ruang tamu itu sedang ditata

(persembahan kepada seorang penghuni salah satu ruang tamu tercantik di dunia)

Siang itu, dunia
abu-abu saya sepanas neraka. Matahari abu-abu sedang bersinar dengan garangnya,
dan angin sahabat saya sedang pesiar ke negeri tetangga. Padahal, saya sedang
berada dalam satu perjalanan panjang yang melelahkan. Fuh, sungguh-sungguh satu
hari yang sangat melatih kesabaran.

Tiba-tiba,
sepasang kaki saya yang kotor, berdebu, dan luka-luka menemukan sebuah pintu
mungil. Berwarna cokelat muda, seperti warna kayu penyusunnya. Lingkaran umur
kayu tampak mewarnai motif permukaannya.

Aneh.

Karena saya
hapal betul seluk beluk pelosok dunia abu-abu saya. Dan pintu asing ini, tak
pernah saya lihat sebelumnya. Apalagi, warnanya cokelat muda, dan bukannya
abu-abu. Warna yang kini tampak begitu mencolok di dunia abu-abu saya.

Saat saya tengah
sibuk berpikir itulah, seketika pintu asing ini terbuka di hadapan saya.

“Silakan masuk…”
sapa lembut penghuninya.

Sontak saya
menatapnya curiga.

“Kenapa? Kamu
bisa saja pembunuh, pencuri, atau pemerkosa. Kenapa saya harus percaya?” jawab
saya ketus.

Si penghuni
tersenyum.

“Ya sudah, saya
juga tidak meminta kamu untuk percaya. Saya tadi mengintip kamu dari jendela,
dan saya lihat kaki kamu terluka. Kalau kamu mau, insya allah, di dalam saya
bisa mengobatinya. Dan kalau kamu haus, saya juga punya seteko limun dingin,”
ujarnya lembut.

“Tidak, terima
kasih. Saya di luar saja,” tolak saya bersikeras.

Dan masih sambil
mengulum senyum, si penghuni kemudian membawakan saya segelas limun dingin dan
segulung perban untuk luka kaki saya. Lalu, dengan membuka sedikit pintu
rumahnya, ia meninggalkan saya duduk-duduk di teras mungilnya.

“Ya sudah, tidak
apa-apa. Silakan duduk-duduk di luar. Tapi kalau kamu perlu sesuatu, silakan
panggil saya, ya,” begitu pesannya sebelum beranjak meninggalkan saya.

Diiringi tatapan
curiga saya dan benak yang ditumpuki sejuta prasangka.

 ***

Kaki saya sudah
terbalut rapih. Segelas limun dingin juga sudah licin tandas. Saya sedang
bersiap pergi, ketika tiba-tiba hujan deras turun mengguyur. Tetesannya
membasahi kaki, tangan, dan punggung saya. Menggemeletukkan tulang-tulang saya
yang kini menggigil kedinginan.

“Kalau masih
bersikeras tinggal di luar, kamu bisa sakit. Bagaimana kalau kamu masuk?” tawar
si penghuni dengan ramah.

Sekilas, saya
longok isi ruang tamunya.

“Ruang tamu kamu
sudah penuh barang-barang. Tak ada tempat buat saya untuk duduk.”

Lalu, dengan
cekatan, si penghuni menyingkirkan perabotnya. Dipindahkannya meja, kursi dan lemari
bukunya ke ruang tengah. Digelarnya selembar karpet putih lebar.
Ditepuk-tepuknya sejumlah bantal empuk. Ditatanya ruangan mungil itu selapang
dan senyaman mungkin. 

“Nah, sudah tak
terlalu penuh, kan? Silakan masuk…” tawarnya.

Berjingkat-jingkat,
saya pun masuk. Tetesan air hujan yang merembesi tubuh saya mulai mencemari
karpet putihnya. Sontak saya pun merasa bersalah.

“Tidak apa-apa.
Cuma karpet. Bisa dicuci. Bukan hal besar…” ujarnya menenangkan saya.

Setelah menyilakan
saya duduk, ia pamit ke dapur.

Sepeninggalnya,
saya yang girang menemukan ruang tamu lapang ini mulai bermain-main dengan
gembira. Saya berguling-guling, saya melompat, jungkir balik, dan menari-nari
kesenangan di setiap sudutnya. Bercak-bercak lumpur dan air hujan dari kaki dan
tubuh saya tampak tercetak dimana-mana. Namun, tak sedikitpun saya khawatir.

“Katanya tadi
tidak apa-apa,” begitu pikir saya, lalu kembali bermain-main dengan riangnya.
Saya tak ingat berapa lamanya saya bermain-main. Saya juga tak ingat berapa
lama sudah si penghuni itu berada di dapur. Saya cuma ingat, tiba-tiba
terbangun karena aroma sedap masakan.

Rupanya, saking
lelahnya bermain-main di ruang tamu, saya ketiduran.

Dan kini, di
hadapan saya, telah tersaji sepiring makanan hangat. Di sampingnya, terdapat
segelas susu hangat bercampur madu. Juga beberapa butir obat flu.

Sementara perut
saya yang keroncongan mulai mengeluarkan bunyi memalukan.

Si penghuni
tertawa. “Nah, setelah capek bermain, baiknya kamu makan. Silakan makan yang
nikmat, yang lahap, yang banyak, ya!” ujarnya riang.

Pipi saya
bersemu merah, dengan kepala tertunduk malu.

“Tapi saya tidak
tahu caranya menggunakan sendok dan garpu,” ucap saya pelan.

Si penghuni
tersenyum penuh pengertian.

“Ya sudah, tidak
apa-apa. Saya juga tidak mahir makan dengan sendok dan garpu, tapi sebisa
mungkin, saya ajarkan, ya. Saya ambil piring saya dulu. Sementara itu, kalau
kelewat lapar, kamu boleh makan duluan dengan tangan…” ujarnya, lalu beranjak
ke dapur. 

Tiba-tiba,
langkahnya terhenti.

“Oh ya, kalau
mau makan dengan tangan, baiknya kamu cuci tangan dulu. Di dalam ada kamar
mandi. Kamu bisa cuci tangan disana,” ujarnya, lalu kembali melanjutkan
langkahnya ke dapur.

Sementara saya,
melangkah ke kamar mandi. Sebelum mencapai kamar mandi, saya melihat satu kamar
tidur dengan pintu tertutup. Itu pasti kamarnya, pikir saya. Ruang tengahnya
tampak berantakan, dengan meja kursi pindahan dari ruang tamu. Tapi, tidak
demikian dengan kamar mandinya.

Kamar mandi itu
bersih, rapih. Dan airnya bening dan sejuuuk sekali. Dengan sukacita, saya cuci
tangan saya dengan sabun. Lalu saya basuh wajah dan rambut saya yang kotor.
Sabunnya wangiii sekali. Tak puas-puas rasanya saya menciumi tangan saya yang
kini beraroma bunga musim semi. Nyaris saja saya ceburkan tubuh saya ke bak
mandi untuk bermain-main di dalamnya, ketika tiba-tiba sebuah suara berteriak
memanggil nama saya.

“Nanti saja main
airnya! Sekarang makan dulu, nanti kamu masuk angin!” teriak si penghuni. 

Dengan enggan,
saya pun membatalkan rencana untuk main air.

 ***

Sementara di
ruang tamu, si penghuni sudah siap dengan piring makan dan sendok garpunya.

“Yuk belajar!”
ajaknya riang, sambil mendentingkan sendok garpunya.

Karena kesal
dilarang main air, saya pun mulai bersikap mengesalkan.

“Saya lamban
belajarnya. Dan selama belajar, karpet kamu nanti tambah kotor,” ujar saya
ketus.

 Si penghuni tersenyum.

“Tidak apa-apa.
Namanya juga belajar. Wajar kalau ada kesalahan. Dan ini kan cuma karpet. Bisa
dicuci…” jelasnya.

Karena merasa
lapar, mau tak mau, saya ikuti kemauannya.

Dan kan, benar
saja, sulit sekali makan menggunakan sendok dan garpu. Belasan kali sudah, tangan
saya yang canggung menjatuhkan suapan makanan, yang akhirnya terciprat
kemana-mana.

Tapi si penghuni
tak marah.

Dengan sabarnya,
diajarinya saya pelan-pelan. Diulanginya terus instruksi cara memegang sendok
dan garpu. Semuanya diucapkan dengan tutur kata halus dan lembut. Dia bahkan
tak makan, sebelum saya berhasil menyuapkan makanan dari piring saya.

Berjam-jam
lamanya, dia mengajari saya caranya makan dengan baik dan benar.

Berjam-jam
lamanya pula, dia terus menyemangati saya.

Sampai akhirnya,
pelajaran itu usai.

Menyisakan dua
piring kosong dan ruang tamu berkarpet putih yang bernoda cipratan makanan
dimana-mana. Merasa bersalah, saya gulung karpet putihnya.

“Saya bantu
cucikan ya. Maaf kalau merepotkan,” ujar saya.

Dia tersenyum.
“Tidak apa-apa,” jawabnya.

“Terima kasih,
ya,” ujar saya.

“Sama-sama,”

Kemudian, pandangan
saya terantuk pada meja kursi yang berantakan di ruang tengah. “Atau, saya
bantu bereskan meja kursinya sekalian? Maaf sudah membuat ruang tamu kamu
berantakan…” tawar saya.

“Boleh, silakan
saja…” jawabnya masih sambil tersenyum.

Lalu,
bersama-sama, kami mengangkati piring dan gelas kotor. Membawanya ke dapur
untuk dicuci. Saya tengah membilasi sendok garpu, ketika teringat sesuatu.

“Tadi, waktu
saya sedang di kamar mandi, kamu panggil nama saya, kan, ya? Padahal kita kan
belum berkenalan. Kamu tahu nama saya dari mana?”

Pertanyaan itu
sekaligus mengetuk kepala saya, bahwa bagaimanapun, si penghuni rumah berpintu
cokelat ini tetaplah orang asing. Ia adalah orang asing di dunia abu-abu saya. Sejuta
prasangka pun kembali membanjiri kepala saya.  

Sadar saya mulai
bersikap defensif, si penghuni menghela napas. Dan mulai menjelaskan.
“Sebenarnya, saya sudah lama mengamati kamu dari kejauhan. Gadis kecil dari
dunia abu-abu, yang selalu bermain-main dengan riang dan tertawa-tawa sepanjang
hari. Sayangnya, kaki kamu luka, sehingga kamu tak bebas lagi melompat-lompat…”

“Dan?” tanya
saya.

“Dan sudah lama
juga saya siapkan perban di dekat pintu. Untuk kemudian mengintip kamu dari
jendela, berharap kamu berhenti di depan pintu saya…”

Wajah saya
tersipu merah.

“Terima kasih…”
ucap saya terbata-bata.

“Sama-sama. Dan
sebagai balasannya, mungkin kamu bisa bantu saya merapikan meja dan kursi yang
berantakan. Untuk kemudian menata ruang tamu bersama…” ujarnya sambil
tersenyum.

Dan untuk
pertama kalinya sejak masuk ke ruang tamunya, saya tersenyum.

“Oke!” jawab
saya riang.

Untuk kemudian,
meneruskan mencuci piring sambil bersiul-siul riang.

 ***
  

 

  

700 minggu terindah

700 Minggu Terindah

Oleh: Retnadi Nur’aini

 

Judul : 700 Sundays

Penulis : Billy Crystal

Penerbit : Warner Books

Jumlah hal : 182 halaman

 

 

 Sebagai
pecinta komedi, saya hobi mengoleksi buku-buku yang ditulis oleh para komedian.
Seperti misalnya, Seinlanguage (ditulis oleh Jerry Seinfeld), Couplehood
(ditulis oleh Paul Reiser), My Point and I Do Have One (ditulis oleh
Ellen DeGeneres), If Life is a Bowl of Cherries, what am I Doing in the
Pitts?
(ditulis oleh Erma Brombeck), sampai Jomblo dan Gege
Mengejar Cinta
(ditulis oleh Adhitya Mulya). Saking senangnya, saya akan
selalu bersorak girang, saat menemukan buku hasil karangan komedian manapun.

 Sorak
girang yang sama, saat saya menemukan 700 Sundays.

  Karena
saya sudah jatuh cinta pada akting Billy Crystal, sejak menonton film Analyze
This
dan Analyze That.  Dimana
dalam film komedi itu, pria mungil ini berperan sebagai terapis seorang mafia yang
berniat pensiun (diperankan oleh Robert DeNiro). Akting kocak ini pulalah yang
juga memikat saya untuk menonton film komedi romantis When Harry Met Sally,
dimana Billy beradu akting dengan Meg Ryan.

 Dan
saat membaca sampul bertuliskan resensi “700 Sundays is not the story of
Billy’s great career. It is a tribute to a family and the people who helped
make him a man,”
seketika saya tahu, bahwa saya sudah jatuh cinta pada 700
Sundays.

 Sejak
halaman pertama.

   ***

 Billy
Crystal lahir pada hari Minggu, tanggal 14 Maret 1948 di Manhattan. Bersama
ayah, ibu, dan kedua saudara lelakinya, mereka tinggal di rumah bernomor 549
East Park, Long Beach, Long Island.

Demi menafkahi
keluarganya, ayah Billy menjalani dua pekerjaan. Dua pekerjaan inilah yang
memaksa ayah Billy untuk bekerja sepanjang minggu—termasuk juga malam di akhir
pekan.

 Kecuali
hari Minggu.

 Karena
pada hari itu, sang ayah akan pulang pada pukul 3-4 Minggu dini hari. Untuk
kemudian, memainkan salah satu alat musik favoritnya—mandolin. Dimana Billy dan
saudara-saudaranya dengan sabarnya akan menunggu di depan pintu kamar orang tua
mereka, sampai sang ayah usai bermain mandolin, dan cukup beristirahat. Untuk
kemudian, bangun dan memulai hari Minggu istimewa mereka.

“Sunday was
our day for my two brothers and I to put on a show and make them laugh. Sunday
was our day to go up on the boardwalk in Long Beach and play Skeeball or
Fascination, go to the batting cage, play baseball, go bowling, or to the
movies, even a Broadway show. Sunday night was our night to go out to eat
together,”
tulis Billy—yang karena bakatnya meniru mimik dijuluki “Face”—di
halaman 14.

Ayah Billy
meninggal pada saat Billy masih kecil. Saat itu, Billy baru berusia 15 tahun,
dan baru memiliki 700 minggu yang dilewatkan bersama ayahnya. “That’s it.
700 Sundays. Not a lot of time for a kid to have with his dad,”
tulisnya di
halaman 15.

 ***

“Now you
can’t pick the family that you’re born into. That’s just the roll of the dice.
It’s just luck. But if I could pick these people, I would pick them over and
over again because they were lunatics. Fun lunatics. What a crazy group of
people, and great characters too. It was like the Star Wars bars, but everybody
had accents,”
demikianlah Billy menggambarkan keluarga besarnya di halaman
21.

Mulai dari nenek
dari pihak ayahnya. Wanita bernama Sophie ini meninggalkan tanah kelahirannya,
Kiev, Rusia, pada saat ia masih berusia 15 tahun. Saat dimana Sophie hanya
pamit pada orang tuanya untuk berjalan-jalan, namun nyatanya malah meneruskan
acara “jalan-jalan”nya ini ke Amerika.

Negara yang
mempertemukannya dengan Julius, kakek Billy. Julius adalah seorang aktor dari
teater Yiddish, dan bersama Sophie, mereka memainkan lakon King Lear dan
Cordelia.

Masih ada lagi
Bibi Lee, yang merupakan direktris bank pertama di Amerika. Juga Paman Sid
Kasindorf, seorang penemu radio transistor. Atau sepupu Albert Parry (yang
terlahir dengan nama Paretsky), yang menggandrungi Lenin sejak remaja. Dosen Russian
Studies di Cornell University ini menulis sejumlah buku kontroversial mengenai
Rusia. Atau Paman Berns yang memiliki galeri seni di Manhattan dan Paman Milt
Gabler, seorang produser sebuah toko musik bernama Commodore Music Shop. Toko
musik yang diwarisinya dari kakek Billy.

Tak ketinggalan,
salah satu karakter favorit Billy, Bibi Sheila. Bibi yang bawel dan hobi
bergosip ini, digambarkan Billy di halaman 56 dengan “I admire her, because
she speaks the truth, and sometimes people don’t like to hear that truth,
especially in families.”

Orang-orang
hebat inilah yang mengisi hidup Billy. Mengajaknya nonton baseball di Yankee
Stadium untuk pertama kalinya, menemaninya berjalan-jalan menyusuri terowongan
bawah air, Midtown Tunnel. Mengajarinya tap-dance, mengenalkannya pada
sejumlah musisi jazz, mengajarinya cara tampil di panggung sebagai MC.

Bahkan juga
menemaninya sarapan.

Dimana Billy
kecil akan duduk dekat-dekat kakeknya yang hanya mengenakan celana boxer.
Mendengarkan setiap patah kata dari cerita kakeknya semasa muda. Tentang
perjuangan kakeknya yang sedikit demi sedikit menabung demi membeli sebuah
toko, menyeberangi samudra Atlantik, hingga kini kembali bereuni di Amerika.
Tentang kisah-kisah mengagumkan akar keluarganya, yang dikunyah Billy kecil
dengan mulut ternganga. 

Karena seperti
yang dituliskan Billy di halaman 56. “Heroes don’t have to be public figures
of any kind. Heroes are right in your family. There’s amazing stories in all of
our families, you just have to ask, ‘And then what happened?’.”

  ***

 Salah
satu hobi saya, adalah memilah-milah bagian favorit dari buku yang sedang saya
baca. Entah itu bab favorit, kalimat favorit, adegan favorit, imajinasi mimik
dan suasana favorit. Apapun—yang bagi saya—terasa sekali ditulis dengan menggunakan
hati.

Nah, dalam 700
Sundays
, kalimat dan paragraf favorit saya tersebar di seluruh buku. Saya suka
saat di halaman 84, Billy menuliskan hobi ayahnya dengan “He fell in love
with two things: Dixieland jazz, and my mother.”
Saya suka waktu Billy
menggambarkan ibunya dengan “had a smile like Times Square.”

Saya suka waktu
di halaman 158, Billy mengenang pertemuan pertamanya dengan istrinya, Janice.
Saat itu adalah musim panas tahun 1966. Billy remaja dan temannya sedang berjalan-jalan
di pantai Lido, Malibu, kala ia melihat Janice.

 “I
said, ‘I’m going to marry her’,”
tulisnya. Betapa Billy menuliskan perasaan
jatuh cintanya ini dengan “I was only eighteen and she was seventeen, but I
wanted her forever. We were kids, but there was something about Janice that
screamed at me, DON’T LET HER GO.”

 Empat
tahun kemudian, mereka menikah. Suatu pernikahan yang dituliskan Billy di
halaman 160 dengan “We’ve been married thirty-five years now, so I guess I
made the right decision.”

Namun, di
halaman 177 lah, terletak bagian favorit saya sepanjang masa.

 Yaitu
pada suatu Minggu dini hari, saat Billy yang telah tinggal di Los Angeles
menerima telpon tengah malam dari ibunya. Karena panik, Billy pun bertanya
macam-macam. Yang dijawab ibunya dengan “I just wanted to hear your voice,
Bill. That’s all. I woke up your brothers too, but I wanted to hear your
voice.”

 Saat
itu, Ibu Billy mengaku tak bisa tidur. Dan Billy yang juga insomnia menulis “And
I just wanted the conversation to keep going on, because these kinds of
conversations with your parents are best when they’re not just your parents,
but they feel like they’re your friends.”

 Betapa
Ibu Billy mengaku bahwa alasannya tak bisa tidur, adalah karena “I’m
listening for you boys.”
Dan Billy menulis “I knew exactly what she
meant. The cry in the middle of the night, ‘Mommy, I have a fever.’ The
nightmares, ‘Mommy, there are pirates in the room!’ Then, as they get older,
the sound of their cars pulling up in the driveway, the jingle of their keys in
the front door lock, just so you that know that they’re home safe. She was
eighty-five years old now, alone in that house, her sons scattered across the
country, but she was listening for us.”

Setahun setelah
percakapan tengah malam ini, Ibu Billy meninggal dunia.

 ***

Ditinggalkan
oleh anggota keluarga yang kita sayangi tak pernah menjadi hal yang mudah.
Demikian juga dengan seorang Billy Crystal. Pada saat ayahnya meninggal, seorang
paman mencoba menguatkan Billy. Ia adalah Zutty Singleton. Kutipan Zutty inilah
yang dipajang Billy di halaman awal 700 Sundays. Sekaligus juga kutipan
yang membantu menguatkannya saat sang ibu menyusul meninggal. 

 “Consider
the rose…The rose is the sweetest smelling flower of all, and it’s the most
beautiful because it’s the most simple, right? But sometimes, you got to clip
the rose. you got to cut the rose back, so something sweeter smelling and
stronger, and even more beautiful, will grow in its place.”

 ***

“700 Sundays
is not a lot of time for a kid to have with his dad, but it was enough time to
get gits. Gifts that I keep unwrapping and sharing with my kids. Gifts of love,
laughter, family, good food, Jews and jazz, brisket and bourbon, curveballs in
the snow, Mickey Mantle, Billy Cosby, and ‘Consider the rose. Can you dig that?
I knew that you could’.”

Satu kalimat
epilog yang seketika membuat saya kembali melongok resensi singkat yang sempat
membuat saya tersenyum saat membacanya.

“Personal,
poignant, and funny, it will have you laughing out loud and sometimes
crying—with the realization that Billy’s family is also yours.”

Ya kan?

 ***

 

life for rent, by dido

I haven’t really ever found a place that I call home

I never stick around quite long enough to make it

I apologize that once again I’m not in love

But it’s not as if I mind

that your heart ain’t exactly breaking

It’s just a thought, only a thought

But if my life is for rent and I don’t lean to buy

Well I deserve nothing more than I get

Cos nothing I have is truly mine

I’ve always thought

that I would love to live by the sea

To travel the world alone

and live my life more simply

I have no idea what’s happened to that dream

Cos there’s really nothing left here to stop me

It’s just a thought, only a thought

But if my life is for rent and I don’t learn to buy

Well I deserve nothing more than I get

Cos nothing I have is truly mine

While my heart is a shield and I won’t let it down

While I am so afraid to fail so I won’t even try

Well how can I say I’m alive

If my life is for rent…

satu puisi menyejukkan

MEMAAFKAN
Oleh: Danielle Rosenblatt

Maafkan matahari tidak bersinar,
Langit mengajak pesiar
Maafkan bintang pemenuh harapan,
Bulan menyajikan jamuan
Maafkan hujan atas terpaannya,
Awan tak bisa menahan air matanya

Jangan membenci burung yang bebas,
Jangan iri pada sayap mereka yang mengebas.
Jangan rintangi angin, cobalah dengarkan tangisannya
Atau angin akan melewati Anda

Maafkan badai yang tak bermaksud menyiksa,
Tak tahan menyajikan pesonanya
Maafkan bumi yang tak pernah berhenti berputar
Jangan membenci matahari karena terlalu terik membakar

Hidup tak dimaksud untuk menimbulkan lara
Bunga mekar karena curah hujan mendera

Badai akan datang, dan akan pergi
Matahari akan bersinar, menumbuhkan rumput lagi

Angin tak bisa menahan sengat
Bintang malam hari menerangi langit pekat

Maafkan dunia tempat penghidupan
Damailah kita semua jika memaafkan

sebuah jalan yang jarang ditapaki

        Ada sebuah jalan yang jarang ditapaki.
        Begitu jarangnya kaki-kaki menjejak, sampai-sampai tak ada tangan yang cukup peduli untuk membabati rerumputan yang tumbuh di sampingnya. Yang membuat semak belukar dan alang-alang setinggi dada tumbuh liar melebar sampai menutupi bahu jalan dan membuat tubuh jalan gatal-gatal. Tanpa punya kemampuan untuk menggaruk, ataupun menaburkan bedak.
        Tidak seperti jalan lain yang dipenuhi lampu-lampu hias yang berkelap-kelip, di jalan ini bahkan tak ada satupun juga alat penerang. Yang membuat jalan ini berwarna hitam pekat saat malam menjelang. Dan membuat orang makin enggan untuk datang.
        Karena di jalan ini, juga tak tersedia satupun juga rambu-rambu petunjuk jalan. Padahal, jalinan anak-anak jalannya bercabang-cabang dengan demikian rumitnya. Salah langkah sedikit saja, akan segera terdengar desis marah ular berbisa mematikan. Yang meski sarangnya tersebar di seluruh tubuh jalan seperti jebakan, namun sepanjang harinya tetap bersikap tak ramah pada tubuh jalan tempatnya menumpang. Tambahkan dengan banyaknya anak jalan yang buntu, maka jalan ini pun terkenal sebagai satu rangkai labirin yang sukses menyesatkan.
        Sayangnya, meski terkenal, jalan ini tak pernah punya teman. Tak ada satupun orang yang sudi ambil resiko untuk membangun pondok permanen di dekatnya, dan menjadi temannya bicara ataupun bercerita. Sesekali, memang ada beberapa mobil caravan yang transit. Itupun hanya karena mobil-mobil yang malang ini tersesat. Yang membuat mereka terpaksa bermalam satu dua hari dengan pintu mobil tertutup rapat, untuk kemudian esoknya segera tancap gas tanpa pamit. “Jalan ini kelewat melelahkan untuk kami,” begitulah alasan mereka.
        Alasan yang saat sampai ke telinga Matahari, membuatnya makin enggan untuk menyinari jalan ini. Pun seluruh tubuh jalan telah dipenuhi jamur akibat lembabnya cuaca dan guyuran hujan, tetap saja Matahari jarang datang. “Toh disana juga sangat sedikit ada bentuk kehidupan,” begitulah Matahari beralasan.
        Alasan-alasan yang akan selalu dipermaklumkan orang-orang.
        Bahkan juga alasan mengapa di jalan ini tak ditemukan sepotong pun papan nama. “Toh jalan itu juga jarang ditapaki orang. Buat apa repot-repot pasang papan nama?” demikian orang-orang beralasan, untuk kemudian kembali meneruskan kesibukan.
        Jadi begitulah, malam demi malam yang tak berujung dilewati jalan ini. Sementara tetesan hujan setajam jarum menusuki dan melubangi kulitnya tanpa henti. Membuat tulang-tulangnya yang ngilu bergemeletukan dua menit sekali.
        Tergugu menggigit bibir menahan getirnya sepi dan nyeri hati, jalan yang jarang ditapaki ini pun pada akhirnya, hanya bisa meringkuk sendirian.
        Dan menghela satu napas panjang.      

   

trisik

            Saya jatuh cinta
pada samudera dan angkasa.

         Yang hanya dibatasi
oleh satu garis tipis yang rapuh. Dengan dibuai mimpi bisa menyelam dan terbang
secara bersamaan. Dikitari ribuan ombak serupa kuda laut yang riuh berkejaran.

           Konon,
merekalah para jelmaan roh penyesalan. Yang terlanjur meninggalkan kehidupan,
dengan banyak hal tak tertuntaskan. Yang kini membuat mereka gigih menjangkau
pantai. Demi kembali mencecap secuil Hidup.

        Baru
saja terpikirkan, bahwa mungkin, mestinya mereka putar balik saja. Berusaha
mengejar angkasa, untuk kemudian menjelma sebagai malaikat. Makhluk tercantik
di dunia, yang sama dengan caramu tercipta.

Saya
jatuh cinta pada samudera dan angkasa.

Yang
di dasarnya menyimpan sebelas macam aneka warna. Kilau tujuh warna biru, tiga
warna hijau, dan satu warna emas. Yang kini dirembesi tetes air mata  duka awan yang pencemas.

Sementara
di tepian saya menonton. Sepoi-sepoi tiupan angin berbisik merayu saya untuk
terjun. Tenggelam dan melayang. Melebur. Berdebur. Hancur. Biar laut menelan
raga, dan jiwa saya moksa.
            

Selamat datang
di Surga.

no frontiers, by the corrs

If life is a river and your heart is a boatAnd just like a water baby baby born to floatAnd if life is a wild wind that blows way on highAnd your heart is Amelia dying to fly

Heaven knows no frontiersAnd I've seen heaven in your eyes

And if life is a bar room in which we must wait'Round the man with his fingers on the ivory gatesWhere we sing until dawn of our fears and our fatesAnd we stack all the dead men in self addressed crates

In your eyes faint as the singing of a larkThat somehow this black nightFeels warmer for the sparkWarmer for the sparkTo hold us 'til the dayWhen fear will lose it's gripAnd heaven has its way

Heaven knows no frontiersAnd I've seen heaven in your eyes

If your life is a rough bed of brambles and nailsAnd your spirit's a slave to man's whips and man's jailsWhere you thirst and you hunger for justice and rightAnd your heart is the pure flame of man's constant night

In your eyes faint as the singing of a larkThat somehow this black nightFeels warmer for the sparkWarmer for the sparkTo hold us 'til the dayWhen fear will lose it's gripAnd heaven has its wayAnd heaven has its wayWhen all will harmoniseAnd you know what's in our heartsThe dream will realise

Heaven knows no frontiersAnd I've seen heaven in your eyesHeaven knows no frontiersAnd I've seen heaven in your eyes

master of the game

        Setiap hari Susie Q bertaruh dengan nyawanya untuk mati.
        Kalau kereta terlambat 5 menit, maka ia akan melompat ke rel seberang, tepat saat kereta lain melintas. Kalau bis yang ditumpanginya membuatnya berdiri saking penuh sesaknya, maka ia akan melompat ke jalan saat bis tengah melaju kencang. Kalau sms yang akan diterimanya dalam 5 menit ke depan adalah dari seorang dengan abjad A di namanya, maka ia akan mengiris nadinya. Kalau merk pasta yang ada adalah merk P dan bukannya G seperti yang diharapkannya, maka ia akan mengiris nadinya. Kalau saat koin itu dibalik yang keluar adalah kepala, maka ia akan mengiris nadinya. Kalau telpon itu berhenti berdering pada bunyi deringan ke tiga, maka ia akan menembak kepalanya.
        Kalau tim sepakbola M kalah, maka ia akan menembak kepalanya. Kalau angka yang keluar adalah 19, maka ia akan menembak kepalanya. Kalau taksi yang ditelponnya tak kunjung datang, maka ia akan menembak kepalanya. Kalau resepsionis yang menyambutnya adalah seorang pria, dan bukannya wanita, maka ia akan menembak kepalanya. Kalau suara yang datang berikutnya di dalam rimba kepalanya adalah si pria gema, dan bukannya si janda tua, maka ia akan menembak kepalanya.
        Dan kalau suatu hari nanti Susie Q terbangun dalam satu dunia tanpa suara, maka ia bertaruh akan menembak kepalanya. Karena saat itulah, Susie Q tersadar bahwa untuk pertama kalinya, ia keluar sebagai pemenang dalam permainan judi rekaannya.
        Game over.

lukisan-lukisan saya kelak

        Pada masanya nanti, lukisan-lukisan saya akan penuh dengan warna pastel. Langit akan berwarna biru yang damai, dan bukannya abu-abu mendung yang muram. Matahari juga akan berwarna kuning cerah yang hangat, dan bukannya berwarna merah pekat, bercampur dengan warna darah dari tabung gelas yang pecah.
        Hutan tak lagi berwarna ungu biru yang dingin, melainkan berwarna hijau pastel, dan para burung dengan ekor warna-warni akan riuh beterbangan. Lautan akan berwarna biru kehijauan transparan, dengan pemandangan taman laut yang memukau. Dan bukannya lautan lengang tanpa satupun juga riak gelombang.
        Pada masanya nanti, lukisan-lukisan saya akan punya banyak pintu yang terbuka. Dimana tidak akan pernah ada lagi satupun juga kunci pintu yang hilang. Dan akan selalu ada alternative jalan keluar dari lukisan labirin, tanpa satupun juga jebakan mematikan.
        Pada masanya nanti, lukisan-lukisan saya akan penuh dengan pengharapan. Dimana tak akan ada jurang tanpa dasar yang menyesakkan. Juga tak akan ada lagi lukisan para siswa dan siswi yang dihukum di depan kelas dengan wajah setengah menangis dan tangan dipenuhi gores kemerahan bekas sabetan.
        Kursi kosong dan tiang gantungan tak lagi menjadi sebuah penantian berkepanjangan. Jantung hati tak lagi menjadi menu utama makan malam. Hari yang cerah dan berangin akan berhiaskan pelangi cantik dengan 7 warna, dan bukannya dengan satu nisan berukirkan nama saya diatasnya.
        Mimpi-mimpi buruk menjadi kanibal tak lagi membuat terjaga di tengah malam dengan napas tersengal. Dan kado-kado yang terbungkus cantik dalam kain sutra berhiaskan pita satin akan sungguhan berisikan Kedamaian, Kebahagiaan, Pemberian Maaf, Keikhlasan, Cinta dan Kasih Sayang. Dan bukannya kado-kado tipuan yang berisi 7 dosa mematikan.
        Pada masanya nanti, lukisan-lukisan saya akan diwarnai wajah-wajah yang tersenyum. Para wanita akan membuka topeng “Smiley” dan kacamata hitam mereka, memperlihatkan sepasang mata indah yang utuh dan sehat. Mata yang sungguhan tersenyum dari hati, dan bukannya mengucurkan air mata darah tanpa henti.
                                                                *****
        Dan pada masanya nanti, saya akan membungkus semua lukisan baru ini dengan hati-hati. Untuk kemudian mengangkutnya ke rumah baru saya. Dengan kepala dipenuhi imaji, betapa cantiknya lukisan-lukisan ini semua kala menghiasi ruang tamu, ruang tengah, kamar mandi, dan kamar tidur saya.
        Kelak.

       

maybe tomorrow, by stereophonics

Been down and I’m wondering why
These little black clouds keep walking around with me, with me
Waste time and I’d rather be high
Think I’ll walk me outside and buy a rainbow smile but be free, be all free
So maybe tomorrow I’ll find my way home
So maybe tomorrow I’ll find my way home

I look around at a beautiful life
I been the upper side of down; been the inside of out but we breathe, we breathe

I wanna a breeze and an open mind
I wanna swim in the ocean, wanna take my time for me, it’s all free

So maybe tomorrow I’ll find my way home
So maybe tomorrow I’ll find my way home

Next entries » · « Previous entries