dan 30 hari kemudian….

Dan, 30 Hari
Kemudian…

Oleh: Retnadi
Nur’aini

 

 Beberapa bulan sebelum menikah, saya
bertengkar dengan sahabat saya, Citra. Pertengkaran yang merupakan pertengkaran
terhebat, sekaligus juga pertengkaran perdana selama rentang waktu lima tahun
persahabatan kami.

  Pertengkaran itu dimulai dari satu esai saya
tentang suatu pernikahan impian. Saat makan malam di GulTik (Gulai Tikungan)
Blok M dekat SMUN 70, kami pun membahasnya. Dan komentar Citra sungguh-sungguh
di luar dugaan saya.

 “You know what, No? Untuk ukuran
seorang yang akan menikah, ekspektasi lo kelewat tinggi. Itu nggak fair untuk
kehidupan yang akan lo jalani nantinya,” ujarnya sambil menatap tajam mata
saya.

 Mendengar komentar sepedas itu,
awalnya saya cuma sanggup terperangah. Dilanjutkan dengan debat panjang selama
hampir dua jam lamanya. Yang berujung pada saya menangis karena marah—ya,
reaksi katarsis saya untuk banyak emosi memang menangis—selama hampir satu jam
lamanya di hadapan Citra.

 “I know you hate me right now,
Sweetie. Tapi gua percaya bahwa adakalanya cinta tidak dikatakan, tapi
ditunjukkan dengan perbuatan. Gua sayang sama lo, dan gua harus bilang itu.
Maaf, ya, Sayang…” ujar Citra lembut.

 Ya, waktu itu saya memang marah
sekali pada Citra. Di antara seluruh orang di dunia, dialah yang paling paham
segala ketakutan saya tentang pernikahan. Dan saat saya berusaha memerangi
ketakutan saya dengan menuliskan suatu esai romantis tentangnya—dalam pandangan
saya yang sedang marah saat itu—Citra jugalah yang paling tidak suportif.

 Toh sehebat apapun pertengkaran kami
malam itu, tiga jam kemudian kami kembali berbaikan. “Meski gua masih sebel
sama lo, ya, Neng. Tapi besok udah nggak, kok. Love you, Cit,” ujar saya sambil
mencoba tersenyum dengan mata sembab. Yang dibalas dengan bercanda oleh Citra.
“Iyalah, you love me, don’t you? Hehehe, love you, No,” ujarnya sambil memeluk
saya malam itu sebelum kami berpisah.

 Dengan pernyataan Citra yang terus
terngiang-ngiang di kepala dan telinga saya.

 *** 

 30 hari setelah menikah, pernyataan
Citra tak juga henti bergema di kepala dan telinga saya. Namun untuk pertama
kalinya, saya mulai menganggapnya masuk akal. Untuk pertama kalinya, saya juga
mulai belajar tentang suatu konsep pernikahan. Dan untuk pertama kalinya, saya
bersyukur, bahwa Citra pernah melempar komentar pedas itu ke hadapan saya dulu.

Well,
ada banyak hal yang saya pelajari untuk pertama kalinya, setelah menikah. Dan
dalam kurun 30 hari, berikut beberapa di antaranya:

Saya
belajar untuk menyiapkan minuman hangat bagi suami setiap pagi dan petang. Saya
belajar untuk menyiapkan segelas air putih di samping piring suami saat sarapan,
makan siang, atau makan malam. Saya belajar untuk menggandeng tangannya di
jalan.

Saya
belajar untuk melarutkan dulu deterjen ke dalam ember air selama setengah jam. Saya
belajar untuk menyeterika pakaian suami sebelum ia berangkat kerja. Saya
belajar untuk merendam bilasan terakhir cucian ke dalam larutan pewangi dan
pelembut pakaian.

Saya
belajar, bahwa tak semua keinginan saya bisa dipenuhi. Saya belajar, bahwa saat
menangis, saya tak harus melulu dihibur. Ada kalanya, saya harus belajar untuk
paham, bahwa kekecewaan suami jugalah merupakan suatu bentuk hukuman. Dan saat
sumur air mata sudah habis ditimba, saya belajar untuk minta maaf.

Saya
belajar bahwa perasaan cemburu memang kerap kali tak masuk akal. Pun sangat
irasional, saya belajar untuk jujur, pada apa yang saya rasakan. Sebaliknya,
saya juga belajar untuk menerima kecemburuannya berdasarkan hal-hal yang
menurutnya signifikan. Dengan demikian, saya belajar untuk menempatkan diri
dalam sepatunya, dan merasakan apa yang ia rasakan.

Saya
belajar untuk berempati.

Saya
belajar bahwa kami dibesarkan dari keluarga yang berbeda, dengan kebiasaan dan
selera yang berbeda pula. Sehingga, saya belajar untuk bertanya sebelum mulai
membelikannya sesuatu.

Saya
juga belajar untuk bertanya sebelum mulai membeli makanan ringan dalam jumlah
banyak.  Saya juga belajar untuk bertanya,
sebelum mulai memindahkan televisi dan menata ruangan. Saya belajar untuk
berdiskusi. Saya belajar untuk berkompromi.

Saya
belajar bahwa cinta tak lantas membuat kami jadi dukun yang bisa saling membaca
pikiran. Karenanya, saya belajar untuk menggunakan kata sifat untuk menjelaskan
kata “sayur”, sehingga saat saya meng-sms suami dan minta tolong dibelikan
sayur matang, suami tidak malah membelikan sayur mentah untuk dimasak.

Begitu
juga saat kami bertengkar.

Saya
belajar untuk menjelaskan penyebab kekecewaan secara rasional. Untuk efek
emosional yang disebabkan oleh kekecewaan, saya belajar untuk mengunyahnya
lumat-lumat, sebelum dilontarkan. Dari sana, saya belajar, bahwa dengan kepala
dingin, segala bentuk kemarahan, kesedihan, dan kekecewaan, bisa didiskusikan.

Saya
belajar untuk memijiti kaki dan tangan suami. Saya belajar untuk menghapalkan
jenis sayur kesukaannya, merk kopi yang biasa diminumnya, berapa jumlah telur
yang ditambahkannya untuk sepiring mi goreng, berapa sendok susu dan madu yang
pas di lidahnya untuk segelas susu madu. Saya belajar untuk menyenangkannya.

Saya
belajar untuk tidak berlama-lama menerima telepon di kala malam atau di akhir
pekan. Sebaliknya, saya juga belajar untuk tak meng-sms teman kantor menanyakan
masalah pekerjaan saat mereka sudah berada di rumah. Karena seperti halnya saya
yang juga ingin beristirahat di rumah, mereka juga pasti demikian.

Saya
belajar bahwa menunggu pasangan pulang itu menyesakkan.

Kita
bisa dihantui sejuta kekhawatiran, saat ia tak kunjung datang. Dan karena pada
akhirnya saya belajar bahwa khawatir merupakan suatu bentuk emosi yang cukup
melelahkan, maka saya pun belajar untuk tidak lagi pulang kerja larut malam.

Saya
belajar membiasakan diri membawa oleh-oleh saat berkunjung ke rumah saudara
ataupun teman. Saya belajar untuk berusaha selalu membalas sms dan mengangkat
telpon. Saya belajar untuk lebih peduli.

Saya
belajar membiasakan diri mengucapkan salam. Saya belajar untuk menambahkan kata
“Mas” dan “Mbak” pada orang yang lebih tua, pun itu adalah kepada ketiga abang
saya yang tak terlalu peduli pada bentuk nama panggilan. Saya belajar untuk
menghormati orang lain.

Saya
belajar membiasakan diri untuk menggunakan kata “kami”.

Saya
belajar untuk selalu menyiapkan uang receh. Saya belajar untuk mengambil uang
di ATM dalam jumlah besar ketimbang dalam jumlah sedikit tapi sering. Karena
kita tak selalu menemukan ATM. Saya belajar untuk selalu punya stok “keperluan
wanita”. Sehingga kali lain saya tiba-tiba “kedatangan tamu”, suami tak perlu
jalan kaki ke warung yang cukup jauh pada tengah malam buta. Saya belajar untuk
selalu punya antisipasi dan persiapan dalam segala hal.

Saya
belajar bahwa toh, pada akhirnya, tak semua ketakutan saya itu terbukti.
Beberapa di antaranya ternyata hanyalah kecemasan berlebihan terhadap
keengganan akan suatu perubahan. Dan mengutip kata Citra, saya juga belajar
bahwa cinta tak melulu harus dikatakan. Melainkan berwujud nyata dalam suatu
perbuatan.

Kini,
30 hari lewat sudah, sejak kami berjanji. Semua pelajaran ini juga tak lantas berhenti
sampai di sini. Karena masih panjang perjalanan hari. Dan dalam perjalanan itu,
kami akan kembali membuat beragam kesalahan. Kami akan kembali berdebat. Kami
akan kembali salah paham. Kami akan kembali bertengkar. Pun, kami akan kembali
berdiskusi. Kami akan kembali saling minta maaf. Kami akan kembali berkompromi.

Tentu
saja, tak semua kompromi punya solusi melegakan. Pun, tak semua hari berhiaskan
romantisme berkilauan. Dan tak semua pelajaran ini juga sempurna hasilnya.
Namun, dari sana, saya belajar satu hal.  

Bahwa
kami, tak akan berhenti untuk terus belajar.

 ***

(Persembahan
untuk: Diani Citra—sahabat yang menepati janjinya menjadi Mata, Telinga, dan
Suara. Juga untuk seseorang yang sedang khilaf menerima saya sebagai istri –Mas
Catur Sukono—suami terhebat yang tak pernah lelah untuk menunggu saya belajar
menjadi dewasa. Thank God I found you. Semoga khilafmu permanent ya Ayang J)
  



Leave a Comment