pesta kejutan sute semut

Pesta Kejutan Sute Semut

Oleh: Retnadi Nur’aini

 

Pagi ini Sute
Semut gembira sekali! Soalnya tumben-tumbenan, semut jahil ini besok
malam, Sute mau mengadakan pesta kejutan. Hmmm, pesta kejutan??? Namanya saja
sudah membuatmu penasaran, bukan?

Karena Sute
ingin merancang pestanya serapi dan sesempurna mungkin, sejak pagi ia sudah
belanja. Entah apa saja yang dibelinya. Yang jelas, ia tampak membawa
berbungkus-bungkus roti, keripik kentang, bulu angsa, juga berbatang-batang
lilin. Hmmm, paduan yang aneh, ya?

Setelah
berbelanja, Sute pun menulis secarik undangan singkat ntuk teman-temannya.
Mereka adalah Kupi Kepik, Labe Lebah dan Belang Belalang, Sute hanya menuliskan
secarik undangan singkat. Begini tulisannya “Teman-teman, datang ya ke pesta
kejutanku besok malam! Dijamin seru! Tiada kesan tanpa kehadiranmu, yaaa!”

Tuh, gimana
coba teman-temannya nggak penasaran?

 ***

Keesokan
paginya, teman-teman Sute menerima undangan pesta kejutan.

Dan, benar saja,

kan

, teman-teman
Sute bingung.

“Pesta kejutan
apa ya?” ujar Kupi Kepik sambil garuk-garuk kepala.

“Jangan-jangan, nanti
disana banyak petasan, ya?” cetus Labe Lebah.

Labe

paling gampang kaget soalnya. Dan ia
paling takut dengar suara petasan.

Baru saja Belang
Belalang mau menjawab pertanyaan Labe, ketika tiba-tiba Sute melintas di depan
mereka.

“Wah, kebetulan
sekali, Teman-teman! Kalian sudah menerima undanganku, kan? Jangan lupa, ya,
datang tengah malam nanti!” ujar Sute ceria, kemudian berlalu sambil
menandak-nandak riang.

Sementara
teman-teman Sute hanya tersenyum dipaksakan.

Setelah Sute
pergi, mereka kembali mengobrol.

“Pokoknya, kalau
nanti ada petasan, aku tak mau datang, ah! Sute suka jahil, sih” ujar Labe
lagi.

“Iya, iya!
Terus, kalau nanti ada acara lempar telur, aku juga nggak ikutan,
ah! Telur, kan, bau! Nanti aku harus mandi sampai tujuh kali sehari, lagi!”
timpal Belang Belalang.

Nah, kan,
teman-teman Sute jadi curiga dan mikir yang jelek-jelek, deh.

Padahal, mereka
kan belum tahu dengan pasti, ya, Teman-teman?

 ***

“Tik, tok, tik,
tok,” jam dinding rumah Sute berbunyi. Sementara Sute menatap jam dinding
dengan tak sabar. “Sudah hampir tengah malam, nih. Kemana, ya, mereka? Apa
mereka ketiduran, ya?” gumam Sute.

 Wajar saja, sih, kalau Sute cemas. Habis, dia
kan sudah merancang pesta kejutan ini matang-matang. Kalau nanti para
undangannya tak datang, buyarlah pesta ini. Gagal total, deh!

Namun, Sute tak
perlu cemas lama-lama.

Karena sebenarnya,
Kupi, Labe, dan Belang sudah berada di depan pintu rumahnya. Hanya saja, mereka
sedang rebutan tentang siapa yang akan mengetuk pintu rumah Sute.

“Kamu saja, deh!
Kamu, kan, tidak gampang kaget dengan suara petasan!” tuding Labe pada Kupi.

“Iya, kamu juga
jarang mandi! Jadi kalau ternyata setelah pintu dibuka ada telur dilempar, ya nggak
masalah. Ya, kan?” timpal Belang.

Akhirnya, dengan
enggan, Kupi pun mengetuk pintu rumah Sute.

“Tok, tok, tok!”

Hanya butuh
beberapa detik buat Sute untuk berlari, membuka pintu, dan..

“Selamat datang,
Teman-teman! Kok lama sekali, sih??? Aku pikir kalian ketiduran!” sambut
Sute riang.

Melihat Sute
seriang itu, teman-temannya jadi agak ragu. Dengan takut-takut mereka melangkah
masuk, dengan mata mencari-cari jebakan tersembunyi di celah ataupun sudut
ruangan.

“Silakan masuk.
Aku sudah memanggang roti. Di meja juga ada banyak camilan dan keripik kentang.
Hari ini kita akan mengadakan pesta piyama!” ujar Sute. 

 Seketika teman-teman Sute tersentak.

“Pesta piyama???
Bukannya pesta petasan?” tanya Labe.

“Atau pesta
lempar telur???” Belang ikut bertanya.

Dahi Sute
berkerut.

“Tidak, dong,
Teman-teman. Di pesta piyama, kita semua akan mengenakan piyama. Lalu kita bisa
main dan makan camilan sampai pagi,” jelas Sute.

Mendengar
penjelasan Sute, teman-temannya seketika merasa bersalah telah curiga pada Sute
tadi pagi. Mereka terdiam.

Sampai akhirnya
Kupi memberanikan diri.

“Maafkan kami,
ya, Sute. Karena kami tadi sudah berprasangka buruk kepadamu. Maaf ya…” ujar
Kupi pelan.

Sute tersenyum.

“Tidak apa-apa,
teman-teman. Maaf ya, kalau selama ini aku sering jahil. Tak heran kalau kalian
jadi curiga macam-macam. Tidak apa-apa, kok,” jawab Sute.

“Tapi sebagai
hukumannya…buk!” Sute melempar bantal ke Kupi.

Kupi terbahak.

“Dasar Sute, oke,
siapa takut! Ayo perang bantal!!!”

 ***



Leave a Comment