu hias yang berkelap-kelip, di jalan ini bahkan tak ada satupun juga alat penerang. Yang membuat jalan ini berwarna hitam pekat saat malam menjelang. Dan membuat orang makin enggan untuk datang.
        Karena di jalan ini, juga tak tersedia satupun juga rambu-rambu petunjuk jalan. Padahal, jalinan anak-anak jalannya bercabang-cabang dengan demikian rumitnya. Salah langkah sedikit saja, akan segera terdengar desis marah ular berbisa mematikan. Yang meski sarangnya tersebar di seluruh tubuh jalan seperti jebakan, namun sepanjang harinya tetap bersikap tak ramah pada tubuh jalan tempatnya menumpang. Tambahkan dengan banyaknya anak jalan yang buntu, maka jalan ini pun terkenal sebagai satu rangkai labirin yang sukses menyesatkan.
        Sayangnya, meski terkenal, jalan ini tak pernah punya teman. Tak ada satupun orang yang sudi ambil resiko untuk membangun pondok permanen di dekatnya, dan menjadi temannya bicara ataupun bercerita. Sesekali, memang ada beberapa mobil caravan yang transit. Itupun hanya karena mobil-mobil yang malang ini tersesat. Yang membuat mereka terpaksa bermalam satu dua hari dengan pintu mobil tertutup rapat, untuk kemudian esoknya segera tancap gas tanpa pamit. “Jalan ini kelewat melelahkan untuk kami,” begitulah alasan mereka.
        Alasan yang saat sampai ke telinga Matahari, membuatnya makin enggan untuk menyinari jalan ini. Pun seluruh tubuh jalan telah dipenuhi jamur akibat lembabnya cuaca dan guyuran hujan, tetap saja Matahari jarang datang. “Toh disana juga sangat sedikit ada bentuk kehidupan,” begitulah Matahari beralasan.
        Alasan-alasan yang akan selalu dipermaklumkan orang-orang.
        Bahkan juga alasan mengapa di jalan ini tak ditemukan sepotong pun papan nama. “Toh jalan itu juga jarang ditapaki orang. Buat apa repot-repot pasang papan nama?” demikian orang-orang beralasan, untuk kemudian kembali meneruskan kesibukan.
        Jadi begitulah, malam demi malam yang tak berujung dilewati jalan ini. Sementara tetesan hujan setajam jarum menusuki dan melubangi kulitnya tanpa henti. Membuat tulang-tulangnya yang ngilu bergemeletukan dua menit sekali.
        Tergugu menggigit bibir menahan getirnya sepi dan nyeri hati, jalan yang jarang ditapaki ini pun pada akhirnya, hanya bisa meringkuk sendirian.
        Dan menghela satu napas panjang.      

   

trisik

            Saya jatuh cinta
pada samudera dan angkasa.

         Yang hanya dibatasi
oleh satu garis tipis yang rapuh. Dengan dibuai mimpi bisa menyelam dan terbang
secara bersamaan. Dikitari ribuan ombak serupa kuda laut yang riuh berkejaran.

           Konon,
merekalah para jelmaan roh penyesalan. Yang terlanjur meninggalkan kehidupan,
dengan banyak hal tak tertuntaskan. Yang kini membuat mereka gigih menjangkau
pantai. Demi kembali mencecap secuil Hidup.

        Baru
saja terpikirkan, bahwa mungkin, mestinya mereka putar balik saja. Berusaha
mengejar angkasa, untuk kemudian menjelma sebagai malaikat. Makhluk tercantik
di dunia, yang sama dengan caramu tercipta.

Saya
jatuh cinta pada samudera dan angkasa.

Yang
di dasarnya menyimpan sebelas macam aneka warna. Kilau tujuh warna biru, tiga
warna hijau, dan satu warna emas. Yang kini dirembesi tetes air mata  duka awan yang pencemas.

Sementara
di tepian saya menonton. Sepoi-sepoi tiupan angin berbisik merayu saya untuk
terjun. Tenggelam dan melayang. Melebur. Berdebur. Hancur. Biar laut menelan
raga, dan jiwa saya moksa.
            

Selamat datang
di Surga.