Archive for March 11, 2008

berburu harta karun

Berburu Harta

Karun

Oleh: Retnadi Nur’aini

 

 

“Byur! Kecipak,
kecipak!” Marty Hiu, Uri Gurita dan Angie Ikan sedang berenang-renang di dasar
laut.

“Yuk, lomba
renang, yuk!” ajak Angie Ikan, lalu segera melesat berenang jauh di depan. Lihat,
tuh, Marty Hiu dan Uri Gurita sampai ketinggalan!

“Uuuh,
Angie…mentang-mentang badannya mungil, bisa nyelip-nyelip, langsung duluan,
deh,” dumel Marty Hiu.

“Iya, dia nggak
liat apa, tangan kakiku banyak begini. Mana kemarin abis les piano, jadi agak
keriting, nih,” keluh Uri Gurita sambil berenang malas-malasan.

Angie Ikan
memang yang paling bersemangat diantara ketiga sahabat itu. Pernah mereka balap
renang mengelilingi Pulau Rahasia sebanyak 17 kali putaran. Marty Hiu saja
sudah ngos-ngosan di putaran ke-9. Uri Gurita apalagi. Dia malah sudah menyerah
di putaran ke-4. Dan coba tebak berapa putaran yang dilakukan Angie Ikan? 23
putaran!!! Itupun tadinya Angie masih mau menambah dengan 2 putaran lagi, kalau
tak buru-buru dicegah Marty dan Uri.

“Bosen, ah,
keliling pula terus. Kamu, tuh, kecil-kecil, tenaganya banyak ya? Apa, sih,
rahasianya?” tanya Marty.

Sementara itu
Angie cuma cengar-cengir jail. Lalu sambil mengedipkan matanya, Angie
berceletuk “Rajin latihan dan minum susu!”  

 ***

Nah, sekarang,
Marty dan Uri sedang asyik berenang mengekor Angie. Aak susah, nih, untuk
mengikuti gerakan Angie yang super lincah. Belok sana, belok situ, kelit sana,
kelit situ.

Tiba-tiba…

“WAAAK!” teriak
Angie.

Segera saja
Marty dan Uri melesat berenang menyusul Angie.

“Ada apa? Ada
apa? Kenapa?” mereka berebut bertanyaan, sambil mengelilingi Angie. Sementara
Angie menunjuk sebuah benda hitam besar di hadapannya. Mata Marty dan Uri
mengikuti arah yang ditunjukkan Angie.

“Waaah, ini kan
kapal perompak!” seru Uri. Sementara Marty menatap penasaran. Apa itu kapal
perompak? Dia tak pernah mendengarnya.

“Iya, iya, ini
kapal perompak yang pernah diceritakan sama Guru Kepiting dulu, kan, ya? Yuk
kita masuk. Siapa tahu kita bisa menemukan harta karun!” ajak Angie, lalu
dengan lincah segera mencari celah kecil di tubuh kapal.

“Eh, Angie!
Tunggu dulu!,” ujar Marty berusaha mencegah. Marty takut gelap soalnya. Meski
tubuhnya besar, ia bisa merinding kalau berada dalam kegelapan.

“Dan kapal ini
sepertinya gelap…” gumam Marty cemas.

“Tenang saja,
Marty, kan ada aku. Pasti beres!” ujar Uri sambil menepuk-nepuk bahu Marty.
Berdua, mereka pun berenang ke dalam.

Di dalam kapal, Angie
sudah sibuk hilir mudik.

“Wow, seru!”
teriak Angie girang. “Di sana ada periskop pecah! Di sini ada topi! Wah di sini
juga ada..” Lihat, tuh, tak henti-hentinya Angie berceloteh riang. Sementara
Marty berenang dengan takut-takut, dengan Uri yang tak sekalipun melepas
genggaman tentakelnya di sirip Marty. Mata Marty mulai lirak-lirik cemas.

“Ih, Marty, sini
masuk. Nih, aku tadi menemukan topi buat kamu. Uri juga, ada kalung cantik,
nih. Lihat, deh!” ujar Angie riang.

Pelan-pelan,
Angie menerima topi itu. “Masa hiu kepala martil pakai topi? Aneh, ah!”
pikirnya. Tapi, toh, dikenakannya juga topi itu di kepalanya. Dan ternyata…

“Hmmm, keren
juga, ya,” gumam Marty sambil mematut-matut bayangannya di depan cermin. Marty
tersenyum senang. Saking senangnya, Marty sampai lupa, bahwa ia tadi gemetaran
waktu baru masuk kapal ini.

Sementara itu,
oh, oh! Uri terbelit kalung!

“Waaak!
Tolooong!” teriak Uri.

Angie yang
semula sibuk mondar-mandir segera menghampiri Uri. Begitu juga Marty. Sambil
geleng-geleng kepala, mereka membantu Uri melepaskan diri.

“Fiuh, akhirnyaaa.
Terima kasih, Teman-teman!” ujar Uri lega. Salah satu tentakelnya mengusap keringat
yang menetesi dahinya.

Namun tak lama
kemudian…

“Kruk, kruk!”
perut Marty, Angie, dan Uri berbunyi bersamaan.

Oh, oh, rupanya
sudah waktunya makan malam! Ketiga sahabat ini pun segera bergegas berenang
keluar kapal. Di luar kapal, dengan riang, Angie berujar “Yuk, balapan sampai
rumah!”, lalu berenang melesat meninggalkan teman-temannya.

“Uuuh, Angieee,
kebiasaan, deh!” keluh Marty dan Uri.

 ***

gara-gara telur ajaib

Gara-gara Telur Ajaib

Oleh: Retnadi Nur’aini

 

“Rui! Sini!”
panggil Benny pada anjing kesayangannya.

Siang itu, Benny
dan Rui memang sedang berjalan-jalan di hutan. Kebiasaan mereka tiap hari
Minggu siang, tuh. Soalnya, kata dokter hewan yang memeriksa Rui, Rui memang
harus sering-sering diajak jalan-jalan. Biar sehat dan tidak gampang sakit. Dan
Benny paliiing sayang sama anjingnya!

Bersama-sama,
mereka punya banyaaak sekali pengalaman seru! Mulai dari memergoki maling
jemuran di kota kecil mereka, menemukan sarang burung yang terjatuh dari atas
pohon, sampai mengobati kelelawar yang sayapnya terluka sehingga tak bisa
terbang. Pokoknya, kalau mereka bersama-sama, pasti ada saja kejadian seru!

Seperti
sekarang.

Meski sudah
dipanggil-panggil Benny, Rui tetap saja menerobos ke dalam hutan. Benny sampai
terengah-engah saat mencoba berlari mengikuti Rui. Dan oh, oh, lihat apa yang
ditemukan Rui!

Sebutir telur!

Dan tidak
seperti telur lainnya, telur ini buesar!

Pelan-pelan,
Benny mendekati telur itu. Lalu, dengan hati-hati, dibungkusnya telur aneh itu
dengan kausnya, dan dibawanya pulang.

“Kamu hebat Rui!
Kita berhasil menemukan telur ajaib!” ujar Benny riang.

Sementara di
sampingnya, Rui menggerak-gerakkan ekornya dengan gembira.

 ***

 

 Setibanya
di rumah, Benny langsung naik ke kamarnya yang ada di atas. Diletakkannya telur
di atas meja. Diamat-amatinya telur itu. Sementara di sampingnya, Rui
mengendus-enduskan moncongnya ke permukaan telur.

 “Hmmm,
menurutmu ini telur apa, ya, Rui? Aku pikir, sih, ini pasti telur naga!” ujar
Benny sambil mengetuk-ketukkan jarinya di permukaan telur.

 “Soalnya,
kata Robby, hutan tempat kita main itu memang dijaga oleh seekor naga! Kan bisa
saja, telurnya tercecer satu butir! Ya, kan, Rui?” tanya Benny.

 “Eh,
tapi, kalau ini telur naga sungguhan, si Mama Naga pasti akan mencarinya ke
rumah ini, ya? Wah, kita harus sembunyikan telur ini baik-baik, Rui! Oke,
partner?” tanya Benny, lalu mengucal bulu di kepala Rui.

 Dan
benar saja, sejak hari Minggu siang itu, banyak waktu Benny yang dihabiskan
untuk si telur. Saat bangun tidur pagi-pagi saja, Benny langsung berlari untuk
melihat telurnya. Pulang sekolah juga begitu. Tanpa babibu, ia langsung
melempar tasnya dan berlari untuk melihat telurnya. Kalau sudah begitu, bisa
berjam-jam ia menimang-nimang telurnya. Lupa makan, lupa mandi, lupa belajar. Mama
sampai ngomel-ngomel.

 Habis,
Benny juga jadi lupa dengan Rui, sih. Kalau sudah sibuk dengan telurnya, Benny
akan lupa untuk memandikan Rui, memberi makan Rui, sampai mengajak Rui
jalan-jalan.

“Kasihan, tuh, Rui,
lemas betul kelihatannya. Ajak jalan-jalan, sana! Jangan sibuk saja dengan
telur anehmu itu!” ujar Mama.

Namun Benny hanya
mengiyakan sambil lalu, dan terus saja sibuk dengan telurnya. Sementara Rui
mendekam sedih di pojokan, dengan kedua telinganya yang layu. Duh, malangnya si
Rui!

 ***

 

 Hari
Minggu, waktunya beres-beres kamar!

 Sudah
lama Benny tak membereskan kamarnya. Debu dan kotoran menempel dimana-mana.
Benny sedang membersihkan mejanya, ketika tiba-tiba…

 “Prak!”

 Cepat
Benny melongokkan kepalanya ke bawah meja.

 Dan
oh, oh! Telurnya jatuh!

 Telur
naga kesayangannya, yang dijaga dan dirawatnya setiap hari! Sementara itu, bau
busuk mulai menyeruak. Mama sampai naik ke kamar Benny untuk mengecek wajah
Benny sedih sekali.

 “Iya,
Mama tahu, kamu sedih kehilangan teman barumu. Tapi coba tebak, siapa lagi yang
juga sedih karena telah kehilangan sahabatnya?” ujar Mama sambil melirik ke
pojok tempat Rui biasa tidur siang. Di sana, Rui terbaring lesu. Oh lala,
ternyata sudah beberapa hari ini Rui sakit!

 Sorenya,
Benny membawa Rui ke dokter hewan. Lalu, disuapinya Rui dengan obat. “Ayo minum
obatnya Rui, biar cepat sembuh. Maafkan aku, ya, telah melupakanmu selama ini.
Aku janji, tak akan meninggalkanmu lagi!” janji Benny.

pesta kejutan sute semut

Pesta Kejutan Sute Semut

Oleh: Retnadi Nur’aini

 

Pagi ini Sute
Semut gembira sekali! Soalnya tumben-tumbenan, semut jahil ini besok
malam, Sute mau mengadakan pesta kejutan. Hmmm, pesta kejutan??? Namanya saja
sudah membuatmu penasaran, bukan?

Karena Sute
ingin merancang pestanya serapi dan sesempurna mungkin, sejak pagi ia sudah
belanja. Entah apa saja yang dibelinya. Yang jelas, ia tampak membawa
berbungkus-bungkus roti, keripik kentang, bulu angsa, juga berbatang-batang
lilin. Hmmm, paduan yang aneh, ya?

Setelah
berbelanja, Sute pun menulis secarik undangan singkat ntuk teman-temannya.
Mereka adalah Kupi Kepik, Labe Lebah dan Belang Belalang, Sute hanya menuliskan
secarik undangan singkat. Begini tulisannya “Teman-teman, datang ya ke pesta
kejutanku besok malam! Dijamin seru! Tiada kesan tanpa kehadiranmu, yaaa!”

Tuh, gimana
coba teman-temannya nggak penasaran?

 ***

Keesokan
paginya, teman-teman Sute menerima undangan pesta kejutan.

Dan, benar saja,

kan

, teman-teman
Sute bingung.

“Pesta kejutan
apa ya?” ujar Kupi Kepik sambil garuk-garuk kepala.

“Jangan-jangan, nanti
disana banyak petasan, ya?” cetus Labe Lebah.

Labe

paling gampang kaget soalnya. Dan ia
paling takut dengar suara petasan.

Baru saja Belang
Belalang mau menjawab pertanyaan Labe, ketika tiba-tiba Sute melintas di depan
mereka.

“Wah, kebetulan
sekali, Teman-teman! Kalian sudah menerima undanganku, kan? Jangan lupa, ya,
datang tengah malam nanti!” ujar Sute ceria, kemudian berlalu sambil
menandak-nandak riang.

Sementara
teman-teman Sute hanya tersenyum dipaksakan.

Setelah Sute
pergi, mereka kembali mengobrol.

“Pokoknya, kalau
nanti ada petasan, aku tak mau datang, ah! Sute suka jahil, sih” ujar Labe
lagi.

“Iya, iya!
Terus, kalau nanti ada acara lempar telur, aku juga nggak ikutan,
ah! Telur, kan, bau! Nanti aku harus mandi sampai tujuh kali sehari, lagi!”
timpal Belang Belalang.

Nah, kan,
teman-teman Sute jadi curiga dan mikir yang jelek-jelek, deh.

Padahal, mereka
kan belum tahu dengan pasti, ya, Teman-teman?

 ***

“Tik, tok, tik,
tok,” jam dinding rumah Sute berbunyi. Sementara Sute menatap jam dinding
dengan tak sabar. “Sudah hampir tengah malam, nih. Kemana, ya, mereka? Apa
mereka ketiduran, ya?” gumam Sute.

 Wajar saja, sih, kalau Sute cemas. Habis, dia
kan sudah merancang pesta kejutan ini matang-matang. Kalau nanti para
undangannya tak datang, buyarlah pesta ini. Gagal total, deh!

Namun, Sute tak
perlu cemas lama-lama.

Karena sebenarnya,
Kupi, Labe, dan Belang sudah berada di depan pintu rumahnya. Hanya saja, mereka
sedang rebutan tentang siapa yang akan mengetuk pintu rumah Sute.

“Kamu saja, deh!
Kamu, kan, tidak gampang kaget dengan suara petasan!” tuding Labe pada Kupi.

“Iya, kamu juga
jarang mandi! Jadi kalau ternyata setelah pintu dibuka ada telur dilempar, ya nggak
masalah. Ya, kan?” timpal Belang.

Akhirnya, dengan
enggan, Kupi pun mengetuk pintu rumah Sute.

“Tok, tok, tok!”

Hanya butuh
beberapa detik buat Sute untuk berlari, membuka pintu, dan..

“Selamat datang,
Teman-teman! Kok lama sekali, sih??? Aku pikir kalian ketiduran!” sambut
Sute riang.

Melihat Sute
seriang itu, teman-temannya jadi agak ragu. Dengan takut-takut mereka melangkah
masuk, dengan mata mencari-cari jebakan tersembunyi di celah ataupun sudut
ruangan.

“Silakan masuk.
Aku sudah memanggang roti. Di meja juga ada banyak camilan dan keripik kentang.
Hari ini kita akan mengadakan pesta piyama!” ujar Sute. 

 Seketika teman-teman Sute tersentak.

“Pesta piyama???
Bukannya pesta petasan?” tanya Labe.

“Atau pesta
lempar telur???” Belang ikut bertanya.

Dahi Sute
berkerut.

“Tidak, dong,
Teman-teman. Di pesta piyama, kita semua akan mengenakan piyama. Lalu kita bisa
main dan makan camilan sampai pagi,” jelas Sute.

Mendengar
penjelasan Sute, teman-temannya seketika merasa bersalah telah curiga pada Sute
tadi pagi. Mereka terdiam.

Sampai akhirnya
Kupi memberanikan diri.

“Maafkan kami,
ya, Sute. Karena kami tadi sudah berprasangka buruk kepadamu. Maaf ya…” ujar
Kupi pelan.

Sute tersenyum.

“Tidak apa-apa,
teman-teman. Maaf ya, kalau selama ini aku sering jahil. Tak heran kalau kalian
jadi curiga macam-macam. Tidak apa-apa, kok,” jawab Sute.

“Tapi sebagai
hukumannya…buk!” Sute melempar bantal ke Kupi.

Kupi terbahak.

“Dasar Sute, oke,
siapa takut! Ayo perang bantal!!!”

 ***

rambut baru putri philomela

RAMBUT BARU PUTRI PHILOMELA

Oleh: Retnadi Nur’aini

 

Sejak rambut panjangnya dinaiki kucing-kucing
yang ingin naik ke menara, Putri Philomela jadi sering uring-uringan. Rambut
panjangnya kini jadi kusam, kering, dan rontok. Maka pada suatu siang, mengadulah
Putri Philomela pada burung pelatuk.

“Burung Pelatuk, aku benci rambutku,”

“Tuk, tuk, tuk, kenapa Putri Philomela? Rasanya
tak ada yang salah dengan rambutmu,”

“Ah, kamu cuma menghiburku. Lihat, nih, ujung
rambutku bercabang, banyak yang patah, kering. Tuh, banyak yang rontok di bawah
pohon kamu,” tunjuk Putri Philomela ke bawah pohon tempat sarang Burung Pelatuk
berada.

“Tuk, tuk, tuk, iya juga sih. Apa kamu sudah
pakai ramuan khusus rambut rontok?” tanya burung pelatuk.

“Sudah, tapi tidak berpengaruh. Tetap saja rambutku
rontok. Apa sebaiknya kupotong rambutku saja?”

“Tuk, tuk, tuk, jangan Putri Philomela!
Rambutmu,

kan

,
bagus!” sergah Burung Pelatuk.

“Pokoknya aku mau potong rambut!” Putri
Philomela bersikeras.

 ****

Putri Philomela pun pergi ke rumah Bu
Beruang. Bu Beruang terkenal pandai memotong rambut.

“Bu Beruang, aku mau potong rambut.”

Tanpa banyak tanya, Bu Beruang memotong
rambut

Kres, kres, kres, dipotonglah rambut Putri
Philomela.

Karena mengantuk, Putri Philomela menguap.
Kelopak matanya terasa makin berat, dan berat, dan…terlelaplah Putri Philomela.
Sementara Bu Beruang melanjutkan mengguntingi rambut Putri Philomela.

Tiba-tiba..”Klining, klining!” lonceng di
depan rumah Bu Beruang berbunyi.

“Ah itu pasti tukang ikan! Semoga dia punya
ikan tuna hari ini!” ujar Bu Beruang, lalu meninggalkan Putri Philomela yang
tengah terlelap di kursi salon.

Sementara Bu Beruang pergi membeli ikan, Puro
anak Bu Beruang masuk ke dalam rumah. Dilihatnya Putri Philomela yang terlelap.
Puro kagum pada rambut panjang Putri Philomela. Dia jadi ingin bermain-main
dengan rambut Putri Philomela. Diambilnya gunting, dan oh…oh…”kres,kres”,
mulai diguntinginya rambut Putri Philomela. “Kres di sini, kres di

sana

, kres kres semua!”
nyanyi Puro riang. Sementara Putri Philomela masih tidur lelap.

“YA AMPUUUN, PUROOO!!!” teriak Bu Beruang.
Seketika, Putri Philomela terbangun. Dia menatap bayangannya dengan rambut tak
keruan di depan cermin.

“YA AMPUUUN, RAMBUTKUU!” teriak Putri
Philomela panik.

Bu Beruang mulai menenangkan Putri Philomela.
“Tidak apa-apa Putri Philomela. Aku masih bisa memperbaikinya. Tapi, memang
rambutmu akan jadi pendek sekali nantinya.”

“Huhuhu..nanti kucing-kucing tidak mau
bermain lagi denganku jika rambutku pendek, huhuhu…” isak Putri Philomela. Mata
dan hidungnya berair.

Bu Beruang menegur Puro, dan menasehatinya. “Puro,
kali lain, pergunakan gunting dengan hati-hati, ya.”

“Baik Bu. Maafkan Puro.” ucap Puro pelan.

Putri Philomela masih tersedu-sedu. Di dalam
salon, Putri Philomela masih tersedu-sedu. Pelan-pelan, Puro mendekatinya
membawa sehelai sapu tangan.

“Putri Philomela, maafkan Puro, ya. Aku tadi
sudah jahil memotong rambutmu. Tapi ibuku bilang, masih diperbaiki. Jangan
sedih…” ujar Puro.

Sementara itu, di belakang Puro, Bu Beruang
telah siap dengan gunting rambutnya.

 *****

Setengah jam kemudian, rampunglah pekerjaan
Bu Beruang.

Lihat ada banyak sekali rambut Putri
Philomela yang dipotong! Rambut Putri Philomela memang jadi pendek sekali.
Rambut Putri Philomela yang tadinya sepanjang mata kaki, kini tinggal sebatas leher.

“Wah, kamu tampak lebih segar dengan rambut
pendek lho!” ujar Bu Beruang.

Di perjalanan pulang, Putri Philomela bertemu
dengan Burung Pelatuk.

“Tuk, tuk, tuk. Putri Philomela??? Wahh, model
rambutmu baru! Aku hampir-hampir tak mengenalimu!”

Lalu Putri Philomela mulai bercerita tentang
kejadian di rumah Bu Beruang tadi.

“Huhuhu…rambutku jadi pendek sekali,” Putri
Philomela kembali berisak.

“Tuk, tuk, tuk, Putri Philomela Sayang, kucing-kucing
suka bermain denganmu bukan karena rambutmu. Tapi, karena hatimu. Rambut pendek
atau rambut panjang, kamu tetap gadis yang berhati cantik,” ujar Burung Pelatuk
panjang lebar.

“Sungguh, Burung Pelatuk?”

“Tuk, tuk, tuk. Sungguh Putri Philomela. Kamu
putri tercantik yang pernah kukenal!!!”

  *****

 

aduh, lupa!

ADUH, LUPA!

Oleh: Retnadi Nur’aini

 

Paling pusing, deh, kalau berteman dengan
Musi Musang! Soalnya, musang yang satu ini memang pelupa sekali. Musi bisa lupa
tempat menyimpan kunci rumahnya, sehingga akhirnya dia terkunci di luar. Gawat

kan

?

Makanya, pada suatu siang di hutan, Musi minta
saran kepada teman-temannya.

“Atau, kamu bisa tulis di kertas letak penyimpanan
barang-barangmu” saran Baki Badak.

“Iya, lalu kertas itu kamu simpan di saku
jaket,” sambung Kiki Kelinci.

“Bawalah kertas itu ke mana-mana!” ujar Onyi
Monyet.

“Wah, iya, benar! Terima kasih, Teman-Teman!”
ujar Musi riang.

 *****

Sejak hari itu, Musi pun mulai rajin menulis daftar
letak barang-barangnya. “Tas digantung di balik pintu. Payung digantung di
tempat topi. Kunci pintu ada di dalam jaket.”

Setelah mandi, Musi kembali mencatat. “Handuk
digantung di balik pintu. Sikat gigi ada di dalam gelas di depan cermin. Sabun
di sebelah kiri bak mandi.”

Saat sarapan, Musi masih tak berhenti
mencatat. “Setelah makan, cuci piring. Nanti piring disimpan di rak piring yang
ada di dapur. Gelas dan cangkir di rak bagian atasnya. Sendok garpu disimpan di
laci rak.”

Wuih, lihat, betapa panjangnya daftar catatan
Musi!

Begitu panjangnya daftar itu sampai
membungkus kaki Musi.

Musi Musang jadi mirip Musi Mumi, hihihi!

 *****

 

“Nah, sekarang waktunya untuk berangkat
kerja!” ujar Musi Musang riang.

Wah, lihat, Musi sudah rapi jali. Jaketnya
sudah terkancing rapi. Tas kerja sudah tersampir rapi di lengan kanan. Dan,
wajahnya tampak berseri-seri!

Di perjalanan, Musi bertemu dengan
kawan-kawannya. Kiki Kelinci sedang sibuk menanam wortel, dibantu Baki Badak.
Sementara di atas pohon, Onyi Monyet sedang panen pisang.

“Hai, Musi! Wah, kamu rapi sekali!” sapa
mereka.

Sambil tersenyum riang, Musi menjawab “Iya,
Teman-Teman! Aku mau berangkat kerja, nih!”

“Hm, sebelum berangkat kerja, adakah yang kamu
lupa, Musi?” tanya Kiki Kelinci.

“Tentu saja tidak! Karena, sejak pagi, aku
sudah mencatat semuanya! Lihat, tas kerja sudah. Jaket sudah. Payung sudah.
Kunci rumah sudah. Semua sesuai catatanku.” jawab Musi riang, sambil
menunjukkan gulungan kertas besar dari kantongnya.

Seketika teman-teman Musi bertepuk tangan!

“Plok, plok, plok!”

“Wah, kamu hebat, Musi!” ujar Kiki Kelinci.

“Iya, akhirnya, kamu belajar untuk mengatasi
kebiasaan pelupamu!” sambung Baki Badak.

“Dan kamu berhasil hari ini!” tambah Onyi
Monyet.

Wajah Musi memerah karena malu.

“Ah, ini semua,

kan

, berkat kalian. Kalian yang memberiku
ide untuk mencatat berbagai hal. Terima kasih, Teman-Teman! Semoga hari kalian
menyenangkan!” ujar Musi sambil melambaikan tangan.

“Iya, Musi. Selamat bekerja!” lambai
teman-temannya.

Dan, Musi pun berlalu, diiringi lambaian
teman-temannya.

Namun, dari belakang, teman-temannya mulai
memerhatikan kaus kaki Musi.

“Hei! Kaus kaki kanan Musi berwarna hijau!
Dan, kaus kaki kirinya berwarna biru. Apa aku salah lihat ya?” ujar Kiki
Kelinci.

“Oh iya, benar! Aduuh, dia pasti lupa
mencatat letak kaus kakinya!” teriak Onyi Monyet.

Berbarengan, mereka bertiga pun memanggil
“Musi!!!”

 ****

 

teman baru beki

TEMAN BARU BEKI

Oleh: Retnadi Nur’aini

 

“Kecipak,
kecipuk!”

Pada suatu siang
yang cerah, Beki Bebek sedang asyik berenang bersama teman-temannya di sungai.

“Kwek, panasnya
hari ini!” keluh Duki.

“Iya, kwek,
sampai lengket bulu-buluku!” timpal Belu tak mau kalah.

Omong-omong soal
lengket, Beki jadi ingat, sudah seminggu ini dia tak keramas. Hmmm, panas-panas
begini, kepala kena air dingin. Brrr, segarnya!

“Byur!” Beki membenamkan
kepalanya ke air.

Namun, oh, oh, di
dalam air, ada seekor hewan aneh!

Beki memicingkan
mata.

“Hmmm, hewan ini
berparuh seperti aku, tangan dan kakinya juga berselaput, persis seperti
kakiku. Tapiii, hewan ini berbulu! Hmmm, hewan yang aneh… siapa, sih, dia? Kok,
dia bisa ada di sini?” pikir Beki.

Pelan-pelan,
hewan itu berenang mendekati Beki.

“Halo, namaku
Ipus,” sapa hewan aneh itu ramah.

“Halo, aku
Beki.”

Sementara dari
jauh, teman-teman Beki mulai penasaran.

“Hei, Beki
sedang apa, tuh? Lama sekali dia membenamkan kepalanya di dalam air!” ujar
Duki.

“Yuk, yuk, kita
dekati dia!” ajak teman-teman lainnya. 

 ***

“Byur! Byur!
Byur!”

Ramai-ramai,
teman-teman Beki ikut membenamkan kepala mereka ke dalam air.

“Lho!

Ada

hewan aneh di dalam
air!” ujar Duki.

“Lihat, paruhnya
mirip kita! Tapi, tubuhnya berbulu. Hm, siapakah dia?”

“Iya, iya,
siapa, sih, dia?” teman-teman bebek lainnya berebut saling menimpali.

 Sementara, Ipus mulai menjawab pertanyaan
teman-teman Duki, satu per satu.

“Halo
teman-teman, namaku Ipus Platipus. Aku memang mirip kalian. Aku juga terlahir
dari telur, sama seperti kalian. Tapi, aku bukan bebek. Malahan, aku termasuk
keluarga hewan menyusui. Sama seperti singa, gajah, jerapah, dan hewan menyusui
lainnnya,” jelas Ipus panjang lebar.

“Jadi, kamu
bertelur, juga menyusui?” tanya Duki, yang diikuti oleh anggukan teman-teman
bebek lainnya.

“Sudahlah,
Teman-Teman. Meski berbeda, tapi dia tetap penghuni sungai ini. Artinya, dia
juga teman kita. Ya,

kan

?”
kata Beki.

“Iya, Teman-Teman.
Maaf, ya, kalau aku jarang naik ke permukaan dan berkenalan dengan kalian.
Habis, aku takut…” ujar Ipus.

“Lho? Takut
kenapa?” tanya Belu.

Lalu dengan
wajah murung, Ipus mulai menjelaskan.

“Aku takut
diburu orang. Bentuk kami yang unik menyebabkan banyak pemburu liar mencari
kami. Beberapa bulan lalu, pamanku tertangkap oleh salah satu pemburu liar.
Lalu, beberapa hari lalu, adikku hampir saja tertangkap. Untung saja, dia
cepat-cepat berenang ke sarang kami,” jelas Ipus sedih.

Mendengar cerita
Ipus, teman-teman bebek pun merasa iba.

“Ipus, maafkan
kami karena tadi sudah tak ramah padamu.” ujar Duki, disusul oleh teman-teman
bebek lainnya.

Lalu, sambil tersenyum
Beki berujar “Nah, karena Ipus sekarang sudah jadi teman kita, maka kita akan
menjaga teman kita ini bersama-sama,

kan

?”

“Iya! Setuju!
Setuju!” sorak teman-teman bebek lainnya.

Sambil tersenyum
jail, Belu berkomentar “Tapiii, ada syaratnya!”

Seketika, semua
menatap Belu penasaran.

“Apa? Apa?
Syarat apa?” tanya mereka berebutan.

“Ceprot!!!” Belu
mencipratkan air ke wajah Ipus.

“Itu syaratnya!
Hahaha!!!” teriak Belu sambil tertawa kegirangan, diikuti teman-teman bebek
lain yang saling main ciprat air.

Ipus tertawa.
“Dasaaar kalian! Awas, ya!” ancamnya, lalu mengejar Belu.

“Ceprot!”

 ***