aduh, lupa!
ADUH, LUPA!
Oleh: Retnadi Nur’aini
Paling pusing, deh, kalau berteman dengan
Musi Musang! Soalnya, musang yang satu ini memang pelupa sekali. Musi bisa lupa
tempat menyimpan kunci rumahnya, sehingga akhirnya dia terkunci di luar. Gawat
kan
?
Makanya, pada suatu siang di hutan, Musi minta
saran kepada teman-temannya.
“Atau, kamu bisa tulis di kertas letak penyimpanan
barang-barangmu” saran Baki Badak.
“Iya, lalu kertas itu kamu simpan di saku
jaket,” sambung Kiki Kelinci.
“Bawalah kertas itu ke mana-mana!” ujar Onyi
Monyet.
“Wah, iya, benar! Terima kasih, Teman-Teman!”
ujar Musi riang.
*****
Sejak hari itu, Musi pun mulai rajin menulis daftar
letak barang-barangnya. “Tas digantung di balik pintu. Payung digantung di
tempat topi. Kunci pintu ada di dalam jaket.”
Setelah mandi, Musi kembali mencatat. “Handuk
digantung di balik pintu. Sikat gigi ada di dalam gelas di depan cermin. Sabun
di sebelah kiri bak mandi.”
Saat sarapan, Musi masih tak berhenti
mencatat. “Setelah makan, cuci piring. Nanti piring disimpan di rak piring yang
ada di dapur. Gelas dan cangkir di rak bagian atasnya. Sendok garpu disimpan di
laci rak.”
Wuih, lihat, betapa panjangnya daftar catatan
Musi!
Begitu panjangnya daftar itu sampai
membungkus kaki Musi.
Musi Musang jadi mirip Musi Mumi, hihihi!
*****
“Nah, sekarang waktunya untuk berangkat
kerja!” ujar Musi Musang riang.
Wah, lihat, Musi sudah rapi jali. Jaketnya
sudah terkancing rapi. Tas kerja sudah tersampir rapi di lengan kanan. Dan,
wajahnya tampak berseri-seri!
Di perjalanan, Musi bertemu dengan
kawan-kawannya. Kiki Kelinci sedang sibuk menanam wortel, dibantu Baki Badak.
Sementara di atas pohon, Onyi Monyet sedang panen pisang.
“Hai, Musi! Wah, kamu rapi sekali!” sapa
mereka.
Sambil tersenyum riang, Musi menjawab “Iya,
Teman-Teman! Aku mau berangkat kerja, nih!”
“Hm, sebelum berangkat kerja, adakah yang kamu
lupa, Musi?” tanya Kiki Kelinci.
“Tentu saja tidak! Karena, sejak pagi, aku
sudah mencatat semuanya! Lihat, tas kerja sudah. Jaket sudah. Payung sudah.
Kunci rumah sudah. Semua sesuai catatanku.” jawab Musi riang, sambil
menunjukkan gulungan kertas besar dari kantongnya.
Seketika teman-teman Musi bertepuk tangan!
“Plok, plok, plok!”
“Wah, kamu hebat, Musi!” ujar Kiki Kelinci.
“Iya, akhirnya, kamu belajar untuk mengatasi
kebiasaan pelupamu!” sambung Baki Badak.
“Dan kamu berhasil hari ini!” tambah Onyi
Monyet.
Wajah Musi memerah karena malu.
“Ah, ini semua,
kan
, berkat kalian. Kalian yang memberiku
ide untuk mencatat berbagai hal. Terima kasih, Teman-Teman! Semoga hari kalian
menyenangkan!” ujar Musi sambil melambaikan tangan.
“Iya, Musi. Selamat bekerja!” lambai
teman-temannya.
Dan, Musi pun berlalu, diiringi lambaian
teman-temannya.
Namun, dari belakang, teman-temannya mulai
memerhatikan kaus kaki Musi.
“Hei! Kaus kaki kanan Musi berwarna hijau!
Dan, kaus kaki kirinya berwarna biru. Apa aku salah lihat ya?” ujar Kiki
Kelinci.
“Oh iya, benar! Aduuh, dia pasti lupa
mencatat letak kaus kakinya!” teriak Onyi Monyet.
Berbarengan, mereka bertiga pun memanggil
“Musi!!!”
****
Ain Said:
on March 17, 2008 at 5:49 pm
kebiasaan ini mengingatkan gw sama lo yang suka naro barang di tempat yang paling nggak mungkin ketahuan orang. dan lo lupa. haduh!