teman baru beki
TEMAN BARU BEKI
Oleh: Retnadi Nur’aini
“Kecipak,
kecipuk!”
Pada suatu siang
yang cerah, Beki Bebek sedang asyik berenang bersama teman-temannya di sungai.
“Kwek, panasnya
hari ini!” keluh Duki.
“Iya, kwek,
sampai lengket bulu-buluku!” timpal Belu tak mau kalah.
Omong-omong soal
lengket, Beki jadi ingat, sudah seminggu ini dia tak keramas. Hmmm, panas-panas
begini, kepala kena air dingin. Brrr, segarnya!
“Byur!” Beki membenamkan
kepalanya ke air.
Namun, oh, oh, di
dalam air, ada seekor hewan aneh!
Beki memicingkan
mata.
“Hmmm, hewan ini
berparuh seperti aku, tangan dan kakinya juga berselaput, persis seperti
kakiku. Tapiii, hewan ini berbulu! Hmmm, hewan yang aneh… siapa, sih, dia? Kok,
dia bisa ada di sini?” pikir Beki.
Pelan-pelan,
hewan itu berenang mendekati Beki.
“Halo, namaku
Ipus,” sapa hewan aneh itu ramah.
“Halo, aku
Beki.”
Sementara dari
jauh, teman-teman Beki mulai penasaran.
“Hei, Beki
sedang apa, tuh? Lama sekali dia membenamkan kepalanya di dalam air!” ujar
Duki.
“Yuk, yuk, kita
dekati dia!” ajak teman-teman lainnya.
***
“Byur! Byur!
Byur!”
Ramai-ramai,
teman-teman Beki ikut membenamkan kepala mereka ke dalam air.
“Lho!
Ada
hewan aneh di dalam
air!” ujar Duki.
“Lihat, paruhnya
mirip kita! Tapi, tubuhnya berbulu. Hm, siapakah dia?”
“Iya, iya,
siapa, sih, dia?” teman-teman bebek lainnya berebut saling menimpali.
Sementara, Ipus mulai menjawab pertanyaan
teman-teman Duki, satu per satu.
“Halo
teman-teman, namaku Ipus Platipus. Aku memang mirip kalian. Aku juga terlahir
dari telur, sama seperti kalian. Tapi, aku bukan bebek. Malahan, aku termasuk
keluarga hewan menyusui. Sama seperti singa, gajah, jerapah, dan hewan menyusui
lainnnya,” jelas Ipus panjang lebar.
“Jadi, kamu
bertelur, juga menyusui?” tanya Duki, yang diikuti oleh anggukan teman-teman
bebek lainnya.
“Sudahlah,
Teman-Teman. Meski berbeda, tapi dia tetap penghuni sungai ini. Artinya, dia
juga teman kita. Ya,
kan
?”
kata Beki.
“Iya, Teman-Teman.
Maaf, ya, kalau aku jarang naik ke permukaan dan berkenalan dengan kalian.
Habis, aku takut…” ujar Ipus.
“Lho? Takut
kenapa?” tanya Belu.
Lalu dengan
wajah murung, Ipus mulai menjelaskan.
“Aku takut
diburu orang. Bentuk kami yang unik menyebabkan banyak pemburu liar mencari
kami. Beberapa bulan lalu, pamanku tertangkap oleh salah satu pemburu liar.
Lalu, beberapa hari lalu, adikku hampir saja tertangkap. Untung saja, dia
cepat-cepat berenang ke sarang kami,” jelas Ipus sedih.
Mendengar cerita
Ipus, teman-teman bebek pun merasa iba.
“Ipus, maafkan
kami karena tadi sudah tak ramah padamu.” ujar Duki, disusul oleh teman-teman
bebek lainnya.
Lalu, sambil tersenyum
Beki berujar “Nah, karena Ipus sekarang sudah jadi teman kita, maka kita akan
menjaga teman kita ini bersama-sama,
kan
?”
“Iya! Setuju!
Setuju!” sorak teman-teman bebek lainnya.
Sambil tersenyum
jail, Belu berkomentar “Tapiii, ada syaratnya!”
Seketika, semua
menatap Belu penasaran.
“Apa? Apa?
Syarat apa?” tanya mereka berebutan.
“Ceprot!!!” Belu
mencipratkan air ke wajah Ipus.
“Itu syaratnya!
Hahaha!!!” teriak Belu sambil tertawa kegirangan, diikuti teman-teman bebek
lain yang saling main ciprat air.
Ipus tertawa.
“Dasaaar kalian! Awas, ya!” ancamnya, lalu mengejar Belu.
“Ceprot!”
***
Ain Said:
on March 17, 2008 at 6:00 pm
manisnyaa….