Archive for February, 2008

700 minggu terindah

700 Minggu Terindah

Oleh: Retnadi Nur’aini

 

Judul : 700 Sundays

Penulis : Billy Crystal

Penerbit : Warner Books

Jumlah hal : 182 halaman

 

 

 Sebagai
pecinta komedi, saya hobi mengoleksi buku-buku yang ditulis oleh para komedian.
Seperti misalnya, Seinlanguage (ditulis oleh Jerry Seinfeld), Couplehood
(ditulis oleh Paul Reiser), My Point and I Do Have One (ditulis oleh
Ellen DeGeneres), If Life is a Bowl of Cherries, what am I Doing in the
Pitts?
(ditulis oleh Erma Brombeck), sampai Jomblo dan Gege
Mengejar Cinta
(ditulis oleh Adhitya Mulya). Saking senangnya, saya akan
selalu bersorak girang, saat menemukan buku hasil karangan komedian manapun.

 Sorak
girang yang sama, saat saya menemukan 700 Sundays.

  Karena
saya sudah jatuh cinta pada akting Billy Crystal, sejak menonton film Analyze
This
dan Analyze That.  Dimana
dalam film komedi itu, pria mungil ini berperan sebagai terapis seorang mafia yang
berniat pensiun (diperankan oleh Robert DeNiro). Akting kocak ini pulalah yang
juga memikat saya untuk menonton film komedi romantis When Harry Met Sally,
dimana Billy beradu akting dengan Meg Ryan.

 Dan
saat membaca sampul bertuliskan resensi “700 Sundays is not the story of
Billy’s great career. It is a tribute to a family and the people who helped
make him a man,”
seketika saya tahu, bahwa saya sudah jatuh cinta pada 700
Sundays.

 Sejak
halaman pertama.

   ***

 Billy
Crystal lahir pada hari Minggu, tanggal 14 Maret 1948 di Manhattan. Bersama
ayah, ibu, dan kedua saudara lelakinya, mereka tinggal di rumah bernomor 549
East Park, Long Beach, Long Island.

Demi menafkahi
keluarganya, ayah Billy menjalani dua pekerjaan. Dua pekerjaan inilah yang
memaksa ayah Billy untuk bekerja sepanjang minggu—termasuk juga malam di akhir
pekan.

 Kecuali
hari Minggu.

 Karena
pada hari itu, sang ayah akan pulang pada pukul 3-4 Minggu dini hari. Untuk
kemudian, memainkan salah satu alat musik favoritnya—mandolin. Dimana Billy dan
saudara-saudaranya dengan sabarnya akan menunggu di depan pintu kamar orang tua
mereka, sampai sang ayah usai bermain mandolin, dan cukup beristirahat. Untuk
kemudian, bangun dan memulai hari Minggu istimewa mereka.

“Sunday was
our day for my two brothers and I to put on a show and make them laugh. Sunday
was our day to go up on the boardwalk in Long Beach and play Skeeball or
Fascination, go to the batting cage, play baseball, go bowling, or to the
movies, even a Broadway show. Sunday night was our night to go out to eat
together,”
tulis Billy—yang karena bakatnya meniru mimik dijuluki “Face”—di
halaman 14.

Ayah Billy
meninggal pada saat Billy masih kecil. Saat itu, Billy baru berusia 15 tahun,
dan baru memiliki 700 minggu yang dilewatkan bersama ayahnya. “That’s it.
700 Sundays. Not a lot of time for a kid to have with his dad,”
tulisnya di
halaman 15.

 ***

“Now you
can’t pick the family that you’re born into. That’s just the roll of the dice.
It’s just luck. But if I could pick these people, I would pick them over and
over again because they were lunatics. Fun lunatics. What a crazy group of
people, and great characters too. It was like the Star Wars bars, but everybody
had accents,”
demikianlah Billy menggambarkan keluarga besarnya di halaman
21.

Mulai dari nenek
dari pihak ayahnya. Wanita bernama Sophie ini meninggalkan tanah kelahirannya,
Kiev, Rusia, pada saat ia masih berusia 15 tahun. Saat dimana Sophie hanya
pamit pada orang tuanya untuk berjalan-jalan, namun nyatanya malah meneruskan
acara “jalan-jalan”nya ini ke Amerika.

Negara yang
mempertemukannya dengan Julius, kakek Billy. Julius adalah seorang aktor dari
teater Yiddish, dan bersama Sophie, mereka memainkan lakon King Lear dan
Cordelia.

Masih ada lagi
Bibi Lee, yang merupakan direktris bank pertama di Amerika. Juga Paman Sid
Kasindorf, seorang penemu radio transistor. Atau sepupu Albert Parry (yang
terlahir dengan nama Paretsky), yang menggandrungi Lenin sejak remaja. Dosen Russian
Studies di Cornell University ini menulis sejumlah buku kontroversial mengenai
Rusia. Atau Paman Berns yang memiliki galeri seni di Manhattan dan Paman Milt
Gabler, seorang produser sebuah toko musik bernama Commodore Music Shop. Toko
musik yang diwarisinya dari kakek Billy.

Tak ketinggalan,
salah satu karakter favorit Billy, Bibi Sheila. Bibi yang bawel dan hobi
bergosip ini, digambarkan Billy di halaman 56 dengan “I admire her, because
she speaks the truth, and sometimes people don’t like to hear that truth,
especially in families.”

Orang-orang
hebat inilah yang mengisi hidup Billy. Mengajaknya nonton baseball di Yankee
Stadium untuk pertama kalinya, menemaninya berjalan-jalan menyusuri terowongan
bawah air, Midtown Tunnel. Mengajarinya tap-dance, mengenalkannya pada
sejumlah musisi jazz, mengajarinya cara tampil di panggung sebagai MC.

Bahkan juga
menemaninya sarapan.

Dimana Billy
kecil akan duduk dekat-dekat kakeknya yang hanya mengenakan celana boxer.
Mendengarkan setiap patah kata dari cerita kakeknya semasa muda. Tentang
perjuangan kakeknya yang sedikit demi sedikit menabung demi membeli sebuah
toko, menyeberangi samudra Atlantik, hingga kini kembali bereuni di Amerika.
Tentang kisah-kisah mengagumkan akar keluarganya, yang dikunyah Billy kecil
dengan mulut ternganga. 

Karena seperti
yang dituliskan Billy di halaman 56. “Heroes don’t have to be public figures
of any kind. Heroes are right in your family. There’s amazing stories in all of
our families, you just have to ask, ‘And then what happened?’.”

  ***

 Salah
satu hobi saya, adalah memilah-milah bagian favorit dari buku yang sedang saya
baca. Entah itu bab favorit, kalimat favorit, adegan favorit, imajinasi mimik
dan suasana favorit. Apapun—yang bagi saya—terasa sekali ditulis dengan menggunakan
hati.

Nah, dalam 700
Sundays
, kalimat dan paragraf favorit saya tersebar di seluruh buku. Saya suka
saat di halaman 84, Billy menuliskan hobi ayahnya dengan “He fell in love
with two things: Dixieland jazz, and my mother.”
Saya suka waktu Billy
menggambarkan ibunya dengan “had a smile like Times Square.”

Saya suka waktu
di halaman 158, Billy mengenang pertemuan pertamanya dengan istrinya, Janice.
Saat itu adalah musim panas tahun 1966. Billy remaja dan temannya sedang berjalan-jalan
di pantai Lido, Malibu, kala ia melihat Janice.

 “I
said, ‘I’m going to marry her’,”
tulisnya. Betapa Billy menuliskan perasaan
jatuh cintanya ini dengan “I was only eighteen and she was seventeen, but I
wanted her forever. We were kids, but there was something about Janice that
screamed at me, DON’T LET HER GO.”

 Empat
tahun kemudian, mereka menikah. Suatu pernikahan yang dituliskan Billy di
halaman 160 dengan “We’ve been married thirty-five years now, so I guess I
made the right decision.”

Namun, di
halaman 177 lah, terletak bagian favorit saya sepanjang masa.

 Yaitu
pada suatu Minggu dini hari, saat Billy yang telah tinggal di Los Angeles
menerima telpon tengah malam dari ibunya. Karena panik, Billy pun bertanya
macam-macam. Yang dijawab ibunya dengan “I just wanted to hear your voice,
Bill. That’s all. I woke up your brothers too, but I wanted to hear your
voice.”

 Saat
itu, Ibu Billy mengaku tak bisa tidur. Dan Billy yang juga insomnia menulis “And
I just wanted the conversation to keep going on, because these kinds of
conversations with your parents are best when they’re not just your parents,
but they feel like they’re your friends.”

 Betapa
Ibu Billy mengaku bahwa alasannya tak bisa tidur, adalah karena “I’m
listening for you boys.”
Dan Billy menulis “I knew exactly what she
meant. The cry in the middle of the night, ‘Mommy, I have a fever.’ The
nightmares, ‘Mommy, there are pirates in the room!’ Then, as they get older,
the sound of their cars pulling up in the driveway, the jingle of their keys in
the front door lock, just so you that know that they’re home safe. She was
eighty-five years old now, alone in that house, her sons scattered across the
country, but she was listening for us.”

Setahun setelah
percakapan tengah malam ini, Ibu Billy meninggal dunia.

 ***

Ditinggalkan
oleh anggota keluarga yang kita sayangi tak pernah menjadi hal yang mudah.
Demikian juga dengan seorang Billy Crystal. Pada saat ayahnya meninggal, seorang
paman mencoba menguatkan Billy. Ia adalah Zutty Singleton. Kutipan Zutty inilah
yang dipajang Billy di halaman awal 700 Sundays. Sekaligus juga kutipan
yang membantu menguatkannya saat sang ibu menyusul meninggal. 

 “Consider
the rose…The rose is the sweetest smelling flower of all, and it’s the most
beautiful because it’s the most simple, right? But sometimes, you got to clip
the rose. you got to cut the rose back, so something sweeter smelling and
stronger, and even more beautiful, will grow in its place.”

 ***

“700 Sundays
is not a lot of time for a kid to have with his dad, but it was enough time to
get gits. Gifts that I keep unwrapping and sharing with my kids. Gifts of love,
laughter, family, good food, Jews and jazz, brisket and bourbon, curveballs in
the snow, Mickey Mantle, Billy Cosby, and ‘Consider the rose. Can you dig that?
I knew that you could’.”

Satu kalimat
epilog yang seketika membuat saya kembali melongok resensi singkat yang sempat
membuat saya tersenyum saat membacanya.

“Personal,
poignant, and funny, it will have you laughing out loud and sometimes
crying—with the realization that Billy’s family is also yours.”

Ya kan?

 ***