ruang tamu itu sedang ditata
(persembahan kepada seorang penghuni salah satu ruang tamu tercantik di dunia)
Siang itu, dunia
abu-abu saya sepanas neraka. Matahari abu-abu sedang bersinar dengan garangnya,
dan angin sahabat saya sedang pesiar ke negeri tetangga. Padahal, saya sedang
berada dalam satu perjalanan panjang yang melelahkan. Fuh, sungguh-sungguh satu
hari yang sangat melatih kesabaran.
Tiba-tiba,
sepasang kaki saya yang kotor, berdebu, dan luka-luka menemukan sebuah pintu
mungil. Berwarna cokelat muda, seperti warna kayu penyusunnya. Lingkaran umur
kayu tampak mewarnai motif permukaannya.
Aneh.
Karena saya
hapal betul seluk beluk pelosok dunia abu-abu saya. Dan pintu asing ini, tak
pernah saya lihat sebelumnya. Apalagi, warnanya cokelat muda, dan bukannya
abu-abu. Warna yang kini tampak begitu mencolok di dunia abu-abu saya.
Saat saya tengah
sibuk berpikir itulah, seketika pintu asing ini terbuka di hadapan saya.
“Silakan masuk…”
sapa lembut penghuninya.
Sontak saya
menatapnya curiga.
“Kenapa? Kamu
bisa saja pembunuh, pencuri, atau pemerkosa. Kenapa saya harus percaya?” jawab
saya ketus.
Si penghuni
tersenyum.
“Ya sudah, saya
juga tidak meminta kamu untuk percaya. Saya tadi mengintip kamu dari jendela,
dan saya lihat kaki kamu terluka. Kalau kamu mau, insya allah, di dalam saya
bisa mengobatinya. Dan kalau kamu haus, saya juga punya seteko limun dingin,”
ujarnya lembut.
“Tidak, terima
kasih. Saya di luar saja,” tolak saya bersikeras.
Dan masih sambil
mengulum senyum, si penghuni kemudian membawakan saya segelas limun dingin dan
segulung perban untuk luka kaki saya. Lalu, dengan membuka sedikit pintu
rumahnya, ia meninggalkan saya duduk-duduk di teras mungilnya.
“Ya sudah, tidak
apa-apa. Silakan duduk-duduk di luar. Tapi kalau kamu perlu sesuatu, silakan
panggil saya, ya,” begitu pesannya sebelum beranjak meninggalkan saya.
Diiringi tatapan
curiga saya dan benak yang ditumpuki sejuta prasangka.
***
Kaki saya sudah
terbalut rapih. Segelas limun dingin juga sudah licin tandas. Saya sedang
bersiap pergi, ketika tiba-tiba hujan deras turun mengguyur. Tetesannya
membasahi kaki, tangan, dan punggung saya. Menggemeletukkan tulang-tulang saya
yang kini menggigil kedinginan.
“Kalau masih
bersikeras tinggal di luar, kamu bisa sakit. Bagaimana kalau kamu masuk?” tawar
si penghuni dengan ramah.
Sekilas, saya
longok isi ruang tamunya.
“Ruang tamu kamu
sudah penuh barang-barang. Tak ada tempat buat saya untuk duduk.”
Lalu, dengan
cekatan, si penghuni menyingkirkan perabotnya. Dipindahkannya meja, kursi dan lemari
bukunya ke ruang tengah. Digelarnya selembar karpet putih lebar.
Ditepuk-tepuknya sejumlah bantal empuk. Ditatanya ruangan mungil itu selapang
dan senyaman mungkin.
“Nah, sudah tak
terlalu penuh, kan? Silakan masuk…” tawarnya.
Berjingkat-jingkat,
saya pun masuk. Tetesan air hujan yang merembesi tubuh saya mulai mencemari
karpet putihnya. Sontak saya pun merasa bersalah.
“Tidak apa-apa.
Cuma karpet. Bisa dicuci. Bukan hal besar…” ujarnya menenangkan saya.
Setelah menyilakan
saya duduk, ia pamit ke dapur.
Sepeninggalnya,
saya yang girang menemukan ruang tamu lapang ini mulai bermain-main dengan
gembira. Saya berguling-guling, saya melompat, jungkir balik, dan menari-nari
kesenangan di setiap sudutnya. Bercak-bercak lumpur dan air hujan dari kaki dan
tubuh saya tampak tercetak dimana-mana. Namun, tak sedikitpun saya khawatir.
“Katanya tadi
tidak apa-apa,” begitu pikir saya, lalu kembali bermain-main dengan riangnya.
Saya tak ingat berapa lamanya saya bermain-main. Saya juga tak ingat berapa
lama sudah si penghuni itu berada di dapur. Saya cuma ingat, tiba-tiba
terbangun karena aroma sedap masakan.
Rupanya, saking
lelahnya bermain-main di ruang tamu, saya ketiduran.
Dan kini, di
hadapan saya, telah tersaji sepiring makanan hangat. Di sampingnya, terdapat
segelas susu hangat bercampur madu. Juga beberapa butir obat flu.
Sementara perut
saya yang keroncongan mulai mengeluarkan bunyi memalukan.
Si penghuni
tertawa. “Nah, setelah capek bermain, baiknya kamu makan. Silakan makan yang
nikmat, yang lahap, yang banyak, ya!” ujarnya riang.
Pipi saya
bersemu merah, dengan kepala tertunduk malu.
“Tapi saya tidak
tahu caranya menggunakan sendok dan garpu,” ucap saya pelan.
Si penghuni
tersenyum penuh pengertian.
“Ya sudah, tidak
apa-apa. Saya juga tidak mahir makan dengan sendok dan garpu, tapi sebisa
mungkin, saya ajarkan, ya. Saya ambil piring saya dulu. Sementara itu, kalau
kelewat lapar, kamu boleh makan duluan dengan tangan…” ujarnya, lalu beranjak
ke dapur.
Tiba-tiba,
langkahnya terhenti.
“Oh ya, kalau
mau makan dengan tangan, baiknya kamu cuci tangan dulu. Di dalam ada kamar
mandi. Kamu bisa cuci tangan disana,” ujarnya, lalu kembali melanjutkan
langkahnya ke dapur.
Sementara saya,
melangkah ke kamar mandi. Sebelum mencapai kamar mandi, saya melihat satu kamar
tidur dengan pintu tertutup. Itu pasti kamarnya, pikir saya. Ruang tengahnya
tampak berantakan, dengan meja kursi pindahan dari ruang tamu. Tapi, tidak
demikian dengan kamar mandinya.
Kamar mandi itu
bersih, rapih. Dan airnya bening dan sejuuuk sekali. Dengan sukacita, saya cuci
tangan saya dengan sabun. Lalu saya basuh wajah dan rambut saya yang kotor.
Sabunnya wangiii sekali. Tak puas-puas rasanya saya menciumi tangan saya yang
kini beraroma bunga musim semi. Nyaris saja saya ceburkan tubuh saya ke bak
mandi untuk bermain-main di dalamnya, ketika tiba-tiba sebuah suara berteriak
memanggil nama saya.
“Nanti saja main
airnya! Sekarang makan dulu, nanti kamu masuk angin!” teriak si penghuni.
Dengan enggan,
saya pun membatalkan rencana untuk main air.
***
Sementara di
ruang tamu, si penghuni sudah siap dengan piring makan dan sendok garpunya.
“Yuk belajar!”
ajaknya riang, sambil mendentingkan sendok garpunya.
Karena kesal
dilarang main air, saya pun mulai bersikap mengesalkan.
“Saya lamban
belajarnya. Dan selama belajar, karpet kamu nanti tambah kotor,” ujar saya
ketus.
Si penghuni tersenyum.
“Tidak apa-apa.
Namanya juga belajar. Wajar kalau ada kesalahan. Dan ini kan cuma karpet. Bisa
dicuci…” jelasnya.
Karena merasa
lapar, mau tak mau, saya ikuti kemauannya.
Dan kan, benar
saja, sulit sekali makan menggunakan sendok dan garpu. Belasan kali sudah, tangan
saya yang canggung menjatuhkan suapan makanan, yang akhirnya terciprat
kemana-mana.
Tapi si penghuni
tak marah.
Dengan sabarnya,
diajarinya saya pelan-pelan. Diulanginya terus instruksi cara memegang sendok
dan garpu. Semuanya diucapkan dengan tutur kata halus dan lembut. Dia bahkan
tak makan, sebelum saya berhasil menyuapkan makanan dari piring saya.
Berjam-jam
lamanya, dia mengajari saya caranya makan dengan baik dan benar.
Berjam-jam
lamanya pula, dia terus menyemangati saya.
Sampai akhirnya,
pelajaran itu usai.
Menyisakan dua
piring kosong dan ruang tamu berkarpet putih yang bernoda cipratan makanan
dimana-mana. Merasa bersalah, saya gulung karpet putihnya.
“Saya bantu
cucikan ya. Maaf kalau merepotkan,” ujar saya.
Dia tersenyum.
“Tidak apa-apa,” jawabnya.
“Terima kasih,
ya,” ujar saya.
“Sama-sama,”
Kemudian, pandangan
saya terantuk pada meja kursi yang berantakan di ruang tengah. “Atau, saya
bantu bereskan meja kursinya sekalian? Maaf sudah membuat ruang tamu kamu
berantakan…” tawar saya.
“Boleh, silakan
saja…” jawabnya masih sambil tersenyum.
Lalu,
bersama-sama, kami mengangkati piring dan gelas kotor. Membawanya ke dapur
untuk dicuci. Saya tengah membilasi sendok garpu, ketika teringat sesuatu.
“Tadi, waktu
saya sedang di kamar mandi, kamu panggil nama saya, kan, ya? Padahal kita kan
belum berkenalan. Kamu tahu nama saya dari mana?”
Pertanyaan itu
sekaligus mengetuk kepala saya, bahwa bagaimanapun, si penghuni rumah berpintu
cokelat ini tetaplah orang asing. Ia adalah orang asing di dunia abu-abu saya. Sejuta
prasangka pun kembali membanjiri kepala saya.
Sadar saya mulai
bersikap defensif, si penghuni menghela napas. Dan mulai menjelaskan.
“Sebenarnya, saya sudah lama mengamati kamu dari kejauhan. Gadis kecil dari
dunia abu-abu, yang selalu bermain-main dengan riang dan tertawa-tawa sepanjang
hari. Sayangnya, kaki kamu luka, sehingga kamu tak bebas lagi melompat-lompat…”
“Dan?” tanya
saya.
“Dan sudah lama
juga saya siapkan perban di dekat pintu. Untuk kemudian mengintip kamu dari
jendela, berharap kamu berhenti di depan pintu saya…”
Wajah saya
tersipu merah.
“Terima kasih…”
ucap saya terbata-bata.
“Sama-sama. Dan
sebagai balasannya, mungkin kamu bisa bantu saya merapikan meja dan kursi yang
berantakan. Untuk kemudian menata ruang tamu bersama…” ujarnya sambil
tersenyum.
Dan untuk
pertama kalinya sejak masuk ke ruang tamunya, saya tersenyum.
“Oke!” jawab
saya riang.
Untuk kemudian,
meneruskan mencuci piring sambil bersiul-siul riang.
***