everyday i love you
EVERYDAY I LOVE YOU
Oleh Retnadi Nur’aini
Malam itu adalah untuk ke sekian kali saya jatuh cinta padanya.
Saat itu, lepas shalat Isya berjamaah, saya duduk di hadapannya. Untuk minta maaf atas daftar panjang kekurangan saya sebagai seorang istri. Mendengarkan itu semua, dia tersenyum.
Dan berujar ”Tidak apa-apa, Sayang. Kita belajar sama-sama, ya…”
Ah, lagi-lagi saya jatuh cinta padanya.
***
Dan saya makin jatuh cinta padanya, setiap kali ia tertawa. Dimana ujung matanya akan berkerut-kerut, dan senyum lebarnya akan menampakkan sebaris gigi putih.
Dan saya makin jatuh cinta padanya saat ia memijiti pinggang dan kaki saya yang pegal saat tengah datang bulan. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia menyeduh secangkir susu hangat untuk saya, di kala saya malas makan. Untuk kemudian, menyelimuti tubuh saya rapat-rapat agar tak kedinginan di waktu malam.
Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia membelikan karet rambut sebagai pengganti karet gelang yang biasa saya gunakan untuk mengikat rambut. ”Kalo pake karet gelang, nanti rambut kamu rontok,” begitu ujarnya. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia tak lupa membawakan sekantung kecil sambal, hanya karena ia tahu bahwa saya sangat suka masakan pedas. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia juga tak pernah alpa mengingatkan agar saya tak melahap sambal itu banyak-banyak.
Dan saya makin jatuh cinta padanya setiap kali ia berhasil membuat saya tertawa. Benar-benar tertawa. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia mengingat banyak detil hal-hal favorit saya—seperti kopi rasa moka, kulit ayam goreng, parfum mawar, lagu No Frontiers yang dinyanyikan oleh The Corrs, jaket kuning biru, kebab dengan banyak mayonaise dan saus sambal, mi ayam bangka pangsit goreng pangsit rebus, snack Momogi jagung bakar.
Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia mengingatkan agar saya mengenakan pakaian yang baik saat menghadapNya. Sekaligus juga mengingatkan, agar saya tidak terburu-buru melakukan shalat. Dan saya makin jatuh cinta padanya, setiap kali ia melantunkan ayat-ayat suciNya selepas shalat Maghrib dan shalat Subuh. Dan saya makin jatuh cinta padanya, setiap kali ia menyarankan saya untuk berwudhu atau shalat dhuha kala emosi sedang meraja. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia meng-sms saya kala tiba waktunya berbuka puasa.
Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia rela mengalah tak menonton pertandingan bola malam Minggu di televisi—hanya demi saya bisa menonton serial Grey’s Anatomy. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia membacakan by phone sederet judul novel impor yang sedang obral di pameran. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia sukses memilihkan satu novel surealis cantik—Secret Rendezvouz by Kobo Abe—sebagai oleh-oleh untuk saya. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia mematikan radio yang tengah menyiarkan lagu Lembayung Balinya Saras Dewi. Hanya
karena saya sedang menyenandungkannya. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia berkomentar ”Tuh kan, bagusan suara kamu..”
Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia menanak nasi dan menyiapkan makan malam, saat saya pulang belakangan. Untuk kemudian, mencucikan seember baju yang telah saya rendam paginya. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia berusaha menghabiskan telur dadar gosong dan mi instan keasinan buatan saya dengan lahapnya. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia berhati-hati memilih kata dan kalimat untuk memberitahukannya pada saya, berhari-hari kemudian.
Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia menemani saya terjaga di tengah malam buta, menenangkan saya yang lagi-lagi bermimpi buruk. Dan saya makin jatuh cinta padanya, untuk setiap pelukan dan penghiburan yang dicurahkannya, saat saya mengalami hari yang buruk. Dan saya makin jatuh cinta padanya, untuk setiap butir air mata yang diusapnya dengan lembut. Dan saya makin jatuh cinta padanya, karena dialah satu-satunya penumpang setia rollercoaster mood saya yang cukup melelahkan. Dan saya
makin jatuh cinta padanya, saat ia berujar ”Seneng, deh, kamu dah senyum lagi,” setelah semua emosi negatif saya mereda.
Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia melarang saya menyantap lagi mi instant yang tak sehat. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia membujuk saya minum segelas jus apel sebagai gantinya. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia hanya tertawa menatap dua porsi lele goreng tanpa ekor yang saya bawa. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat tangannya mengucal rambut saya yang meminta maaf, ”Maaf ya, Ayang. Tadi aku laper, jadi aku cuil-cuil dikit ekor lelenya …”
Dan saya makin jatuh cinta padanya, setiap kali ia cemburu. Dan saya makin jatuh cinta padanya, ketika ia meredamnya dengan satu komentar bijak ”Yah sudahlah, itu kan masa lalu. Yang penting sekarang, kamu jadi istri saya,” ujarnya.
Dan saya makin jatuh cinta padanya, setiap kali memeluknya. Saya akan menyandarkan kepala saya di bahunya, mencoba meresapi aroma dan keberadaannya ke dalam pori-pori saya. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia menyimpan rapi setiap lembar tulisan, puisi, imel, dan lagu yang saya peruntukkan baginya.
Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat ia mengedit lebih dahulu tulisan-tulisan saya. Mengingatkan EYD yang salah, kalimat yang belum diberi titik, spasi, dan koma. Dan saya makin jatuh cinta padanya, setiap kali ia memuji tulisan-tulisan saya. Betapa saya sungguh-sungguh merasa menjadi seorang penulis handal karenanya.
Dan saya makin jatuh cinta padanya, setiap kali ia memuji betapa memukaunya saya. Dan saya makin jatuh cinta padanya, saat kemudian ia berujar, betapa beruntungnya dia karena memiliki saya. Saya ingat, saya akan bersorak riang, dan tak bisa berhenti tersenyum sepanjang hari. Saya ingin bicara pada setiap orang asing yang saya temui di jalan, tentang betapa menakjubkannya hari saya, betapa indahnya sinar matahari yang membuat dunia menjadi begitu berkilau keemasan.
Dan saya makin jatuh cinta padanya, pada setiap pagi kala saya terbangun di sisinya, menatapnya yang masih terlelap di samping saya.
Ah, satu lagi hari yang indah untuk dilewati bersamanya …
Persembahan kepada Catur Sukono: suami terindah yang membuat saya jatuh cinta di setiap hari kami. I love you, Precious …
Rini Said:
on November 29, 2008 at 2:39 am
Retno…I envy you
Manto Said:
on January 4, 2009 at 4:29 pm
Saya jadi iri dengan yang kau dapatkan. Smoga saya mendapatkan seorang istri yang bersifat seperti itu
falar Said:
on September 1, 2009 at 8:34 pm
jadi iri ni retno….