gara-gara telur ajaib

Gara-gara Telur Ajaib

Oleh: Retnadi Nur’aini

 

“Rui! Sini!”
panggil Benny pada anjing kesayangannya.

Siang itu, Benny
dan Rui memang sedang berjalan-jalan di hutan. Kebiasaan mereka tiap hari
Minggu siang, tuh. Soalnya, kata dokter hewan yang memeriksa Rui, Rui memang
harus sering-sering diajak jalan-jalan. Biar sehat dan tidak gampang sakit. Dan
Benny paliiing sayang sama anjingnya!

Bersama-sama,
mereka punya banyaaak sekali pengalaman seru! Mulai dari memergoki maling
jemuran di kota kecil mereka, menemukan sarang burung yang terjatuh dari atas
pohon, sampai mengobati kelelawar yang sayapnya terluka sehingga tak bisa
terbang. Pokoknya, kalau mereka bersama-sama, pasti ada saja kejadian seru!

Seperti
sekarang.

Meski sudah
dipanggil-panggil Benny, Rui tetap saja menerobos ke dalam hutan. Benny sampai
terengah-engah saat mencoba berlari mengikuti Rui. Dan oh, oh, lihat apa yang
ditemukan Rui!

Sebutir telur!

Dan tidak
seperti telur lainnya, telur ini buesar!

Pelan-pelan,
Benny mendekati telur itu. Lalu, dengan hati-hati, dibungkusnya telur aneh itu
dengan kausnya, dan dibawanya pulang.

“Kamu hebat Rui!
Kita berhasil menemukan telur ajaib!” ujar Benny riang.

Sementara di
sampingnya, Rui menggerak-gerakkan ekornya dengan gembira.

 ***

 

 Setibanya
di rumah, Benny langsung naik ke kamarnya yang ada di atas. Diletakkannya telur
di atas meja. Diamat-amatinya telur itu. Sementara di sampingnya, Rui
mengendus-enduskan moncongnya ke permukaan telur.

 “Hmmm,
menurutmu ini telur apa, ya, Rui? Aku pikir, sih, ini pasti telur naga!” ujar
Benny sambil mengetuk-ketukkan jarinya di permukaan telur.

 “Soalnya,
kata Robby, hutan tempat kita main itu memang dijaga oleh seekor naga! Kan bisa
saja, telurnya tercecer satu butir! Ya, kan, Rui?” tanya Benny.

 “Eh,
tapi, kalau ini telur naga sungguhan, si Mama Naga pasti akan mencarinya ke
rumah ini, ya? Wah, kita harus sembunyikan telur ini baik-baik, Rui! Oke,
partner?” tanya Benny, lalu mengucal bulu di kepala Rui.

 Dan
benar saja, sejak hari Minggu siang itu, banyak waktu Benny yang dihabiskan
untuk si telur. Saat bangun tidur pagi-pagi saja, Benny langsung berlari untuk
melihat telurnya. Pulang sekolah juga begitu. Tanpa babibu, ia langsung
melempar tasnya dan berlari untuk melihat telurnya. Kalau sudah begitu, bisa
berjam-jam ia menimang-nimang telurnya. Lupa makan, lupa mandi, lupa belajar. Mama
sampai ngomel-ngomel.

 Habis,
Benny juga jadi lupa dengan Rui, sih. Kalau sudah sibuk dengan telurnya, Benny
akan lupa untuk memandikan Rui, memberi makan Rui, sampai mengajak Rui
jalan-jalan.

“Kasihan, tuh, Rui,
lemas betul kelihatannya. Ajak jalan-jalan, sana! Jangan sibuk saja dengan
telur anehmu itu!” ujar Mama.

Namun Benny hanya
mengiyakan sambil lalu, dan terus saja sibuk dengan telurnya. Sementara Rui
mendekam sedih di pojokan, dengan kedua telinganya yang layu. Duh, malangnya si
Rui!

 ***

 

 Hari
Minggu, waktunya beres-beres kamar!

 Sudah
lama Benny tak membereskan kamarnya. Debu dan kotoran menempel dimana-mana.
Benny sedang membersihkan mejanya, ketika tiba-tiba…

 “Prak!”

 Cepat
Benny melongokkan kepalanya ke bawah meja.

 Dan
oh, oh! Telurnya jatuh!

 Telur
naga kesayangannya, yang dijaga dan dirawatnya setiap hari! Sementara itu, bau
busuk mulai menyeruak. Mama sampai naik ke kamar Benny untuk mengecek wajah
Benny sedih sekali.

 “Iya,
Mama tahu, kamu sedih kehilangan teman barumu. Tapi coba tebak, siapa lagi yang
juga sedih karena telah kehilangan sahabatnya?” ujar Mama sambil melirik ke
pojok tempat Rui biasa tidur siang. Di sana, Rui terbaring lesu. Oh lala,
ternyata sudah beberapa hari ini Rui sakit!

 Sorenya,
Benny membawa Rui ke dokter hewan. Lalu, disuapinya Rui dengan obat. “Ayo minum
obatnya Rui, biar cepat sembuh. Maafkan aku, ya, telah melupakanmu selama ini.
Aku janji, tak akan meninggalkanmu lagi!” janji Benny.



Leave a Comment