berburu harta karun
Berburu Harta
Karun
Oleh: Retnadi Nur’aini
“Byur! Kecipak,
kecipak!” Marty Hiu, Uri Gurita dan Angie Ikan sedang berenang-renang di dasar
laut.
“Yuk, lomba
renang, yuk!” ajak Angie Ikan, lalu segera melesat berenang jauh di depan. Lihat,
tuh, Marty Hiu dan Uri Gurita sampai ketinggalan!
“Uuuh,
Angie…mentang-mentang badannya mungil, bisa nyelip-nyelip, langsung duluan,
deh,” dumel Marty Hiu.
“Iya, dia nggak
liat apa, tangan kakiku banyak begini. Mana kemarin abis les piano, jadi agak
keriting, nih,” keluh Uri Gurita sambil berenang malas-malasan.
Angie Ikan
memang yang paling bersemangat diantara ketiga sahabat itu. Pernah mereka balap
renang mengelilingi Pulau Rahasia sebanyak 17 kali putaran. Marty Hiu saja
sudah ngos-ngosan di putaran ke-9. Uri Gurita apalagi. Dia malah sudah menyerah
di putaran ke-4. Dan coba tebak berapa putaran yang dilakukan Angie Ikan? 23
putaran!!! Itupun tadinya Angie masih mau menambah dengan 2 putaran lagi, kalau
tak buru-buru dicegah Marty dan Uri.
“Bosen, ah,
keliling pula terus. Kamu, tuh, kecil-kecil, tenaganya banyak ya? Apa, sih,
rahasianya?” tanya Marty.
Sementara itu
Angie cuma cengar-cengir jail. Lalu sambil mengedipkan matanya, Angie
berceletuk “Rajin latihan dan minum susu!”
***
Nah, sekarang,
Marty dan Uri sedang asyik berenang mengekor Angie. Aak susah, nih, untuk
mengikuti gerakan Angie yang super lincah. Belok sana, belok situ, kelit sana,
kelit situ.
Tiba-tiba…
“WAAAK!” teriak
Angie.
Segera saja
Marty dan Uri melesat berenang menyusul Angie.
“Ada apa? Ada
apa? Kenapa?” mereka berebut bertanyaan, sambil mengelilingi Angie. Sementara
Angie menunjuk sebuah benda hitam besar di hadapannya. Mata Marty dan Uri
mengikuti arah yang ditunjukkan Angie.
“Waaah, ini kan
kapal perompak!” seru Uri. Sementara Marty menatap penasaran. Apa itu kapal
perompak? Dia tak pernah mendengarnya.
“Iya, iya, ini
kapal perompak yang pernah diceritakan sama Guru Kepiting dulu, kan, ya? Yuk
kita masuk. Siapa tahu kita bisa menemukan harta karun!” ajak Angie, lalu
dengan lincah segera mencari celah kecil di tubuh kapal.
“Eh, Angie!
Tunggu dulu!,” ujar Marty berusaha mencegah. Marty takut gelap soalnya. Meski
tubuhnya besar, ia bisa merinding kalau berada dalam kegelapan.
“Dan kapal ini
sepertinya gelap…” gumam Marty cemas.
“Tenang saja,
Marty, kan ada aku. Pasti beres!” ujar Uri sambil menepuk-nepuk bahu Marty.
Berdua, mereka pun berenang ke dalam.
Di dalam kapal, Angie
sudah sibuk hilir mudik.
“Wow, seru!”
teriak Angie girang. “Di sana ada periskop pecah! Di sini ada topi! Wah di sini
juga ada..” Lihat, tuh, tak henti-hentinya Angie berceloteh riang. Sementara
Marty berenang dengan takut-takut, dengan Uri yang tak sekalipun melepas
genggaman tentakelnya di sirip Marty. Mata Marty mulai lirak-lirik cemas.
“Ih, Marty, sini
masuk. Nih, aku tadi menemukan topi buat kamu. Uri juga, ada kalung cantik,
nih. Lihat, deh!” ujar Angie riang.
Pelan-pelan,
Angie menerima topi itu. “Masa hiu kepala martil pakai topi? Aneh, ah!”
pikirnya. Tapi, toh, dikenakannya juga topi itu di kepalanya. Dan ternyata…
“Hmmm, keren
juga, ya,” gumam Marty sambil mematut-matut bayangannya di depan cermin. Marty
tersenyum senang. Saking senangnya, Marty sampai lupa, bahwa ia tadi gemetaran
waktu baru masuk kapal ini.
Sementara itu,
oh, oh! Uri terbelit kalung!
“Waaak!
Tolooong!” teriak Uri.
Angie yang
semula sibuk mondar-mandir segera menghampiri Uri. Begitu juga Marty. Sambil
geleng-geleng kepala, mereka membantu Uri melepaskan diri.
“Fiuh, akhirnyaaa.
Terima kasih, Teman-teman!” ujar Uri lega. Salah satu tentakelnya mengusap keringat
yang menetesi dahinya.
Namun tak lama
kemudian…
“Kruk, kruk!”
perut Marty, Angie, dan Uri berbunyi bersamaan.
Oh, oh, rupanya
sudah waktunya makan malam! Ketiga sahabat ini pun segera bergegas berenang
keluar kapal. Di luar kapal, dengan riang, Angie berujar “Yuk, balapan sampai
rumah!”, lalu berenang melesat meninggalkan teman-temannya.
“Uuuh, Angieee,
kebiasaan, deh!” keluh Marty dan Uri.
***